Travel Diary: (Ur)Bangkok #1

Haha! Setelah sekian lama ingin menulis cerita bahagia satu ini, mari kita cerita soal studi eksekursi Rancang Kota ITB 2016 yang alhamdulillah dapat destinasi ke Bangkok! Begitu heboh (mungkin hanya saya) karena saya belum pernah ke Bangkok. Sebelum berangkat, tentu hal yang paling repot dan menyenangkan adalah tahap persiapannya. Sebagai sekretaris, saya berada di garda depan saat menyiapkan dokumen-dokumen terkait proposal dan pendanaan untuk kegiatan yang satu ini. Berkali-kali revisi -untung dibantu Ivan- akhirnya proposal ini bisa selesai tepat pada waktunya. Ceritanya studi eksekursi ini dibantu oleh uang tabungan studio kami dan sponsor dari BJB (terima kasih BJB!). Kita berangkat menggunakan tiket promo dari Airasia (yang pulangnya sempat drama) dengan direct flight. Bertolak dari Bandung pukul 07.30 untuk flight jam 16.00 dan biasalah ya namanya anak-anak, rusuh banget di dalam travel. Kety lupa nanyain saya mau bubur atau enggak, padahal semua squad perempuan dibeliin bubur, kecuali saya. Perjalanan lancar kecuali di tol dalam kota, itu macet banget. Saya sampai berkali-kali nyeletuk, “ini sebenernya orang-orang masuk kantor jam berapa kok jam segini masih ada di jalan?”. Mungkin mereka semua telat.

DSCF7528
Geng heboh ceria: Kety, Marisa, Wiwid, Aco, Dini

Welcome to Bangkok! Sekitar jam 19.00 waktu sana kita mendarat di Don Mueang International Airport (DMK). Kesan pertamanya? Kita ketawa gara-gara denger pengumumannya, bahasanya super ajaib yang artinya kita jarang denger dan membuat kita jadi tertawa-tawa saat mendarat. Karena sudah malam, kita langsung bertolak ke hotel menggunakan Uber. Ada yang menjual kartu gsm di pintu keluar, tenang saja, kita bisa langsung online saat tiba di sana (sebenarnya yang paling penting adalah…. butuh itu untuk Uber). Kita dibagi menjadi tiga kelompok, satu kelompok isinya 4 orang dan berarti setiap perjalanan udah gak ribut-ribut lagi yang ini mau naik mobil sama siapa yang itu sama siapa. Karena gps handphone Marisa menclok 500 meter dari aslinya, akhirnya susah juga kalo jadi koordinator uber di kelompok (walaupun kadang-kadang pakai punya Marisa juga), akhirnya posisi ini diserahkan pada 2 teman yang lain. Pengalaman menggunakan Uber di sana? Menyenangkan kok. Tidak terasa sulit sama sekali, kadang yang bikin sulit ketika driver nya tidak bisa Bahasa Inggris, nah itu baru sulit. Pasti pernah kan dalam drama transportasi online kita suka ditanya, “Mbak ditunggu di mana?” nah karena kita suka bingung jelasinnya (karena gak tau daerahnya) jadi suka bingung gitu. Sesekali kita menggunakan Grab karena lebih murah dan ada promo-promo. Jadi saran saya, saat tiba di Bangkok, buat saja dua akun dari Uber dan Grab karena akan berguna sih dan kadang Grab datangnya lebih cepat dari Uber (beberapa kali kejadian, memang Grab selalu lebih cepat dari Uber pas kemarin di sana). Silahkan dipilih.

DSCF7533
Selamat datang di Don Mueang (DMK) – Lalu sambutan dari wanita berbahasa thailand di speaker mengalihkan kami.

Day 1

Slide4

Slide5

Kita menginap di 3Howw Hostel Sukhumvit 21 dan membooking dari Indonesia via booking.com. Pembayaran kita lakukan di tempat dan awalnya kita mengira tidak ada uang deposit, eh ternyata ada dong. Dan lumayan besar menurut kita depositnya, 500bath (sekitar 300 ribu waktu itu). Kalau tidak mau tinggal deposit, kita boleh tinggal paspor (ya ini kan bahaya banget jalan-jalan gak pake paspor). Akhirnya masing-masing dari kita meninggalkan deposit dan ternyata lucky nya kita jadi inget kalo ternyata pas pulang kita masih pegang uang banyak, horeee… Bahkan waktu pulang ke Indonesia, sisa uang jajannya masih banyak (mungkin karena saya juga gak belanja ya). Lanjutkan! Hari pertama kita mencoba naik BTS atau yang biasa dikenal dengan skytrain dari stasiun terdekat yaitu Asok. Karena perjalanan kita didominasi oleh Uber, akhirnya kita tidak membeli kartu trip tapi beli semacam bentuk koin dari plastik gitu di vending machine. Eh, ternyata di vending machine ribet karena jumlahnya banyak, akhirnya Aco berjalan ke pusat informasi untuk langsung beli banyak.

Kita turun di Hua Lamphong dan melanjutkan perjalanan dengan Uber ke Wat Pho. Karena kami mahasiswa, kami tidak ke Grand Palace karena… tiketnya lumayan mahal. Yasudah, kita ke Wat Pho saja. Wat Pho adalah salah satu kuil yang memiliki daya tarik patung Sleeping Budha. Ketika sampai, cuaca sedikit mendung menuju hujan dan satu kelompok yaitu kelompok Aco tertinggal alias nyasar entah ke mana. Jadi kita sempat menunggu hampir satu jam di dekat loket penjualan tiket dan akhirnya Aco and the gank muncul hehe. Selama menunggu Aco and the gank ini banyak kejadian dan tingkah yang sudah kita lakukan selama di tempat menunggu mau masuk kawasan komplek. Dari yang foto-foto, dubbing suara orang, mencari kipas angin, hingga mainan sama tupai di pinggir jalan. Komplek Wat Pho ini termasuk besar dan memiliki fasilitas untuk tourism yang mumpuni. Kamar mandinya saya acungi jempol karena faktor kenyamanan dan kebersihan yang dijunjung tinggi. Pokoknya area pariwisata yang dirawat dengan sangat baik. Mungkin kami datang termasuk di peak season karena ramai sekali apalagi saat di bagian sleeping Budha (kipas angin menjadi barang mahal).

Sehabis dari Wat Pho, kita melanjutkan perjalanan ke Lak Muang Shrine yang menjadi pusat spiritual dari Kota Bangkok (makanya kan pas di rundown ada keterangan make a wish ya).  Dari komplek Wat Pho kita jalan kaki ke Lak Muang Shrine dan itu so hot banget. Beberapa teman sudah mengeluarkan payung untuk melindungi dari panas. Karena saya pegang-pegang kamera, jadi saya memutuskan untuk pakai topi saja. Kadang saya dipayungin, tapi terus kabur karena kepisah saking ramenya wisatawan yang ada di sepanjang jalan menuju Lak Muang Shrine. Oh iya, aktivitas yang kita lakukan di Lak Muang Shrine adalah… ngadem.

 

 

DSCF7664
Lak Muang Shrine

Selepas dari Lak Muang Shrine adalah waktunya…. makan!! Oh iya, waktu di rundown kan harusnya hari ini jadwal ke National Museum. Ternyata setiap hari Selasa, National Museum Bangkok itu tutup. Akhirnya jadwal pun ditukar dengan jadwal jalan-jalan yang harusnya ada di hari kedua. Sebelum jalan-jalan lagi, kita makan dulu di restoran yang spesialnya adalah martabak (cari-cari foto tapi enggak ada, hix). Setelah makan siang kita lanjut untuk bertepi di pinggir sungai di taman Santi Chai Prakan Park yang berada tepat di depan tempat makan kita.

 

 

DSCF7711
Santi Chai Prakan Park. Tempat dimana bisa leye-leye di pinggir sungai

 

Destinasi berikutnya adalah destinasi wisata yang terkenal di Bangkok. Namanya Khao San Road. Di sini kita bisa belanja produk-produk Bangkok yang basisnya PKL, mungkin kaya di tanah abang gitu atau mayestik kalo di Jakarta. Benda-benda yang dijual di sini seperti baju, celana, tas, dan mango sticky rice yang bertebaran di sepanjang jalan ini. Oh iya, waktu ada di jalan ini suka ada yang jual serangga buat dimakan ituloh seperti jangkrik, kalajengking, dkk. Jangan ambil fotonya ya, karena untuk mengambil fotonya kita perlu bayar. Kalo kita ga bayar, ntar abangnya ngomel-ngomel. Penting untuk selalu memperhatikan dimana kita bisa ambil foto atau engga kalo gakmau dimarahin.

 

DSCF7790
Penampakan Khao San Road + Marisa, hehe

 

Selama di Khao San Road ini, kita mencar-mencar sesuai sama minat apa yang mau dibeli. Lupa waktu itu berkelompok sama siapa, gak sengaja pas masuk-masuk di alley nya Marisa menemukan pembatas buku motif batik gitu warna pink ada gantungan gajah khas thailandnya. Beli itu sekitar 8 bath di toko pernak-pernik dan aksesoris. Senang. Khao San Road jadi pemberhentian terakhir kita hari ini sebelum dilanjutkan dengan makan malam tom yum dan mango sticky rice!!!! (gatau ya, sejak pulang dari Thailand sangat freak sama mango sticky rice). Ya begitulah perjalanan hari pertama ini. Ntar ya, video cuplikan cilik-cilik hari pertamanya belum dibuat. Nanti kalau udah release link nya mau ditambahin di sini. Sampai jumpa di trip Travel Diary: (Ur)Bangkok #2!!

tulisan ini dibuat sebagai pelarian ingin menulis yang santai dan tidak baku. mohon maaf bila banyak sekali kata yang tidak baku ya.

Travel Diary: Satu Hari di Gili Trawangan

when in Gili Trawangan.

Cerita dari Gili Trawangan yang begitu membekas adalah snorkeling pertama kali bersama Mama dan Papa. Melihat penyu berenang saat kita snorkeling ke area yang dalam (dan dasar lautnya mulai gelap, hehe). Kita dapat tiga kali spot snorkeling dan yang terakhir Mama udah cape karena memang arus di spot kedua sangat deras. Di spot terakhir ikannya banyak sekali apalagi waktu rotinya ditabur, semua bergerumbul. Setelah snorkeling dan masih menggunakan baju itu (ha ha), kita naik sepeda mengintari pulau. Menyenangkan sekali bermain bersama matahari dan angin sore. Kalau ditanya ada kejadian apa, banyak sih! Jadi perjalanan ke Gili hanya kita tempuh satu hari. Kita berangkat pagi dan pulang selepas magrib. Tertakjub-takjub karena banjir bintang malam itu, kacamata saya nyemplung ke laut. Untuk diketahui bahwa saya selalu saja melakukan hal ini, tidak sengaja nyemplungin kacamata ke laut. Nggak tahu kenapa bisa begitu, untung waktu di Karimata (Kalimantan) tidak ada kejadian seperti ini. Nah, tadinya bibir pantainya tidak sebersih dan serapi sekarang. Sejak ganti pemerintahan, bibir pantai dibersihkan dan kita bisa leye-leye di sepanjang bibir pantai. Tapi dengar-dengar sih kita harus hati-hati, karena sisa dari merapikan bangunan dari bibir pantai itu masih ada, contohnya ada beberapa paku yang masih berada di sekitar pasir. Disarankan menggunakan sandal saat menyusuri pantai, hehe.

Lombok, 2016.

Si ‘Aerospace Enthusiasm’ yang Takut Goncangan

Halo, Kalamona! Happy new year 2017!
hari pertama di tahun 2017 kemarin saya lalui di Bandara dan pesawat udara. Sangat menyenangkan sekali karena saya terakhir terbang di bulan Mei. Sejenak melepas kerinduan dengan langit dan awan, terima kasih Ibu atas liburannya.

sam_0133
my experince with Tigerair, si kuning gemas (saya suka sekali paduan warna logonya)) 

Setelah masuk ke dunia perkuliahan yang berada satu provinsi dengan tempat tinggal, saya semakin jarang menggunakan transportasi yang saya sukai yaitu pesawat udara. Salah satu wishlist saya sebagai seorang arsitek ialah ingin terlibat di salah satu proyek bandara di kota kecil-berkembang di Indonesia. Cita-cita sembari berkuliah di Arsitektur ini membuat kecintaan saya kepada dunia penerbangan tidak pernah surut seperti mempelajari detail dan seluk beluk bandara, sistem manajemen yang terjadi antara bandara dengan perusahaan-perusahaan penerbangan terkait, mengapa ada delay, dan lain sebagainya. Di masa semester 5 saat jenjang sarjana, saya mendesain sebuah bandara di Malang. Pertanyaan yang lantas keluar sungguh di luar ekspetasi saya, “Mbak, ini kalau Presiden turun dari pesawat, sirkulasi VVIP-nya di mana ya?” Lalu saya tidak bisa menjawab. Beberapa hari kemudian, salah satu dosen saya berkata, “Ya kalau Presiden bandara dan fasilitasnya menggunakan milik militer. Masa satu runway dan sefasilitas sama komersil, Cha?” – Hmm (lalu memicingkan mata).

Trik saya agar dapat mengunjungi bandara adalah menggunakan fasilitas transit. Fasilitas ini dalam dunia penerbangan memang lebih murah karena biasanya kita akan berhenti cukup lama di salah satu Bandara transit. Untuk sebagian orang yang berbisnis, hal seperti ini justru merugikan. Bagi saya? Keuntungan. Dalam benak seorang ‘tukang jalan-jalan’ seperti saya, ketika ada waktu berlebih, transit menjadi hal yang menyenangkan. Selain menengok bandaranya, kita juga dapat bepergian sejenak untuk mengenal kotanya. Tapi ingat, jangan sampai jadi tertinggal penerbangan berikutnya ya.

Mengapa menyukai Bandara dan pesawat udara?

Bila ditanya mengapa suka pesawat? Saya merasa cukup beruntung berkembang dalam kondisi nomaden yang siap menghadapi segala perpindahan dan perantauan. Karena saya, keluarga, hingga teman-teman tidak memiliki tempat berutinitas yang sama, maka perjalanan menjadi hal yang biasa bagi kami. Saya sangat sering bolak-balik Jakarta-Surabaya, Jakarta-Malang, dan Bandung-Surabaya. Hal yang paling ‘hectic’ bagi saya terjadi di tahun 2013 di mana saya melakukan perjalanan udara sebanyak 4x dalam satu minggu kurang dengan rute Surabaya-Jakarta, Jakarta-Kuala Lumpur, Singapura-Jakarta, Jakarta-Malang.

Berawal dari seringnya mengunjungi Bandara dan naik pesawat udara sejak kecil membuat saya jatuh cinta dengan dunia satu ini. Waktu kecil alasannya adalah bisa melihat awan! Awan yang ‘bergerumbul’ sangat menggemaskan. Ketika take off, pesawat akan menembusnya dan lihatlah negeri di atas awan! Hehe. Alasan kedua saya menyukai dunia Aerospace karena menikmati waktu-waktu senggang, sendiri, termenung ketika di Bandara. Saya menyadari bahwa hidup begitu cepat, orang-orang berpindah dengan begitu mudah, hingga menyelami raut muka para penumpang pesawat. Mereka akan ke mana, ingin apa, bersama siapa, dan apa kesibukan mereka hingga mereka harus berpergian. Banyak kontemplasi yang saya lakukan ketika berada di Bandara.

Ketiga adalah belajar untuk saling peka dan mendoakan sesama. Ketika berada dalam pesawat, kita harus sepenuhnya percaya pada pilot dan awak kabin. Apa yang mereka lakukan adalah effort terbaik dari yang mereka punya. Saya pernah duduk dengan seorang Ibu yang bolak-balik Jakarta-Amerika dan saat itu pesawat sedang mengalami guncangan. Saya sangat takut dan memegang tangan beliau. Ibu tersebut hanya tersenyum dan perkata, “Dik, kita bisa meninggal di mana saja. Untuk sekarang, percayakan semua sama bapak Pilot. Didoakan ya.” Sepenggal kalimat ini benar adanya dan cukup berhasil mengusir kecemasan saya.

Mengusir Aerophobia

Perasaan gelisah ketika berada di udara baru saya rasakan di penghujung usia 23 tahun, justru ketika saya sedang jarang-jarangnya naik pesawat. Biasanya perjalanan 60 menit sangat saya nikmati, tapi kali ini berbeda. Saya sering menyebutnya air-stress, sebutan bagi saya sendiri. Perasaan takut, cemas, dan melihat jam karena ingin segera sampai menjadi hal yang lumrah pada saat itu. Saya dapat menekan tombol untuk bantuan pramugari hanya untuk menanyakan, “Mbak, ini gapapa ya? Saya takut. Mau pinjam tangannya.” Duh. Ini hanya saya lakukan ketika saya terbang sendirian dan sebelah saya laki-laki. Biasanya bila sebelah saya seorang Ibu, saya akan berkata kepada beliau untuk menemani saya.

Hal kedua yang dapat meredam kecemasan saya adalah membaca buku. Saya sering menyiapkan buku dalam perjalanan untuk mengalihkan perhatian saya. Entah ini hanya perasaan saya atau tidak, proses take off dan landing akhir-akhir ini tidak semulus jaman dahulu kala. Mungkin cuaca saat ini sudah tidak sebagus dulu (mungkin). Membawa bantal atau boneka selama perjalanan pun menjadi langkah ampuh ketiga untuk menghilangkan air-stress saya. Berangsur-angsur ketakutan saya mereda, walau kadang timbul tenggelam, tapi hal ini harus segera di atasi karena khawatir ketakuan malah membuat saya memiliki aerophobia #sad.

Pesan dari Bapak Rudy Habibie

Bagi yang sudah menonton film Habibie & Ainun, pesan ini pastilah tidak asing. Ketika Bapak Habibie membawa Bu Ainun untuk tinggal di Jerman, di dalam kabin pesawat, Bu Ainun sempat gelisah karena pesawatnya bergetar. Dengan senyumnya, Pak Habibie menenangkan dan berkata, “Tenang saja. Kalau pesawat itu bergetar berarti bagus, tidak terjadi keretakan.” Jadi saya mengambil kesimpulan bila pesawat sedang bergetar, tidak apa-apa karena itu bagus. Pilot pun jadi menyadari bahwa ada ‘sesuatu’ ketika bergetar. Nah, ini menjadi salah satu pesan yang berharga untuk para aerophobia (semoga saya tidak termasuk, hehe).

Peran pesawat udara di Nusantara sangatlah besar, Pak Habibie tahu itu. Ia mampu menjadi transportasi utama karena negara kita merupakan kepulauan. Perjalanan darat akan memakan waktu yang lebih lama dan terkadang menjadi tidak efektif. Namun tidak dapat kita pungkiri bahwa biaya untuk perjalanan udara jauh lebih mahal. Hal ini disebabkan banyaknya hal-hal yang harus dilakukan baik sebelum hingga sesudah pesawat tersebut terbang. Dari segi biaya maintenance jelas lebih mahal namun kita akan untung banyak di bagian waktu. Hingga kini, saya masih percaya bahwa putra-putri Indonesia selalu mengembangkan teknologi di bidang penerbangan karena bukan hanya Bapak Habibie dan saya yang menyadari pentingnya peran pesawat udara sebagai penyambung antar pulau.  Maka untuk bersahabat dengan zaman, bersahabat dengan dunia penerbangan dan mengusir ketakutan di dalam pesawat adalah hal yang harus dilakukan.

Jadi salah satu resolusi di 2017 adalah menetralkan kembali perasaan takut yang saya miliki dua tahun belakangan ini #Resolusi2017Marisa. Semoga di tahun ini banyak bertemu dengan Bandara dan langit-langit di Nusantara hingga penghujung dunia.

Bogor, Januari 2017
Marisa Sugangga, si Aerospace Enthusiasm

 

Teras Itu Bernama Teras Cikapundung

IMG_5426

Mas Rayyan selalu bercerita mengenai Teras Cikapundung yang terletak di Jalan Siliwangi, Bandung. Kebetulan Kamis sore itu saya keluar menggunakan kendaraan roda empat, maka mau tak mau saya harus memarkirkan kendaraan saya di parkiran Saraga dengan tarif Rp 5.000. Lokasi parkiran ini dekat sekali bila mau ke Teras Cikapundung, kurang lebih 50 meter dan trotoar menuju ke sana sangat baik kondisinya. Saran saya bila mau santai, naik saja kendaraan umum atau motor karena tersedia parkiran motor di ruang publik tersebut. Oh ya, saya datang pukul 15.30-an di weekday alias hari Kamis. Kata Mas Rayyan, kalau weekend atau hari libur kondisi Teci sangat ramai. Hari ini sedang tidak terlalu ramai, tapi sepertinya semakin sore akan semakin ramai sepengamatan saya.

IMG_5421
View dari arah Saraga menuju jalan masuk Teras Cikapundung
IMG_5422
Konsep terasering dan tumbuhan yang terawat. Perpaduan warna semaknya pun baik.

Teras Cikapundung ini merupakan sebuah taman tematik yang tidak dipungut tarif untuk kita masuk dan menikmati fasilitasnya. Diresmikan Januari 2016, Teras Cikapundung dulunya adalah area bantaran sungai yang sempat dijadikan tempat pembuangan sampah sementara. Akhirnya oleh masyarakat dan komunitas yang peduli dengan lingkungan, bantaran sungai ini dibersihkan dan dibenahi hingga akhirnya munculah ide untuk menjadikan kawasan ini tempat wisata alam. Pembangunan Teras Cikapundung direspon oleh pemerintah dan dimulai pada tahun 2013. Hingga pada akhirnya setelah selesai diresmikan, Teras Cikapundung menjadi salah satu ruang publik favorit hingga saat ini, termasuk bagi saya pribadi.

Jalan masuk menuju tempat ini berupa turunan berbentuk ramp. Ramp ini pula yang menjadi akses keluar-masuk untuk kendaraan roda dua yang akan parkir di parkiran taman ini. Bapak penjaga parkir berjas orange tersebut sangat ramah dan selalu tersenyum serta mengucapkan “Sore Teteh” (Aaah setelah sekian lama, akhirnya dipanggil Teteh lagi). Awalnya saya agak ragu-ragu untuk mengeluarkan kamera karena saya seorang diri. Sampai akhirnya ketika masuk ke taman, banyak sekali yang mengambil foto baik itu pakai tongsis, narsis sendiri pakai handphone, hingga mas-mas yang menggunakan dslr.

Desain lansekapnya sudah modern, menggunakan pola-pola yang sering sekali saya lihat di buku referensi arsitektur lansekap. Dari segi desain pola paving lantai hingga penataan tanamannya pun sudah dibuat cantik dan modern. Kesan ceria, bersih, dan pemilihan tanaman pun ikut andil atas hidupnya Teras Cikapundung ini.

IMG_5425
Suka sekali dengan hiasan kupu-kupu biru ini.

Fasilitas yang cukup menarik minat masyarakat untuk datang ialah adanya pertunjukkan air mancur dari yang dimulai pada pukul 17.00-20.00 dengan interval 1 jam di setiap show. Sayangnya saya harus segera pulang, jadi tidak sempat mengabadikan momen show air mancur hari itu. Menyusuri sungai dengan kapal karet di tengah kota? Nah, di taman ini kita bisa mendapatkannya. Cukup membayar donasi untuk pemeliharaan sungai sebesar Rp 10.000 bagi orang dewasa dan Rp 5.000 untuk si kecil.

Beberapa fasilitas lain terdapat Jembatan Merah (spot paling ramai untuk berfoto), mural wall yang berjudul “Journey of Happiness”, bangku-bangku taman yang cukup banyak, lalu Amphiteater. Amphiteater adalah tempat pertunjukan berupa panggung terbuka dan kursi-kursi terbuka. Kursi-kursi terbuka untuk amphiteater di taman ini berupa undak-undak seperti tangga yang nyaman sekali untuk bersantai dan diteduhi oleh pohon ketapang kencana. Setelah menyebrangi jembatan merah, kita dapat bertemu dengan gazebo-gazebo dan bangku taman yang melingkar. Saya melihat ada yang sedang rapat bahkan mengerjakan tugas di taman ini. Ada juga yang seperti saya, solo traveler, mungkin sedang main Pokemon Go.

IMG_5428
Teras Amphiteater.
IMG_5432
Berkapal karet mengarungi sungai dan uangnya untuk merawat sungai tersebut. Baik kan.
IMG_5431
Jembatan merah, jembatan selfie dan wefie.
IMG_5429
Jokes khas yang selalu bikin gemes, jokes menyangkut mantan. Haha

Hal yang perlu diperhatikan bagi kita adalah menjaga kebersihan taman kita bersama. Sangat disayangkan bagi taman sebaik ini bila kita masih membudidayakan buang sampah sembarangan. Prinsipnya sederhana saja, bila tidak ada tempat sampah, sampat bisa kita kantongi dahulu atau selipkan di dalam tas untuk nantinya di buang saat kita bersih-bersih tas di rumah.

Cukup sedih juga ketika berkunjung ke sini masih ada yang membuang tisu atau bungkus plastik di sela-sela tanaman. Tapi ternyata setelah saya perhatikan, tidak terdapat tempat sampah yang cukup di area taman ini. Hmm… Mungkin sedang dalam tahap pengadaan ya? Menurut saya untuk area publik, tempat sampah cukup penting keberadaannya sejak awal agar tidak ada alasan untuk membuang sampah sembarangan.

IMG_5433
Spot favorit saya. Dulu ketika mendesain, saya suka sekali dengan island, gundukan-gundukan seperti ini. 
IMG_5434
Yuk dijaga Teras Cikapundung-nya.

Ke manapun saya pergi, saya suka mengunjungi area publik seperti ini. Sendirian pun tidak jadi masalah selama selalu menjaga barang bawaan dan jangan bengong ya, hehe. Ketika datang, alunan lagu yang mengalun untuk sore ini adalah lagu dangdut. Selamat menjelajah dan merasakan indahnya Teras Cikapundung Bandung.

 

an urban traveller,

– Marisa Sugangga (2016)

 

Kuliner Bandung – Edisi 1 (Madtari, Cuanki Serayu, & Lekker Story)

Kenapa judulnya saya beri ‘Edisi’? Karena tulisan sejenis ini tidak akan selesai di postingan ini saja, hehe. 

Waktu mendapati akan tinggal di Bandung untuk studi, maka hal yang sudah saya tanamkan sejak jauh-jauh hari adalah bersahabat dengan lingkungannya. Namanya Marisa, suka sekali kalau diajak ke tempat-tempat baru yang belum pernah dikunjungi apalagi mencoba kuliner di daerah tersebut.

Kota yang selalu dipuja para remaja hingga orang tua ini memang menyenangkan. Hal menyenangkan pertama yang saya rasakan adalah anginnya dingin. Dalam satu hari penuh, bisa jadi ujung kaki selalu menggigil kedinginan, thats why saya cinta sekali pakai kaus kaki di kota ini.

Kurang lebih satu minggu sudah saya tinggal di Bandung untuk menyelesaikan administrasi pra-studi. Mulai dari daftar ulang, sidang terbuka (semacam upacara), mengisi KRS, bertemu dosen, dan sebagainya. Di sela-sela kegiatan tersebut, saya memang sudah berniat untuk merasakan hawa perkotaan di Bandung. Seperti mampir ke ruang publik, merasakan trotoar yang begitu memanusiakan manusia, memperhatikan orang-orang duduk di kursi pinggir jalan sambil tertawa bersama teman-temannya,dan menikmati setiap jengkal lampu merah dengan lagu dan senja.

Tulisan pertama mengenai Bandung kali ini beraroma kuliner! Yap, dunia kuliner memang tidak pernah ada habisnya. Kakak Sulung, Mas Rayyan, mengajak saya untuk mengunjungi salah satu tempat studi bahasa Inggris di sekitar jalan Purnawarman. Lokasinya dekat sekali dengan UNISBA. Daerahnya sangat ramai dengan mahasiswa, jajanan kaki lima, dan parkir motor di mana-mana. Khasnya lingkungan universitas. Sembari menunggu tempat studi buka, Mas Rayyan mengajak saya makan di salah satu tempat makan yang katanya cukup terkenal dari jaman 2000-an (atau bahkan sebelum itu ya?). Namanya Cafe Madtari. 

IMG_5351
Suasana di Cafe Madtari sehabis makan siang.

Menu utama di tempat makan ini adalah indomie. Rebus dan goreng. Spesialnya apa ya? Mari saya ceritakan di mana spesialnya Cafe Madtari ini. Saya memesan Indomie Rebus Telor Korned sedangkan kakak saya memesan Indomie Goreng Telor Keju Korned jumbo. Untungnya saya tidak terjebak dalam pikiran ‘lapar siang hari’ dan masih bisa menahan untuk tidak memesan yang jumbo. Benar saja, ketika kedua indomie tersebut datang, saya terheran-heran.

“Mas, itu es campur apa Indomie ya? Makannya gimana itu?”

IMG_5350
Interjuned lebih tepatnya seperti es serut 

Serius.  Keju dalam mangkok itu seperti salju di pegunungan Alpen yang melapisi apa-apa saja di bawahnya. Akhirnya keju sebanyak itu disumbangkan seperempatnya kepada saya agar mie goreng tersebut bisa dimakan dan diaduk. Kenyang sekali, padahal saya pesan yang tidak jumbo dan tidak pakai keju. Untuk penggemar keju, saya sarankan pakai keju. Kejunya enak sekali, bukan keju asal-asalan. Diparutnya pun terlihat sangat lembut dan tidak terputus-putus, jadi kejunya panjang-panjang membuat bahagia. Saya sangat percaya bila malam tempat ini diserbu mahasiswa, apalagi mahasiswa yang suka rapat-rapat dan semacam aktivis kampus. Colokan bertebaran hampir di setiap mejanya.

IMG_5348
Kornednya berlimpah ruah, seperti kejunya. Hmmm…..

Sehabis makan, kami tidak langsung beranjak karena perutnya kekenyangan. Sepertinya tidak akan pernah memesan yang jumbo lagi kecuali dimakannya berdua. Di tengah makan, sempat terjadi obrolan mengenai “Cuanki”. Jajanan khas Bandung satu ini sangat digemari oleh Marisa dan Ayah Marisa. Setiap ke Bandung, kami menyempatkan diri untuk makan Cuaki yang lewat dengan dipanggul ataupun didorong dengan gerobaknya. Ternyata Mas Rayyan mempunyai rekomendasi tempat makan Cuanki yang enak namanya Cuanki Serayu. Langsung saja setelah makan dari Madtari dan tempat kursus, saya diantar menuju Cuanki Serayu yang terletak di Jl. Mangga, depan toko Cairo dan Kantor Republika Online. Katanya ini tempatnya pindahan dari Jl. Serayu.

IMG_5341
Sudah lewat jam makan siang tapi tetap ramai. Makan ditemani mendungnya Bandung.

Saat tiba, tempatnya begitu sederhana seperti warung tenda tapi terlihat banyak yang menikmati hidangan berkuah satu ini. Karena masih agak kenyang, tapi sangat ingin mencicipi cuanki ini, akhirnya saya dan Mas Rayyan memesan masing-masing setengah porsi. Cuanki pun datang dan saya masih bengong, “Ini setengah porsi kok banyak ya?”. Untuk harga setengah porsinya Rp 10.000 dan satu porsi di Rp 15.000. Di meja disediakan seperti kecap asin (khasnya cuanki), cuka, kerupuk, dan perlengkapan makan baso pada umumnya.

IMG_5343
Ada sensasi kriuk-kriuknya, hmm….

Sebagai penggemar Cuanki, sungguh saya akan kembali lagi. Kuahnya enak sekali, for sure. Rasa semua komponen dalam Cuanki-nya saya beri 4.8/5, pokoknya enak! Sangat terasa sekali rasa Cuanki yang khas, berbeda dengan baso pada umumnya.

Bukan Mas Rayyan dan Marisa namanya kalau tidak hobi kuliner, tepat di sebelah Cuanki Serayu ini terdapat Lekker yang bernama Lekker Story. Lekker itu sebenarnya seperti martabak, tapi lebih tipis. Dulu saya suka beli saat SD dan SMP, lekker yang membuat langit-langit di mulut licin karena terlalu banyak menteganya. Kadang rasanya hanya licin saja, haha. Mindset saya tentang lekker licin pun langsung berubah setelah mencoba lekker yang satu ini. Lekker gaul ini memiliki beberapa topping kekinian seperti Nutella, Ovomaltine, dan Silverqueen. Kata mas yang memasak, salah satu best sellernya adalah coklat pisang. Tapi saya sudah terlanjur memesan Ovomaltine.

IMG_5339
Topping di Lekker Story. Yum~

Setelah Lekker dibuat di atas pemanggang yang diputar-putar oleh mas koki lekker, lekker diletakkan di dalam kotak berbentuk setengah lingkaran berwarna hitam. Kotak hidangnya pun didesain cantik dan kekinian sekali. Kata Mas Rayyan, setelah diangkat jangan langsung dimakan, agar sedikit  krispiAkhirnya kami mendiamkan lekker tersebut kurang lebih 1-2 menit ditinggal ngobrol. Saya pun menggigit lekker itu diujungnya, super crispppp! Bahkan tanpa topping pun, rotinya sudah enak sekali. Digigitlah itu roti plus topping Ovomaltine, rasanya membuat bengong. Langsung membayangkan makan lekker sambil main ayunan di taman kota, indahnya. Saya akan kembali lagi untuk mencoba si coklat keju andalan dari Lekker Story.

IMG_5336
Saya nobatkan Lekker Story sebagai Lekker terenak yang pernah saya makan!

Hari sudah menuju sore, mataharinya pun berubah warna menjadi cantik sekali bersandar dengan awan sore hari. Akhirnya kami pulang dengan menobatkan Lekker menjadi makanan ringan yang sangat enak setelah baso goreng untuk versi Marisa, hehe. Kemungkinan besar akan kembali lagi ke Cuanki Serayu, karena kuahnya enak sekali.

Cafe Madtari – The ultimate cheese alive, haha kuberi 3/5 (karena saya tidak bisa sering-sering menyantap Indomie, huhu)

Cuanki Serayu – 4.8/5. I’ll be back as soon as possible!

Lekker Story – 4.6/5. Untung pas datang tidak antri. Dengar-dengar biasanya antri sekali, jodoh memang tidak ke mana ya.

Jangan lupa minum air putih yang banyak setelah jajan ya, agar metabolisme tubuh senantiasa baik.

Tips hemat : Bawa air putih dari rumah, sungguh ini sangat membantu.

 

Salam Kuliner dari Bandung,

 Marisa Sugangga (2016)