Teras Itu Bernama Teras Cikapundung

IMG_5426

Mas Rayyan selalu bercerita mengenai Teras Cikapundung yang terletak di Jalan Siliwangi, Bandung. Kebetulan Kamis sore itu saya keluar menggunakan kendaraan roda empat, maka mau tak mau saya harus memarkirkan kendaraan saya di parkiran Saraga dengan tarif Rp 5.000. Lokasi parkiran ini dekat sekali bila mau ke Teras Cikapundung, kurang lebih 50 meter dan trotoar menuju ke sana sangat baik kondisinya. Saran saya bila mau santai, naik saja kendaraan umum atau motor karena tersedia parkiran motor di ruang publik tersebut. Oh ya, saya datang pukul 15.30-an di weekday alias hari Kamis. Kata Mas Rayyan, kalau weekend atau hari libur kondisi Teci sangat ramai. Hari ini sedang tidak terlalu ramai, tapi sepertinya semakin sore akan semakin ramai sepengamatan saya.

IMG_5421
View dari arah Saraga menuju jalan masuk Teras Cikapundung
IMG_5422
Konsep terasering dan tumbuhan yang terawat. Perpaduan warna semaknya pun baik.

Teras Cikapundung ini merupakan sebuah taman tematik yang tidak dipungut tarif untuk kita masuk dan menikmati fasilitasnya. Diresmikan Januari 2016, Teras Cikapundung dulunya adalah area bantaran sungai yang sempat dijadikan tempat pembuangan sampah sementara. Akhirnya oleh masyarakat dan komunitas yang peduli dengan lingkungan, bantaran sungai ini dibersihkan dan dibenahi hingga akhirnya munculah ide untuk menjadikan kawasan ini tempat wisata alam. Pembangunan Teras Cikapundung direspon oleh pemerintah dan dimulai pada tahun 2013. Hingga pada akhirnya setelah selesai diresmikan, Teras Cikapundung menjadi salah satu ruang publik favorit hingga saat ini, termasuk bagi saya pribadi.

Jalan masuk menuju tempat ini berupa turunan berbentuk ramp. Ramp ini pula yang menjadi akses keluar-masuk untuk kendaraan roda dua yang akan parkir di parkiran taman ini. Bapak penjaga parkir berjas orange tersebut sangat ramah dan selalu tersenyum serta mengucapkan “Sore Teteh” (Aaah setelah sekian lama, akhirnya dipanggil Teteh lagi). Awalnya saya agak ragu-ragu untuk mengeluarkan kamera karena saya seorang diri. Sampai akhirnya ketika masuk ke taman, banyak sekali yang mengambil foto baik itu pakai tongsis, narsis sendiri pakai handphone, hingga mas-mas yang menggunakan dslr.

Desain lansekapnya sudah modern, menggunakan pola-pola yang sering sekali saya lihat di buku referensi arsitektur lansekap. Dari segi desain pola paving lantai hingga penataan tanamannya pun sudah dibuat cantik dan modern. Kesan ceria, bersih, dan pemilihan tanaman pun ikut andil atas hidupnya Teras Cikapundung ini.

IMG_5425
Suka sekali dengan hiasan kupu-kupu biru ini.

Fasilitas yang cukup menarik minat masyarakat untuk datang ialah adanya pertunjukkan air mancur dari yang dimulai pada pukul 17.00-20.00 dengan interval 1 jam di setiap show. Sayangnya saya harus segera pulang, jadi tidak sempat mengabadikan momen show air mancur hari itu. Menyusuri sungai dengan kapal karet di tengah kota? Nah, di taman ini kita bisa mendapatkannya. Cukup membayar donasi untuk pemeliharaan sungai sebesar Rp 10.000 bagi orang dewasa dan Rp 5.000 untuk si kecil.

Beberapa fasilitas lain terdapat Jembatan Merah (spot paling ramai untuk berfoto), mural wall yang berjudul “Journey of Happiness”, bangku-bangku taman yang cukup banyak, lalu Amphiteater. Amphiteater adalah tempat pertunjukan berupa panggung terbuka dan kursi-kursi terbuka. Kursi-kursi terbuka untuk amphiteater di taman ini berupa undak-undak seperti tangga yang nyaman sekali untuk bersantai dan diteduhi oleh pohon ketapang kencana. Setelah menyebrangi jembatan merah, kita dapat bertemu dengan gazebo-gazebo dan bangku taman yang melingkar. Saya melihat ada yang sedang rapat bahkan mengerjakan tugas di taman ini. Ada juga yang seperti saya, solo traveler, mungkin sedang main Pokemon Go.

IMG_5428
Teras Amphiteater.
IMG_5432
Berkapal karet mengarungi sungai dan uangnya untuk merawat sungai tersebut. Baik kan.
IMG_5431
Jembatan merah, jembatan selfie dan wefie.
IMG_5429
Jokes khas yang selalu bikin gemes, jokes menyangkut mantan. Haha

Hal yang perlu diperhatikan bagi kita adalah menjaga kebersihan taman kita bersama. Sangat disayangkan bagi taman sebaik ini bila kita masih membudidayakan buang sampah sembarangan. Prinsipnya sederhana saja, bila tidak ada tempat sampah, sampat bisa kita kantongi dahulu atau selipkan di dalam tas untuk nantinya di buang saat kita bersih-bersih tas di rumah.

Cukup sedih juga ketika berkunjung ke sini masih ada yang membuang tisu atau bungkus plastik di sela-sela tanaman. Tapi ternyata setelah saya perhatikan, tidak terdapat tempat sampah yang cukup di area taman ini. Hmm… Mungkin sedang dalam tahap pengadaan ya? Menurut saya untuk area publik, tempat sampah cukup penting keberadaannya sejak awal agar tidak ada alasan untuk membuang sampah sembarangan.

IMG_5433
Spot favorit saya. Dulu ketika mendesain, saya suka sekali dengan island, gundukan-gundukan seperti ini. 
IMG_5434
Yuk dijaga Teras Cikapundung-nya.

Ke manapun saya pergi, saya suka mengunjungi area publik seperti ini. Sendirian pun tidak jadi masalah selama selalu menjaga barang bawaan dan jangan bengong ya, hehe. Ketika datang, alunan lagu yang mengalun untuk sore ini adalah lagu dangdut. Selamat menjelajah dan merasakan indahnya Teras Cikapundung Bandung.

 

an urban traveller,

– Marisa Sugangga (2016)

 

Explore Jakarta : Taman Wisata Alam Mangrove PIK

1431242705987Ini latepost sekali sebenarnya. Berhubung kemarin saya baru blogwalking dan menemukan banyak referensi yang menjadi panduan saya menentukan destinasi, sebagai bentuk terima kasih saya sebagai sesama blogger, saya memutuskan untuk mereview beberapa kisah perjalanan jalan-jalan saya.

1431307603564
Tempat penginapan dalam kawasan. Menarik kan bentuk bangunannya?

Sempat booming di media social (sepertinya sampai sekarang masih booming), saya dan teman-teman Arsitektur UB 2010 yang sudah bekerja di Jakarta memutuskan untuk liburan bersama di bulan Maret 2015 lalu. Setelah banyak ngobrol di grup akhirnya tercetuslah untuk main ke hutan kota yaitu Wisata Alam Mangrove Pantai Indah Kapuk sekalian kuliner di area PIK. Area ini terkenal dengan jajaran ruko-ruko disulap yang disulap jadi tempat makan dan nongkrong super asik. Beberapa dari kami janjian di Stasiun Tanjung Barat dan ketua angkatan kami yang sangat bertanggung jawab menjemput kami satu-satu dari Serpong, Cibubur, Bogor, sampai ke Stasiun Tanjung Barat. Perjalanan dengan mobil pribadi ini kami tempuh melewati pintu tol menuju Bandara Soekarno-Hatt dan keluar di pintu tol Pantai Indah Kapuk. Kalau dari Jakarta (St. Tanjung Barat), perjalanan memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Setelah masuk ke kawasan PIK, kami menuju ke Wisata Alam Mangrove PIK dan membayar tiket per orang sebesar Rp 25.000. Menurut saya cukup worth it mengingat tempat ini ternyata cukup terawat.

Kami pun memarkirkan mobil dan setelah menyiapkan segala persiapan, kami memulai perjalanan seru kami berputar-putar di sekitar hutan kota ini. Di tempat ini, selain menikmati pemandangan alam, mungkin teman-teman akan sering berkata, “Ini di mana ya? Seperti bukan di Jakarta deh…” Memang benar, saya sendiri pun seperti itu. Berkali-kali saya berkata seperti itu. Suasananya benar-benar seperti sedang liburan dan jauh dari hingar bingar Kota Jakarta.

Apa yang kita lakukan di PIK?

1431307593352
Jalan menuju pantai reklamasi

Refreshing sejenak dari kehidupan kota! Ini benar-benar hutan kota yang recommended menurut saya. Selain jalan-jalan mengelilingi kawasan mangrove, di sini juga terdapat penginapan yang memiliki bentuk bangunan yang menarik. Bila bosan jalan-jalan, kita bisa menyewa boat dengan harga Rp 250.000 (6 orang) – Rp 350.000 (8 orang). Tapi karena teman-teman hanya ingin jalan kaki saja (sekalian olahraga katanya), akhirnya kami tidak menyewa boat. Kami berkeliling hingga terdapat tulisan ‘Pantai’. Saat tiba di spot ‘pantai’ tersebut, ternyata kami memang menemukan pantai, tapi pantai yang sedang di reklamasi (dibuat daratan) serta dapat melihat pembangunan Jembatan PIK menuju Golf Island. Struktur jembatan ini cukup menarik untuk kami karena bentuknya yang modern. Kami pun lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengabadikan foto dan ngobrol karena sudah lama tidak bertemu. Saat waktu sholat tiba, kami mampir ke Musholla yang cukup dingin dan membuat kami tidak ingin beranjak dari tempat itu karena Musholla nya terbuat dari struktur kayu dan berada di atas rawa, seperti struktur rumah panggung. Tidak terdapat tempat makan, hanya restoran dan beberapa drinking machine box. Beberapa kali saya mencoba menggunakan machine box ini dan si mesin tidak mau menerima Rp 5000-an saya sampai pengunjung selalu tertawa melihat tingkah saya yang selalu gagal sedangkan teman-teman saya berhasil. Setelah percobaan ke-10 akhirnya saya berhasil!

1431307600318
Jangan pakai heels ya ke sini, karena decknya bolong-bolong. Bahaya bisa selip.
1431307642481
Di jembatan ini terik sekali. Kami berjalan-jalan di sini pukul 13.00, pas matahari tepat di atas kepala kami. Photo by: Ketua Angkatan 2010, Om Randy

Catatan: 

  • Kalau bisa jangan ke sini jam 12.00 siang atau pada saat matahari sedang terik-teriknya karena sangat panas. Namun hal ini bisa diantisipasi dengan bawa topi agar kepala kita tidak terlalu panas. Bila ingin menghindari terik, datanglah jam 14.00 atau jam 15.00, sudah lumayan sore dan waktu yang tepat untuk berjalan-jalan dan menikmati alam.
  • Bawalah botol minum karena selain dehidrasi karena kepanasan, kita pasti akan cepat haus karena olah raga jalan kaki.

Overall, saya sangat menyukai perjalanan saya ke Wisata Alam Mangrove PIK ini, selain harganya terjangkau, kawasan ini juga tidak jauh dari pusat kota. Hanya saja memang bila menggunakan transportasi umum akan memakan waktu lebih lama daripada membawa kendaraan pribadi karena sepengetahuan saya, bis-bis yang ke arah sini tidak terlalu banyak dan terdapat jam-jam nya dengan jeda yang agak lama.Sepulangnya dari Hutan Mangrove, teman-teman bisa menjajaki area ruko-ruko PIK yang sangat terkenal dengan kuliner nya. Berbagai macam kuliner dari tradisional hingga modern, asia-barat, lengkap semua ada di sini dengan interior yang sangat mendukung dan fotoable alias eyecatching. 

1431307777373
Photo ala-ala Lets Get Lost!

Nah, Wisata Alam Mangrove bisa menjadi salah satu destinasi hutan kota yang menyenangkan loh kalau ingin ‘kabur’ sebentar dari keramaian urban. Minum air putih yang banyak ya sepulang dari sini agar tidak dehidrasi.

*) informasi saat saya melakukan trip ke sana, Maret 2015.

Seaton Park

Nära got her first postcard from Aberdeen, Scotland.
Nära got her first postcard from Aberdeen, Scotland.

Sekitar tiga minggu yang lalu, saya mendapatkan beberapa foto dan cerita-cerita mengenai public space berupa taman yang berada di kota Aberdeen, Scotland. Daripada saya simpan sendiri ceritanya, maka saya olah menjadi sebuah bacaan yang semoga bisa menginspirasi perancangan dan pembangunan public space di Indonesia yang sedang digalakkan oleh pemerintah dan (beberapa) kota di Indonesia.

0PWYJS0x1eQbn81P9UAPXwEZP_XT52ytmBJKYnLvzio,rcgPHSRVPt0x5wKP2_sE5ORJZXtnsFhx3jaIqmTpKsw
Flower bed with high maintenance

G6Kda8KjJsCiY3BK9qyFTEEGIzAel2GLPcgEqJPu8VY,3zPgRAgsswOCyYACP1Zrc77OXJC49bz0Iawyu0QrZOU  Lb6sM4p6-rwXJd6S6GdZvz4vX4LPFDSF3kvHdG6c0Jc,P599CaWU_m0ldDG21xSUWjnekbF6GGlQeYJArcg-CFM

ND8vYoyILgNlvP-r_UXPIs__7_8vEby_1oXtlhPr-kk  TKFYuEfhVl7OAQ4OsT5Wq4WnIdYcsxhAjQA9PRz9Zv4,uUrg69E6yQhvxjZ-_Z-ErrnJD8lwNsqjKgCnztxD0hA

Seaton Park is a much loved treasure on the banks of the Don to the north of the City. The 27 hectares has formal beds, a walled garden, mature deciduous trees, open green spaces and a children’s play park. (source: http://www.aberdeencity.gov.uk/)

idu-4xZ7UkV--K_c9bt2migP9rYtxwDeNnVn4Og3kKc
Map of Seaton Park, Aberdeen, Scotland.

Taman ini bernama Seaton Park. Mungkin ini bukan taman modern di mana banyak unsur fasilitas berupa hardscape di dalamnya namun menurut saya taman ini pasti menggunakan High Maintenance sejak ia dibangun. Terlihat dari rumput dan tumbuhannya yang sangat terawat dan benar saja, ketika saya mencoba mencari tahu lewat dunia maya, taman ini selalu memperbaharui bunga setiap satu tahun sekali. Berdiri sejak 1947 di atas 27,000 m² taman ini merupakan public park yang sering dilalui oleh mahasiswa dan penduduk sekitar yang berjalan dari arah asrama Bridge of Don atau di daerah Hillhead menuju kampus University of Aberdeen melalui St. Matchal Cathedral. Terlihat bangunan Cathedral pada map berada di bagian paling Selatan. Katedral ini dikelilingi makam penduduk. Kontributor beruntung mendapatkan banyak foto saat bunganya sedang bermekaran karena menurut masyarakat di sana, bunga-bunganya saat ini sedang bagus-bagusnya. Fungsi utama selain public space bisa dibilang taman ini merupakan taman pedestrian di mana terdapat dua jalan pejalan kaki dan di tengahnya bermekaran bunga-bunga yang telah disusun atau biasa disebut flower bed. Selain flower bed, di salah satu taman terdapat walled garden atau biasa disebut taman bertembok (jadi tumbuhannya disusun seolah-olah membentuk dinding).

EhkMYJM-QuDDXiWI-5GTlp0ZjzHgIu3K3910fQQ3Q3g,VAWqGIvdM_fpji8tiShGugm_HGoMH9oGjGOhyQVEy9s
Walled Garden

b9INX4lUaTEyp24RZlddKxJ14fMLmKNYf-Mj3VA-4Hc,Sp7Q4YCkk3lvvew8C09rkFUdAeQTq2zkeFA4BQEZvmY

Pada awalnya saya kita rumputnya tidak boleh diinjak, tapi ternyata ada sisi di mana terdapat lapangan rumput di mana Aberdeen Football Club sering menggunakannya sebagai tempat latihan. Taman ini buka sepanjang hari, sepanjang tahun. Jadi kalau sedang berkunjung ke Aberdeen dan ingin melihat flower bed & walled garden bisa rekreasi ke taman ini. Fasilitas utama seperti bench, trash bin, dan pedestrian walk pada taman ini cukup terawat serta terdapat toilet umum berbayar yang tersedia setiap saat dan taman ini menyediakan informasi mengenai Wedding Photography Enquiries alias bisa foto pra wedding di sini.

Di balik keindahan taman ini, ternyata beberapa bagian dari taman ini telah menderita banjir beberapa tahun belakangan ini dan sedang dilakukan studi kelayakan untuk mengatasi banjir yang terjadi all over the year di bagian tertentu pada taman ini. Studi ini termasuk untuk mengetahui potensi-potensi daerah sekitar Seaton Park yang kemungkinan bisa terkena banjir beberapa tahun ke depan. Jadi selain membenahi diri sendiri, Seaton Park juga tetap melakukan studi untuk daerah sekitarnya. Proyek studi ini dipegang oleh Seaton Park Wetland Project.

VYpcajJiAzxJmFvIpBQcGzDWA1fxvt7Y55huyiC7pBU,Ve9bEVbLjXX_MfI4Y-RnNIJjcUBaK81ZSan8MjvS100
Di Indonesia ada semak seperti yang perak itu, namanya Silver Dust (Senecio cinareria).

Poin yang patut di contoh dari permasalahan yang dialami Seaton Park ialah usaha untuk membenahinya sudah tergerak, jadi tidak berlama-lama dalam masalah banjir. Pemerintahnya bergerak untuk segera menangani masalah yang dialami salah satu ruang terbuka hijaunya. Pendapat pribadi tentang Seaton Park, saya yakin taman ini memiliki perhatian khusus dalam proses perawatannya tapi di balik itu semua pasti selalu ada sisi worth it dari setiap yang diusahakan. Salah satunya area-area flower bed dan ruang bentang hijau di antara pedestrian di taman ini. Mungkin karena fungsi utamanya adalah pedestrian garden di mana dominasi utamanya adalah pergerakan menyebrang, berjalan, melewati maka tidak banyak fasilitas yang didevelop untuk area singgah di taman ini sejak taman ini dibangun. (Photo&Story Contributor: M. Ryan Junaldi)

—————–

Another source:

https://en.wikipedia.org/wiki/Seaton_Park

http://www.aberdeencity.gov.uk/