Strolling Around City (Singapore)

DSCF1720

Kalau diajak ke Singapura, selalu nggak pernah nolak. Beberapa teman suka nanya, kenapa sih suka banget bolak-balik Singapura? Jawabanku pasti “selalu ada yang baru di kota ini.” Selain karena selalu dapat tiket yang under normal price -seperti PP 300-400ribu-, aku juga bukan orang yang picky soal “kabur” sejenak dari kenyataan. Selama ada kesempatannya, suka aku ambil aja hehehe. Tahun ini kesempatan ke Singapura aku pergunakan untuk strolling around the city, seperti melihat free show atau menyusuri kawasan yang baru direvitalisasi (dihidupkan kembali).

DSCF1801

Hal yang paling menarik untuk liburan kali ini adalah penginapannya. Aku pergi berenam dengan keluargaku (belum full team loh itu, haha) dan memutuskan untuk tidur di hostel dengan bunk bed. Tujuannya agar satu kamar bisa semua masuk dan karena kita akan sangat jarang berada di penginapan, jadi kita memilih penginapan berdasarkan lokasi. Nah, aku punya satu rekomendasi penginapan yang bagus sekali baik secara lokasi maupun service. Adamson Inn ini berada di sekitar Kampong Glam (3 Jln Pinang, Singapore) dan ini secara lokasi sangat-amat-recommended-sekali! Untuk yang muslim, tidak perlu pusing mencari makanan halal karena ini adalah daerah yang nyaris semuanya makanan halal. Most food di sini adalah makanan arab/india seperti martabak, nasi briyani, chicken curry, dan favorit aku adalah teh tarik! Tidak ada penginapan yang super murah di Singapura, tapi kalau mau cari lokasi yang menyenangkan dan mencoba hotel ala-ala backpacker, Adamson Inn adalah tempat yang tepat. Solat pun bisa menjadi sangat menyenangkan dan khusyu karena hostel ini bertetangga dengan Sultan Mosque (salah satu destinasi wisata di Singapura). Jadi selama di sini, teman-teman akan tetap bisa mendengarkan adzan.

DSCF1664
Yah, ketutupan truk. Maaf ya
DSCF1666
Suasana di sekitar penginapan, ada halte bis di belakang sini

Oh iya, untuk hari ini perjalanan kali ini, kita tidak lagi menggunakan EZ-Link sebagai kartu transportasi di Singapura. Kita menggunakan Singapore Tourist Pass yang bisa dibeli di bandara juga saat pertama kali naik MRT. Harganya 20 SGD dan itu ada depositnya, bisa diambil waktu nanti pulang tuker tiket (seperti kita tuker tiket untuk tiket harian di commuter line). Waktu itu aku belinya yang standar bukan yang plus jadi kartu ini tidak include transportasi seperti ke Sentosa dan beberapa bus pun tidak dilayani oleh kartu ini (biasanya bus yang ada tulisannya “express”, bisa cek di halte atau internet). Jadi pas pilih rute di halte bus, sedikit lebih cermat saja agar tidak salah naik bis. Overall kartu ini worth it sekali dan selama perjalanan kali ini, aku banyak menggunakan transportasi bis karena udah free pass! Jadi selalu cari halte terdekat dari tujuan dan kadang tuker di salah satu bus stop untuk menuju line bus yang lain. Serunya adalah kita bisa benar-benar lihat kotanya seperti apa. Dulu biasanya aku selalu naik MRT, jadi kotanya tidak terlihat.

DSCF1746

DSCF1751

DSCF1745
Aku bilang sama Mama kalau ini kartu ‘sombong’, bisa tap-tap sepuasnya tanpa berpikir harus top up

Sebelum dari melakukan perjalanan kali ini, aku selalu penasaran dengan kondisi terbaru dari Haji Lane. Nah, koridor yang sudah direvitalisasi ini berada tidak jauh dari penginapan. Akhirnya sore-sore setelah sampai dan selesai check in, aku mencoba mengunjungi kawasan ini. Ramai sekali kondisinya tapi masih nyaman untuk melakukan kita melakukan aktivitas. Menariknya, setiap bangunan diberi warna yang berbeda bahkan cenderung kontras, tapi masih bisa menimbulkan kesan yang harmonis. Aku selalu berpikir bahwa mungkin sebelum dilakukan proses pengecatan, terdapat proses riset dan trial error pada satu studi/lab percobaan warna ya? Hahaha atau sepertinya seingat aku memang ada teori keharmonisan warna yang bisa didapat bila kita menggunakan teori seperti komplementer, split komplementer, dan teman-temannya itu. Serius, aku benar-benar penasaran kenapa walaupun kesannya tabrak warna tapi bisa seharmonis itu. Bisa juga dari tipologi bangunan yang serupa tapi tak sama seperti desain jendela, pintu, dan atap yang serupa hingga akhirnya membentuk kombinasi yang sangat harmoni (huhu, ngefans). Kondisi dari setiap bangunan di sini tergolong sangat baik dan terawat, sangat menyenangkan berada di sekitar Haji Lane, Kampong Glam, dan Arab Sreet ini.

DSCF1598
Sultan Mosque, salah satu vista di Muscat Street
DSCF1618
Haji Lane Street

DSCF1619

DSCF1633

DSCF1772
“Aku nanti kalau punya rumah sendiri mau dicat kayak gini!” lalu semua kabur.
DSCF1778
Kawasan Kampong Glam
DSCF1780
Pendekatan desain yang digunakan untuk kawasan yang memiliki dinding-dinding besar namun berorientasi ke jalan

Free show yang aku datangi kali ini adalah water fountain show yang diadakan oleh Marina Bay Sands dan lokasinya pun berada tepat di belakang mall ini (di area promenade). Untuk jadwal bisa cek di webnya https://id.marinabaysands.com/ dan kemarin aku datang saat pukul 20.00. Pastikan mendapatkan spot yang tepat agar dapat menikmatinya. Saran aku siap-siap saja di area sekitar LV building, hehehe atau paling depan dekat pagar pembatasnya sekalian. Free show kedua berada tidak jauh dari lokasi Spectra yaitu di Garden by The Bay yang memberikan free lighting show. Saat itu aku sedang beruntung sekali karena musik yang digunakan saat itu berasal dari lagu-lagu film Disney!!! (include Star Wars theme hehehe, gimana ga seneng?).  Jadwalnya bisa cek di web nya juga, kemarin aku datang di waktu 08.45. Nah, untuk datang ke free show seperti ini, bisa selalu cek di website nya untuk jadwal-jadwal pertunjukannya. Singapura selalu punya pertunjukan baru untuk kita nikmati secara gratis, jadi sebelum berangkat, bila mode travelling teman-teman adalah para pencari event gratisan, rajin-rajin buka website nya visit singapore ya. Segala promo dan event bisa cek di situ.

DSCF1678
View dari Helix Bridge
DSCF1694
Spectra
DSCF1719
Garden by the Bay Lighting Show

Hari terakhir yaitu hari ketiga, aku menghabiskannya dengan explore area Kampong Glam saja sebenarnya. Sempat juga sih mengunjugi kantor polisi yang di redesign yaitu The Old Hill Street Police (loh, fotonya malah lupa aku ambil). Nah bangunan ini dulunya adalah kantor polisi dan sekarang digunakan sebagai kantornya MICA (Ministry of Information, Communications and the Arts). Hal yang menarik dari bangunan berjendela banyak ini lagi-lagi permainan warna yang banyak dan selalu eyecatching (dan selalu berhasil membuat aku penasaran bagaimana itu cara harmonisasi warnanya). Selain itu, di sekitaran area hostel banyak sekali tembok-tembok kosong yang diberi mural dan menjadikan kawasan itu bukan lagi sekedar kawasan rumah atau ruko melainkan menjadi kawasan yang memiliki nilai seni. Pendekatan ini bisa juga dilakukan untuk menghidupkan ruang-ruang yang memiliki dinding besar. Hal seperti ini sudah banyak dilakukan di kota besar. Saat jalan-jalan ke Bangkok pun, dinding yang dicat tidak tanggung-tanggung, besar dan tinggi sekali (ada di postinganku sebelum ini saat di Bangkok). Kan jadi ingin riset di kota tempat tinggal, daerah mana yang bisa diintervensi untuk meningkatkan kualitas lingkungan dengan pendekatan ini, HE HE HE (otaknya masih aja riset). Oh iya, sebelum sampai ke Bandara Changi, kita makan di daerah Paya Lebar. Di sana ada area food court yang menyediakan makanan halal walaupun itu chinese food! (surga banget kaaan) dan sekalian menuju Changi, kita mencoba mampir ke area National Stadium. Ada tempat lari indoornya, menarik sekali. Jadi ingat zaman kerja di Jakarta suka lari di bagian outer ring nya GBK malam-malam, sepertinya menarik juga nih kalau GBK diberi indoor outer ring seperti ini.

DSCF1893
Semi Indoor Jogging Track (LOOOOVE)

DSCF1895

Baiklah, sekian ceritaku tentang perjalanan ke Singapura kali ini yang lagi-lagi menemukan hal baru. Makanya, walaupun selalu dibilang “ngapain sih berulang kali ke Singapura?” ya itu…. karena aku selalu bisa menemukan hal yang baru. Bagian terpentingnya sih menurutku urban planner/urban designer/arsitek bisa belajar banyak dari tata kota dan pendekatan yang digunakan Singapura untuk menghidupkan kembali bahkan memberikan sesuatu yang baru untuk kotanya. Walaupun memang harus dipilah dan dipilih karena tentu tipologi dan kondisi Singapura berbeda dengan Indonesia (apalagi masalah luas wilayah), tapi beberapa pendekatan masih relevan untuk diaplikasikan di Indonesia kok (tentunya dengan beberapa analisis kontekstual khusus kawasan di Indonesia. Menariknya lagi, di sini banyak preseden (contoh) yang bisa kita pelajari dan lihat secara langsung. Karena memang beda sekali kalau lihat di internet dengan mempelajari dan merasakan langsung.

DSCF1881
halo

 

***

Salam ceria-cinta-damai,
Marisa Sugangga (April, 2018).

Advertisements

Travel Diary: Satu Hari di Gili Trawangan

when in Gili Trawangan.

Cerita dari Gili Trawangan yang begitu membekas adalah snorkeling pertama kali bersama Mama dan Papa. Melihat penyu berenang saat kita snorkeling ke area yang dalam (dan dasar lautnya mulai gelap, hehe). Kita dapat tiga kali spot snorkeling dan yang terakhir Mama udah cape karena memang arus di spot kedua sangat deras. Di spot terakhir ikannya banyak sekali apalagi waktu rotinya ditabur, semua bergerumbul. Setelah snorkeling dan masih menggunakan baju itu (ha ha), kita naik sepeda mengintari pulau. Menyenangkan sekali bermain bersama matahari dan angin sore. Kalau ditanya ada kejadian apa, banyak sih! Jadi perjalanan ke Gili hanya kita tempuh satu hari. Kita berangkat pagi dan pulang selepas magrib. Tertakjub-takjub karena banjir bintang malam itu, kacamata saya nyemplung ke laut. Untuk diketahui bahwa saya selalu saja melakukan hal ini, tidak sengaja nyemplungin kacamata ke laut. Nggak tahu kenapa bisa begitu, untung waktu di Karimata (Kalimantan) tidak ada kejadian seperti ini. Nah, tadinya bibir pantainya tidak sebersih dan serapi sekarang. Sejak ganti pemerintahan, bibir pantai dibersihkan dan kita bisa leye-leye di sepanjang bibir pantai. Tapi dengar-dengar sih kita harus hati-hati, karena sisa dari merapikan bangunan dari bibir pantai itu masih ada, contohnya ada beberapa paku yang masih berada di sekitar pasir. Disarankan menggunakan sandal saat menyusuri pantai, hehe.

Lombok, 2016.

Other Perspective: Cikini Mengindahkanku Tentang Jakarta

DSCF3841
Marisa (November 2011)

Bagiku kerja di Jakarta bukanlah sebuah tujuan ataupun cita-cita ketika aku lulus dari bangku perkuliahan S1. Dalam benakku, aku akan bekerja dekat rumah di kawasan Bogor. Membayangkan akan berdesakkan di KRL saja sudah membuat nyaliku ciut, seciut-ciutnya manusia membayangkan hal paling mengerikan dalam hidupnya. Gambaran yang diberikan media tentang KRL begitu menyeramkan, hingga akhirnya aku merajut sendiri cerita sehari-hariku bersama KRL Jabodetabek. Not bad at all, seriously. Masih hangat di ingatan bagaimana rasanya berjuang bersama 24 jam waktu yang kumiliki, ketika semangatku begitu menggebu untuk menggapai segala cita-cita pada kala itu. Belajar TPA sambil berdiri di komuter, tangan kanannya pegangan pada pengait di atas dan di tangan kirinya memegang buku TPA ataupun TOEFL. Ketika mendapat duduk, bukannya lanjut mengerjakan malah tertidur di pundak orang sebelah (dan kadang membuat orang di sebelah risih, maaf ya!). Pernah juga mengalami kejadian ketiduran ketika berangkat kantor dan membuatku harus turun di dua stasiun dari stasiun yang seharusnya, kalau tidak di Gondangdia ya Juanda, lalu melanjutkan perjalanan kembali dengan ojek atau kalau sedang tidak buru-buru ke kantor, menunggu kereta kembali ke Cikini (biasanya lama, huhu). Hal yang aku yakini dengan segala proses bersama Komuter saat itu adalah Tuhan bersama orang-orang yang berusaha! That’s all :) Maka segala tenaga, curahan kebahagiaan, semua murni aku ikhlaskan demi masa depan yang lebih baik dari saat ini. Semua benar-benar terjawab pada waktunya, meskipun jalannya tidak selalu mulus.

Aku punya kenangan tersendiri dengan kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Di kawasan inilah letak kantor pertamaku, sekaligus yang paling berkesan bagi hidupku selama 25 tahun terakhir, PT. Airmas Asri. Airmas Asri sendiri adalah sebuah konsultan yang bergerak di bidang Arsitektur, Interior, dan Lanskap.  Terbagi dalam beberapa divisi dan aku masuk dalam keluarga divisi Arsitektur Lanskap, karena memang aku sendiri yang menginginkan berada di divisi tersebut ketika melamar kerja di sana. Tuhan memang Maha Penyayang, keluargaku begitu hangat dan menyenangkan. Di sana kami bekerja secara tim, bekerja sama dengan divisi Arsitektur terkadang bersama tim Interior sekaligus. Karena keperluan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang lebih lanjut, dengan berat hati aku mengajukan pengunduran diri karena harus berpindah ke kota Pahrayangan, Bandung. Hingga akhirnya bulan November 2016 kemarin, aku berkesempatan untuk berkunjung ke kantor lama. Masih dengan kehangatan yang sama, mereka menyambutku dengan begitu baik. Maka tumpah ruah segala cerita dan bangku yang dulu aku tempati ternyata masih kosong.

DSCF3861
Muda-mudi di geng Lanskap kesayangan aku (Mas Ben, Kak Niko, Marisa, Kak Windi, Ecki, dan Aji)

Cikini dan Segala Bala Bahagianya

Cinta. Mungkin ini yang mendefinisikan Cikini di hati Marisa. Satu daerah di Jakarta yang memiliki ruang tersendiri di hatiku hingga saat ini. Entah kulinernya, trotoar yang menjadi saksi bisu bagaimana seringnya aku menatap langit di Jakarta yang jarang terlihat bintang, bangunan-bangunan lama tempat aku sering bertemu dengan kawan lama yang sedang berkunjung ke Jakarta, pempek di Metropole XXI yang sering membuat aku pulang larut sampai ke Bogor karena mampir dulu sebelum pulang ke sana, dan masih banyak lagi cerita tentang jalanan Cikini.

Di Cikini pula kamu bisa merasakan bubur yang enak di ujung jalan dekat stasiun. Membeli buket bunga untuk akhirnya kamu lepas dan urai ketika sampai di rumah untuk diletakkan di vas bunga pada meja, menunggu kereta sembari membeli onigiri di indomaret yang berada di lantai satu stasiun. Berlari mengejar kereta ketika mendengar tujuan ‘Bogor’ akan memasuki peron dan mengetahui kereta ke Bogor berikutnya masih berjarak kurang lebih 40menit lagi (Oh my….) Hanya di sini kamu bisa bertemu dengan dosen pengujimu, yang sedang menjalani kuliah S3 di UI ketika akan keluar dari stasiun. Dan di sinilah aku mendapati kedua sahabatku sedang menungguku pulang dari kantor dan membawa kue untuk aku tiup lilinnya lengkap dengan balon dan karangan bunga di kepala. Ya, itu adalah sebagian kenangan kecilku dengan Cikini. Lelah mana yang lalu bisa menjadi alasanku untuk berkeluh mengenai Jakarta hari ini dan berikutnya?

Di balik itu semua, aku juga memiliki satu spot kesukaan aku di Cikini. Nah, jadi di sini ada satu kafe kesukaan aku karena jendelanya sangat besar, namanya Kedai Tjikini. Di sini ada dua cerita yang sarat kenangan dalam hidupku dan termasuk dalam kenangan yang cukup manis untuk diingat. Suasana dalam kedai ini sangat warm dan friendly. Kafenya tidak terlalu ramai -mungkin karena aku datangnya selalu saat weekday- dan berada di pinggir jalan Cikini, tepatnya di seberang Menteng Huis. Oh ya, di depan kafe ini juga terdapat mural yang dilukiskannya pada trotoar! Aku lupa ini kerjasama Jakarta dengan siapa, seingatku dengan Korea sih (tapi kalau salah mohon direvisi ya, hehe). Trotoar di sepanjang jalan depan kafe ini begitu cantik dan membuat kita gemas ingin mengabadikan kaki-kaki yang sedang berjalan kecil di atasnya.

DSCF3829

DSCF3830
Jendela besar kesukaan Marisa
DSCF3814
Enam dari mural lain yang terdapat di sepanjang trotoar di depan Kafe Tjikini!

Lucunya, kafe ini pun selalu berhasil menjadi alasan aku ‘pulang’ lagi dan lagi ke Cikini. Entah hanya untuk melepas rindu atau mencari alasan mengapa aku selalu mencintai kawasan ini. Cikini juga berhasil membuat stereotype aku mengenai hiruk pikuk dan horornya Kota Jakarta tidak separah seperti sebelum aku menjalani kehidupan di sini. Walaupun termasuk menjadi pribadi yang jarang menghabiskan waktu malam di Jakarta karena harus segera pulang ke Bogor, tapi kebahagiaanku dan negatif thinkingku tentang Jakarta setidaknya sudah mulai menghilang. Mungkin juga karena aku mencoba berpikir dan memandang Jakarta dari sudut yang lain, tidak berfokus pada akar masalah yang ada di Ibukota kita ini. Dan bisa jadi ini adalah salah satu cara untuk menikmati Jakarta sebagaimana mestinya. Aku memang bukan satu dari ribuan manusia yang terkena macet di Jakarta, tapi aku termasuk dalam satu dari ribuan orang yang pulang-pergi keluar masuk Jakarta setiap harinya untuk bercengkrama dengan kota ini. Jadi mungkin suara kebahagiaanku terhadap hari-hariku di Jakarta bisa menjadi satu pandangan lain bagimu tentang bagaimana baiknya menilai ataupun menikmati Jakarta. Sejenak kamu akan merasa lagu Adithia Sofyan was so me kan? Kadang.

“And I put all my heart to get to where you are, maybe it’s time to move away
I forget Jakarta and all the empty promises will fall
This time, I’m gone to where this journey ends
But if you stay, I will stay…” 

Ya, seperti itulah Cikini. Dia adalah ‘sosok’ yang berhasil membuat Jakarta bagiku begitu berbeda dengan apa yang selama ini aku pikirkan ataupun beberapa orang pikirkan.

Salam sayang dari Bandung,
Marisa (yang sedang menjalani minggu UAS, doakan aku!)

Escape: Semarang Early 2017!

Aaaa. So happy when i know today iam in 2nd semester! Engga deh bohong. Sedih juga sih mendapati waktu begitu cepat berlalu. Ya ini terjadi karena saya begitu menikmatinya, disyukuri saja ya.
Karena orangnya suka tiba-tiba impulsif pergi, kali ini destinasinya sedikit jauh yaitu Semarang. Alih-alih dapat voucher potongan tiket kereta, ketika akan melakukan pembayaran malah lupa untuk mengetik kode voucher tersebut. Huvd. 

Semarang kali ini saya lalui dengan perjalanan cukup singkat, hanya 2 hari 1 malam. Destinasinya pun yang di dalam kota saja karena untuk mencapai destinasi yang lain sepertinya tidak ada waktu. Saya melakukan perjalanan dengan kereta ekspress malam Harina (Bandung-Semarang Tawang). Untuk pemberangkatan, saya menggunakan kelas ekonomi dengan tiket seharga Rp 185.000 dan pulang dengan kelas bisnis Rp 285.000. Sewaktu berangkat, saya cukup beruntung mendapatkan teman duduk seorang ibu muda dan sepasang di hadapan saya adalah ibu dan anak. Kami berempat cukup berkompromi untuk sekedar ‘rebahan’ dan meluruskan kaki. Berangkat dari Bandung pukul 21.40, saya menyiapkan perbekalan ala kadarnya yaitu roti, air putih, dan tolak angin. Hari ini pun saya cukup repot hingga hanya sempat mengisi perut sebelum naik kereta dengan…. Popmie! (Itu pun makannya cepat-cepat karena keretanya sudah datang). Super deg-degan. Kereta ekonominya sangat dingin, sepertinya karena saya kedapatan duduk di limpahan angin AC. Beberapa kali sempat merungkel-rungkel di balik syal yang saya bawa.

dscf4681
HALO AKHIRNYA KITA BERTEMU!

Setelah kurang lebih 7 jam dari Bandung. Akhirnya, halo Semarang Tawang!

Dijemput oleh teman saya di Semarang Tawang kurang lebih pukul 05.00 pagi, akhirnya untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di stasiun tertua di Indonesia! Bangunan tua ini memiliki double facade. Jadi di atas atap bangunan yang lama, terdapat atap lagi. Karena bangunan lama terus turun dikarenakan land subsidence. Kalau saya lihat mungkin agar bangunannya tidak terkesan benar-benar ‘tenggelam’ dari ketinggan awalnya, karena itu atap di atasnya dibuat supaya bangunannya tetap terlihat baik-baik saja. Tur pertama di mulai dari melihat kawasan kota lama Semarang di pagi hari. Di depan Stasiun Tawang, terdapat Polder. Polder ini dibuat untuk mengantisipasi banjir yang kerap melanda kawasan kota lama. Diharapkan air mengalir ke dalam polder untuk nantinya dilepaskan ke laut. Area Polder ini awalnya adalah lahan parkir milik Stasiun Tawang yang sekarang akhirnya berubah fungsi.

dscf4685
Ini Polder di Semarang. Jenis aktifitas di sekitarnya: Orang jogging, ngobrol, bersepeda, terus katanya kadang pacaran sore-sore.

Perjalanan di hari pertama akan ditemani oleh teman saya. Berbeda di hari kedua yang akan saya lalui dengan diri sendiri (dan abang gojek!). Nah setelah sedikit ngobrol perihal stasiun dan polder, ini bagian paling bersemangat, jalan-jalan di Kota Lama! Karena selama ini hanya mendengar dari cerita saja tentang Kota Lama Semarang, hari ini bisa pergi ke sana rasanya sangat senang. Perjalanan pertama dimulai dari dekat Taman Sri Gunting. Taman ini terletak di sebelah Gereja Blenduk Semarang. Gereja Protestan ini merupakan salah satu landmark yang cukup terkenal di kawasan Kota Lama. Nah, beranjak dari bangunan, hal yang saya soroti adalah jalan yang dipaving! Semua kawasan Kota Lama jalannya di paving. Tapi kalau tidak hati-hati, saya kadang jadi bingung ini jalan pedestrian atau jalan kendaraan bermotor ya? Sempat saya berkata, “Ini kalau bukan orang asli Semarang pasti bingung jalan ini sebenarnya boleh dilewati mobil atau tidak.” Apalagi didukung suasana pagi yang sepi dan mengakibatkan pedestrian berjalan sesuka hati.

Akomodasi selama di Semarang

Saya menginap di hotel Cityone Semarang. Untuk info, hotel ini menyediakan kamar untuk satu orang saja. Jadi kamu tidak perlu membayar kamar untuk dua orang bila bepergian sendiri. Saya mengecek di tiga website hotel yang berbeda, harganya bersaing dan mirip-mirip. Akhirnya pilihan saya jatuhkan untuk membooking via booking.com dengan harga satu malam Rp 161.000. Fasilitasnya sudah standar hotel pada umumnya seperti AC, TV, kamar mandi dalam (air panas), air putih, dan kasur yang empuk. Menurut saya untuk single backpacker, hotel ini dapat menjadi alternatif. Terletak di Jalan Lamper Tengah, untuk mencapai area tengah kota berkisar 15-20 menit. Kekurangan yang menurut saya cukup krusial adalah tembok yang terbangun dari papan, jadi kadang aktifitas kamar sebelah cukup terdengar. Gampang sebenarnya, pakai headset saja atau pasang televisi. Untuk ukuran kamar sendiri kalau saya hitung kira-kira 2 x 2 dan kamar mandinya 1,5 x 2 (toilet, wastafel, dan shower).

Di hari pertama ini sebenarnya saya mendapatkan banyak city tour via jendela mobil untuk bekal besok jalan-jalan sendiri. Di siang hari, saya sempat mengunjungi Mesjid Agung Jawa Tengah yang ternyata kompleknya super besar (buat saya). Lahannya sendiri memiliki luas kurang lebih 10 hektar dan mesjidnya bisa menampung 15.000 jamaah. Kalau hari jumat, payung yang terdapat di teras mesjid ini dapat terbuka seperti di Mesjid Nabawi. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan yang datang ke komplek Mesjid ini. Saya datang kurang lebih pukul 10.00 dan komplek mesjidnya sangat sepi.

dscf4755
Karena bukan hari Jumat, jadi payungnya tidak terbuka.

Sepertinya destinasi wisata di hari pertama sudah habis. Kegiatan lain yang saya lakukan di hari ini lebih banyak city tour dan makan. Tidak ada kuliner khas yang saya makan selama di sini. Makanan yang saya konsumsi alakadarnya dengan prinsip yang penting makan!

Hari ke-2 (sekaligus terakhir)

Di hari kepulangan ini, saya melakukan perjalanan sendiri. Untungnya di Semarang sudah terdapat go-jek! Dengan fitur go-pay, kita akan mendapatkan potongan biaya sebesar 50% dan lebih praktisnya lagi kita sudah tidak perlu mengeluarkan uang berbentuk fisik. Dengan pertimbangan barang bawaan (satu ransel besar dan satu ransel mini), saya menyusun perjalanan destinasi serapi mungkin agar tidak kelelahan. Semua destinasi yang sekiranya membutuhkan jalan kaki, saya letakkan di pagi hari. Untuk siang saya memilih membunuh waktu sembari menunggu kereta pulang dengan dominasi kegiatan duduk. Dengan semangat, saya bangun pukul 05.00 dan segera mandi. Perjalanan dimulai pukul 06.00 dengan berjalan ke SPBU terdekat untuk top up go-pay. Ternyata usaha untuk top up via atm gagal, akhirnya saya top up via driver sebesar 45.000. Itu saja masih sisa ketika saya sampai di Bandung, hehe. Perjalanan paling mahal memakan biaya 9.000 yaitu dari penginapan ke Mall Paragon.

Kanal Banjir Semarang

Ini salah satu public space yang digunakan warga sekitarnya untuk beraktivitas pagi seperti berjemur, jalan pagi, atau seperti saya yaitu sekedar nongkrong pagi. Karena kemarin dilewatkan tempat ini dan histeris karena melihat air turun begitu bagus, akhirnya memutuskan untuk duduk pagi di sini. Sebagai satu-satunya anak muda yang jalan-jalan pagi itu, saya merasa asing sendiri. Apalagi bawa-bawa kamera, harus super percaya diri dan bertingkah seperti warga lokal. Secara fasilitas, area public space ini cukup baik dan terawat. Untuk masalah penerangan, saya kurang mengetahui apakah bila malam tempat ini memiliki pencahayaan yang baik?

dscf4803dscf4791

Klenteng Sam Poo Kong & Lawang Sewu

“Ini gimana ya caranya ke Sam Poo Kong?”
Aaaah super kesal kalau sedang jalan-jalan karena GPS di hp saya rusak. Koordinatnya mental sekitar 5 meter dari aslinya. Hal ini sangat menyulitkan ketika saya berurusan dengan google maps. Akhirnya saya mencoba membuka peta dan menulis destinasi awal dan akhir, didapatkan Klenteng Sam Poo Kong terletak kurang lebih 1,2 km dari Kanal Banjir. Ya masa naik gojek. Setelah menelusuri peta dan jalannya cukup mudah, akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki. Seringkali saya dipanggil, “Dek kenapa sendirian aja pagi-pagi. Gak sekolah?/Gak kuliah?” Lalu saya hanya tersenyum. Penting untuk diketahui untuk traveller perempuan, ketika bepergian gunakanlah pakaian sebiasa mungkin dan tidak mencolok. Kalau bawa kamera ditutupi saja dengan kain karena kemarin saya pun begitu, menutupi kamera yang menggantung di leher saya dengan syal atau kalau mau dimasukkan sekalian. Sembari menukar uang menjadi pecahan kecil untuk memudahkan transaksi, saya membeli sarapan satu kotak yogurt cair dan melanjutkan perjalanan menuju klenteng. Klentengnya terdapat di tengah kota jadi tidak usah takut untuk kesulitan menemukannya. Biaya masuk ke komplek Klenteng ini adalah Rp 10.000 dan saya hanya bertiga bersama pengunjung lain. Beruntung di dalam komplek diajak berputar-putar dengan Bapak yang sedang menyapu bagian altar Klenteng.
“Klentengnya sebenarnya begini aja dik. Tapi kenapa ya selalu ramai dikunjungin orang?”
“Tapi bagus kok Pak. Ini kalau dilihat dari atas sini kayak bukan lagi di Semarang, hehe.”

Lawang Sewu menjadi destinasi selanjutnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00, waktu saya cek, katanya Lawang Sewu buka pukul 09.00. Sesampainya di sana, ternyata jam bukanya pukul 07.00. Harga tiket masuknya sebesar Rp 10.000. Sebenarnya saya ditawari menggunakan guide, tapi karena ingin jalan-jalan sendiri akhirnya saya menolak untuk menggunakan guide.  Saya pun baru tahu kalau di dalam Lawang Sewu menyangkut dunia perkereta apian Indonesia. Gedung ini dahulu merupakan kantor dari NIS (Netherlands-Indische Spoorweg Maatschappij) yang selesai dibangun pada tahun 1907. Berada di kawasan strategis Tugu Muda Semarang.

Di sebut Lawang Sewu karena memiliki pintu yang cukup banyak. Ketika berkunjung, saya jadi memperhatikan pintunya. Memang cukup banyak tapi sepertinya tidak sampai seribu! Lawang Sewu telah mengalami konservasi dan revitalisasi dan terlihat bahwa bangunan ini sangat terawat. Menariknya di dalam ruang pamernya, terdapat blue print denah dan tampak dari Lawang Sewu. Lagi-lagi saya hanya bertiga (atau malah sendiri ya?) berada di kawasan komplek dengan para petugas kebersihan dan security. Di dalam sini, kita dapat mempelajari sejarah perkereta apian Indonesia.

Catatan kegiatan membunuh waktu yang lain…..
Semua destinasi bucketlist wisata telah saya kunjungi. Waktunya untuk pulang sejenak ke penginapan untuk mengambil barang dan mandi. Kegiatan siang yang menjadi alternatif menunggu adalah menonton. Saya menonton film di Mall Paragon yaitu La La Land dan menitipkan barang bawaan saya selama menonton di penitipan XXI Cinema. Saat kedatangan kemarin, teman saya bercerita di kawasan Kota Lama terdapat benda-benda lama yang dijual di dekat Taman Sri Gunting. Selesai menonton, saya meluncur dengan gojek ke kawasan Kota Lama. Kebetulan karena Stasiun Tawang terdapat di Kawasan Kota Lama, maka saya bisa bersantai hingga waktu keberangkatan kereta pulang ke Bandung. Terdapat beberapa barang lama seperti cangkir, pajangan dinding, buku, hingga pernak-pernik yang dijual di pasar ini. Sayangnya, ketika pasarnya di buka, saya malah tidak mengambil momennya karena…. Saya lupa karena apa, kalau tidak salah karena saya sendirian dan takut-takut sendiri ketika mau mengambil foto.

Saya super senang.
Jam-jam terakhir di Semarang saya habiskan di Spiegel Bistro&Bar yang memiliki jendela besar di pinggir jalan. Ya, interior kesukaan saya. Untuk makanan sendiri, Spiegel memiliki menu yang kurang lebih sama dengan bistro lain seperti pasta, nasi, dan makanan western lainnya. Picollo yang dibuat di sini juga cukup enak menurut saya. Dari pukul 16.30 hingga 19.00 saya memilih untuk menulis agar memiliki pengalaman menulis di Semarang. Mungkin 2 hari 1 malam ini menjadi momen awal tahun yang sangat menyenangkan dan berbekas di memori saya. Next trip lagi ke mana ya?

Catatan biaya, siapa tahu berguna untuk teman-teman (Januari 2017):
Tiket kereta Harina (Bandung-Semarang Tawang)
Berangkat (Eko) : Rp 185.000 (via tiket.com, pesan di hari keberangkatan bayar via atm)
Pulang (Bisnis) : Rp 285.000 (via tiket.com, pesan h-1 keberangkatan bayar via atm)
Penginapan (Cityone hotel (express)) : Rp 161.000 (via booking.com bayar saat datang)
Top up gojek : 45.000 (Sisa berlimpah di Bandung)
Makan&jajan 2 hari : Rp 100.000
Makan di Spiegel : Rp 110.000 (T_T Mahal sendiri)
Tiket Sam Poo Kong : Rp 5.000
Tiket Lawang Sewu : Rp 10.000
Gelang di Pasar Barang Antik : Rp 10.000 (3 buah)
Tiket XXI Paragon La La Land: Rp 40.000

Total biaya perjalanan 2 Hari 1 Malam Semarang Rp 951.000.
Nah, sekian cerita awal tahun saya yang menyenangkan. Selamat menyiapkan perjalanan ke Semarang yang lebih seru lagi dari saya!

Urban Traveller, Marisa Sugangga (2017)

 

Pagi di Rancaupas

dscf2588
Langit pagi di Rancaupas

Bulan September 2016 lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Bumi Perkemahan Rancaupas di Ciwidey. Bumi ini terletak kurang lebih 50km dari pusat Kota Bandung. Dengan ketiba-tibaan, saya dijemput dini hari oleh teman-teman saya dan untuk pertama kalinya kami bermain bersama berdelapan. Selamat tugas negara tersebut, saya duduk di depan dan bertugas sebagai co-pilot. Sebagai co-pilot yang baik, tidur menjadi pantangan bagi saya.

Kami melewati jalur dalam Kota Bandung. Malam tidak begitu ramai dan mobil kami menuju ke arah Asia-Afrika untuk nantinya masuk ke daerah Kopo. Saat sampai di daerah Ciwidey, jarak pandang sedikit terganggu karena kabut yang tebal. Saya adalah orang yang penuh persiapan alias suka bawa hal-hal yang aneh bila bepergian. Salah satu teman saya berkata bahwa tas saya adalah kantong ajaib doraemon. “Saya penasaran nih di tas Mbak Icha ada apalagi ya?”

Saat memasuki Bumi Perkemahan, kita akan ditarik biaya sebesar Rp 15.000. Sebenarnya biaya itu adalah biaya untuk camping, sedangkan kita tidak camping. Hal ini dikarenakan kita tiba di pukul 02.30 di mana itu masuk dalam hitungan camping. Seingat saya tanpa hitungan camping, masuk area ini dikenakan biaya Rp 5.000 saja.

Super dingin.

Setelan saya setiap hari memang sudah winter style, ke mana-mana sangat suka membawa syal. Malam itu lebihan sandang saya berikan kepada teman yang membutuhkan perlindungan lebih dari cuaca dingin. Di Bumi Perkemahan ini, terdapat camping ground, area makan, dan tempat penangkaran rusa. Tempat rusa ini tidak dibuka 24 jam, terdapat jam operasionalnya bila ingin naik ke area pejalan kaki yang dapat melihat rusa dari atas. Kalau sekedar pegang-pegang rusanya dari luar pagar bisa kapan saja.

Pagi di Rancaupas memberikan saya kenangan yang sulit dilupakan. Gradasi warna saat mataharinya terbit begitu menyenangkan mata sekaligus hati. Deret pohon yang tinggi-pendek, cahaya matahari yang berusaha masuk di celah-celah, dan latar belakang gunung yang membentuk siluet sangat indah. Rancaupas menjadi destinasi yang membahagiakan bagi saya di tengah-tengah perkuliahan. Oh ya, tempat ini sangat dekat dengan Kawah Putih. Bila tidak terlalu lelah, bisa sekali jalan mendapatkan dua tempat yaitu Rancaupas dan Kawah Putih.

dscf2584
Enter a caption
dscf2611
Parking Area di Rancaupas

Tips ‘bermain’ ke Rancaupas
Cuaca dingin menjadi satu hal yang lumrah saat kita berada di destinasi wisata Kota Bandung. Berikut beberapa tips dari saya agar perjalanan menjadi lebih nyaman:

  • Bawa jaket, syal, kaos kaki. Bawa saja. Keperluan sandang akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain
  • Bila ingin mengejar sunrise, berangkat kurang lebih pukul 03.00 dari Bandung sudah cukup. Kami berangkat pukul 01.40 dari Bandung dan terlalu pagi. Kecuali bila teman-teman mau menghabiskan malam bersama partnernya, tidak masalah datang pukul berapapun
  • Tenang, di sana warung makanan buka 24 jam.
  • Setelah melihat sunrise, bisa diagendakan untuk meluncur ke Kawah Putih karena letaknya berdekatan

“Saya jadi merasa bersyukur dengan banyak hal yang saya miliki saat ini”

Sekian satu dari sekian cerita jalan-jalan saya di tahun 2016. Semoga tahun depan bisa explore lebih banyak lagi sembari melaksanakan kewajiban sebagai mahasiswi. Salam dari Bandung!

Bandung, Desember 2016
#30DWCHari13

 

AEON Mall BSD: Surganya Food and Beverages Tenant.

For all the good things, thanks God Iam still breathing to explore Your world…..

Libur kantor kami sangat panjang sekali. Tanggal 23 Desember 2015-3 Januari 2016. Setiap kawan yang dengar pasti bilang, “Cha, itu kantor kok liburnya kayak anak sekolah!” Holiday goals saya sangat sederhana sekali, istirahat. Mengingat jadwal Desember 2015 dipenuhi dengan deadline proyek di kantor dan beberapa deadline pribadi.

Akhirnya saya tidak merencanakan perjalanan jauh mengingat goals-nya adalah istirahat. Nobi, teman serekan asdos saya di studi DM kelas D dulu baru pulang dari studinya di Malang. Nobi tiba di kampung halamannya alias Tangerang Selatan daerah Puspitek. Saya sedang berpikir, kalau main ke BSD itu selain kuliner adanya cuma mall dan saya (mulai) bosan dengan mall. Tapi karena sangat ingin bertemu dengan teman lama dan mengingat efisiensi waktu, akhirnya saya mengiyakan ajakan teman-teman saya untuk bertemu di BSD saja. Nah, yang kami lakukan adalah membuat perjalanan dalam mall kami tidak biasa alias yaudah jangan diambil pusing yang penting silaturahminya. Saya sendiri juga tidak bisa memberi solusi tempat bertemu super cepat dan lengkap selain mall. Anyway, saya suka sekali main ke daerah Serpong karena jalannya besar-besar, memanjakan kendaraan, mata, pikiran dari macet, dan saya akan melewati jalur hijau komuter line (yang sangat jarang saya lewati).

Saya adalah seorang event hunter yang rajin melihat jadwal-jadwal acara di Jakarta, akhirnya saya menemukan event Jakarta Food Truck. Acara ini sedang berlangsung di mall yang sedang hits dibicarakan saat ini, AEON Mall BSD. Akhirnya setelah perdebatan panjang kita mau ke mana saya memutuskan untuk pergi ke AEON Mall saja. Saya membuat janji untuk dijemput di Rawa Buntu. Karena dijemputnya telat, saya memindahkan tempat bertemu awal di Teras Kota BSD. Lumayan, saat berputar-putar di sini saya menemukan pameran buku murah dari salah satu toko buku ternama di Indonesia. Saya mendapatkan satu buku IELTS preparation dan 3 CD nya dengan harga Rp 40.000 saja.Ha ha ha. Setelah berputar-putar, saya dijemput dan menuju AEON Mall! Sambil menunggu, saya minum kopi di kedai kopi yang cukup ternama di Indonesia. Setelah duduk sekitar 10 menit, saya mulai kepanasan. Saat melihat area bukaannya, ditutupi dengan tirai. Dalam hati saya mikir, “Ini pasti menghadapnya ke Barat deh jadi panas banget mau sore gini…” Pas saya cek google map, eh beneran. Sumuk padahal sudah pakai AC. Sayang sekali padahal interiornya bagus tapi kurang nyaman karena agak panas. Tidak lama kemudian, saya dijemput. Here we go!

IMG_6993
View from the foodcourt, 3rd floor.

How to get there from Bogor?

From Stasiun Bogor : Naik kereta jurusan Jatinegara, turun di Tanah Abang. Ganti ke jalur 5/6 jurusan Serpong/Maja. Karena kita tukar kereta, baiknya saat memilih gerbong pilihlah gerbong paling depan agar dekat untuk tukar kereta dari jalur 3 ke jalur 5/6. Turun di Rawa Buntu then go to AEON Mall by Taxi or Ojek (Tidak ada kendaraan umum ke sana). Perjalanan bila lancar tanpa macet di stasiun paling sebentar 2 jam 15 menit. So dont forget to bring your book or headset to accompany your journey to BSD.

IMG_7059

AEON Mall adalah mall berfranchise dari Jepang. Dari segi bentuk bangunan dan penggunaan ruangannya tentulah sangat fleksibel mengingat Jepang sangat menghargai sebuah ruang. Dari beberapa ilmu yang saya dapatkan, biasanya developer Jepang tidak suka bentuk denah mall nya organic/melingkar-lingkar dengan alasan bentuk itu tidak efisien sebagai peruntukan komersial seperti mall. Pada prinsipnya area komersial pastilah menggunakan prinsip untuk mendapatkan untung yang sebesar-besarnya. Tapi di balik bentuknya yang kotak-kotak, Jepang merupakan negara yang sangat detail dan tentunya dia juga tidak akan melupakan hal-hal di balik efisiensi mall nya. Hal ini terlihat dari detail interior, fasilitas yang terdapat di dalamnya, banyaknya seating area, bentuk toilet yang begitu luas dan memanjakan pengunjung karena bilik yang banyak dan disertakan teknologi yang canggih. AEON Mall juga direncanakan akan buka di Sentul, Bogor. Dapat dipastikan bentuknya akan hampir sama karena tipikal bangunan AEON sudah memiliki standar pembangunan. Bila kita browsing AEON Mall di sejumlah negara lain, kita juga akan melihat banyak kesamaan untuk segi eksteriornya. Padu padan warna putih dan ungu yang sangat khas AEON. Saya memiliki catatan dari versi saya mengenai hal yang membuat mall ini begitu menarik untuk dikunjungi.

IMG_7062
Supermarket AEON dan spot jajanan pasar ala Jepang
  1. Banyaknya tenant Food and Beverages yang jarang kita lihat di mall lain. Saking banyaknya kuliner di sini, AEON saya nobatkan sebagai mall kuliner paling menyenangkan untuk saat ini karena makanannya aneh-aneh. Di bagian bawah terdapat lorong yang isinya makanan semua dan ambience nya sangat menyenangkan sekali. Bikin ingin makan semuanya.
  2. Di supermarket AEON terdapat banyak jajanan pasar. Ups? Onde-onde? Bukan. Jajanan pasarnya jepang seperti Sushi, Yakiniku, Takoyaki, Onigiri, dan kawan-kawannya. Dengan harga yang miring dari harga restoran, kita bisa memilih-milih banyak macam di sini dan dapat kita bawa pulang. Semua enak! Sushi curah nya juga recommended.
  3. Terdapat Taman Sakura yang akan sparkling your eyes di waktu matahari mulai turun. Tips untuk mendapatkan foto yang bagus. Keluarlah saat jam 5.15 sore menjelang matahari terbenam. Lampunya sudah mulai nyala dan tidak terlalu gelap jadi wajah kita masih terlihat.
IMG_7060
Taman Sakura saat sunset.

Apa yang kita dapat kita lakukan di AEON Mall? Seperti mall pada umumnya, jalan-jalan dan makan. Food courtnya sangat luas, tidak usah takut tidak mendapatkan tempat duduk karena sepanjang mata memandang banyak sekali kursi. Mulai dari tatami (kursi lesehan ala jepang), kursi panjang, sofa, child area, berbagai macam tempat duduk ada di sini. Saya paling suka spot panjang yang menghadap ke luar. Di situ tidak terlalu ramai dan pemandangannya cukup memanjakan mata. Nah di area Food Court ini juga terdapat XXI dan Ramen Village yang isinya berbagai warung Ramen. Hati-hati untuk yang muslim karena beberapa Ramen mengandung Babi (pork), bila ingin aman dan hanya daging ayam saja, cobalah untuk mampir ke Sheirok Ya yang terdapat di Ramen Village, 100% chicken dan rasanya juga ga kalah dengan ramen yang lain.

Processed with VSCOcam with f2 preset
Spot foodcourt favorit saya!
IMG_7024
Book ceiling. Lorong ini bertemakan pendidikan, jadi store di sepanjang lorong ini tentunya menjual hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan.

Olahraga dengan window shopping. Berada di mall tidak berarti harus belanja. Banyak studi membuktikan window shopping juga dapat membakar kalori kita loh. Banyak sekali toko di sini jadi jangan takut kehabisan toko di sini (yang ada kaki kita pegal-pegal haha). Nah, cobalah bermain di Anchor Tenant dari AEON ini sendiri. Banyak benda-benda lucu asli dari Jepang yang membuat gemas ingin kita beli semua. Bahkan hal-hal unik seperti aksesoris Pokemon pun didatangkan langsung dari Jepang. Sore harinya kita bisa bermain di Taman Sakura sambil menunggu lampunya menyala.

Nah, liburan di mall juga bukan hal yang buruk kok. Coba berkunjung ke AEON Mall dan saya sarankan untuk mencoba makanan lebih dari satu ya, karena menyenangkan sekali berkuliner di sana.

Explore Jakarta : Taman Wisata Alam Mangrove PIK

1431242705987Ini latepost sekali sebenarnya. Berhubung kemarin saya baru blogwalking dan menemukan banyak referensi yang menjadi panduan saya menentukan destinasi, sebagai bentuk terima kasih saya sebagai sesama blogger, saya memutuskan untuk mereview beberapa kisah perjalanan jalan-jalan saya.

1431307603564
Tempat penginapan dalam kawasan. Menarik kan bentuk bangunannya?

Sempat booming di media social (sepertinya sampai sekarang masih booming), saya dan teman-teman Arsitektur UB 2010 yang sudah bekerja di Jakarta memutuskan untuk liburan bersama di bulan Maret 2015 lalu. Setelah banyak ngobrol di grup akhirnya tercetuslah untuk main ke hutan kota yaitu Wisata Alam Mangrove Pantai Indah Kapuk sekalian kuliner di area PIK. Area ini terkenal dengan jajaran ruko-ruko disulap yang disulap jadi tempat makan dan nongkrong super asik. Beberapa dari kami janjian di Stasiun Tanjung Barat dan ketua angkatan kami yang sangat bertanggung jawab menjemput kami satu-satu dari Serpong, Cibubur, Bogor, sampai ke Stasiun Tanjung Barat. Perjalanan dengan mobil pribadi ini kami tempuh melewati pintu tol menuju Bandara Soekarno-Hatt dan keluar di pintu tol Pantai Indah Kapuk. Kalau dari Jakarta (St. Tanjung Barat), perjalanan memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Setelah masuk ke kawasan PIK, kami menuju ke Wisata Alam Mangrove PIK dan membayar tiket per orang sebesar Rp 25.000. Menurut saya cukup worth it mengingat tempat ini ternyata cukup terawat.

Kami pun memarkirkan mobil dan setelah menyiapkan segala persiapan, kami memulai perjalanan seru kami berputar-putar di sekitar hutan kota ini. Di tempat ini, selain menikmati pemandangan alam, mungkin teman-teman akan sering berkata, “Ini di mana ya? Seperti bukan di Jakarta deh…” Memang benar, saya sendiri pun seperti itu. Berkali-kali saya berkata seperti itu. Suasananya benar-benar seperti sedang liburan dan jauh dari hingar bingar Kota Jakarta.

Apa yang kita lakukan di PIK?

1431307593352
Jalan menuju pantai reklamasi

Refreshing sejenak dari kehidupan kota! Ini benar-benar hutan kota yang recommended menurut saya. Selain jalan-jalan mengelilingi kawasan mangrove, di sini juga terdapat penginapan yang memiliki bentuk bangunan yang menarik. Bila bosan jalan-jalan, kita bisa menyewa boat dengan harga Rp 250.000 (6 orang) – Rp 350.000 (8 orang). Tapi karena teman-teman hanya ingin jalan kaki saja (sekalian olahraga katanya), akhirnya kami tidak menyewa boat. Kami berkeliling hingga terdapat tulisan ‘Pantai’. Saat tiba di spot ‘pantai’ tersebut, ternyata kami memang menemukan pantai, tapi pantai yang sedang di reklamasi (dibuat daratan) serta dapat melihat pembangunan Jembatan PIK menuju Golf Island. Struktur jembatan ini cukup menarik untuk kami karena bentuknya yang modern. Kami pun lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengabadikan foto dan ngobrol karena sudah lama tidak bertemu. Saat waktu sholat tiba, kami mampir ke Musholla yang cukup dingin dan membuat kami tidak ingin beranjak dari tempat itu karena Musholla nya terbuat dari struktur kayu dan berada di atas rawa, seperti struktur rumah panggung. Tidak terdapat tempat makan, hanya restoran dan beberapa drinking machine box. Beberapa kali saya mencoba menggunakan machine box ini dan si mesin tidak mau menerima Rp 5000-an saya sampai pengunjung selalu tertawa melihat tingkah saya yang selalu gagal sedangkan teman-teman saya berhasil. Setelah percobaan ke-10 akhirnya saya berhasil!

1431307600318
Jangan pakai heels ya ke sini, karena decknya bolong-bolong. Bahaya bisa selip.
1431307642481
Di jembatan ini terik sekali. Kami berjalan-jalan di sini pukul 13.00, pas matahari tepat di atas kepala kami. Photo by: Ketua Angkatan 2010, Om Randy

Catatan: 

  • Kalau bisa jangan ke sini jam 12.00 siang atau pada saat matahari sedang terik-teriknya karena sangat panas. Namun hal ini bisa diantisipasi dengan bawa topi agar kepala kita tidak terlalu panas. Bila ingin menghindari terik, datanglah jam 14.00 atau jam 15.00, sudah lumayan sore dan waktu yang tepat untuk berjalan-jalan dan menikmati alam.
  • Bawalah botol minum karena selain dehidrasi karena kepanasan, kita pasti akan cepat haus karena olah raga jalan kaki.

Overall, saya sangat menyukai perjalanan saya ke Wisata Alam Mangrove PIK ini, selain harganya terjangkau, kawasan ini juga tidak jauh dari pusat kota. Hanya saja memang bila menggunakan transportasi umum akan memakan waktu lebih lama daripada membawa kendaraan pribadi karena sepengetahuan saya, bis-bis yang ke arah sini tidak terlalu banyak dan terdapat jam-jam nya dengan jeda yang agak lama.Sepulangnya dari Hutan Mangrove, teman-teman bisa menjajaki area ruko-ruko PIK yang sangat terkenal dengan kuliner nya. Berbagai macam kuliner dari tradisional hingga modern, asia-barat, lengkap semua ada di sini dengan interior yang sangat mendukung dan fotoable alias eyecatching. 

1431307777373
Photo ala-ala Lets Get Lost!

Nah, Wisata Alam Mangrove bisa menjadi salah satu destinasi hutan kota yang menyenangkan loh kalau ingin ‘kabur’ sebentar dari keramaian urban. Minum air putih yang banyak ya sepulang dari sini agar tidak dehidrasi.

*) informasi saat saya melakukan trip ke sana, Maret 2015.