Secuil Cerita Perjalanan ke Pontianak

Processed with VSCO with c1 preset
Choi Pan/Cha Kue versi Jumbo yang saya makan di D’Bamboo. Best of the best!

Salah satu bagian yang tidak lepas dari pekerjaan saya adalah survei. Tiba-tiba saya dikabari bahwa saya harus mendatangi tiga kota yang akan ditinjau yaitu Cirebon, Pontianak, dan Jambi. Saat akan ke Pontianak, rasanya campur aduk (lebih ke senang tentunya). Pasalnya, saya baru saja ingin masakan khas Pontianak yaitu Cha Kue/Choi Pan. Iya, kue yang tambah booming karena film Aruna dan Lidahnya tersebut berhasil membuat saya berdoa sepanjang waktu agar dapat makan Choi Pang langsung di Pontianak. Oh iya, berbicara soal Choi Pan, makanan ini sebenarnya asli dari Singkawang dan menjadi makanan khas yang dimakan oleh orang-orang Tiongkok [1]. Tidak heran saat berkunjung ke restoran yang menjual Choi Pan di kota ini, akan banyak masyarakat Tiongkok yang memesan dalam jumlah berloyang-loyang!

 

Kota Bisnis Sejati

Processed with VSCO with c1 preset

Kedatangan saya ke kota ini tentu bukan jalan-jalan, itu hanya sambilan saja. Saya datang dalam rangka dinas untuk mengetahui pangsa pasar atau dalam dunia saya sering dikatakan sebagai survei market. Akhirnya perjalanan survei saya diawali dengan mengidentifikasi kegiatan apa saja yang dilakukan masyarakat pontianak di hari biasa dan saat pekan. Selain masyarakat, saya juga mengidentifikasi perilaku dari wisatawan yang datang ke Pontianak. Kebetulan kami datang saat perayaan Cap Go Meh, sungguh sebuah kejutan karena kami tidak merencanakannya. Jadilah banyak wisatawan yang sekedar transit di Pontianak untuk meneruskan perjalanan ke Kota Singkawang atau sekedar merayakan Cap Go Meh di Jalan Gajahmada, ruas jalan perdagangan yang terkenal di kota ini.

Processed with VSCO with c1 preset
Suasana Cap Go Meh di Jalan Gajahmada

Processed with VSCO with c1 preset

Karena akhir-akhir ini saya selalu merasa semua kota pada akhirnya di arahkan menuju kota wisata, saya mendapati hal yang berbeda di Pontianak. Saat survey ke berbagai dinas untuk wawancara, mereka dengan tegas berkata, “Kota ini tentu kota bisnis. Kita tidak punya sesuatu yang bisa ditawarkan sebagai objek wisata. Kebanyakan orang-orang datang untuk transit menuju Singkawang. Karena di Singkawang tidak ada bandara, mau tidak mau mereka harus turun di Bandara Supadio kan?”. Saat kami bertanya kira-kira ada potensi ke arah wisata, sebagian dari perwakilan dinas hanya berkata, “Tidak perlu, kita upgrade kota ini untuk kepentingan masyarakat saja. Memperbaiki kualitas ruang di sisi sungai untuk kehidupan mereka yang lebih baik. Tidak perlu dipaksa menjadi kota wisata cukup dengan kota bisnis dan transit saja.”

 

Akhir Pekan yang Sepi?

Berbeda dengan kebanyakan kota-kota besar di Indonesia, pusat perbelanjaan dan perdagangan Pontianak di akhir pekan cenderung sepi. Bahkan jumlah kendaraan bermotor menuju kota dari kabupaten pun relatif sepi bila dibandingkan dengan hari biasa. Hal ini terlihat di ruas jalan utama Ahmad Yani, yang menjadi jalan penyambung utama antara Kabupaten Kubu Raya dengan Kota Pontianak. Ternyata, masyarakat Kabupaten Kubu kebanyakan bekerja di Kota Pontianak dan saat akhir pekan, mereka lebih suka menghabiskan waktu di rumah untuk berakhir pekan bersama keluarga. Ini jelas berbeda bila dibandingkan dengan Jakarta atau Bandung. Bisa dengan mudah kita mengatakan ruas-ruas jalan menuju pusat perbelanjaan di Jakarta atau Bandung akan selalu ramai dan padat. Nah ternyata, yang ramai di Pontianak bukanlah pusat perbelanjaan melainkan tempat-tempat publik apalagi Alun-Alun Taman Kapuas yang disulap menjadi penuh tempat duduk dan bermain. Dengan modal Rp 15.000, kita bisa menaiki perahu dan mengelilingi Sungai Kapuas di sore hari. Kalau mau wisata gratisan, bisa saja tinggal duduk-duduk di pinggir taman lengkap dengan pemandangan Sungai Kapuas yang sudah pasti tidak bisa kita dapatkan saat di Pulau Jawa. Hal lucu lain yang saya temukan adalah konsep PKL (Pedagang Kaki Lima) yang ada di bantaran sungai. Mereka tidak berjualan di tepi jalan lagi tapi warung mereka benar-benar mengapung di atas sungai. Ombak yang besar tidak berpengaruh, mereka tetap asyik jualan membakar jagung dan melayani pembeli dari warung unik mereka.

Processed with VSCO with c1 preset
Pedagang Kaki Lima yang aku nobatkan menjadi PKL super tahan ombak

 

The Real Shophouses dan Culture ‘Ngopi’

Bicara tentang Arsitektur, terdapat hal yang mencuri perhatian saya selama di Pontianak. Ya, tentang ruko-ruko yang begitu hidup terutama di kawasan perdagangan Pontianak. Pada ruas Jalan Gajahmada/Jalan Tanjung Pura, kita akan disambut oleh ruko-ruko berlanggam lama. Menariknya, lantai dua hingga tiga pada bangunan ruko ini benar-benar dijadikan hunian oleh penghuninya. Tidak sekedar menjadi toko yang akan tutup di malam hari dan buka saat pagi. Tidak heran saat pagi kita akan mendapati penghuninya sedang ‘nongkrong’, jemur baju, kipas-kipas, dan melakukan ragam kegiatan yang bisa dilakukan di balkon. Beruntungnya lagi, saat perayaan Cap Go Meh lengkap dengan naga-naga yang berjalan di sepanjang jalan tersebut, masyarakat yang berpenghuni di ruko bisa menyaksikan dari lantai dua rumah mereka. Sungguh pemandangan yang sangat eksklusif.

Processed with VSCO with c1 preset
Lantai dua dari ruko yang masih berfungsi sebagai balkon

Selain arsitektur ruko yang masih berfungsi dengan baik, kedai kopi kekinian di Kota Pontianak tidaklah ramai. Tentu, kedai kopi legendaris seperti Asiang dan Kopi Aming lebih mencuri perhatian bagi para pecinta kopi dan wisatawan seperti kami. Cukup dengan satu gelas kopi dan colokan, penuh sudah tempat ngopi tersebut. Berbeda dengan Kopi Asiang yang menjaga autentisitasnya dengan tidak membuka cabang atau menjual produknya di tempat lain, Kopi Aming justru merambah pasar sekelas Indomaret/Alfamart dan membuka gerainya di Mall Transmart, Kubu Raya. Saat pulang melalui bandara pun, kita dapat membawa pulang Kopi Aming yang segar dengan menggunakan gula aren. Ya, kopi-kopi ini tentu buka sejak subuh dan ramainya pun sejak warung ini dibuka. Ajaib sekali bukan? Budaya ngopi ini tidak hanya ada di kalangan remaja, tapi justru kalangan tua, bapak atau pun ibu, semua suka ngopi di Pontianak. Tak heran kota ini dipanggil Kota Seribu Kedai Kopi (selain sebutan Kota Seribu Sungai yang sama terkenalnya).

Kopi susu gula aren di Aming Coffee

Masyarakat Sungai

Akhir kata, saya sangat berbahagia dapat mengabadikan banyak hal tentang Kota Pontianak. Kota yang masih menggunakan sungai sebagai jalur transportasinya untuk menyebrang. Tidak hanya manusia, tapi juga terdapat penyebrangan untuk mobil-mobil kecil dan motor yang bisa kita lihat prosesnya saat kita berkunjung ke Alun-Alun Kapuas. Seperti sejarahnya, masyarakat Pontianak tidak bisa lepas dari sungai karena pasalnya kota ini pun berkembang dari tepian sungai hingga mekar keluar. Bila melihat dari satelit, pada sisi-sisi terluat sungai, kita akan mendapati jalan-jalan grid persegi panjang. Hal ini dikarenakan permukiman dan jalan lingkungan mulai tumbuh pada area persawahan di sisi selatan Kota Pontianak. Sebab sungai inilah, kota ini dapat berkembang. Pasalnya, sungai merupakan sumber kehidupan di Pulau Kalimantan dan menjadi sarana transportasi antar daerah [2]. Bahkan dari Ketapang hingga Pontianak, selain jalur darat, kita dapat mencapainya dengan jalur sungai! Menarik bukan?

End.

 

Referensi

[1] https://www.idntimes.com/food/dining-guide/naufal-dzulhijar/choi-pan-makanan-khas-singkawang-yang-wajib-kalian-coba-exp-c1c2/full

[2] Kusnoto, Yuver dan Yulita Dewi P. (2018). Permukiman Awal Sungai Kapuas. SOCI: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 15, No. 1 Tahun 2018 hal. 71-78

Opini: Revitalisasi Bangunan/Kawasan Cagar Budaya. Perlukah?

Semarang.
Bisa dibilang kota ini adalah salah satu kota yang dalam masa awal hidup saya jarang sekali saya jajaki, singgahi, dan hanya sekedar lewati. Pertemuan saya dengan Semarang diawali dengan tugas studio arsitektur di tahun 2012. Pertemuan ini lantas menghasilkan kesepakatan dalam diri saya bahwa, “saya harus kesini lagi suatu hari nanti!”. Bila ada yang bertanya, “kenapa sih Icha suka banget bolak-balik Semarang?” Jawaban pertama yang keluar dari mulutku adalah, “Karena jalannya besar-besar, lurus, membentuk satu axis (garis lurus)”. Itulah Semarang dalam ingatanku. Kebetulan kemarin dapat kesempatan sebagai Asisten Akademik dari jurusan yang akan mendampingi kegiatan joint studio ITB-TU Delft, melakukan survei pendahuluan untuk mencari kira-kira site mana yang nantinya bisa digunakan untuk workshop dan real exersice dari mahasiswa yang nantinya akan tergabung dalam satu kelompok diantaranya terdiri dari mahasiswa arsitektur, rancang kota, dan lansekap (semua program S2). Di waktu ini, saya mendapatkan banyak pelajaran gratis tentang sejarah dari tim BPK2L. Ya, BPK2L adalah Badan Pengelola Kawasan Kota Lama yang melakukan kegiatan revitalisasi kawasan Kota Lama. Kota Lama Semarang sendiri awalnya memiliki beberapa problem seperti hilang fungsi aktivitas serta tata guna lahan yang kurang beragam yang menyebabkan kawasan ini menjadi perlahan mati. Seperti kata Alm. Pak Galih Widjil Pangarsa bahwa nyawa dari sebuah bangunan adalah manusia di dalamnya. Bisa dibayangkan karena fungsi yang mati, akhirnya bangunan lapuk dan hancur dengan sendirinya. Padahal aset waktu atau bisa juga disebut intangible heritage pada kawasan ini tidak ternilai harganya.

 
Oh ya, jujur saja saya adalah anak baru masuk (tidak sengaja kecemplung) dalam dunia konservasi lingkungan perkotaan. Tulisan ini pun dibuat masih berdasarkan pemahaman seorang awam yang melihat kawasan kota lama sebagai aset yang dimiliki sebuah kota bahkan negeri ini. Pernah di masa awal saya menapaki kawasan kota lama seperti Kota Tua Jakarta dan terlintas di benak saya, “memangnya perlu ya mengkonservasi ini semua? apakah masih relevan dengan masa kini? apakah memang benar bangunan-bangunan dan kawasan ini cocok betul untuk kota dan kegiatan perkotaan, ekonomi dan sosial, yang ada di sini? Sampai suatu waktu saya sampai di titik, “Kenapa sih ini semua harus dipertahankan?”.

 
Tidak lama dari berbagai macam pikiran tanpa landasan tersebut, saya mendapati tugas untuk membuat historical development dari Kota Lama Semarang. Untungnya, sedari belia, saya merupakan tipikal yang senang membaca sejarah. Jadi untuk mempelajari sejarah dari Kota Lama bukan jadi pekerjaan yang membosankan. Malah menarik untuk saya! Disinilah saya belajar bahwa, hidup itu memang pilihan. Pilihan untuk berdiri di sisi yang mana. Saya melihat apa yang mau dilindungi dari Kawasan Kota Lama ternyata tidak hanya bangunannya tapi juga fungsi aktivitas yang terjadi di dalamnya. Peran komunitas dalam menghidupkan kawasan ini pun sangat besar. Kalau saya pribadi ditanya, kenapa ini semua harus direvitalisasi? Karena untuk saya, dengan menapaki Kawasan Kota Lama saya bisa menapaki “dunia yang lain” di negeri sendiri. Saya merasakan ambience (suasana) yang tidak biasa, ikut menerka-nerka apakah dulu ini kantor, apa yang terjadi di alun-alun ini, dulu jalan ini akses utama atau bukan? Dan napak tilas seperti itu ternyata sangat seru! Nah, nilai-nilai ini yang mungkin tidak bisa didapati di kawasan terbilang baru tanpa nilai history. Ya, kawasan cagar budaya itu memang perlu dilindungi karena nilai history nya yang tidak terbayarkan dengan apapun. Seperti jejak sejarah, itulah kawasan cagar budaya.

 
Untuk sisi aktivitas dalam bangunan, sebenarnya saya tipikal orang yang kurang sepakat bila kawasan cagar budaya hanya menjadi cagar saja, dipugar, tidak difungsikan. Menurut saya, hal itu tidak menghasilkan dampak apapun pada lingkungan karena keberadaan bangunan tersebut seharusnya bisa memberi manfaat minimal bagi lingkungan di sekitarnya. Maka, saya akan berada di sisi yang sepakat ketika sebuah bangunan cagar budaya akan dibuka dan difungsikan sebagaimana mestinya. Bila khawatir akan rusak, maka dapat dilakukan kajian awal tentang aktivitas apa yang paling cocok untuk bangunan/kawasan cagar budaya tersebut yang tetap aman namun bermanfaat. Jadi sekarang bila ada yang bertanya keberpihakan saya terhadap cagar budaya, tentu saya pro dengan revitalisasi. Asalkan revitalisasi itu dilakukan sesuai dengan aturan dan dari segi visual tidak menghilangkan ornamen-ornamen penting dalam bangunan/kawasan seperti tiba-tiba mencat kawasan cagar budaya dengan warna-warni atau menambahkan terlalu banyak lampu jalan hingga membuat cityscape dari kawasan itu malah jadi hilang sense nya.

Saya sisipkan beberapa foto Kota Lama Semarang di pagi hari. Silahkan dinikmati cantiknya!

Bandung, 9 Agustus 2019
Marisa Sugangga

 

 

 

nb: sangat terbuka untuk diskusi apapun, mau tambah ilmu untuk saya juga boleh. Kalau ada artikel menarik, jurnal, buku yang menurut teman-teman perlu aku baca untuk mengembangkan pola pikir saya tentang revitalisasi bangunan/kawasan cagar budaya, saya sangat terbuka sekali!

Afternoon Tough #1: People Change

DSCF5030

Sudah berapa lama ya rasanya menghilang dari dunia tulis menulis? Iya, lama. Jadi ceritanya saya baru sampai di Indonesia. Beberapa saat yang lalu sempat merasakan tinggal di beberapa kota tepatnya di negara Iran. Hampir satu bulan disana dan banyak sekali hal yang tiba-tiba terlintas di pikiran saya. Sore ini saya akan bercerita tentang satu pikiran yang sempat jadi bahan kontemplasi disana cukup lama: setiap orang pasti berubah ya.

Pemikiran ini tidak saya lemparkan karena saya menilai orang lain. Saya juga berkaca pada diri saya sendiri, apakah saya berubah? Ternyata jawabannya, iya. Banyak sekali perubahan dari diri saya. Nah, perubahan-perubahan ini terjadi bukan tanpa proses. Kalau dari saya pribadi, perubahan yang saya yakini menuju ke arah lebih baik ini terjadi karena rasa sakit yang terpendam menahun. Maka, ketika saya merasakan sakit, seringkali saya meminta pada Allah untuk terus dikuatkan. Saya tidak pernah meminta untuk tidak diberikan rasa sakit, tapi saya meminta untuk dikuatkan ketika rasa sakit itu menghampiri. Rasa sakit ini saya yakini sebagai ‘obat’ pengingat bahwa kita hanyalah manusia yang lemah, rapuh, dan part terpentingnya adalah… membuat saya tidak berharap berlebihan kepada manusia. Benar kata teman saya, ketika kita tidak berharap, maka matilah mimpi itu. Menurut saya, ekspetasi adalah salah satu bagian yang indah dari sebuah kehidupan. Ekspetasi membuat kita terus semangat, percaya bahwa harapan itu ada. Mungkin yang salah adalah ketika kita berekspetasi secara berlebihan, melebihi ekspetasi kita pada Allah. Nah.

Belakangan ini, saya merasa kecewa oleh banyak hal, terlebih halnya kepada manusia. Kecewa ini tidak lantas membuat hubungan silaturahmi saya rusak/putus begitu saja. Kecewa ini saya transfer menjadi energi positif dan suatu bahan bagi saya untuk belajar bagaimana cara memperlakukan manusia lain dengan sebaik-baiknya. Manusia memang tempatnya salah, begitupun orang-orang yang kita sayangi. Satu hal yang akhirnya saya pahami, mereka pasti berubah. Mereka bukan berulah, tapi mereka berubah. Dari satu pribadi yang kita yakini itu ada pada diri mereka hingga akhirnya menjadi pribadi yang mungkin ternyata sudah benar-benar berbeda dengan apa yang telah kita yakini. Kaget? Iya pasti. Kecewa? Mungkin iya, tapi tidak berlebihan. Lantas bermusuhan? Tidak. Ketika saya kecewa, saya titipkan segala rasa pada Allah dan semesta, biarlah Allah dan semesta yang bekerja. Apa yang terbaik adalah mempercayakan segala rasa sakit pada Allah dan tugas kita adalah tetap berpikir positif dan menjalani hari sebaik-baiknya.

Lantas di akhir, aku percaya bahwa ketika ada pribadi yang kita percayakan dan kita kecewa, itu hanya bagian dari sebuah proses. Proses pendewasaan bagi kami, kita, dan semua. Mungkin benar, tidak selamanya sebuah sosok bisa presisi di waktu dan ruang yang sama. Bisa saja memang, eksistensinya hanya presisi di saat itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih. Maka, selagi bisa berbuat sebaik-baiknya, silahkan memberikan yang terbaik. Ketika waktu sosok itu telah usai, kita tidak akan pernah menyesali apapun karena kita telah berbuat yang terbaik untuk siapapun itu.

 

Strolling Around City (Singapore)

DSCF1720

Kalau diajak ke Singapura, selalu nggak pernah nolak. Beberapa teman suka nanya, kenapa sih suka banget bolak-balik Singapura? Jawabanku pasti “selalu ada yang baru di kota ini.” Selain karena selalu dapat tiket yang under normal price -seperti PP 300-400ribu-, aku juga bukan orang yang picky soal “kabur” sejenak dari kenyataan. Selama ada kesempatannya, suka aku ambil aja hehehe. Tahun ini kesempatan ke Singapura aku pergunakan untuk strolling around the city, seperti melihat free show atau menyusuri kawasan yang baru direvitalisasi (dihidupkan kembali).

DSCF1801

Hal yang paling menarik untuk liburan kali ini adalah penginapannya. Aku pergi berenam dengan keluargaku (belum full team loh itu, haha) dan memutuskan untuk tidur di hostel dengan bunk bed. Tujuannya agar satu kamar bisa semua masuk dan karena kita akan sangat jarang berada di penginapan, jadi kita memilih penginapan berdasarkan lokasi. Nah, aku punya satu rekomendasi penginapan yang bagus sekali baik secara lokasi maupun service. Adamson Inn ini berada di sekitar Kampong Glam (3 Jln Pinang, Singapore) dan ini secara lokasi sangat-amat-recommended-sekali! Untuk yang muslim, tidak perlu pusing mencari makanan halal karena ini adalah daerah yang nyaris semuanya makanan halal. Most food di sini adalah makanan arab/india seperti martabak, nasi briyani, chicken curry, dan favorit aku adalah teh tarik! Tidak ada penginapan yang super murah di Singapura, tapi kalau mau cari lokasi yang menyenangkan dan mencoba hotel ala-ala backpacker, Adamson Inn adalah tempat yang tepat. Solat pun bisa menjadi sangat menyenangkan dan khusyu karena hostel ini bertetangga dengan Sultan Mosque (salah satu destinasi wisata di Singapura). Jadi selama di sini, teman-teman akan tetap bisa mendengarkan adzan.

DSCF1664
Yah, ketutupan truk. Maaf ya
DSCF1666
Suasana di sekitar penginapan, ada halte bis di belakang sini

Oh iya, untuk hari ini perjalanan kali ini, kita tidak lagi menggunakan EZ-Link sebagai kartu transportasi di Singapura. Kita menggunakan Singapore Tourist Pass yang bisa dibeli di bandara juga saat pertama kali naik MRT. Harganya 20 SGD dan itu ada depositnya, bisa diambil waktu nanti pulang tuker tiket (seperti kita tuker tiket untuk tiket harian di commuter line). Waktu itu aku belinya yang standar bukan yang plus jadi kartu ini tidak include transportasi seperti ke Sentosa dan beberapa bus pun tidak dilayani oleh kartu ini (biasanya bus yang ada tulisannya “express”, bisa cek di halte atau internet). Jadi pas pilih rute di halte bus, sedikit lebih cermat saja agar tidak salah naik bis. Overall kartu ini worth it sekali dan selama perjalanan kali ini, aku banyak menggunakan transportasi bis karena udah free pass! Jadi selalu cari halte terdekat dari tujuan dan kadang tuker di salah satu bus stop untuk menuju line bus yang lain. Serunya adalah kita bisa benar-benar lihat kotanya seperti apa. Dulu biasanya aku selalu naik MRT, jadi kotanya tidak terlihat.

DSCF1746

DSCF1751

DSCF1745
Aku bilang sama Mama kalau ini kartu ‘sombong’, bisa tap-tap sepuasnya tanpa berpikir harus top up

Sebelum dari melakukan perjalanan kali ini, aku selalu penasaran dengan kondisi terbaru dari Haji Lane. Nah, koridor yang sudah direvitalisasi ini berada tidak jauh dari penginapan. Akhirnya sore-sore setelah sampai dan selesai check in, aku mencoba mengunjungi kawasan ini. Ramai sekali kondisinya tapi masih nyaman untuk melakukan kita melakukan aktivitas. Menariknya, setiap bangunan diberi warna yang berbeda bahkan cenderung kontras, tapi masih bisa menimbulkan kesan yang harmonis. Aku selalu berpikir bahwa mungkin sebelum dilakukan proses pengecatan, terdapat proses riset dan trial error pada satu studi/lab percobaan warna ya? Hahaha atau sepertinya seingat aku memang ada teori keharmonisan warna yang bisa didapat bila kita menggunakan teori seperti komplementer, split komplementer, dan teman-temannya itu. Serius, aku benar-benar penasaran kenapa walaupun kesannya tabrak warna tapi bisa seharmonis itu. Bisa juga dari tipologi bangunan yang serupa tapi tak sama seperti desain jendela, pintu, dan atap yang serupa hingga akhirnya membentuk kombinasi yang sangat harmoni (huhu, ngefans). Kondisi dari setiap bangunan di sini tergolong sangat baik dan terawat, sangat menyenangkan berada di sekitar Haji Lane, Kampong Glam, dan Arab Sreet ini.

DSCF1598
Sultan Mosque, salah satu vista di Muscat Street
DSCF1618
Haji Lane Street

DSCF1619

DSCF1633

DSCF1772
“Aku nanti kalau punya rumah sendiri mau dicat kayak gini!” lalu semua kabur.
DSCF1778
Kawasan Kampong Glam
DSCF1780
Pendekatan desain yang digunakan untuk kawasan yang memiliki dinding-dinding besar namun berorientasi ke jalan

Free show yang aku datangi kali ini adalah water fountain show yang diadakan oleh Marina Bay Sands dan lokasinya pun berada tepat di belakang mall ini (di area promenade). Untuk jadwal bisa cek di webnya https://id.marinabaysands.com/ dan kemarin aku datang saat pukul 20.00. Pastikan mendapatkan spot yang tepat agar dapat menikmatinya. Saran aku siap-siap saja di area sekitar LV building, hehehe atau paling depan dekat pagar pembatasnya sekalian. Free show kedua berada tidak jauh dari lokasi Spectra yaitu di Garden by The Bay yang memberikan free lighting show. Saat itu aku sedang beruntung sekali karena musik yang digunakan saat itu berasal dari lagu-lagu film Disney!!! (include Star Wars theme hehehe, gimana ga seneng?).  Jadwalnya bisa cek di web nya juga, kemarin aku datang di waktu 08.45. Nah, untuk datang ke free show seperti ini, bisa selalu cek di website nya untuk jadwal-jadwal pertunjukannya. Singapura selalu punya pertunjukan baru untuk kita nikmati secara gratis, jadi sebelum berangkat, bila mode travelling teman-teman adalah para pencari event gratisan, rajin-rajin buka website nya visit singapore ya. Segala promo dan event bisa cek di situ.

DSCF1678
View dari Helix Bridge
DSCF1694
Spectra
DSCF1719
Garden by the Bay Lighting Show

Hari terakhir yaitu hari ketiga, aku menghabiskannya dengan explore area Kampong Glam saja sebenarnya. Sempat juga sih mengunjugi kantor polisi yang di redesign yaitu The Old Hill Street Police (loh, fotonya malah lupa aku ambil). Nah bangunan ini dulunya adalah kantor polisi dan sekarang digunakan sebagai kantornya MICA (Ministry of Information, Communications and the Arts). Hal yang menarik dari bangunan berjendela banyak ini lagi-lagi permainan warna yang banyak dan selalu eyecatching (dan selalu berhasil membuat aku penasaran bagaimana itu cara harmonisasi warnanya). Selain itu, di sekitaran area hostel banyak sekali tembok-tembok kosong yang diberi mural dan menjadikan kawasan itu bukan lagi sekedar kawasan rumah atau ruko melainkan menjadi kawasan yang memiliki nilai seni. Pendekatan ini bisa juga dilakukan untuk menghidupkan ruang-ruang yang memiliki dinding besar. Hal seperti ini sudah banyak dilakukan di kota besar. Saat jalan-jalan ke Bangkok pun, dinding yang dicat tidak tanggung-tanggung, besar dan tinggi sekali (ada di postinganku sebelum ini saat di Bangkok). Kan jadi ingin riset di kota tempat tinggal, daerah mana yang bisa diintervensi untuk meningkatkan kualitas lingkungan dengan pendekatan ini, HE HE HE (otaknya masih aja riset). Oh iya, sebelum sampai ke Bandara Changi, kita makan di daerah Paya Lebar. Di sana ada area food court yang menyediakan makanan halal walaupun itu chinese food! (surga banget kaaan) dan sekalian menuju Changi, kita mencoba mampir ke area National Stadium. Ada tempat lari indoornya, menarik sekali. Jadi ingat zaman kerja di Jakarta suka lari di bagian outer ring nya GBK malam-malam, sepertinya menarik juga nih kalau GBK diberi indoor outer ring seperti ini.

DSCF1893
Semi Indoor Jogging Track (LOOOOVE)

DSCF1895

Baiklah, sekian ceritaku tentang perjalanan ke Singapura kali ini yang lagi-lagi menemukan hal baru. Makanya, walaupun selalu dibilang “ngapain sih berulang kali ke Singapura?” ya itu…. karena aku selalu bisa menemukan hal yang baru. Bagian terpentingnya sih menurutku urban planner/urban designer/arsitek bisa belajar banyak dari tata kota dan pendekatan yang digunakan Singapura untuk menghidupkan kembali bahkan memberikan sesuatu yang baru untuk kotanya. Walaupun memang harus dipilah dan dipilih karena tentu tipologi dan kondisi Singapura berbeda dengan Indonesia (apalagi masalah luas wilayah), tapi beberapa pendekatan masih relevan untuk diaplikasikan di Indonesia kok (tentunya dengan beberapa analisis kontekstual khusus kawasan di Indonesia. Menariknya lagi, di sini banyak preseden (contoh) yang bisa kita pelajari dan lihat secara langsung. Karena memang beda sekali kalau lihat di internet dengan mempelajari dan merasakan langsung.

DSCF1881
halo

 

***

Salam ceria-cinta-damai,
Marisa Sugangga (April, 2018).

Bogor dan Inovasinya

Indonesia, tanah kelahiran yang saya banggakan.

Di balik kemelut kemacetan perkotaan Indonesia, ternyata tersimpan banyak cerita bahagia di antara berita polusi dan kriminalitas yang ada. Tahukah kita bahwa kota-kota di Indonesia sedang berbenah untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat yang tinggal di bersamanya? Di sini, saya akan bercerita tentang kota yang paling lama saya singgahi, Kota Hujan, Bogor.

Sebagai insan manusia yang nomaden alias selalu berpindah-pindah, Bogor selalu menjadi kota yang saya rindukan di banding kota lain. Suatu ketika, saya mendapatkan kesempatan untuk interview dengan salah satu instansi di kota tetangga. Saat saya bercerita mengenai Kota Bogor, tanggapan yang saya dengar adalah, “Bogor itu kota yang semerawut dan berantakan, Mbak.”

Sungguh?

Dalam kesempatan ini, izinkan saya untuk bercerita mengenai perkembangan Kota Bogor yang cukup signifikan. Terima kasih kepada masyarakat dan bapak walikota Bima Arya yang turut menjadikan Bogor begitu dirindukan. Di tahun 2016, Bogor memenangkan penghargaan dari World Wide Fun for Nature (WWF) di ajang We Love Cities, The Most Lovable City 2016. Dalam kampanye ini, kemenangan Kota Bogor tak luput dari dukungan masyarakatnya serta ide-ide brilian dari para voters untuk menjadikan Kota Bogor sebagai kota yang berkelanjutan (sustainable cities). Kota Bogor unggul dari 45 kota lain di 20 negara yang ikut andil dalam kampanye ini. Ini menandakan bahwa Kota Bogor sedang bersungguh-sungguh dalam menanggapi isu iklim global dan siap bertransisi menjadi sustainable city.

Upaya menjaga keseimbangan pembangunan dan kedekatan Bogor dengan lingkungan ekologinya ditandai dengan pembangunan infrastruktur berupa pedestrian yang memadai dan membuat masyarakat Bogor memiliki kesempatan untuk berjalan dengan aman dan nyaman. Selain pembangunan infrastruktur untuk pedestrian, Bogor juga menggalakkan pengadaan taman-taman kota atau ruang publik untuk berinteraksi antar sesama masyarakat.

Salah satu ruang publik yang cukup terkenal di Kota Bogor bernama Lapangan Sempur. Lapangan ini terletak cukup strategis dari pusat kota dan terhubung dengan berbagai rute kendaraan umum. Tahun ini, Bogor melakukan inovasi desain untuk memadai kehausan warga Bogor atas ruang publik yang lebih baik. Inovasi desain itu telah dikabarkan Bapak Bima Arya dan Pemerintah Kota Bogor.

1
Lapangan Sempur Sebelum Dipugar untuk Renovasi

Lapangan Sempur adalah ruang publik yang memiliki rute lari, area voli, senam, skateboard, lapangan basket, refleksi, dan berdampingan dengan Taman Ekspresi. Dari kabar yang disiarkan, perbaikan mencakup dalam segi lansekap, desain ruang interaksi, tumbuhan, pengadaan ornamen taman, serta nama Sempur yang akan disamakan dengan tipologi penulisan nama-nama taman lain di Kota Bogor. Terlihat jelas bahwa inovasi desain yang dilakukan bertujuan untuk mempercantik Lapangan Sempur dan serta memperbaiki fasilitas untuk menuju kota Bogor menjadi kota yang terdesain tanpa mengurangi nilai yang ada.

13775782_476479845880047_6037549409015905804_n

13718766_476479829213382_4121187928815475665_n
Inovasi Desain untuk Renovasi Lapangan Sempur. (Sumber: Pemerintah Kota Bogor, 2016)

Dalam dunia desain, terutama Arsitektur, sebuah ide baru dapat dikembangkan dengan mengambil contoh baik dari luar negeri maupun dalam negeri yang tetap kontekstual dengan kearifan lokal negara Indonesia. Sebagai seorang yang gemar mengambil foto, ternyata Indonesia sangat beruntung dengan keragaman flora dan hehijauan yang tumbuh di perkotaan. Ketika kita menciptakan ruang interaksi yang bersinggungan dengan alam, kita dapat memanfaatkan kebaikan eksisting dari alam di sekitar tempat yang akan kita rancang dan bangun. Begitulah Pemerintah Kota Bogor me-redesain Lapangan Sembur menjadi lebih cantik tanpa mengurangi eksisting yang ada.

Ada pun pengadaan ruang publik dan perbaikan fasilitas yang telah ada membuat warga Bogor semakin tergerak untuk berinteraksi dengan ruang luar dan meluangkan waktunya untuk refreshing sejenak. Ruang publik menjadi wadah yang sangat efektif untuk komunitas berkomunikasi dengan masyarakat, kegiatan bersama, bahkan sebagai media untuk berinteraksi sosial hingga berolahraga. Di akhir pekan, sebagian ruang-ruang publik di Kota Bogor yang telah direnovasi kedatangan banyak pengunjung baik dari kalangan muda maupun dewasa.

Indonesia selalu berbenah. Semua proses dengan niat yang baik akan menghasilkan tujuan yang baik pula. Indonesia tidak pernah tinggal diam, banyak putra-putri bangsa yang optimis bahkan beraksi untuk turut andil dalam upaya pembangunan Indonesia.

Saya percaya bahwa kelak, Indonesia akan menjadi negara maju yang sangat mencintai daerahnya baik secara mikro maupun makro. Sebagai masyarakat sekaligus pengguna fasilitas yang ada, baiknya kita mendukung pemerintah dengan memanfaatkan fasilitas yang ada dan menjaganya dengan baik. Semoga kelak, ruang-ruang publik hingga infrastruktur di Bogor serta kota lain di Indonesia akan setara bahkan lebih baik dari kota-kota maju di dunia sekaligus menjadi contoh yang baik bagi kota di sekitarnya.

Superkilen Park, Copenhagen

suk_image_by_iwan_baan_26

Superkilen by BIG, Superflex, & Topotek 1 (sumber gambar: http://www.archdaily.com)

“Saya tidak suka bermimpi. Saya lebih suka terjaga untuk mengejar cita-cita. Kalau kata Rudy Habibie, “daripada menyebutnya mimpi, saya lebih suka menyebutnya cita-cita, karena itu akan dapat saya gapai.”

Sebagai pribadi yang menyukai dunia jalan-jalan, tentu membuat wishlist tempat impian yang ingin saya kunjungi adalah hal yang lumrah. Terdapat 100 tempat di dunia yang ingin saya kunjungi bila Tuhan memberikan kesempatan. Salah satu tempat itu adalah urban space Superkilen yang terletak di Copenhagen. Awalnya, tempat ini mencuri perhatian saya karena warnanya yang begitu mencolok. Warna-warna seperti ini tidak umum berada dalam satu kawasan karena warnanya tidak ‘netral’.

Ketika saya berada di dunia proyek, warna-warna seperti ini sangat sulit tembus desainnya dengan alasan warna ini tidaklah normal dan tidak bisa diterima semua orang. Berbeda dengan warna standar seperti biru atau kuning atau kami menyebutnya warna-warna aman.

BIG adalah salah satu starchitect yang keberadaannya seringkali diprotes oleh sebagian lingkungan saya. Desain-desain yang nyentrik dan kadang tidak kontekstual hingga beda sendiri membuat BIG bukan menjadi sosok arsitek kesukaan kami. Namun, bagi saya pribadi, proyek ini membuat pandangan saya tentang BIG berubah. Bukan seketika lantas suka, namun berusaha memahami perspektif yang lain dan tidak menutup kemungkinan atas desain apapun yang terjadi di muka bumi ini.

Superkilen yang berada di Copenhagen ini terbentang seluas 30.000 m2 pada tahun 2012. Proyek ini mem

 

Referensi
http://www.archdaily.com/286223/superkilen-topotek-1-big-architects-superflex
http://www.ideaonline.co.id/iDEA2013/Kabar/Info-Properti/Merayakan-Keragaman-Dunia-di-Ruang-Publik-SUPERKILEN
http://www.detail-online.com/article/three-colours-red-black-green-landscape-park-in-copenhagen-16511/

 

Travel Diary: Satu Hari di Gili Trawangan

when in Gili Trawangan.

Cerita dari Gili Trawangan yang begitu membekas adalah snorkeling pertama kali bersama Mama dan Papa. Melihat penyu berenang saat kita snorkeling ke area yang dalam (dan dasar lautnya mulai gelap, hehe). Kita dapat tiga kali spot snorkeling dan yang terakhir Mama udah cape karena memang arus di spot kedua sangat deras. Di spot terakhir ikannya banyak sekali apalagi waktu rotinya ditabur, semua bergerumbul. Setelah snorkeling dan masih menggunakan baju itu (ha ha), kita naik sepeda mengintari pulau. Menyenangkan sekali bermain bersama matahari dan angin sore. Kalau ditanya ada kejadian apa, banyak sih! Jadi perjalanan ke Gili hanya kita tempuh satu hari. Kita berangkat pagi dan pulang selepas magrib. Tertakjub-takjub karena banjir bintang malam itu, kacamata saya nyemplung ke laut. Untuk diketahui bahwa saya selalu saja melakukan hal ini, tidak sengaja nyemplungin kacamata ke laut. Nggak tahu kenapa bisa begitu, untung waktu di Karimata (Kalimantan) tidak ada kejadian seperti ini. Nah, tadinya bibir pantainya tidak sebersih dan serapi sekarang. Sejak ganti pemerintahan, bibir pantai dibersihkan dan kita bisa leye-leye di sepanjang bibir pantai. Tapi dengar-dengar sih kita harus hati-hati, karena sisa dari merapikan bangunan dari bibir pantai itu masih ada, contohnya ada beberapa paku yang masih berada di sekitar pasir. Disarankan menggunakan sandal saat menyusuri pantai, hehe.

Lombok, 2016.

Midnight Talk: Telpon Dari Pulau Seberang

Niatnya malam ini mengerjakan bab 2 alias tinjauan pustaka. Mengeset jam, menentukan target, dan membuat kopi dari air yang tidak lagi panas (tapi ternyata tetap enak). Segala angan ini buyar seketika saat sebuah telpon masuk, sebenarnya lumayan sih karena jam 23.00-01.00 adalah jam-jam kritis saya, jam super ngantuk. Sahabat saya dari Lombok menelpon, setelah berkali-kali gagal karena belakangan jam tidur saya seperti anak SD.

Seperti biasa, obrolan kami random. Tidak pernah ada tujuan yang jelas kenapa malam ini kita harus ngobrol sampai berjam-jam. Sampai di titik, “Heh, ini yang nelpon siapa siapa tapi yang mendominasi cerita siapa? Jangan tanya-tanya aku terus lah, gantian kamu yang cerita!” Terus porsi cerita dia ternyata tidak seberapa banyak juga, karena saya menyudahi dengan fakta “Hari ini aku bimbingan, udahan dulu ya nanti kita ngobrol lagi.”

Midnight talk malam ini bahan mentahannya dari obrolan dua orang ngantuk. Satunya sedang mengerjakan tesis dan yang satunya sedang bingung harus ngapain karena besoknya cuti. Obrolan yang berlangsung hampir dua jam ini membuat satu dari kami ngobrol sampai merem-merem.

A: Manusia itu memang suka begitu. Harapan yang membuat mereka terus hidup. Harapan itu yang membuat langkah-langkahmu begitu mantap dan optimis untuk dijalani.

M : Emang iya? Iya sih. Tapi gimana ya, rasanya enggak punya harapan tuh kayak kita berjalan tanpa tujuan. Gimana caranya kita tahu kita sudah ada di step mana kalau kita tidak punya suatu harapan? Ya emang yang paling salah kalau berharap sama manusia. Gitu kan maksudnya?

A: Haha ya itu kamunya aja emang suka aneh. Bukan aneh sih, emang hobi mungkin dibuat memiliki perasaan yang gaenak kaya gitu dan logika yang gagal ditransformasikan jadi tindakan nyata.

A: Intinya kamu nggak perlu berubah jadi orang lain, Mba. Tetap aja jadi kamu yang good vibe kaya gini. Kamu kaya gini aja aku udah seneng ngobrol sama kamu karena jarang ada orang yang betah dengerin temennya ngobrol ngalor ngidul berjam-jam kaya kamu gini. Kamu akan selalu dianggap spesial sama orang yang emang nganggep kamu spesial, tenang aja.

M: Dih, orang aku nggak pernah berusaha jadi orang lain kok. Aku ya gini-gini aja, nggak pernah pernah kemana-mana dan gimana-gimana, hehe

A: Makanya itu, kalo ada orang yang minta kamu berubah, aku sebagai koncomu bilang nggak usah. Ya itu kalo kamu mau dengerin aku sih, kan aku bukan koncomu. Terus juga, pantai bulan depan itu sebenernya kado buat kamu, tapi aku gak mau sok-sok suprise gitu. Udah tenang aja, itu kado buat kamu dan hadiah semoga kamu segera sidang.

M: Hwkwk apaan sih! Kamu circle ku lah! By the way, makasih banyak kadonya!!! Kok kadonya membahagiakan gitu sih hahaha semoga semakin banyak rejeki yaa

A : Oh iya, kamu tahu ga sih logika terbalik?

M : Iya tau, sering banget denger malah. Kenapa?

A : Gapapa, kalo kamu sadar, mungkin lingkunganmu sedang menggunakan logika itu tapi kamunya nggak sadar. Kalo kamu sadar, kamu akan lebih mengerikan dari sekarang sih.

M : Mengerikan gimana deh? Kok serem, haha

A : Udah. Jadi kaya gini aja, aku gak mau ngasih tau.

Teringat akan tanggung jawab, akhirnya kami mengakhiri obrolan dengan tertawa dan pesan-pesan bahwa sebagai manusia masing-masing dari kita berhak bahagia. Bahwa ia berhak menjadi dirinya sendiri dan diterima oleh orang lain. Ketika tidak suka, maka tidak sukalah dengan pemikirannya bukan orangnya. Dan selalu ada orang-orang yang menerimamu apa adanya, menjadikan dirimu prioritas, dan selalu berusaha menghiburmu dengan waktunya. Maka, terima kasih telah tinggal dan terima kasih atas kiriman gambarnya sebelum tidur.

41540
Susah banget Cha ngasih tau kamu. Batu.

Setting Ruang Bandung yang Ajaib

DSCF9771

Ini adalah Budaraa. Sebuah ruang di Kota Bandung yang dibentuk dari dinding-dinding yang ditempel dengan berbagai pernik hingga mampu menghasilkan kesan ruang hangat dan menerima siapapun yang masuk ke dalamnya. Unsur etnik dan perabot yang ‘nyentrik’ membuat ruang-ruang pada Budaraa terbentuk seperti rumah khas nenek yang selalu membuat kita ingin pulang kampung. Ternyata, kehangatan yang didapatkan dari Budaraa tidak hanya berhenti dari segi arsitektural saja. Semesta mendukung bagaimana tempat ini terbentuk. Terpikirlah sebuah komponen pembentuk yang tidak kalah ajaib dan mampu membuat ruang ini menjadi syahdu hingga candunya membuat makhluk yang ‘terjebak’ di dalamnya larut dalam alam pikirannya sendiri hingga rindu pada sosok seorang mantan. Cuaca.

Bandung termasuk kota yang selalu saya tertawakan perihal cuacanya. Di Antapani atau daerah Bandung Timur, hawa hangat merasuk bersamaan dengan aspal yang tidak punya pembayangan karena daerah ini kurang pohon. Berbeda dengan sisi Utara Bandung yaitu daerah Dago dan kesananya yang sekarang sudah mulai dibabat (hampir) habis demi komersialisasi kafe yang memanjakan si pendatang pencari udara dingin. Daerah ajaib (Dago) ini punya cuaca tersendiri yang sepertinya tidak masuk dalam ramalan cuaca yang biasa kita dapatkan dari berita di televisi ataupun koran. Jadi, saya suka berkata “Ya sudahlah Dago, terserah kamu saja mau punya cuaca seperti apa. Di bawah hujan, di atas tidak hujan.”

Budaraa tidak akan jadi Budaraa bila ia tidak diletakkan di Kota Bandung. Budaraa juga tidak akan jadi Budaraa jika ia tidak terletak di struktur ruang Jalan Bukit Dago Utara. Terlebih ketika saya berpikir, apakah sebuah Yogyakarta akan mampu membentuk Budaraa yang sedemikian hangat namun memiliki angin pegunungan yang menyejukkan? Setting ruang itu memang ajaib, tidak bisa dicuri, diganti, di-infill dengan apapun. Maka tone-tone hangat seperti ini, yang tercipta di foto, bisa didapatkan hanya karena Budaraa ada di sini! Wajar ketika kita mendesain suatu ruang atau kawasan, analisis cuaca menjadi penentu bagaimana ruang tersebut akan terbentuk. Analisis kawasan yang sangat-sangat ramah terhadap alam, namun pada kenyataannya gemar menjahati alam, menjadi faktor krusial di mana bukaan, beton, batu, kayu, dan segala material itu ditempel atau dipasangkan. Walaupun kalau dilihat sebenarnya Budaraa tidak memiliki satu analisis khusus bagaimana si pintu satu itu bisa ada di sisi tepat di depan saya duduk (hehe).

random. 

Bandung, 27 Desember 2017.

Afternoon Talk: Kita Dalam Skenario Orang Lain

Tidak terasa liburan telah tiba. Oh My… Kayak engga percaya gitu sih sebenernya kalau semester 3 sudah selesai saya lewati. Di akhir tahun ini saya mendapatkan banyak-banyak-banyak pelajaran yang membuat saya menjadi pribadi yang ‘baru’ dan insya Allah lebih bijak dalam menilai sesuatu. Di hari terakhir pengumpulan tugas, sore ini didedikasikan untuk keluar bersama Bima. Bima itu teman SMA, teman satu OSIS, yang dulunya kita engga deket (sama sekali, cuma tahu dan paling ngobrol seadanya). Ternyata pas kuliah S2, kita sekelas, sejurusan, dan sempat sekelompok satu kali di studio pertama. Saya selalu merasa, dia adalah pribadi yang sangat unik dan terengga peka di circle saya.

“Pengen burger, Cha”
“Ayok!”

Bandung lagi macet banget, apalagi ruas jalan Dago yang menjadi salah satu ruas utama di kota ini, jadi engga usah heran kenapa kok ini jalan bisa macet. Cuaca hari ini tergolong cerah sekali. Sambil ketawa-ketawa, kita menerobos Bandung yang anginnya sedang ramah (sepertinya sih menyambut hati kita yang sedang berbahagia). Bima sempat mainan dan menertawakan kenapa warna helm (pink) saya norak banget, bikin mata silau, tapi karena yang pakai saya jadi ya sudah biasa. Dari Bima, banyak sudut pandang menarik yang hampir tidak pernah saya dapat dari orang lain. He’s someone from out there, not from our world sih kayaknya.

Sore ini kita ngobrol, saya cerita kalau kemarin baru nonton film ‘Imitation Game’. Film yang diangkat dari kisah nyata seorang figur yang namanya Alan Turing ini sempat membuat saya mindblowing selama satu hari karena kesal. Kenapa kesal? Ternyata segala sesuatu itu, bahkan pikiran, bisa direkayasa. Walaupun satu dari sejuta percobaan kita untuk merekayasa itu baru bisa berhasil, tapi ternyata ada aja yang berusaha atau mencoba untuk bermain sama pikiran kita agar mendapatkan tujuan yang dia inginkan. Secara tidak sadar, ternyata kita bener-bener bisa ada di posisi yang dia ‘rencanakan’ untuk kita, tapi totally kita engga sadar kalau ternyata itu sudah dia arahkan. Wah gila sih ini, entah ini gila atau saya yang tidak pernah mencoba untuk seperti itu.

“Kadang gue suka bingung gitu sih, Cha. Padahal kenyataannya A, tapi kita bisa dihadapkan sama orang yang luwes banget ngomongnya dan bikin seolah-olah kenyataannya adalah B. Dulu gue pernah dihadapkan sama orang yang kaya gitu. Itu bukan kebetulan sih, itu bisa dilihat dari jawaban kita ketika kita nanggepin dia. Gestur kita juga bakal keliatan sama si orang yang merencanakan itu. Ketika gestur kita A, dia akan jawab apa. Ketika gestur kita B, dia akan bertindak apa. Gue sendiri belum bisa sampe ke tahap kaya gitu sih, karena kalau gue ya ngalir aja gitu orangnya, jarang pake rencana.”

“Ya kan sama aja kaya gue. Gue kan bukan tipikal yang bakal tahu isi labirin otak lu apa. Bukan orang yang akan nge-set keadaan kaya apa untuk mendapatkan tujuan yang gue mau. Gue juga belum tahu bisa di mana gue blocking jalan dalam labirin otak lu karena gue juga gak berusaha memetakan labirin lu dalam otak gue. Oke, misalnya gue punya satu harapan atas kondisi yang gue ciptakan. Tapi buat gue, ya harapan itu jadi harapan aja bukan jadi satu tujuan yang ingin gue dapatkan di kondisi yang gue ciptakan saat itu. Fleksibel gitu sih, over flexible but iam not a dead fish flows with the stream juga. Ya gitulah, ngerti kan yang gue maksud? Gue semakin merasa dunia yang gue jalanin ini cuma secuil dari dunia yang sebenernya. Banyak banget orang pinter di luar sana yang bisa mengoptimalkan otaknya untuk memetakan isi otak orang lain ke dalam otaknya sendiri.”

Terus kita berdua sama-sama bengong, lebih ke diem. Kita mikir apa kita pernah ya jahatin orang sampe masukin orang itu ke dalam skenario hidup kita untuk mencapai tujuan kita? Sebenernya gapapa sih kalau kita masukin dia jadi peran yang menguntungkan untuk dia juga, tapi kalau engga, gimana? Dia rugi dong kalau sampai tujuan kita tercapai?

Keseimbangan memang tidak memungkinkan untuk kita menaikan segala variabel dalam kehidupan kita menjadi positif semua. Namanya juga keseimbangan, yang artinya kamu membutuhkan positif dan negatif dalam dunia kamu. Sama seperti dunia ini kan, ada kutub utara ada kutub selatan. Kita emang kadang tidak sadar kalau ternyata kita ada di skenario terburuk seseorang, tapi secara tidak sadar kamu menjadi penyeimbang dalam upaya dia menyeimbangkan kehidupannya. Obrolan ini memang agak absurd sih karena intangible, sesuatu yang tidak bisa kita pegang, erat sekali kaitannya dengan logika dan perasaan. Kembali lagi ke mana kamu akan lebih condong, logika, perasaan, atau berusaha menyeimbangkan keduanya? Lagi-lagi urusan keseimbangan kan? Ah, omong kosong apa ini.

Akhir dari obrolan sebelum liburan ini adalah mau seberat apapun, di manapun kita pada skenario hidup seseorang, jangan sampai kita jadi pribadi yang tidak kritis. Terkadang kita perlu mengkritisi sesuatu agar kita menggunakan akal kita dalam menghadapi dunia -yang semakin keras namun semakin indah- ini. Tidak bisa juga kita langsung men-judge orang yang perilakunya A dia pasti A juga. Orang yang perilakunya A, bisa disebabkan oleh kehidupannya yang BCDEF dst. Terlalu banyak faktor dan yang paling penting, kalau sudah bawa perasaan sekali, nah ini yang suka membuat kita jadi buta sama sesuatu. Sebenarnya apa yang berlebihan kan tidak baik, jangan sampai terlalu logika banget tapi tidak pakai perasaan juga, perasaan dihembuskan pada kita karena kita adalah manusia (ini harus diingat sekali). Terlalu pakai perasaan sekali juga jangan, nanti kita akan buta sama segalanya. Ini adalah tulisan konsep yang sangat mudah kita bicarakan sih, baik saya dan Bima pun masih sama-sama belajar. Cara belajarnya memang tidak bisa sendiri, dukungan dan sudut pandang dari teman-teman sangat membantu kita untuk mendapatkan berbagai macam pijakan untuk membentuk pola pikir dan sikap kita terhadap sesuatu. Jadi, sering-sering berdiskusi dengan teman dan carilah teman yang tidak sepandangan dengan kita, dari situlah kita mendapatkan banyak inputan. 

“Kehadiran seseorang yang berbeda sekali dengan kita itu emang bukan suatu petaka kok. Justru kadang kita merasa dilengkapi oleh keberadaan orang itu kan. Selama tujuannya masih sama, engga ada perbedaan yang perlu diperdebatkan.”

Terima kasih Desember, terima kasih Bima, terima kasih Bandung.

“Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.” – Imam Syafi’i. Selamat belajar memanusiakan manusia!