Hello: September!

DSCF6588
Pantai Tanjung Aan: Sepenggal cerita liburan kemarin.

Setelah melihat archive sedikit terkaget-kaget. “Serius terakhir nulis di sini bulan Mei? Ke mana aja?” Kasian juga. Bukan sih, masalahnya bukan di perihal sibuk tugas, liburan, jalan-jalan, observasi, internship, dan kumpul keluarga. Hanya saja ‘hawa’ menulisnya terganggu karena hal-hal non teknis yang membuat saya banyak alasan untuk akhirnya bisa rehat menulis sejenak. Untuk mengawali indahnya September, mari menulis hal yang ringan-ringan saja, contohnya kemarin saya ke mana saja ya?

Selamat datang semester 3 yang menakjubkan!
Kenapa bisa saya bilang menakjubkan? Pasalnya mata kuliah dan sksnya lebih sedikit dibanding dua semester sebelumnya, tapi bobotnya jauh berbeda. Semester ini rasanya padat sekali. Sepertinya pemanasan dan disambi mencari literatur untuk thesis yang topiknya (alhamdulillah) sudah ketemu dan di setujui oleh (calon) dosbing dan bapak dosen metodologi penelitian (metlit). Terlebih tadi pagi di kelas, Bapak dosen metlit berkata, “Ingat ya, jangan anggap thesis sebagai masterpiece. Anggap saja batu loncatan agar kalian bisa segera lulus dan menyusun the real masterpiece kalian. Ingat bahwa waktunya hanya 6 bulan, susun strategi dan manajemen waktu dengan baik.” Waduh, waktu dinasihati seperti itu, saya dengan senang hati berkata dalam hati “Oke Bapak, siap!” diiringi dengan wajah berbinar-binar khas saya.

Sempat liburan berkali-kali.

Sebelum memasuki semester ajaib ini, alhamdulillah sempat jalan-jalan juga ke Lombok, Bangkok, dan Jogja! Senang? Jangan ditanya. Nanti kalau ada kesempatannya, saya akan berbagi cerita menyenangkan semasa menghabiskan waktu di sana. Liburan sembari belajar sekaligus berbagi bersama teman-teman kesayangan saya alias Rancang Kota angkatan 2016. Pergi bersama mereka sih sebenarnya hanya ke Bangkok saja, sisanya liburan keluarga dan me time. Iya nanti diceritakan, tapi nanti ya.

Ketika jalan di minggu kedua kemarin, rasanya berat sekali. Perasaan ini semakin besar karena saya merasa sangat kurang dalam hal membaca. Semakin membaca saya merasa semakin bodoh. Semakin masuk kuliah pun saya semakin merasa “Lha ke mana aja Cha? Kemarin baca apa?” Tapi di minggu ke tiga ini, semangatnya sudah bangkit lagi karena ada saja hal-hal yang Allah tunjukkan pada saya. Merasa sangat beruntung karena masih memiliki semangat yang bisa dinyalakan kembali setelah merasa sempat mati (mendadak). Ya ya, kamu harus semangat Cha karena masih banyak yang ingin dilakukan di hari-hari setelah ini. 

Oke, untuk mengawali lembaran yang sudah lama kosong karena penulisnya sedang ‘mogok’ nulis sesaat, kita sudahi dulu ya. Selamat membaca dan jangan lupa membaca buku hari ini!

Advertisements

Teras Itu Bernama Teras Cikapundung

IMG_5426

Mas Rayyan selalu bercerita mengenai Teras Cikapundung yang terletak di Jalan Siliwangi, Bandung. Kebetulan Kamis sore itu saya keluar menggunakan kendaraan roda empat, maka mau tak mau saya harus memarkirkan kendaraan saya di parkiran Saraga dengan tarif Rp 5.000. Lokasi parkiran ini dekat sekali bila mau ke Teras Cikapundung, kurang lebih 50 meter dan trotoar menuju ke sana sangat baik kondisinya. Saran saya bila mau santai, naik saja kendaraan umum atau motor karena tersedia parkiran motor di ruang publik tersebut. Oh ya, saya datang pukul 15.30-an di weekday alias hari Kamis. Kata Mas Rayyan, kalau weekend atau hari libur kondisi Teci sangat ramai. Hari ini sedang tidak terlalu ramai, tapi sepertinya semakin sore akan semakin ramai sepengamatan saya.

IMG_5421
View dari arah Saraga menuju jalan masuk Teras Cikapundung
IMG_5422
Konsep terasering dan tumbuhan yang terawat. Perpaduan warna semaknya pun baik.

Teras Cikapundung ini merupakan sebuah taman tematik yang tidak dipungut tarif untuk kita masuk dan menikmati fasilitasnya. Diresmikan Januari 2016, Teras Cikapundung dulunya adalah area bantaran sungai yang sempat dijadikan tempat pembuangan sampah sementara. Akhirnya oleh masyarakat dan komunitas yang peduli dengan lingkungan, bantaran sungai ini dibersihkan dan dibenahi hingga akhirnya munculah ide untuk menjadikan kawasan ini tempat wisata alam. Pembangunan Teras Cikapundung direspon oleh pemerintah dan dimulai pada tahun 2013. Hingga pada akhirnya setelah selesai diresmikan, Teras Cikapundung menjadi salah satu ruang publik favorit hingga saat ini, termasuk bagi saya pribadi.

Jalan masuk menuju tempat ini berupa turunan berbentuk ramp. Ramp ini pula yang menjadi akses keluar-masuk untuk kendaraan roda dua yang akan parkir di parkiran taman ini. Bapak penjaga parkir berjas orange tersebut sangat ramah dan selalu tersenyum serta mengucapkan “Sore Teteh” (Aaah setelah sekian lama, akhirnya dipanggil Teteh lagi). Awalnya saya agak ragu-ragu untuk mengeluarkan kamera karena saya seorang diri. Sampai akhirnya ketika masuk ke taman, banyak sekali yang mengambil foto baik itu pakai tongsis, narsis sendiri pakai handphone, hingga mas-mas yang menggunakan dslr.

Desain lansekapnya sudah modern, menggunakan pola-pola yang sering sekali saya lihat di buku referensi arsitektur lansekap. Dari segi desain pola paving lantai hingga penataan tanamannya pun sudah dibuat cantik dan modern. Kesan ceria, bersih, dan pemilihan tanaman pun ikut andil atas hidupnya Teras Cikapundung ini.

IMG_5425
Suka sekali dengan hiasan kupu-kupu biru ini.

Fasilitas yang cukup menarik minat masyarakat untuk datang ialah adanya pertunjukkan air mancur dari yang dimulai pada pukul 17.00-20.00 dengan interval 1 jam di setiap show. Sayangnya saya harus segera pulang, jadi tidak sempat mengabadikan momen show air mancur hari itu. Menyusuri sungai dengan kapal karet di tengah kota? Nah, di taman ini kita bisa mendapatkannya. Cukup membayar donasi untuk pemeliharaan sungai sebesar Rp 10.000 bagi orang dewasa dan Rp 5.000 untuk si kecil.

Beberapa fasilitas lain terdapat Jembatan Merah (spot paling ramai untuk berfoto), mural wall yang berjudul “Journey of Happiness”, bangku-bangku taman yang cukup banyak, lalu Amphiteater. Amphiteater adalah tempat pertunjukan berupa panggung terbuka dan kursi-kursi terbuka. Kursi-kursi terbuka untuk amphiteater di taman ini berupa undak-undak seperti tangga yang nyaman sekali untuk bersantai dan diteduhi oleh pohon ketapang kencana. Setelah menyebrangi jembatan merah, kita dapat bertemu dengan gazebo-gazebo dan bangku taman yang melingkar. Saya melihat ada yang sedang rapat bahkan mengerjakan tugas di taman ini. Ada juga yang seperti saya, solo traveler, mungkin sedang main Pokemon Go.

IMG_5428
Teras Amphiteater.
IMG_5432
Berkapal karet mengarungi sungai dan uangnya untuk merawat sungai tersebut. Baik kan.
IMG_5431
Jembatan merah, jembatan selfie dan wefie.
IMG_5429
Jokes khas yang selalu bikin gemes, jokes menyangkut mantan. Haha

Hal yang perlu diperhatikan bagi kita adalah menjaga kebersihan taman kita bersama. Sangat disayangkan bagi taman sebaik ini bila kita masih membudidayakan buang sampah sembarangan. Prinsipnya sederhana saja, bila tidak ada tempat sampah, sampat bisa kita kantongi dahulu atau selipkan di dalam tas untuk nantinya di buang saat kita bersih-bersih tas di rumah.

Cukup sedih juga ketika berkunjung ke sini masih ada yang membuang tisu atau bungkus plastik di sela-sela tanaman. Tapi ternyata setelah saya perhatikan, tidak terdapat tempat sampah yang cukup di area taman ini. Hmm… Mungkin sedang dalam tahap pengadaan ya? Menurut saya untuk area publik, tempat sampah cukup penting keberadaannya sejak awal agar tidak ada alasan untuk membuang sampah sembarangan.

IMG_5433
Spot favorit saya. Dulu ketika mendesain, saya suka sekali dengan island, gundukan-gundukan seperti ini. 
IMG_5434
Yuk dijaga Teras Cikapundung-nya.

Ke manapun saya pergi, saya suka mengunjungi area publik seperti ini. Sendirian pun tidak jadi masalah selama selalu menjaga barang bawaan dan jangan bengong ya, hehe. Ketika datang, alunan lagu yang mengalun untuk sore ini adalah lagu dangdut. Selamat menjelajah dan merasakan indahnya Teras Cikapundung Bandung.

 

an urban traveller,

– Marisa Sugangga (2016)