Opini: Revitalisasi Bangunan/Kawasan Cagar Budaya. Perlukah?

Semarang.
Bisa dibilang kota ini adalah salah satu kota yang dalam masa awal hidup saya jarang sekali saya jajaki, singgahi, dan hanya sekedar lewati. Pertemuan saya dengan Semarang diawali dengan tugas studio arsitektur di tahun 2012. Pertemuan ini lantas menghasilkan kesepakatan dalam diri saya bahwa, “saya harus kesini lagi suatu hari nanti!”. Bila ada yang bertanya, “kenapa sih Icha suka banget bolak-balik Semarang?” Jawaban pertama yang keluar dari mulutku adalah, “Karena jalannya besar-besar, lurus, membentuk satu axis (garis lurus)”. Itulah Semarang dalam ingatanku. Kebetulan kemarin dapat kesempatan sebagai Asisten Akademik dari jurusan yang akan mendampingi kegiatan joint studio ITB-TU Delft, melakukan survei pendahuluan untuk mencari kira-kira site mana yang nantinya bisa digunakan untuk workshop dan real exersice dari mahasiswa yang nantinya akan tergabung dalam satu kelompok diantaranya terdiri dari mahasiswa arsitektur, rancang kota, dan lansekap (semua program S2). Di waktu ini, saya mendapatkan banyak pelajaran gratis tentang sejarah dari tim BPK2L. Ya, BPK2L adalah Badan Pengelola Kawasan Kota Lama yang melakukan kegiatan revitalisasi kawasan Kota Lama. Kota Lama Semarang sendiri awalnya memiliki beberapa problem seperti hilang fungsi aktivitas serta tata guna lahan yang kurang beragam yang menyebabkan kawasan ini menjadi perlahan mati. Seperti kata Alm. Pak Galih Widjil Pangarsa bahwa nyawa dari sebuah bangunan adalah manusia di dalamnya. Bisa dibayangkan karena fungsi yang mati, akhirnya bangunan lapuk dan hancur dengan sendirinya. Padahal aset waktu atau bisa juga disebut intangible heritage pada kawasan ini tidak ternilai harganya.

 
Oh ya, jujur saja saya adalah anak baru masuk (tidak sengaja kecemplung) dalam dunia konservasi lingkungan perkotaan. Tulisan ini pun dibuat masih berdasarkan pemahaman seorang awam yang melihat kawasan kota lama sebagai aset yang dimiliki sebuah kota bahkan negeri ini. Pernah di masa awal saya menapaki kawasan kota lama seperti Kota Tua Jakarta dan terlintas di benak saya, “memangnya perlu ya mengkonservasi ini semua? apakah masih relevan dengan masa kini? apakah memang benar bangunan-bangunan dan kawasan ini cocok betul untuk kota dan kegiatan perkotaan, ekonomi dan sosial, yang ada di sini? Sampai suatu waktu saya sampai di titik, “Kenapa sih ini semua harus dipertahankan?”.

 
Tidak lama dari berbagai macam pikiran tanpa landasan tersebut, saya mendapati tugas untuk membuat historical development dari Kota Lama Semarang. Untungnya, sedari belia, saya merupakan tipikal yang senang membaca sejarah. Jadi untuk mempelajari sejarah dari Kota Lama bukan jadi pekerjaan yang membosankan. Malah menarik untuk saya! Disinilah saya belajar bahwa, hidup itu memang pilihan. Pilihan untuk berdiri di sisi yang mana. Saya melihat apa yang mau dilindungi dari Kawasan Kota Lama ternyata tidak hanya bangunannya tapi juga fungsi aktivitas yang terjadi di dalamnya. Peran komunitas dalam menghidupkan kawasan ini pun sangat besar. Kalau saya pribadi ditanya, kenapa ini semua harus direvitalisasi? Karena untuk saya, dengan menapaki Kawasan Kota Lama saya bisa menapaki “dunia yang lain” di negeri sendiri. Saya merasakan ambience (suasana) yang tidak biasa, ikut menerka-nerka apakah dulu ini kantor, apa yang terjadi di alun-alun ini, dulu jalan ini akses utama atau bukan? Dan napak tilas seperti itu ternyata sangat seru! Nah, nilai-nilai ini yang mungkin tidak bisa didapati di kawasan terbilang baru tanpa nilai history. Ya, kawasan cagar budaya itu memang perlu dilindungi karena nilai history nya yang tidak terbayarkan dengan apapun. Seperti jejak sejarah, itulah kawasan cagar budaya.

 
Untuk sisi aktivitas dalam bangunan, sebenarnya saya tipikal orang yang kurang sepakat bila kawasan cagar budaya hanya menjadi cagar saja, dipugar, tidak difungsikan. Menurut saya, hal itu tidak menghasilkan dampak apapun pada lingkungan karena keberadaan bangunan tersebut seharusnya bisa memberi manfaat minimal bagi lingkungan di sekitarnya. Maka, saya akan berada di sisi yang sepakat ketika sebuah bangunan cagar budaya akan dibuka dan difungsikan sebagaimana mestinya. Bila khawatir akan rusak, maka dapat dilakukan kajian awal tentang aktivitas apa yang paling cocok untuk bangunan/kawasan cagar budaya tersebut yang tetap aman namun bermanfaat. Jadi sekarang bila ada yang bertanya keberpihakan saya terhadap cagar budaya, tentu saya pro dengan revitalisasi. Asalkan revitalisasi itu dilakukan sesuai dengan aturan dan dari segi visual tidak menghilangkan ornamen-ornamen penting dalam bangunan/kawasan seperti tiba-tiba mencat kawasan cagar budaya dengan warna-warni atau menambahkan terlalu banyak lampu jalan hingga membuat cityscape dari kawasan itu malah jadi hilang sense nya.

Saya sisipkan beberapa foto Kota Lama Semarang di pagi hari. Silahkan dinikmati cantiknya!

Bandung, 9 Agustus 2019
Marisa Sugangga

 

 

 

nb: sangat terbuka untuk diskusi apapun, mau tambah ilmu untuk saya juga boleh. Kalau ada artikel menarik, jurnal, buku yang menurut teman-teman perlu aku baca untuk mengembangkan pola pikir saya tentang revitalisasi bangunan/kawasan cagar budaya, saya sangat terbuka sekali!

Explore Jakarta : Taman Wisata Alam Mangrove PIK

1431242705987Ini latepost sekali sebenarnya. Berhubung kemarin saya baru blogwalking dan menemukan banyak referensi yang menjadi panduan saya menentukan destinasi, sebagai bentuk terima kasih saya sebagai sesama blogger, saya memutuskan untuk mereview beberapa kisah perjalanan jalan-jalan saya.

1431307603564
Tempat penginapan dalam kawasan. Menarik kan bentuk bangunannya?

Sempat booming di media social (sepertinya sampai sekarang masih booming), saya dan teman-teman Arsitektur UB 2010 yang sudah bekerja di Jakarta memutuskan untuk liburan bersama di bulan Maret 2015 lalu. Setelah banyak ngobrol di grup akhirnya tercetuslah untuk main ke hutan kota yaitu Wisata Alam Mangrove Pantai Indah Kapuk sekalian kuliner di area PIK. Area ini terkenal dengan jajaran ruko-ruko disulap yang disulap jadi tempat makan dan nongkrong super asik. Beberapa dari kami janjian di Stasiun Tanjung Barat dan ketua angkatan kami yang sangat bertanggung jawab menjemput kami satu-satu dari Serpong, Cibubur, Bogor, sampai ke Stasiun Tanjung Barat. Perjalanan dengan mobil pribadi ini kami tempuh melewati pintu tol menuju Bandara Soekarno-Hatt dan keluar di pintu tol Pantai Indah Kapuk. Kalau dari Jakarta (St. Tanjung Barat), perjalanan memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Setelah masuk ke kawasan PIK, kami menuju ke Wisata Alam Mangrove PIK dan membayar tiket per orang sebesar Rp 25.000. Menurut saya cukup worth it mengingat tempat ini ternyata cukup terawat.

Kami pun memarkirkan mobil dan setelah menyiapkan segala persiapan, kami memulai perjalanan seru kami berputar-putar di sekitar hutan kota ini. Di tempat ini, selain menikmati pemandangan alam, mungkin teman-teman akan sering berkata, “Ini di mana ya? Seperti bukan di Jakarta deh…” Memang benar, saya sendiri pun seperti itu. Berkali-kali saya berkata seperti itu. Suasananya benar-benar seperti sedang liburan dan jauh dari hingar bingar Kota Jakarta.

Apa yang kita lakukan di PIK?

1431307593352
Jalan menuju pantai reklamasi

Refreshing sejenak dari kehidupan kota! Ini benar-benar hutan kota yang recommended menurut saya. Selain jalan-jalan mengelilingi kawasan mangrove, di sini juga terdapat penginapan yang memiliki bentuk bangunan yang menarik. Bila bosan jalan-jalan, kita bisa menyewa boat dengan harga Rp 250.000 (6 orang) – Rp 350.000 (8 orang). Tapi karena teman-teman hanya ingin jalan kaki saja (sekalian olahraga katanya), akhirnya kami tidak menyewa boat. Kami berkeliling hingga terdapat tulisan ‘Pantai’. Saat tiba di spot ‘pantai’ tersebut, ternyata kami memang menemukan pantai, tapi pantai yang sedang di reklamasi (dibuat daratan) serta dapat melihat pembangunan Jembatan PIK menuju Golf Island. Struktur jembatan ini cukup menarik untuk kami karena bentuknya yang modern. Kami pun lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengabadikan foto dan ngobrol karena sudah lama tidak bertemu. Saat waktu sholat tiba, kami mampir ke Musholla yang cukup dingin dan membuat kami tidak ingin beranjak dari tempat itu karena Musholla nya terbuat dari struktur kayu dan berada di atas rawa, seperti struktur rumah panggung. Tidak terdapat tempat makan, hanya restoran dan beberapa drinking machine box. Beberapa kali saya mencoba menggunakan machine box ini dan si mesin tidak mau menerima Rp 5000-an saya sampai pengunjung selalu tertawa melihat tingkah saya yang selalu gagal sedangkan teman-teman saya berhasil. Setelah percobaan ke-10 akhirnya saya berhasil!

1431307600318
Jangan pakai heels ya ke sini, karena decknya bolong-bolong. Bahaya bisa selip.
1431307642481
Di jembatan ini terik sekali. Kami berjalan-jalan di sini pukul 13.00, pas matahari tepat di atas kepala kami. Photo by: Ketua Angkatan 2010, Om Randy

Catatan: 

  • Kalau bisa jangan ke sini jam 12.00 siang atau pada saat matahari sedang terik-teriknya karena sangat panas. Namun hal ini bisa diantisipasi dengan bawa topi agar kepala kita tidak terlalu panas. Bila ingin menghindari terik, datanglah jam 14.00 atau jam 15.00, sudah lumayan sore dan waktu yang tepat untuk berjalan-jalan dan menikmati alam.
  • Bawalah botol minum karena selain dehidrasi karena kepanasan, kita pasti akan cepat haus karena olah raga jalan kaki.

Overall, saya sangat menyukai perjalanan saya ke Wisata Alam Mangrove PIK ini, selain harganya terjangkau, kawasan ini juga tidak jauh dari pusat kota. Hanya saja memang bila menggunakan transportasi umum akan memakan waktu lebih lama daripada membawa kendaraan pribadi karena sepengetahuan saya, bis-bis yang ke arah sini tidak terlalu banyak dan terdapat jam-jam nya dengan jeda yang agak lama.Sepulangnya dari Hutan Mangrove, teman-teman bisa menjajaki area ruko-ruko PIK yang sangat terkenal dengan kuliner nya. Berbagai macam kuliner dari tradisional hingga modern, asia-barat, lengkap semua ada di sini dengan interior yang sangat mendukung dan fotoable alias eyecatching. 

1431307777373
Photo ala-ala Lets Get Lost!

Nah, Wisata Alam Mangrove bisa menjadi salah satu destinasi hutan kota yang menyenangkan loh kalau ingin ‘kabur’ sebentar dari keramaian urban. Minum air putih yang banyak ya sepulang dari sini agar tidak dehidrasi.

*) informasi saat saya melakukan trip ke sana, Maret 2015.

28 Oktober, Untuk Pemuda-Pemudi Kebanggaan Saya.

Sebuah tulisan sebagai hadiah kecil untuk Pemuda-Pemudi Indonesia yang saya banggakan dan begitu membangkitkan semangat saya untuk terus berkarya. Betapa semangat kita akan untuk membangun negeri, membangun lapangan kerja, membantu keluarga kita, menjadi pribadi yang berkarakter, adalah hal yang berarti untuk banyak pihak khususnya bangsa Indonesia. Maka, ketika harus terjatuh. Jatuhlah, namun jangan lupa bangkit. Bangkitlah lebih awal dari waktu yang akan membangkitkanmu, karena kamu akan sekuat yang kamu bayangkan. Banyak pemuda-pemudi yang menginspirasi saya, saya juga ingin menjadi inspirasi bagi yang belum bersemangat.  Pepatah bilang, mumpung masih muda, ini sangat benar sekali. Berkelanalah, berjalan-jalan, mencari ilmu lah hingga ke ujung Indonesia serta dunia, pulanglah, bangun Indonesia menjadi lebih baik untuk ke depannya.  Ayo semangat mumpung masih muda ya!

——-

Jakarta, 28 Oktober 2015 11:30 PM.

Halo pemuda-pemudi Indonesia, selamat 28 Oktober. Bertepatan dengan hari sumpah pemuda tahun ini, saya memiliki sebuah hadiah berupa tulisan yang berawal dari perbincangan mengenai Generasi Muda Masa Kini di Kompasiana tv tadi pagi. Sembari mengerjakan tugas kantor, saya mendengarkan perbincangan mereka via headset.

Perjuangan yang dilakukan generasi muda jaman dahulu dan sekarang pasti berbeda. Zaman berubah, tantangan pun berubah. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh generasi muda di zaman ini? Menurut bapak kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional,  Surya Chandra Surapaty, jadilah generasi yang memiliki karakter. Karena seperti Bapak Soekarno bilang, bangsa yang tidak berkarakter selamanya akan menjadi budak dari bangsa lain. Di sini dinyatakan bahwa ‘berkarakter’ yang dimaksud adalah menyadari penuh pentingnya menambah kompetensi, update pengetahuan, fokus terhadap bidang yang sedang ditekuninya, mau merubah pikiran bila ada masukan dan kritik, bersifat terbuka, menerima perbedaan, dan memiliki plan, misalnya merencanakan dalam satu tahun ke depan ini memiliki goal untuk menambah kompetensi apa, apa yang dilakukan untuk dapat menambah kompetensi tersebut, berencana mengambil studi atau fokus pada karir praktisi mau pun akademisi. Berjuang bukan berarti harus memegang senjata, bambu runcing, dan berperang. Perjuangan dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya menekuni bidang yang telah kita pelajari dan kita sungguhi. Bila kita berada di bidang Ekonomi, maka tekunilah, begitu pun dengan bidang yang lain. Itulah perjuangan.

Disisipkan pesan bahwa tantangan bagi generasi muda Indonesia saat ini adalah MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Humas KNPI menyebutkan beberapa poin yang dapat dilakukan oleh generasi muda untuk menghadapi tantangan MEA. 1) Mau berpikir kreatif 2) Memikirkan inovasi produk baru yang tidak akan kalah dengan produk-produk yang akan masuk 3) Mengikuti seminar-seminar Internasional untuk upgrade informasi, memperkuat link, serta mengetahui pesaing-pesaing yang masuk ke dalam negeri 4) Jangan berpikiran untuk kerja di mana namun mulailah berpikir untuk menciptakan lapangan kerja. Terdapat poin tambahan dari Pak Surya bahwa kita harus siap bekerja keras dan bersungguh-sungguh terhadap profesi atau pun hal yang kita lakukan. Sebuah komitmen untuk mau bekerja keras adalah hal yang perlu ditanamkan dalam pikiran kita. Keluarga merupakan pondasi yang mampu menciptakan generasi-generasi jenius bangsa, maka lingkungan dan atmosfer keluarga yang baik wajib diciptakan bila menginginkan pondasi yang kuat. Setiap pribadi dari keluarga dapat menjadi Agent of Change di keluarganya, maka bila perlu, andalah yang menjadi Agent of Change di saat anggota keluarga yang lain tidak mampu membentuk atmosfer itu. Karena saya paham, kita dibesarkan dalam keluarga dengan kondisi yang berbeda.

Sebuah renungan kecil untuk saya dan teman-teman yang masih mencari jati diri serta kebingungan atas pertanyaan “Apa itu berkarakter?”. Sudahkah bertanya, “Siapa saya? Mau jadi apa saya?” Ini adalah pertanyaan yang mampu menjawab karakter teman-teman. Tanyalah, renungkan. “Siapa saya?” Berikan motivasi yang tinggi untuk diri sendiri dan sebarkan semangat untuk teman-teman yang lain. Menurut saya, memaksa diri untuk mau berpikir lebih keras dari biasanya, berusaha lebih keras dari biasanya, adalah hal yang wajib dilakukan karena tantangan zaman semakin meningkat. Untuk menjadi pribadi yang berkarakter, tidak perlu akademis yang fantastis, hal ini dibenarkan pula oleh Bapak Surya. Memiliki visi misi serta tujuan hidup, mengasah skill, membantu yang membutuhkan, dan hal-hal menantang diri sendiri lainnya akan mampu memunculkan karakter kita. Pribadi yang berkarakter akan kuat beradaptasi dengan hal-hal baru bahkan hal yang paling menakutkan bagi dirinya sendiri sekalipun.

Berikut ada tips-tips kecil mengenai self upgrade untuk teman-teman yang sibuk bekerja atau waktunya habis di jalan. Self upgrade ini bersifat konsisten, hal yang perlu dilakukan pertama adalah niat. Dengan niat yang kuat, insya Allah kita bisa memaksa otak kita untuk mau berusaha lebih keras dari biasanya.

1. Update info tentang Nasional dan Internasional. Ini wajib. Pengetahuan umum bersifat wajib karena peka terhadap berita serta isu sangat bagus untuk perkembangan otak kita. Bila masih kesulitan tidak biasa membaca berita, bacalah berita-berita yang sekiranya menarik untukmu. Hanya yang menarik untukmu untuk di mula tidak apa-apa. Pasang target, misalnya  3 berita dalam satu hari, 2 berita Internasional dan 1 berita Nasional. Sekarang banyak aplikasi portal berita sekali sentuh di Apple Store/Playstore, silahkan pilih yang teman-teman suka. Akan lebih baik ketika kita mendownload portal berbasis bahasa Indonesia dan satu portal lagi berbasis Bahasa Inggris. Otak kita pada nantinya akan terbiasa dengan kosakata baru bahasa Inggris.

2. Belajar bahasa Inggris. Bahasa ini akan menjadi pengantar dari perdagangan dan pesaing-pesaing yang akan masuk ke negeri kita. Tidak jarang celetukan bilang, “Nanti tukang baso aja jadi orang asing. Ntar pas kita mau mesen, harus pake bahasa Inggris. Abang basonya bisa, kitanya gabisa. Hayo gimana coba.” Ini benar juga. Nah, jangan malas belajar bahasa Inggris.Dont worry about the grammar, learn how to communicate with English first ya.Saya sering latihan awkward sama kaca.

3. Seperti postingan saya sebelumnya. Set the goal. Bahkan dalam forum bahasa Inggris yang saya ikuti, dikatakan pentingnya mengeset suatu target. Misalnya, kamu belajar bahasa Inggris untuk apa? Lalu kapan goal nya kira-kira kamu akan menyelesaikan ini? Nah, dengan mengeset goal, kita akan tahu dan dapat mengukur parameter sejauh mana kita berusaha, sejauh mana kita hari ini mengerjakan soal, sejauh mana kita speaking hari ini.

4. Plan jangka panjang. Plan jangka panjang akan membantumu bersemangat dalam menjalani hari-hari mu. Dengan berusaha hingga lelah, kamu akan tahu dan sadar bahwa ini semua demi plan jangka panjangmu. Yakinlah setiap langkahmu akan bermanfaat dan membawamu mendekati plan jangka panjangmu. Bisa di set 1 tahun ke depan, 5 tahun, bahkan 10 tahun ke depan. Pasang target yang tinggi, bila jatuh, kamu hanya jatuh di awan, tidak begitu jauh dari bintang-bintangmu.

—–

Tulisan ini memang sengaja saya buat untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Semoga hari ini teman-teman memberi sesuatu yang didedikasikan untuk merayakan hari ini, tentu maksudnya tidak hanya hari ini tapi untuk selamanya. Sebuah tanggal biasanya menjadi momentum, maka ini momentum yang tepat sebagai pengingat untuk mengejar mimpi-mimpi kita. Saya berharap tulisan ini bermanfaat untuk teman-teman seperjuangan ya! Semangat menghadapi MEA! Selamat berjuang, generasi emas Indonesia.

Warm Regards,

Marisa Sugangga

Kuala Namu International Airport (KNO)

Halo semua!

Dulu saya pernah mempunyai resolusi, “Pokoknya sebelum lulus kuliah harus dan wajib mengunjungi Pulau Sumatera!”. Saya tidak pernah keluar Pulau Jawa pada masa sebelum kuliah. Baru setelah menjalani beberapa waktu di awal kuliah saya, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Pulau Bali yang amat sangat menyenangkan dan Pulau Lombok yang keindahan lautnya hampir semua berwarna tosca. Ternyata doa saya terkabul. Ayah saya mendapat surat keputusan untuk pindah ke Pulau Sumatera tepatnya di Belawan, Medan. Kantor Ayah berada di Belawan sedangkan rumah yang kami tinggali berada di daerah Kota Medan, tepatnya daerah Marendal. Belawan sendiri merupakan salah satu kecamatan yang berada di Medan, letaknya kurang lebih 30 menit dari Medan via jalan tol. Kali ini saya ingin bercerita bukan tentang Belawan melainkan kesan pertama saya mendarat di Medan menggunakan jalur udara. Ya, semua penerbangan dialihkan dari Bandara Polonia (MES) ke Kuala Namu International Airport (KNO). Bandara Polonia sendiri terletak di tengah Kota Medan sedangkan KNI berada kurang lebih 1 jam dari Kota Medan, ya cukup jauh memang tapi itu adalah hal yang wajar untuk sebuah bangunan Bandar Udara.

Waiting room Kuala Namu dilihat dari lantai keberangkatan

Untuk sekedar info tambahan, saya menyunting sejarah pembangunan KNIA dari http://id.wikipedia.org/wiki/Bandar_Udara_Internasional_Kuala_Namu :

“Pemindahan bandara ke Kuala Namu telah direncanakan sejak tahun 1992. Dalam kunjungan kerja ke Medan oleh Menteri Perhubungan saat itu, Azwar Anas, berkata bahwa demi keselamatan penerbangan, bandara akan dipindah ke luar kota.
Persiapan pembangunan diawali pada 1 Agustus 1997, namun krisis moneter yang dimulai pada tahun yang sama kemudian memaksa rencana pembangunan ditunda. Sejak saat itu kabar mengenai bandara ini jarang terdengar lagi, hingga kecelakaan pesawat Mandala Airlines terjadi pada 5 September 2005. Kecelakaan ini menewaskan Gubernur Sumatera Utara Tengku Rizal Nurdin dan juga menyebabkan beberapa warga yang tinggal di sekitar wilayah bandara tewas akibat letak bandara yang terlalu dekat dengan pemukiman. Hal ini menyebabkan munculnya kembali seruan agar bandara udara di Medan segera dipindahkan ke tempat yang lebih sesuai. Selain itu, kapasitas Polonia yang telah melebihi batasnya juga merupakan salah satu faktor direncanakannya pemindahan bandara.
Rencana pembangunan selama bertahun-tahun terhambat masalah pembebasan lahan. Pada 1 Juli 2006, baru 1.650 hektar lahan yang telah tidak bermasalah, sementara lahan yang dihuni 71 kepala keluarga lainnya masih sedang dinegosiasikan. Pada 1 November 2006 dilaporkan bahwa Angkasa Pura II telah menyelesaikan seluruh pembebasan lahan”

Sesuai dugaan saya, pembangunan bandara di Indonesia sekarang memiliki tipe yang sama. Meskipun bentuknya berbeda-beda di setiap daerah, tapi dari segi tipologi seperti konstruksi dan material yang digunakan adalah sama. Sebut saja Terminal 3 bandara Soekarno Hatta yang memulai pembangunan bandara dengan konsep ramah lingkungan, nah KNO pun memiliki konsep yang kurang lebih sama. Jujur saya kagum dengan sistem yang berada di Bandara ini. Bandara ini merupakan bandara di Indonesia yang akhirnya terintegrasi langsung dengan kereta api. Jadi, terdapat stasiun kereta api bandara yang melayani rute KNIA-Medan begitu pun sebaliknya. Harga tiket yang dipatok adalah Rp 80.000. Relatif mahal menurut saya pribadi namun kita terhindar dari kemacetan dan fasilitas yang ditawarkan pun begitu lengkap dan praktis. Terdapat 10 jadwal dari KNIA-Medan, Medan-KNIA. Bandara ini juga menggunakan konsep Mall yang membuat para penumpang hingga pengantar bisa berputar-putar dahulu tanpa harus bosan berada di dalam Bandara. Bandara ini merupakan bandara terbesar kedua setelah Soekarno-Hatta International Airport di Tangerang. Sebelum memasuki waiting room, kita wajib melakukan pengecekan barcode yang di bandara ini kita lakukan sendiri (biasanya dilakukan oleh petugas), jadi sirkulasi penumpang pun berjalan lebih cepat dan mandiri. Keberangkatan berada di lantai paling atas sedangkan kedatangan berada di bawah dan begitu keluar bangunan langsung dihadapkan dengan stasiun kereta api bandara. Cukup menyenangkan berada di dalam bandara ini karena mungkin terdapat sistem yang lebih maju dari bandara-bandara yang belum mengalami perbaikan di Indonesia.

Atap Bandara Kuala Namu

Image

Tampak depan stasiun kereta api bandara
Suasana lantai keberangkatan

Saya sendiri cukup berbangga karena pembangunan fasilitas transportasi dengan sistem yang lebih baik terus dilakukan hingga saat ini. Semoga keberadaan bandara ini dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak ya. Anda harus mencoba melakukan penerbangan ke Medan. Setahu saya rute dari Surabaya-Medan terdapat di Lion Air, Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, dan Citylink. Selamat datang di Medan!