Opini: Revitalisasi Bangunan/Kawasan Cagar Budaya. Perlukah?

Semarang.
Bisa dibilang kota ini adalah salah satu kota yang dalam masa awal hidup saya jarang sekali saya jajaki, singgahi, dan hanya sekedar lewati. Pertemuan saya dengan Semarang diawali dengan tugas studio arsitektur di tahun 2012. Pertemuan ini lantas menghasilkan kesepakatan dalam diri saya bahwa, “saya harus kesini lagi suatu hari nanti!”. Bila ada yang bertanya, “kenapa sih Icha suka banget bolak-balik Semarang?” Jawaban pertama yang keluar dari mulutku adalah, “Karena jalannya besar-besar, lurus, membentuk satu axis (garis lurus)”. Itulah Semarang dalam ingatanku. Kebetulan kemarin dapat kesempatan sebagai Asisten Akademik dari jurusan yang akan mendampingi kegiatan joint studio ITB-TU Delft, melakukan survei pendahuluan untuk mencari kira-kira site mana yang nantinya bisa digunakan untuk workshop dan real exersice dari mahasiswa yang nantinya akan tergabung dalam satu kelompok diantaranya terdiri dari mahasiswa arsitektur, rancang kota, dan lansekap (semua program S2). Di waktu ini, saya mendapatkan banyak pelajaran gratis tentang sejarah dari tim BPK2L. Ya, BPK2L adalah Badan Pengelola Kawasan Kota Lama yang melakukan kegiatan revitalisasi kawasan Kota Lama. Kota Lama Semarang sendiri awalnya memiliki beberapa problem seperti hilang fungsi aktivitas serta tata guna lahan yang kurang beragam yang menyebabkan kawasan ini menjadi perlahan mati. Seperti kata Alm. Pak Galih Widjil Pangarsa bahwa nyawa dari sebuah bangunan adalah manusia di dalamnya. Bisa dibayangkan karena fungsi yang mati, akhirnya bangunan lapuk dan hancur dengan sendirinya. Padahal aset waktu atau bisa juga disebut intangible heritage pada kawasan ini tidak ternilai harganya.

 
Oh ya, jujur saja saya adalah anak baru masuk (tidak sengaja kecemplung) dalam dunia konservasi lingkungan perkotaan. Tulisan ini pun dibuat masih berdasarkan pemahaman seorang awam yang melihat kawasan kota lama sebagai aset yang dimiliki sebuah kota bahkan negeri ini. Pernah di masa awal saya menapaki kawasan kota lama seperti Kota Tua Jakarta dan terlintas di benak saya, “memangnya perlu ya mengkonservasi ini semua? apakah masih relevan dengan masa kini? apakah memang benar bangunan-bangunan dan kawasan ini cocok betul untuk kota dan kegiatan perkotaan, ekonomi dan sosial, yang ada di sini? Sampai suatu waktu saya sampai di titik, “Kenapa sih ini semua harus dipertahankan?”.

 
Tidak lama dari berbagai macam pikiran tanpa landasan tersebut, saya mendapati tugas untuk membuat historical development dari Kota Lama Semarang. Untungnya, sedari belia, saya merupakan tipikal yang senang membaca sejarah. Jadi untuk mempelajari sejarah dari Kota Lama bukan jadi pekerjaan yang membosankan. Malah menarik untuk saya! Disinilah saya belajar bahwa, hidup itu memang pilihan. Pilihan untuk berdiri di sisi yang mana. Saya melihat apa yang mau dilindungi dari Kawasan Kota Lama ternyata tidak hanya bangunannya tapi juga fungsi aktivitas yang terjadi di dalamnya. Peran komunitas dalam menghidupkan kawasan ini pun sangat besar. Kalau saya pribadi ditanya, kenapa ini semua harus direvitalisasi? Karena untuk saya, dengan menapaki Kawasan Kota Lama saya bisa menapaki “dunia yang lain” di negeri sendiri. Saya merasakan ambience (suasana) yang tidak biasa, ikut menerka-nerka apakah dulu ini kantor, apa yang terjadi di alun-alun ini, dulu jalan ini akses utama atau bukan? Dan napak tilas seperti itu ternyata sangat seru! Nah, nilai-nilai ini yang mungkin tidak bisa didapati di kawasan terbilang baru tanpa nilai history. Ya, kawasan cagar budaya itu memang perlu dilindungi karena nilai history nya yang tidak terbayarkan dengan apapun. Seperti jejak sejarah, itulah kawasan cagar budaya.

 
Untuk sisi aktivitas dalam bangunan, sebenarnya saya tipikal orang yang kurang sepakat bila kawasan cagar budaya hanya menjadi cagar saja, dipugar, tidak difungsikan. Menurut saya, hal itu tidak menghasilkan dampak apapun pada lingkungan karena keberadaan bangunan tersebut seharusnya bisa memberi manfaat minimal bagi lingkungan di sekitarnya. Maka, saya akan berada di sisi yang sepakat ketika sebuah bangunan cagar budaya akan dibuka dan difungsikan sebagaimana mestinya. Bila khawatir akan rusak, maka dapat dilakukan kajian awal tentang aktivitas apa yang paling cocok untuk bangunan/kawasan cagar budaya tersebut yang tetap aman namun bermanfaat. Jadi sekarang bila ada yang bertanya keberpihakan saya terhadap cagar budaya, tentu saya pro dengan revitalisasi. Asalkan revitalisasi itu dilakukan sesuai dengan aturan dan dari segi visual tidak menghilangkan ornamen-ornamen penting dalam bangunan/kawasan seperti tiba-tiba mencat kawasan cagar budaya dengan warna-warni atau menambahkan terlalu banyak lampu jalan hingga membuat cityscape dari kawasan itu malah jadi hilang sense nya.

Saya sisipkan beberapa foto Kota Lama Semarang di pagi hari. Silahkan dinikmati cantiknya!

Bandung, 9 Agustus 2019
Marisa Sugangga

 

 

 

nb: sangat terbuka untuk diskusi apapun, mau tambah ilmu untuk saya juga boleh. Kalau ada artikel menarik, jurnal, buku yang menurut teman-teman perlu aku baca untuk mengembangkan pola pikir saya tentang revitalisasi bangunan/kawasan cagar budaya, saya sangat terbuka sekali!

Dinding Putih Untuk Kamar Mandi Mungil

Akhirnya raga kembali dari perjalanan ke dua kota, Bandung dan Yogyakarta. Saya membawa sebuah oleh-oleh tentang pengalaman ruang ketika menginap di salah satu hotel di Yogyakarta. Horison Hotel yang terletak di Jl. Urip Sumiharjo, Yogyakarta memberikan sebuah kesan ruang yang menyenangkan untuk saya pribadi. Begitu pun dengan Tune Hotel yang berada di Jl. Sumur Bandung, Bandung-Jawa Barat. Kedua budget hotel ini memiliki ukuran kamar mandi yang minimalis namun berfasilitas lengkap. Untuk kelengkapan alat mandi, dipegang oleh Horison sedangkan kelebihan dari Tune Hotel ialah sebuah hairdryer yang sudah tersedia tanpa kita harus menelpon ke housekeeping terlebih dahulu.

Pengalaman ruang yang saya dapat? Ternyata sebuah ruangan kecil bernama kamar mandi adalah tempat relaksasi dan berpikir yang sangat menenangkan pikiran. Pasti ada di antara teman-teman yang sangat menyukai membangun dan membuat ide dalam kamar mandi kan, karena itu keberadaan kamar mandi yang memiliki pengalaman ruang menyenangkan patut dipertimbangkan sekecil apapun kamar mandinya.

(image source: pinterest)

Saya menyadari hal ini ketika menginap di Horison. Sayangnya, saya tidak sempat mengabadikan ruangannya (berharap dapat kembali lagi ke sana). Saya berikan gambar penunjang saja, koleksi dari pinterest saya. Sebuah nuansa dinding putih keramik berukuran kurang lebih 120 x 80 menghiasi dinding di kamar mandi tersebut. Menurut saya sebuah dinding keramik hingga saat ini tidak kuno-kuno amat dan memiliki kelebihan yang cukup baik di era serba cepat saat ini, mudah dibersihkan. Bisa hanya dengan disikat ataupun dibersihkan dengan kain. Dinding keramik pun memiliki performa yang baik untuk rumah tinggal yang berada di daerah bercurah hujan tinggi dan memiliki kelembapan yang tinggi. Jadi, dinding keramik dapat menjadi alternatif yang cukup menyenangkan dan low maintenance. Warna putih adalah warna bersih. Saya menyebutnya ia adalah penolong untuk ruangan yang mungil. Warna putih menambahkan kesan luas pada ruangan ini. Dinding dan plafon putih tidak akan membuat ruangan kamar mandi mungil anda terasa sempit.

Untuk desain yang lebih ‘hidup’, sebuah sentuhan lantai keramik bercorak alam berwarna abu-abu dapat membangun suasana ruang mungil tersebut. Pemilihan keramik menggunakan corak untuk meninggalkan kesan monoton dan menambah sense of feeling dari user. Tidak hanya dimanjakan visual, tetapi juga dimanjakan indera perabanya di bagian kaki.

Sang desainer menambah kehangatan dengan menggunakan aksen kayu pada area wastafelnya. Alhasil, sentuhan dominan monokrom pada ruangan itu menjadi tidak dingin. Menyenangkan sekali loh berlama-lama di dalamnya, hehe. Menurut saya kamar mandi di hotel Horison ini dapat diadaptasi dalam desain-desain kamar mandi yang mungil tapi tetap terdesain dengan baik. Bagian yang tidak kalah penting adalah low maintenance untuk teman-teman yang hidupnya sangat mobile.

Do :

(image source: pinterest)
  1. Membersihkan kamar mandi! Walaupun terlihat low maintenance, tapi kewajiban membersihkan kamar mandi jangan sampai hilang ya. Bersih bukan berarti bersih seutuhnya.
  2. Sediakan parfum/pengharum ruangan kesukaan teman-teman. Hal ini akan menambah kenyamanan dan membangun suasana yang baik ketika kita memasuki kamar mandi
  3. Di dalam kamar mandi bukan berarti tidak boleh ada aksesoris, belilah sebuah pajangan yang menyenangkan untuk dilihat. Bisa jadi pajangan tersebut memiliki dwifungsi seperti tempat sabun atau wadah sikat gigi

Don’t :

  1. Memilih material kamar mandi yang licin. Sebagus apapun itu, utamakan fungsi terlebih dahulu ya teman-teman. Safety comes first.
  2. Jangan menggunakan tempat sampah yang terbuka, karena tisu-tisu akan terlihat. Belilah tempat sampah yang tertutup dengan pembuka menggunakan pijakan kaki ya. Lebih higienis.

Selamat menghias kamar mandi.

Salam hangat, Marisa. (@marisasugangga)