Strolling Around City (Singapore)

DSCF1720

Kalau diajak ke Singapura, selalu nggak pernah nolak. Beberapa teman suka nanya, kenapa sih suka banget bolak-balik Singapura? Jawabanku pasti “selalu ada yang baru di kota ini.” Selain karena selalu dapat tiket yang under normal price -seperti PP 300-400ribu-, aku juga bukan orang yang picky soal “kabur” sejenak dari kenyataan. Selama ada kesempatannya, suka aku ambil aja hehehe. Tahun ini kesempatan ke Singapura aku pergunakan untuk strolling around the city, seperti melihat free show atau menyusuri kawasan yang baru direvitalisasi (dihidupkan kembali).

DSCF1801

Hal yang paling menarik untuk liburan kali ini adalah penginapannya. Aku pergi berenam dengan keluargaku (belum full team loh itu, haha) dan memutuskan untuk tidur di hostel dengan bunk bed. Tujuannya agar satu kamar bisa semua masuk dan karena kita akan sangat jarang berada di penginapan, jadi kita memilih penginapan berdasarkan lokasi. Nah, aku punya satu rekomendasi penginapan yang bagus sekali baik secara lokasi maupun service. Adamson Inn ini berada di sekitar Kampong Glam (3 Jln Pinang, Singapore) dan ini secara lokasi sangat-amat-recommended-sekali! Untuk yang muslim, tidak perlu pusing mencari makanan halal karena ini adalah daerah yang nyaris semuanya makanan halal. Most food di sini adalah makanan arab/india seperti martabak, nasi briyani, chicken curry, dan favorit aku adalah teh tarik! Tidak ada penginapan yang super murah di Singapura, tapi kalau mau cari lokasi yang menyenangkan dan mencoba hotel ala-ala backpacker, Adamson Inn adalah tempat yang tepat. Solat pun bisa menjadi sangat menyenangkan dan khusyu karena hostel ini bertetangga dengan Sultan Mosque (salah satu destinasi wisata di Singapura). Jadi selama di sini, teman-teman akan tetap bisa mendengarkan adzan.

DSCF1664
Yah, ketutupan truk. Maaf ya
DSCF1666
Suasana di sekitar penginapan, ada halte bis di belakang sini

Oh iya, untuk hari ini perjalanan kali ini, kita tidak lagi menggunakan EZ-Link sebagai kartu transportasi di Singapura. Kita menggunakan Singapore Tourist Pass yang bisa dibeli di bandara juga saat pertama kali naik MRT. Harganya 20 SGD dan itu ada depositnya, bisa diambil waktu nanti pulang tuker tiket (seperti kita tuker tiket untuk tiket harian di commuter line). Waktu itu aku belinya yang standar bukan yang plus jadi kartu ini tidak include transportasi seperti ke Sentosa dan beberapa bus pun tidak dilayani oleh kartu ini (biasanya bus yang ada tulisannya “express”, bisa cek di halte atau internet). Jadi pas pilih rute di halte bus, sedikit lebih cermat saja agar tidak salah naik bis. Overall kartu ini worth it sekali dan selama perjalanan kali ini, aku banyak menggunakan transportasi bis karena udah free pass! Jadi selalu cari halte terdekat dari tujuan dan kadang tuker di salah satu bus stop untuk menuju line bus yang lain. Serunya adalah kita bisa benar-benar lihat kotanya seperti apa. Dulu biasanya aku selalu naik MRT, jadi kotanya tidak terlihat.

DSCF1746

DSCF1751

DSCF1745
Aku bilang sama Mama kalau ini kartu ‘sombong’, bisa tap-tap sepuasnya tanpa berpikir harus top up

Sebelum dari melakukan perjalanan kali ini, aku selalu penasaran dengan kondisi terbaru dari Haji Lane. Nah, koridor yang sudah direvitalisasi ini berada tidak jauh dari penginapan. Akhirnya sore-sore setelah sampai dan selesai check in, aku mencoba mengunjungi kawasan ini. Ramai sekali kondisinya tapi masih nyaman untuk melakukan kita melakukan aktivitas. Menariknya, setiap bangunan diberi warna yang berbeda bahkan cenderung kontras, tapi masih bisa menimbulkan kesan yang harmonis. Aku selalu berpikir bahwa mungkin sebelum dilakukan proses pengecatan, terdapat proses riset dan trial error pada satu studi/lab percobaan warna ya? Hahaha atau sepertinya seingat aku memang ada teori keharmonisan warna yang bisa didapat bila kita menggunakan teori seperti komplementer, split komplementer, dan teman-temannya itu. Serius, aku benar-benar penasaran kenapa walaupun kesannya tabrak warna tapi bisa seharmonis itu. Bisa juga dari tipologi bangunan yang serupa tapi tak sama seperti desain jendela, pintu, dan atap yang serupa hingga akhirnya membentuk kombinasi yang sangat harmoni (huhu, ngefans). Kondisi dari setiap bangunan di sini tergolong sangat baik dan terawat, sangat menyenangkan berada di sekitar Haji Lane, Kampong Glam, dan Arab Sreet ini.

DSCF1598
Sultan Mosque, salah satu vista di Muscat Street
DSCF1618
Haji Lane Street

DSCF1619

DSCF1633

DSCF1772
“Aku nanti kalau punya rumah sendiri mau dicat kayak gini!” lalu semua kabur.
DSCF1778
Kawasan Kampong Glam
DSCF1780
Pendekatan desain yang digunakan untuk kawasan yang memiliki dinding-dinding besar namun berorientasi ke jalan

Free show yang aku datangi kali ini adalah water fountain show yang diadakan oleh Marina Bay Sands dan lokasinya pun berada tepat di belakang mall ini (di area promenade). Untuk jadwal bisa cek di webnya https://id.marinabaysands.com/ dan kemarin aku datang saat pukul 20.00. Pastikan mendapatkan spot yang tepat agar dapat menikmatinya. Saran aku siap-siap saja di area sekitar LV building, hehehe atau paling depan dekat pagar pembatasnya sekalian. Free show kedua berada tidak jauh dari lokasi Spectra yaitu di Garden by The Bay yang memberikan free lighting show. Saat itu aku sedang beruntung sekali karena musik yang digunakan saat itu berasal dari lagu-lagu film Disney!!! (include Star Wars theme hehehe, gimana ga seneng?).  Jadwalnya bisa cek di web nya juga, kemarin aku datang di waktu 08.45. Nah, untuk datang ke free show seperti ini, bisa selalu cek di website nya untuk jadwal-jadwal pertunjukannya. Singapura selalu punya pertunjukan baru untuk kita nikmati secara gratis, jadi sebelum berangkat, bila mode travelling teman-teman adalah para pencari event gratisan, rajin-rajin buka website nya visit singapore ya. Segala promo dan event bisa cek di situ.

DSCF1678
View dari Helix Bridge
DSCF1694
Spectra
DSCF1719
Garden by the Bay Lighting Show

Hari terakhir yaitu hari ketiga, aku menghabiskannya dengan explore area Kampong Glam saja sebenarnya. Sempat juga sih mengunjugi kantor polisi yang di redesign yaitu The Old Hill Street Police (loh, fotonya malah lupa aku ambil). Nah bangunan ini dulunya adalah kantor polisi dan sekarang digunakan sebagai kantornya MICA (Ministry of Information, Communications and the Arts). Hal yang menarik dari bangunan berjendela banyak ini lagi-lagi permainan warna yang banyak dan selalu eyecatching (dan selalu berhasil membuat aku penasaran bagaimana itu cara harmonisasi warnanya). Selain itu, di sekitaran area hostel banyak sekali tembok-tembok kosong yang diberi mural dan menjadikan kawasan itu bukan lagi sekedar kawasan rumah atau ruko melainkan menjadi kawasan yang memiliki nilai seni. Pendekatan ini bisa juga dilakukan untuk menghidupkan ruang-ruang yang memiliki dinding besar. Hal seperti ini sudah banyak dilakukan di kota besar. Saat jalan-jalan ke Bangkok pun, dinding yang dicat tidak tanggung-tanggung, besar dan tinggi sekali (ada di postinganku sebelum ini saat di Bangkok). Kan jadi ingin riset di kota tempat tinggal, daerah mana yang bisa diintervensi untuk meningkatkan kualitas lingkungan dengan pendekatan ini, HE HE HE (otaknya masih aja riset). Oh iya, sebelum sampai ke Bandara Changi, kita makan di daerah Paya Lebar. Di sana ada area food court yang menyediakan makanan halal walaupun itu chinese food! (surga banget kaaan) dan sekalian menuju Changi, kita mencoba mampir ke area National Stadium. Ada tempat lari indoornya, menarik sekali. Jadi ingat zaman kerja di Jakarta suka lari di bagian outer ring nya GBK malam-malam, sepertinya menarik juga nih kalau GBK diberi indoor outer ring seperti ini.

DSCF1893
Semi Indoor Jogging Track (LOOOOVE)

DSCF1895

Baiklah, sekian ceritaku tentang perjalanan ke Singapura kali ini yang lagi-lagi menemukan hal baru. Makanya, walaupun selalu dibilang “ngapain sih berulang kali ke Singapura?” ya itu…. karena aku selalu bisa menemukan hal yang baru. Bagian terpentingnya sih menurutku urban planner/urban designer/arsitek bisa belajar banyak dari tata kota dan pendekatan yang digunakan Singapura untuk menghidupkan kembali bahkan memberikan sesuatu yang baru untuk kotanya. Walaupun memang harus dipilah dan dipilih karena tentu tipologi dan kondisi Singapura berbeda dengan Indonesia (apalagi masalah luas wilayah), tapi beberapa pendekatan masih relevan untuk diaplikasikan di Indonesia kok (tentunya dengan beberapa analisis kontekstual khusus kawasan di Indonesia. Menariknya lagi, di sini banyak preseden (contoh) yang bisa kita pelajari dan lihat secara langsung. Karena memang beda sekali kalau lihat di internet dengan mempelajari dan merasakan langsung.

DSCF1881
halo

 

***

Salam ceria-cinta-damai,
Marisa Sugangga (April, 2018).

Advertisements

Tiga Teori Normatif Terbentuknya Sebuah Kota

Latar Belakang Terbentuknya Teori

Secara harfiah, manusia akan terus mencari dan membentuk tempat yang ideal untuk terus memperbaiki kualitas hidupnya. Persepsi tentang ideal bagi setiap pola pikir individu tentu berbeda. Kebutuhan manusia pun mempengaruhi tempat tinggal seperti apa yang baik dan dapat memenuhi kebutuhan untuk melangsungkan hidupnya. Sejarah terbentuknya kota di dunia sangat berpengaruh pada tingkah laku dan norma-norma yang berlaku pada masyarakat pada masa itu. Dalam perkembangan kota, terdapat tiga teori normatif yang memiliki ciri khas di masing-masing awal pembentukannya. Terdapat tiga teori normatif yang dijabarkan pada buku “Good City Form” karya Kevin Lynch (1981).

Teori Kosmik (Cosmic Theory) muncul dengan latar belakang hubungan spiritual manusia dengan Tuhan. Masyarakat pada saat itu memiliki budaya pemujaan terhadap apa yang dianggap mereka sakral. Sebuah kota digambarkan sebagai tempat ritual keagamaan dan pemujaan. The City as Supernatural sangat memperhatikan nilai-nilai sakral yang membentuk jalur peradaban manusia dengan sendirinya. Kota juga digambarkan sebagai model dari alam semesta. Bentuk-bentuk yang tersusun pada akhirnya membentuk satu kesatuan yang dianggap sempurna. Dalam penyusunan tata letak ruang kota model kosmik, terdapat banyak aspek yang diperhatikan seperti fenomena alam. Pandangan-pandangan ini pada akhirnya digunakan untuk menentukan tempat-tempat yang strategis serta membawa keberuntungan dalam hidup dan membangun batasan-batasan yang jelas.

Teori normatif kedua yang muncul adalah The City as Machine, kota sebagai sebuah mesin. Teori ini muncul ketika peradaban manusia mulai mengenal teknologi dan keberagaman dalam upaya pembangunan. Kota dipandang sebagai seperti mesin yang mampu memenuhi kebutuhan industrialisasi.  Kota model ini dibangun dengan cepat dan peraturan yang sederhana. Tak jarang muncul bentuk-bentuk yang begitu kontras dari lingkungan sekitarnya sehingga kurang memperhatikan aspek lingkungannya, karena efisiensi pendistribusian bararng dianggap yang utama. Aspek alam kurang diperhatikan pada model kota mesin bahkan dianggap sebagai penghalang atau bencana dalam proses pembangunannya.

Model kota yang ketiga terbentuk dari analogi kota sebagai sebuah organik, berkembang seperti makhluk hidup. The city as organism melihat sebuah kota sebagai jaringan yang tumbuh di mana setiap elemennya memiliki fungsi masing-masing dan menopang satu sama lain. Kota sebagai makhluk hidup sangat bergantung satu sama lain, karena bila ada fungsi yang mati maka fungsi yang lain akan mati juga. Alam pun memegang struktur yang cukup besar dalam pembentukan kota model organik dengan menjadi sense of place di tiap bagian kota. Model kota ini berkembang dan diterapkan di banyak tempat di dunia hingga saat ini.

Kesamaan Bentuk Kota

Kota kosmik memiliki struktur kota yang berlapis-lapis. Hirarki yang dimiliki kota model kosmik terbentuk karena proses-proses ritual yang dilakukan oleh masyarakat. Tempat ritual akan berada di tengah, posisi yang dianggap strategis dan menjadi pusat dari peradaban saat itu. Sirkulasi yang terbentuk pada kota model ini menuju ke arah tempat pemujaan kepada Tuhan.

 

1
Kota Tenochtitlan, salah satu kota model kosmik (http://www.67.media.tumbl.com)

 

City as a machine memiliki pola ruang yang grid atau terkotak-kotak. Model kota ini memiliki sumbu berupa jalan yang lebar dan besar. Pertumbuhan kota akan mengikuti jalan tersebut. Proses ekonomi dan pendistribusian yang efisien menjadi awal terbentuknya jalan sebagai sumbu pada saat itu. Pendistribusian ini mengarah dari sumber daya alam menuju tempat di mana masyarakat yang berkuasa akan menggunakannya.

Penerapan grid pada rencana kota Philadelphia dan Terapan kota organic pada Greenbelt, Maryland

2

3

Pola yang terbentuk pada kota organik membentuk keseimbangan  Ciri organisasi ruang yang terbentuk dalam kota organik ialah membentuk kesatuan yang terdiri dari unit-unit yang fungsional. Dilihat dari susunannya, ketiga kota ini memiliki kesamaan bentuk pada sistem grid pada blok bangunan yang mengikuti konteks setting jalan yang menjadi sirkulasi sebuah kota. Model kota organik lebih tidak kaku dari dua model kota lainnya karena pertumbuhannya lebih fleksibel, namun unsur keteraturan tetap terasa dalam model kota organik. Dianalogikan seperti jaringan makhluk hidup, kota model organik juga memiliki jantung yang dianggap sebagai pusat dari segala aktifitas.

Kesamaan bentuk yang dimiliki oleh ketiga model kota ini digambarkan dengan adanya satu titik (core) yang menjadi pusat segala aktifitas. Pusat ini menjadi titik tumbuh kembang perkotaan yang pada akhirnya terbentuk karena adanya suatu hubungan antara yang berkuasa dengan pendukungnya. Kekuasaan dan kekuatan adalah unsur pembentuk kota yang yang tidak bisa dihindarkan. Bentuk-bentuk kota mengarah ke pusat kekuasaan namun jaringan pembentuk kota berupa sirkulasinya berubah seiring dengan pola pikir, budaya, dan kebutuhan manusia pada saat itu.

Perancangan Kota yang Baik

Kota yang baik tentu dirancang sesuai dengan kebutuhan manusia. Urgensi peradaban manusia membuat kota memiliki sejarah dan warnanya. Masing-masing teori memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Kota dalam cosmic theory memiliki nilai lebih pada keberadaan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai yang terkandung pada kegiatan-kegiatan ritual tersebut dapat menimbulkan sense of place tersendiri bagi kota tersebut. luar.

Kota sebagai mesin dipandang dari sudut pandang ekonomi tentu sangat menguntungkan. Model kota ini dapat memberikan pergerakan ekonomi yang cepat dan optimal. Distribusi dari produsen ke konsumen pun dapat berjalan dengan baik.

Model kota bawaan dari kolonial ini mengutamakan jalan-jalan yang besar dan lurus karena mempertimbangkan aspek ekonomi. Sirkulasi merupakan sumbu utama dari pertumbuhan kota model ini. Namun, seperti yang kita lihat, pada saat ini sumbu-sumbu tersebut bisa menjadi landmark/ikon tersendiri bagi kota tersebut. Jalan Braga di Bandung merupakan contoh nyata bagaimana jalan yang awalnya diperuntukkan bagi distribusi biji kopi pada zamannya, pada saat ini menjadi tempat yang sangat berpengaruh keberadaannya di Kota Bandung

Kota yang tumbuh dengan model organik memiliki keseimbangan dalam hal integrasi manusia dan alamnya. Lebih fleksibel dan tidak sekaku dua model kota sebelumnya. Alam tidak lagi dipandang sebagai sebuah simbol yang sakral atau pun penghalang dalam proses pembangunan dan pembentukan sebuah kota. Aspek alam merupakan aspek yang seharusnya tidak ditinggalkan karena pada hakikatnya kita akan selalu hidup berdampingan dengan alam.

Disimpulkan bahwa perancangan kota yang baik adalah kota yang tetap menghargai dan menjaga nilai-nilai budaya yang ada. Kegiatan ekonomi merupakan pertimbangan penting dalam membangun sebuah kota, karena dengan ekonomi pula kota akan tumbuh dan berproses. Konsep ekologi merupakan konsep yang baru muncul setelah manusia sadar bahwa kita tidak mungkin hidup berpisah dengan alam. Lebih bijak ketika memilih berjalan beriringan dengan alam daripada mengesampingkan alam, karena alam memberi kita segala kebutuhan. Maka konsep nilai sejarah, ekonomi, dan alam merupakan satu kesatuan penting untuk membangun kota yang baik serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

Bentuk Kota di Indonesia

Indonesia sebagai negara berkembang memiliki sejarah pertumbuhan kota yang dimulai dari masa penjajahan hingga masa sekarang. Warna tiap kota yang dihasilkan pun berbeda-beda. Keberagaman budaya Indonesia sebenarnya bisa menjadi ciri khas untuk membentuk wajah perkotaan Indonesia. Terdapat kota yang kental unsur spiritualnya, dipengaruhi oleh penjajahan pada masa kolonial, begitu pula yang tumbuh mengikuti pusat perdagangan dan jasa.

Kota-kota di Bali dapat menjadi contoh dari kota spiritual yang dicintai banyak masyarakat dari dalam maupun luar negeri. Konsep dasar pada Arsitektur Tradisional Bali pun sangat kental dengan kosmologi seperti konsep Tri Hita Karana, orientasi Nawa Sanga atau Sanga Mandala, keseimbangan kosmologi Manik Ring Cucupu, Asta Kosala Kosali, serta Asta Mandala. Konsep-konsep perancangan tersebut terbentuk oleh budaya spiritual dan keyakinan orang bali terhadap hubungan yang harmonis antara manusia dengan dewanya. Bentuk dan tatanan yang mengikuti konsep ini diyakini akan mendatangkan kebahagiaan bagi terminologi masyarakat bali.

Peran pemerintah dalam menjaga budaya yang masih kental di Bali hingga saat ini pun cukup besar. Perda untuk pembangunan di Bali disusun mengikuti norma-norma yang berlaku di Bali seperti tinggi bangunan tertinggi tidak boleh melebihi tinggi pohon kelapa (15 meter). Upaya pelestarian seperti ini dapat dilakukan guna menjaga nilai yang telah terkandung pada sejarah kota tersebut dan tidak terkikis oleh zaman. Dalam upaya konservasi keindahan lanskap kota, pengambilan keputusan seperti ini perlu dilakukan.

 

4
Kota Denpasar (http://www.luxviz.com)

 

Kota Paris pun menerapkan pembatasan tinggi bangunan hingga 25 meter dengan tujuan menjaga skyline kota Paris dan Menara Eiffel selalu menjadi primadona berkat kiat pemerintah tersebut. Semangat menjaga konservasi lansekap untuk kota ini kurang lebih sama dengan keinginan masyarakat Bali yang menginginkan budaya Bali tidak hilang. Hal yang berbeda dari kasus Bali dan Paris adalah ketinggian bangunan di Bali dibatasi untuk menghormati pura-pura sebagai tempat sakral dan dihormati yang berada di kota-kota Bali.

Pada kota-kota kosmik seperti di Bali, detail menjadi bagian yang sangat menentukan. Seperti pada konsep kota kosmik, kotanya dibentuk sebagai upaya pemujaan terhadap Tuhan. Kota kosmik membentuk keharmonisan dan keindahan yang tertangkap baik secara visual mau pun harmoni. Sense of place pada kota di Bali begitu khas. Kota Denpasar sebagai kota yang padat di Bali pun tetap terasa berbeda karena adanya hawa dan pembawaan spiritual pada setiap detail yang diberikan di wajah-wajah pembentuk jalannya.

 

Reference
Lynch, Kevin. (1981): Good City Form. MIT Press, New York.