Secuil Cerita Perjalanan ke Pontianak

Processed with VSCO with c1 preset
Choi Pan/Cha Kue versi Jumbo yang saya makan di D’Bamboo. Best of the best!

Salah satu bagian yang tidak lepas dari pekerjaan saya adalah survei. Tiba-tiba saya dikabari bahwa saya harus mendatangi tiga kota yang akan ditinjau yaitu Cirebon, Pontianak, dan Jambi. Saat akan ke Pontianak, rasanya campur aduk (lebih ke senang tentunya). Pasalnya, saya baru saja ingin masakan khas Pontianak yaitu Cha Kue/Choi Pan. Iya, kue yang tambah booming karena film Aruna dan Lidahnya tersebut berhasil membuat saya berdoa sepanjang waktu agar dapat makan Choi Pang langsung di Pontianak. Oh iya, berbicara soal Choi Pan, makanan ini sebenarnya asli dari Singkawang dan menjadi makanan khas yang dimakan oleh orang-orang Tiongkok [1]. Tidak heran saat berkunjung ke restoran yang menjual Choi Pan di kota ini, akan banyak masyarakat Tiongkok yang memesan dalam jumlah berloyang-loyang!

 

Kota Bisnis Sejati

Processed with VSCO with c1 preset

Kedatangan saya ke kota ini tentu bukan jalan-jalan, itu hanya sambilan saja. Saya datang dalam rangka dinas untuk mengetahui pangsa pasar atau dalam dunia saya sering dikatakan sebagai survei market. Akhirnya perjalanan survei saya diawali dengan mengidentifikasi kegiatan apa saja yang dilakukan masyarakat pontianak di hari biasa dan saat pekan. Selain masyarakat, saya juga mengidentifikasi perilaku dari wisatawan yang datang ke Pontianak. Kebetulan kami datang saat perayaan Cap Go Meh, sungguh sebuah kejutan karena kami tidak merencanakannya. Jadilah banyak wisatawan yang sekedar transit di Pontianak untuk meneruskan perjalanan ke Kota Singkawang atau sekedar merayakan Cap Go Meh di Jalan Gajahmada, ruas jalan perdagangan yang terkenal di kota ini.

Processed with VSCO with c1 preset
Suasana Cap Go Meh di Jalan Gajahmada

Processed with VSCO with c1 preset

Karena akhir-akhir ini saya selalu merasa semua kota pada akhirnya di arahkan menuju kota wisata, saya mendapati hal yang berbeda di Pontianak. Saat survey ke berbagai dinas untuk wawancara, mereka dengan tegas berkata, “Kota ini tentu kota bisnis. Kita tidak punya sesuatu yang bisa ditawarkan sebagai objek wisata. Kebanyakan orang-orang datang untuk transit menuju Singkawang. Karena di Singkawang tidak ada bandara, mau tidak mau mereka harus turun di Bandara Supadio kan?”. Saat kami bertanya kira-kira ada potensi ke arah wisata, sebagian dari perwakilan dinas hanya berkata, “Tidak perlu, kita upgrade kota ini untuk kepentingan masyarakat saja. Memperbaiki kualitas ruang di sisi sungai untuk kehidupan mereka yang lebih baik. Tidak perlu dipaksa menjadi kota wisata cukup dengan kota bisnis dan transit saja.”

 

Akhir Pekan yang Sepi?

Berbeda dengan kebanyakan kota-kota besar di Indonesia, pusat perbelanjaan dan perdagangan Pontianak di akhir pekan cenderung sepi. Bahkan jumlah kendaraan bermotor menuju kota dari kabupaten pun relatif sepi bila dibandingkan dengan hari biasa. Hal ini terlihat di ruas jalan utama Ahmad Yani, yang menjadi jalan penyambung utama antara Kabupaten Kubu Raya dengan Kota Pontianak. Ternyata, masyarakat Kabupaten Kubu kebanyakan bekerja di Kota Pontianak dan saat akhir pekan, mereka lebih suka menghabiskan waktu di rumah untuk berakhir pekan bersama keluarga. Ini jelas berbeda bila dibandingkan dengan Jakarta atau Bandung. Bisa dengan mudah kita mengatakan ruas-ruas jalan menuju pusat perbelanjaan di Jakarta atau Bandung akan selalu ramai dan padat. Nah ternyata, yang ramai di Pontianak bukanlah pusat perbelanjaan melainkan tempat-tempat publik apalagi Alun-Alun Taman Kapuas yang disulap menjadi penuh tempat duduk dan bermain. Dengan modal Rp 15.000, kita bisa menaiki perahu dan mengelilingi Sungai Kapuas di sore hari. Kalau mau wisata gratisan, bisa saja tinggal duduk-duduk di pinggir taman lengkap dengan pemandangan Sungai Kapuas yang sudah pasti tidak bisa kita dapatkan saat di Pulau Jawa. Hal lucu lain yang saya temukan adalah konsep PKL (Pedagang Kaki Lima) yang ada di bantaran sungai. Mereka tidak berjualan di tepi jalan lagi tapi warung mereka benar-benar mengapung di atas sungai. Ombak yang besar tidak berpengaruh, mereka tetap asyik jualan membakar jagung dan melayani pembeli dari warung unik mereka.

Processed with VSCO with c1 preset
Pedagang Kaki Lima yang aku nobatkan menjadi PKL super tahan ombak

 

The Real Shophouses dan Culture ‘Ngopi’

Bicara tentang Arsitektur, terdapat hal yang mencuri perhatian saya selama di Pontianak. Ya, tentang ruko-ruko yang begitu hidup terutama di kawasan perdagangan Pontianak. Pada ruas Jalan Gajahmada/Jalan Tanjung Pura, kita akan disambut oleh ruko-ruko berlanggam lama. Menariknya, lantai dua hingga tiga pada bangunan ruko ini benar-benar dijadikan hunian oleh penghuninya. Tidak sekedar menjadi toko yang akan tutup di malam hari dan buka saat pagi. Tidak heran saat pagi kita akan mendapati penghuninya sedang ‘nongkrong’, jemur baju, kipas-kipas, dan melakukan ragam kegiatan yang bisa dilakukan di balkon. Beruntungnya lagi, saat perayaan Cap Go Meh lengkap dengan naga-naga yang berjalan di sepanjang jalan tersebut, masyarakat yang berpenghuni di ruko bisa menyaksikan dari lantai dua rumah mereka. Sungguh pemandangan yang sangat eksklusif.

Processed with VSCO with c1 preset
Lantai dua dari ruko yang masih berfungsi sebagai balkon

Selain arsitektur ruko yang masih berfungsi dengan baik, kedai kopi kekinian di Kota Pontianak tidaklah ramai. Tentu, kedai kopi legendaris seperti Asiang dan Kopi Aming lebih mencuri perhatian bagi para pecinta kopi dan wisatawan seperti kami. Cukup dengan satu gelas kopi dan colokan, penuh sudah tempat ngopi tersebut. Berbeda dengan Kopi Asiang yang menjaga autentisitasnya dengan tidak membuka cabang atau menjual produknya di tempat lain, Kopi Aming justru merambah pasar sekelas Indomaret/Alfamart dan membuka gerainya di Mall Transmart, Kubu Raya. Saat pulang melalui bandara pun, kita dapat membawa pulang Kopi Aming yang segar dengan menggunakan gula aren. Ya, kopi-kopi ini tentu buka sejak subuh dan ramainya pun sejak warung ini dibuka. Ajaib sekali bukan? Budaya ngopi ini tidak hanya ada di kalangan remaja, tapi justru kalangan tua, bapak atau pun ibu, semua suka ngopi di Pontianak. Tak heran kota ini dipanggil Kota Seribu Kedai Kopi (selain sebutan Kota Seribu Sungai yang sama terkenalnya).

Kopi susu gula aren di Aming Coffee

Masyarakat Sungai

Akhir kata, saya sangat berbahagia dapat mengabadikan banyak hal tentang Kota Pontianak. Kota yang masih menggunakan sungai sebagai jalur transportasinya untuk menyebrang. Tidak hanya manusia, tapi juga terdapat penyebrangan untuk mobil-mobil kecil dan motor yang bisa kita lihat prosesnya saat kita berkunjung ke Alun-Alun Kapuas. Seperti sejarahnya, masyarakat Pontianak tidak bisa lepas dari sungai karena pasalnya kota ini pun berkembang dari tepian sungai hingga mekar keluar. Bila melihat dari satelit, pada sisi-sisi terluat sungai, kita akan mendapati jalan-jalan grid persegi panjang. Hal ini dikarenakan permukiman dan jalan lingkungan mulai tumbuh pada area persawahan di sisi selatan Kota Pontianak. Sebab sungai inilah, kota ini dapat berkembang. Pasalnya, sungai merupakan sumber kehidupan di Pulau Kalimantan dan menjadi sarana transportasi antar daerah [2]. Bahkan dari Ketapang hingga Pontianak, selain jalur darat, kita dapat mencapainya dengan jalur sungai! Menarik bukan?

End.

 

Referensi

[1] https://www.idntimes.com/food/dining-guide/naufal-dzulhijar/choi-pan-makanan-khas-singkawang-yang-wajib-kalian-coba-exp-c1c2/full

[2] Kusnoto, Yuver dan Yulita Dewi P. (2018). Permukiman Awal Sungai Kapuas. SOCI: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 15, No. 1 Tahun 2018 hal. 71-78

Strolling Around City (Singapore)

DSCF1720

Kalau diajak ke Singapura, selalu nggak pernah nolak. Beberapa teman suka nanya, kenapa sih suka banget bolak-balik Singapura? Jawabanku pasti “selalu ada yang baru di kota ini.” Selain karena selalu dapat tiket yang under normal price -seperti PP 300-400ribu-, aku juga bukan orang yang picky soal “kabur” sejenak dari kenyataan. Selama ada kesempatannya, suka aku ambil aja hehehe. Tahun ini kesempatan ke Singapura aku pergunakan untuk strolling around the city, seperti melihat free show atau menyusuri kawasan yang baru direvitalisasi (dihidupkan kembali).

DSCF1801

Hal yang paling menarik untuk liburan kali ini adalah penginapannya. Aku pergi berenam dengan keluargaku (belum full team loh itu, haha) dan memutuskan untuk tidur di hostel dengan bunk bed. Tujuannya agar satu kamar bisa semua masuk dan karena kita akan sangat jarang berada di penginapan, jadi kita memilih penginapan berdasarkan lokasi. Nah, aku punya satu rekomendasi penginapan yang bagus sekali baik secara lokasi maupun service. Adamson Inn ini berada di sekitar Kampong Glam (3 Jln Pinang, Singapore) dan ini secara lokasi sangat-amat-recommended-sekali! Untuk yang muslim, tidak perlu pusing mencari makanan halal karena ini adalah daerah yang nyaris semuanya makanan halal. Most food di sini adalah makanan arab/india seperti martabak, nasi briyani, chicken curry, dan favorit aku adalah teh tarik! Tidak ada penginapan yang super murah di Singapura, tapi kalau mau cari lokasi yang menyenangkan dan mencoba hotel ala-ala backpacker, Adamson Inn adalah tempat yang tepat. Solat pun bisa menjadi sangat menyenangkan dan khusyu karena hostel ini bertetangga dengan Sultan Mosque (salah satu destinasi wisata di Singapura). Jadi selama di sini, teman-teman akan tetap bisa mendengarkan adzan.

DSCF1664
Yah, ketutupan truk. Maaf ya
DSCF1666
Suasana di sekitar penginapan, ada halte bis di belakang sini

Oh iya, untuk hari ini perjalanan kali ini, kita tidak lagi menggunakan EZ-Link sebagai kartu transportasi di Singapura. Kita menggunakan Singapore Tourist Pass yang bisa dibeli di bandara juga saat pertama kali naik MRT. Harganya 20 SGD dan itu ada depositnya, bisa diambil waktu nanti pulang tuker tiket (seperti kita tuker tiket untuk tiket harian di commuter line). Waktu itu aku belinya yang standar bukan yang plus jadi kartu ini tidak include transportasi seperti ke Sentosa dan beberapa bus pun tidak dilayani oleh kartu ini (biasanya bus yang ada tulisannya “express”, bisa cek di halte atau internet). Jadi pas pilih rute di halte bus, sedikit lebih cermat saja agar tidak salah naik bis. Overall kartu ini worth it sekali dan selama perjalanan kali ini, aku banyak menggunakan transportasi bis karena udah free pass! Jadi selalu cari halte terdekat dari tujuan dan kadang tuker di salah satu bus stop untuk menuju line bus yang lain. Serunya adalah kita bisa benar-benar lihat kotanya seperti apa. Dulu biasanya aku selalu naik MRT, jadi kotanya tidak terlihat.

DSCF1746

DSCF1751

DSCF1745
Aku bilang sama Mama kalau ini kartu ‘sombong’, bisa tap-tap sepuasnya tanpa berpikir harus top up

Sebelum dari melakukan perjalanan kali ini, aku selalu penasaran dengan kondisi terbaru dari Haji Lane. Nah, koridor yang sudah direvitalisasi ini berada tidak jauh dari penginapan. Akhirnya sore-sore setelah sampai dan selesai check in, aku mencoba mengunjungi kawasan ini. Ramai sekali kondisinya tapi masih nyaman untuk melakukan kita melakukan aktivitas. Menariknya, setiap bangunan diberi warna yang berbeda bahkan cenderung kontras, tapi masih bisa menimbulkan kesan yang harmonis. Aku selalu berpikir bahwa mungkin sebelum dilakukan proses pengecatan, terdapat proses riset dan trial error pada satu studi/lab percobaan warna ya? Hahaha atau sepertinya seingat aku memang ada teori keharmonisan warna yang bisa didapat bila kita menggunakan teori seperti komplementer, split komplementer, dan teman-temannya itu. Serius, aku benar-benar penasaran kenapa walaupun kesannya tabrak warna tapi bisa seharmonis itu. Bisa juga dari tipologi bangunan yang serupa tapi tak sama seperti desain jendela, pintu, dan atap yang serupa hingga akhirnya membentuk kombinasi yang sangat harmoni (huhu, ngefans). Kondisi dari setiap bangunan di sini tergolong sangat baik dan terawat, sangat menyenangkan berada di sekitar Haji Lane, Kampong Glam, dan Arab Sreet ini.

DSCF1598
Sultan Mosque, salah satu vista di Muscat Street
DSCF1618
Haji Lane Street

DSCF1619

DSCF1633

DSCF1772
“Aku nanti kalau punya rumah sendiri mau dicat kayak gini!” lalu semua kabur.
DSCF1778
Kawasan Kampong Glam
DSCF1780
Pendekatan desain yang digunakan untuk kawasan yang memiliki dinding-dinding besar namun berorientasi ke jalan

Free show yang aku datangi kali ini adalah water fountain show yang diadakan oleh Marina Bay Sands dan lokasinya pun berada tepat di belakang mall ini (di area promenade). Untuk jadwal bisa cek di webnya https://id.marinabaysands.com/ dan kemarin aku datang saat pukul 20.00. Pastikan mendapatkan spot yang tepat agar dapat menikmatinya. Saran aku siap-siap saja di area sekitar LV building, hehehe atau paling depan dekat pagar pembatasnya sekalian. Free show kedua berada tidak jauh dari lokasi Spectra yaitu di Garden by The Bay yang memberikan free lighting show. Saat itu aku sedang beruntung sekali karena musik yang digunakan saat itu berasal dari lagu-lagu film Disney!!! (include Star Wars theme hehehe, gimana ga seneng?).  Jadwalnya bisa cek di web nya juga, kemarin aku datang di waktu 08.45. Nah, untuk datang ke free show seperti ini, bisa selalu cek di website nya untuk jadwal-jadwal pertunjukannya. Singapura selalu punya pertunjukan baru untuk kita nikmati secara gratis, jadi sebelum berangkat, bila mode travelling teman-teman adalah para pencari event gratisan, rajin-rajin buka website nya visit singapore ya. Segala promo dan event bisa cek di situ.

DSCF1678
View dari Helix Bridge
DSCF1694
Spectra
DSCF1719
Garden by the Bay Lighting Show

Hari terakhir yaitu hari ketiga, aku menghabiskannya dengan explore area Kampong Glam saja sebenarnya. Sempat juga sih mengunjugi kantor polisi yang di redesign yaitu The Old Hill Street Police (loh, fotonya malah lupa aku ambil). Nah bangunan ini dulunya adalah kantor polisi dan sekarang digunakan sebagai kantornya MICA (Ministry of Information, Communications and the Arts). Hal yang menarik dari bangunan berjendela banyak ini lagi-lagi permainan warna yang banyak dan selalu eyecatching (dan selalu berhasil membuat aku penasaran bagaimana itu cara harmonisasi warnanya). Selain itu, di sekitaran area hostel banyak sekali tembok-tembok kosong yang diberi mural dan menjadikan kawasan itu bukan lagi sekedar kawasan rumah atau ruko melainkan menjadi kawasan yang memiliki nilai seni. Pendekatan ini bisa juga dilakukan untuk menghidupkan ruang-ruang yang memiliki dinding besar. Hal seperti ini sudah banyak dilakukan di kota besar. Saat jalan-jalan ke Bangkok pun, dinding yang dicat tidak tanggung-tanggung, besar dan tinggi sekali (ada di postinganku sebelum ini saat di Bangkok). Kan jadi ingin riset di kota tempat tinggal, daerah mana yang bisa diintervensi untuk meningkatkan kualitas lingkungan dengan pendekatan ini, HE HE HE (otaknya masih aja riset). Oh iya, sebelum sampai ke Bandara Changi, kita makan di daerah Paya Lebar. Di sana ada area food court yang menyediakan makanan halal walaupun itu chinese food! (surga banget kaaan) dan sekalian menuju Changi, kita mencoba mampir ke area National Stadium. Ada tempat lari indoornya, menarik sekali. Jadi ingat zaman kerja di Jakarta suka lari di bagian outer ring nya GBK malam-malam, sepertinya menarik juga nih kalau GBK diberi indoor outer ring seperti ini.

DSCF1893
Semi Indoor Jogging Track (LOOOOVE)

DSCF1895

Baiklah, sekian ceritaku tentang perjalanan ke Singapura kali ini yang lagi-lagi menemukan hal baru. Makanya, walaupun selalu dibilang “ngapain sih berulang kali ke Singapura?” ya itu…. karena aku selalu bisa menemukan hal yang baru. Bagian terpentingnya sih menurutku urban planner/urban designer/arsitek bisa belajar banyak dari tata kota dan pendekatan yang digunakan Singapura untuk menghidupkan kembali bahkan memberikan sesuatu yang baru untuk kotanya. Walaupun memang harus dipilah dan dipilih karena tentu tipologi dan kondisi Singapura berbeda dengan Indonesia (apalagi masalah luas wilayah), tapi beberapa pendekatan masih relevan untuk diaplikasikan di Indonesia kok (tentunya dengan beberapa analisis kontekstual khusus kawasan di Indonesia. Menariknya lagi, di sini banyak preseden (contoh) yang bisa kita pelajari dan lihat secara langsung. Karena memang beda sekali kalau lihat di internet dengan mempelajari dan merasakan langsung.

DSCF1881
halo

 

***

Salam ceria-cinta-damai,
Marisa Sugangga (April, 2018).

Travel Diary: (Ur)Bangkok #1

Haha! Setelah sekian lama ingin menulis cerita bahagia satu ini, mari kita cerita soal studi eksekursi Rancang Kota ITB 2016 yang alhamdulillah dapat destinasi ke Bangkok! Begitu heboh (mungkin hanya saya) karena saya belum pernah ke Bangkok. Sebelum berangkat, tentu hal yang paling repot dan menyenangkan adalah tahap persiapannya. Sebagai sekretaris, saya berada di garda depan saat menyiapkan dokumen-dokumen terkait proposal dan pendanaan untuk kegiatan yang satu ini. Berkali-kali revisi -untung dibantu Ivan- akhirnya proposal ini bisa selesai tepat pada waktunya. Ceritanya studi eksekursi ini dibantu oleh uang tabungan studio kami dan sponsor dari BJB (terima kasih BJB!). Kita berangkat menggunakan tiket promo dari Airasia (yang pulangnya sempat drama) dengan direct flight. Bertolak dari Bandung pukul 07.30 untuk flight jam 16.00 dan biasalah ya namanya anak-anak, rusuh banget di dalam travel. Kety lupa nanyain saya mau bubur atau enggak, padahal semua squad perempuan dibeliin bubur, kecuali saya. Perjalanan lancar kecuali di tol dalam kota, itu macet banget. Saya sampai berkali-kali nyeletuk, “ini sebenernya orang-orang masuk kantor jam berapa kok jam segini masih ada di jalan?”. Mungkin mereka semua telat.

DSCF7528
Geng heboh ceria: Kety, Marisa, Wiwid, Aco, Dini

Welcome to Bangkok! Sekitar jam 19.00 waktu sana kita mendarat di Don Mueang International Airport (DMK). Kesan pertamanya? Kita ketawa gara-gara denger pengumumannya, bahasanya super ajaib yang artinya kita jarang denger dan membuat kita jadi tertawa-tawa saat mendarat. Karena sudah malam, kita langsung bertolak ke hotel menggunakan Uber. Ada yang menjual kartu gsm di pintu keluar, tenang saja, kita bisa langsung online saat tiba di sana (sebenarnya yang paling penting adalah…. butuh itu untuk Uber). Kita dibagi menjadi tiga kelompok, satu kelompok isinya 4 orang dan berarti setiap perjalanan udah gak ribut-ribut lagi yang ini mau naik mobil sama siapa yang itu sama siapa. Karena gps handphone Marisa menclok 500 meter dari aslinya, akhirnya susah juga kalo jadi koordinator uber di kelompok (walaupun kadang-kadang pakai punya Marisa juga), akhirnya posisi ini diserahkan pada 2 teman yang lain. Pengalaman menggunakan Uber di sana? Menyenangkan kok. Tidak terasa sulit sama sekali, kadang yang bikin sulit ketika driver nya tidak bisa Bahasa Inggris, nah itu baru sulit. Pasti pernah kan dalam drama transportasi online kita suka ditanya, “Mbak ditunggu di mana?” nah karena kita suka bingung jelasinnya (karena gak tau daerahnya) jadi suka bingung gitu. Sesekali kita menggunakan Grab karena lebih murah dan ada promo-promo. Jadi saran saya, saat tiba di Bangkok, buat saja dua akun dari Uber dan Grab karena akan berguna sih dan kadang Grab datangnya lebih cepat dari Uber (beberapa kali kejadian, memang Grab selalu lebih cepat dari Uber pas kemarin di sana). Silahkan dipilih.

DSCF7533
Selamat datang di Don Mueang (DMK) – Lalu sambutan dari wanita berbahasa thailand di speaker mengalihkan kami.

Day 1

Slide4

Slide5

Kita menginap di 3Howw Hostel Sukhumvit 21 dan membooking dari Indonesia via booking.com. Pembayaran kita lakukan di tempat dan awalnya kita mengira tidak ada uang deposit, eh ternyata ada dong. Dan lumayan besar menurut kita depositnya, 500bath (sekitar 300 ribu waktu itu). Kalau tidak mau tinggal deposit, kita boleh tinggal paspor (ya ini kan bahaya banget jalan-jalan gak pake paspor). Akhirnya masing-masing dari kita meninggalkan deposit dan ternyata lucky nya kita jadi inget kalo ternyata pas pulang kita masih pegang uang banyak, horeee… Bahkan waktu pulang ke Indonesia, sisa uang jajannya masih banyak (mungkin karena saya juga gak belanja ya). Lanjutkan! Hari pertama kita mencoba naik BTS atau yang biasa dikenal dengan skytrain dari stasiun terdekat yaitu Asok. Karena perjalanan kita didominasi oleh Uber, akhirnya kita tidak membeli kartu trip tapi beli semacam bentuk koin dari plastik gitu di vending machine. Eh, ternyata di vending machine ribet karena jumlahnya banyak, akhirnya Aco berjalan ke pusat informasi untuk langsung beli banyak.

Kita turun di Hua Lamphong dan melanjutkan perjalanan dengan Uber ke Wat Pho. Karena kami mahasiswa, kami tidak ke Grand Palace karena… tiketnya lumayan mahal. Yasudah, kita ke Wat Pho saja. Wat Pho adalah salah satu kuil yang memiliki daya tarik patung Sleeping Budha. Ketika sampai, cuaca sedikit mendung menuju hujan dan satu kelompok yaitu kelompok Aco tertinggal alias nyasar entah ke mana. Jadi kita sempat menunggu hampir satu jam di dekat loket penjualan tiket dan akhirnya Aco and the gank muncul hehe. Selama menunggu Aco and the gank ini banyak kejadian dan tingkah yang sudah kita lakukan selama di tempat menunggu mau masuk kawasan komplek. Dari yang foto-foto, dubbing suara orang, mencari kipas angin, hingga mainan sama tupai di pinggir jalan. Komplek Wat Pho ini termasuk besar dan memiliki fasilitas untuk tourism yang mumpuni. Kamar mandinya saya acungi jempol karena faktor kenyamanan dan kebersihan yang dijunjung tinggi. Pokoknya area pariwisata yang dirawat dengan sangat baik. Mungkin kami datang termasuk di peak season karena ramai sekali apalagi saat di bagian sleeping Budha (kipas angin menjadi barang mahal).

Sehabis dari Wat Pho, kita melanjutkan perjalanan ke Lak Muang Shrine yang menjadi pusat spiritual dari Kota Bangkok (makanya kan pas di rundown ada keterangan make a wish ya).  Dari komplek Wat Pho kita jalan kaki ke Lak Muang Shrine dan itu so hot banget. Beberapa teman sudah mengeluarkan payung untuk melindungi dari panas. Karena saya pegang-pegang kamera, jadi saya memutuskan untuk pakai topi saja. Kadang saya dipayungin, tapi terus kabur karena kepisah saking ramenya wisatawan yang ada di sepanjang jalan menuju Lak Muang Shrine. Oh iya, aktivitas yang kita lakukan di Lak Muang Shrine adalah… ngadem.

 

 

DSCF7664
Lak Muang Shrine

Selepas dari Lak Muang Shrine adalah waktunya…. makan!! Oh iya, waktu di rundown kan harusnya hari ini jadwal ke National Museum. Ternyata setiap hari Selasa, National Museum Bangkok itu tutup. Akhirnya jadwal pun ditukar dengan jadwal jalan-jalan yang harusnya ada di hari kedua. Sebelum jalan-jalan lagi, kita makan dulu di restoran yang spesialnya adalah martabak (cari-cari foto tapi enggak ada, hix). Setelah makan siang kita lanjut untuk bertepi di pinggir sungai di taman Santi Chai Prakan Park yang berada tepat di depan tempat makan kita.

 

 

DSCF7711
Santi Chai Prakan Park. Tempat dimana bisa leye-leye di pinggir sungai

 

Destinasi berikutnya adalah destinasi wisata yang terkenal di Bangkok. Namanya Khao San Road. Di sini kita bisa belanja produk-produk Bangkok yang basisnya PKL, mungkin kaya di tanah abang gitu atau mayestik kalo di Jakarta. Benda-benda yang dijual di sini seperti baju, celana, tas, dan mango sticky rice yang bertebaran di sepanjang jalan ini. Oh iya, waktu ada di jalan ini suka ada yang jual serangga buat dimakan ituloh seperti jangkrik, kalajengking, dkk. Jangan ambil fotonya ya, karena untuk mengambil fotonya kita perlu bayar. Kalo kita ga bayar, ntar abangnya ngomel-ngomel. Penting untuk selalu memperhatikan dimana kita bisa ambil foto atau engga kalo gakmau dimarahin.

 

DSCF7790
Penampakan Khao San Road + Marisa, hehe

 

Selama di Khao San Road ini, kita mencar-mencar sesuai sama minat apa yang mau dibeli. Lupa waktu itu berkelompok sama siapa, gak sengaja pas masuk-masuk di alley nya Marisa menemukan pembatas buku motif batik gitu warna pink ada gantungan gajah khas thailandnya. Beli itu sekitar 8 bath di toko pernak-pernik dan aksesoris. Senang. Khao San Road jadi pemberhentian terakhir kita hari ini sebelum dilanjutkan dengan makan malam tom yum dan mango sticky rice!!!! (gatau ya, sejak pulang dari Thailand sangat freak sama mango sticky rice). Ya begitulah perjalanan hari pertama ini. Ntar ya, video cuplikan cilik-cilik hari pertamanya belum dibuat. Nanti kalau udah release link nya mau ditambahin di sini. Sampai jumpa di trip Travel Diary: (Ur)Bangkok #2!!

tulisan ini dibuat sebagai pelarian ingin menulis yang santai dan tidak baku. mohon maaf bila banyak sekali kata yang tidak baku ya.

Superkilen Park, Copenhagen

suk_image_by_iwan_baan_26

Superkilen by BIG, Superflex, & Topotek 1 (sumber gambar: http://www.archdaily.com)

“Saya tidak suka bermimpi. Saya lebih suka terjaga untuk mengejar cita-cita. Kalau kata Rudy Habibie, “daripada menyebutnya mimpi, saya lebih suka menyebutnya cita-cita, karena itu akan dapat saya gapai.”

Sebagai pribadi yang menyukai dunia jalan-jalan, tentu membuat wishlist tempat impian yang ingin saya kunjungi adalah hal yang lumrah. Terdapat 100 tempat di dunia yang ingin saya kunjungi bila Tuhan memberikan kesempatan. Salah satu tempat itu adalah urban space Superkilen yang terletak di Copenhagen. Awalnya, tempat ini mencuri perhatian saya karena warnanya yang begitu mencolok. Warna-warna seperti ini tidak umum berada dalam satu kawasan karena warnanya tidak ‘netral’.

Ketika saya berada di dunia proyek, warna-warna seperti ini sangat sulit tembus desainnya dengan alasan warna ini tidaklah normal dan tidak bisa diterima semua orang. Berbeda dengan warna standar seperti biru atau kuning atau kami menyebutnya warna-warna aman.

BIG adalah salah satu starchitect yang keberadaannya seringkali diprotes oleh sebagian lingkungan saya. Desain-desain yang nyentrik dan kadang tidak kontekstual hingga beda sendiri membuat BIG bukan menjadi sosok arsitek kesukaan kami. Namun, bagi saya pribadi, proyek ini membuat pandangan saya tentang BIG berubah. Bukan seketika lantas suka, namun berusaha memahami perspektif yang lain dan tidak menutup kemungkinan atas desain apapun yang terjadi di muka bumi ini.

Superkilen yang berada di Copenhagen ini terbentang seluas 30.000 m2 pada tahun 2012. Proyek ini mem

 

Referensi
http://www.archdaily.com/286223/superkilen-topotek-1-big-architects-superflex
http://www.ideaonline.co.id/iDEA2013/Kabar/Info-Properti/Merayakan-Keragaman-Dunia-di-Ruang-Publik-SUPERKILEN
http://www.detail-online.com/article/three-colours-red-black-green-landscape-park-in-copenhagen-16511/

 

Travel Diary: Satu Hari di Gili Trawangan

when in Gili Trawangan.

Cerita dari Gili Trawangan yang begitu membekas adalah snorkeling pertama kali bersama Mama dan Papa. Melihat penyu berenang saat kita snorkeling ke area yang dalam (dan dasar lautnya mulai gelap, hehe). Kita dapat tiga kali spot snorkeling dan yang terakhir Mama udah cape karena memang arus di spot kedua sangat deras. Di spot terakhir ikannya banyak sekali apalagi waktu rotinya ditabur, semua bergerumbul. Setelah snorkeling dan masih menggunakan baju itu (ha ha), kita naik sepeda mengintari pulau. Menyenangkan sekali bermain bersama matahari dan angin sore. Kalau ditanya ada kejadian apa, banyak sih! Jadi perjalanan ke Gili hanya kita tempuh satu hari. Kita berangkat pagi dan pulang selepas magrib. Tertakjub-takjub karena banjir bintang malam itu, kacamata saya nyemplung ke laut. Untuk diketahui bahwa saya selalu saja melakukan hal ini, tidak sengaja nyemplungin kacamata ke laut. Nggak tahu kenapa bisa begitu, untung waktu di Karimata (Kalimantan) tidak ada kejadian seperti ini. Nah, tadinya bibir pantainya tidak sebersih dan serapi sekarang. Sejak ganti pemerintahan, bibir pantai dibersihkan dan kita bisa leye-leye di sepanjang bibir pantai. Tapi dengar-dengar sih kita harus hati-hati, karena sisa dari merapikan bangunan dari bibir pantai itu masih ada, contohnya ada beberapa paku yang masih berada di sekitar pasir. Disarankan menggunakan sandal saat menyusuri pantai, hehe.

Lombok, 2016.

Afternoon Talk: Kita Dalam Skenario Orang Lain

Tidak terasa liburan telah tiba. Oh My… Kayak engga percaya gitu sih sebenernya kalau semester 3 sudah selesai saya lewati. Di akhir tahun ini saya mendapatkan banyak-banyak-banyak pelajaran yang membuat saya menjadi pribadi yang ‘baru’ dan insya Allah lebih bijak dalam menilai sesuatu. Di hari terakhir pengumpulan tugas, sore ini didedikasikan untuk keluar bersama Bima. Bima itu teman SMA, teman satu OSIS, yang dulunya kita engga deket (sama sekali, cuma tahu dan paling ngobrol seadanya). Ternyata pas kuliah S2, kita sekelas, sejurusan, dan sempat sekelompok satu kali di studio pertama. Saya selalu merasa, dia adalah pribadi yang sangat unik dan terengga peka di circle saya.

“Pengen burger, Cha”
“Ayok!”

Bandung lagi macet banget, apalagi ruas jalan Dago yang menjadi salah satu ruas utama di kota ini, jadi engga usah heran kenapa kok ini jalan bisa macet. Cuaca hari ini tergolong cerah sekali. Sambil ketawa-ketawa, kita menerobos Bandung yang anginnya sedang ramah (sepertinya sih menyambut hati kita yang sedang berbahagia). Bima sempat mainan dan menertawakan kenapa warna helm (pink) saya norak banget, bikin mata silau, tapi karena yang pakai saya jadi ya sudah biasa. Dari Bima, banyak sudut pandang menarik yang hampir tidak pernah saya dapat dari orang lain. He’s someone from out there, not from our world sih kayaknya.

Sore ini kita ngobrol, saya cerita kalau kemarin baru nonton film ‘Imitation Game’. Film yang diangkat dari kisah nyata seorang figur yang namanya Alan Turing ini sempat membuat saya mindblowing selama satu hari karena kesal. Kenapa kesal? Ternyata segala sesuatu itu, bahkan pikiran, bisa direkayasa. Walaupun satu dari sejuta percobaan kita untuk merekayasa itu baru bisa berhasil, tapi ternyata ada aja yang berusaha atau mencoba untuk bermain sama pikiran kita agar mendapatkan tujuan yang dia inginkan. Secara tidak sadar, ternyata kita bener-bener bisa ada di posisi yang dia ‘rencanakan’ untuk kita, tapi totally kita engga sadar kalau ternyata itu sudah dia arahkan. Wah gila sih ini, entah ini gila atau saya yang tidak pernah mencoba untuk seperti itu.

“Kadang gue suka bingung gitu sih, Cha. Padahal kenyataannya A, tapi kita bisa dihadapkan sama orang yang luwes banget ngomongnya dan bikin seolah-olah kenyataannya adalah B. Dulu gue pernah dihadapkan sama orang yang kaya gitu. Itu bukan kebetulan sih, itu bisa dilihat dari jawaban kita ketika kita nanggepin dia. Gestur kita juga bakal keliatan sama si orang yang merencanakan itu. Ketika gestur kita A, dia akan jawab apa. Ketika gestur kita B, dia akan bertindak apa. Gue sendiri belum bisa sampe ke tahap kaya gitu sih, karena kalau gue ya ngalir aja gitu orangnya, jarang pake rencana.”

“Ya kan sama aja kaya gue. Gue kan bukan tipikal yang bakal tahu isi labirin otak lu apa. Bukan orang yang akan nge-set keadaan kaya apa untuk mendapatkan tujuan yang gue mau. Gue juga belum tahu bisa di mana gue blocking jalan dalam labirin otak lu karena gue juga gak berusaha memetakan labirin lu dalam otak gue. Oke, misalnya gue punya satu harapan atas kondisi yang gue ciptakan. Tapi buat gue, ya harapan itu jadi harapan aja bukan jadi satu tujuan yang ingin gue dapatkan di kondisi yang gue ciptakan saat itu. Fleksibel gitu sih, over flexible but iam not a dead fish flows with the stream juga. Ya gitulah, ngerti kan yang gue maksud? Gue semakin merasa dunia yang gue jalanin ini cuma secuil dari dunia yang sebenernya. Banyak banget orang pinter di luar sana yang bisa mengoptimalkan otaknya untuk memetakan isi otak orang lain ke dalam otaknya sendiri.”

Terus kita berdua sama-sama bengong, lebih ke diem. Kita mikir apa kita pernah ya jahatin orang sampe masukin orang itu ke dalam skenario hidup kita untuk mencapai tujuan kita? Sebenernya gapapa sih kalau kita masukin dia jadi peran yang menguntungkan untuk dia juga, tapi kalau engga, gimana? Dia rugi dong kalau sampai tujuan kita tercapai?

Keseimbangan memang tidak memungkinkan untuk kita menaikan segala variabel dalam kehidupan kita menjadi positif semua. Namanya juga keseimbangan, yang artinya kamu membutuhkan positif dan negatif dalam dunia kamu. Sama seperti dunia ini kan, ada kutub utara ada kutub selatan. Kita emang kadang tidak sadar kalau ternyata kita ada di skenario terburuk seseorang, tapi secara tidak sadar kamu menjadi penyeimbang dalam upaya dia menyeimbangkan kehidupannya. Obrolan ini memang agak absurd sih karena intangible, sesuatu yang tidak bisa kita pegang, erat sekali kaitannya dengan logika dan perasaan. Kembali lagi ke mana kamu akan lebih condong, logika, perasaan, atau berusaha menyeimbangkan keduanya? Lagi-lagi urusan keseimbangan kan? Ah, omong kosong apa ini.

Akhir dari obrolan sebelum liburan ini adalah mau seberat apapun, di manapun kita pada skenario hidup seseorang, jangan sampai kita jadi pribadi yang tidak kritis. Terkadang kita perlu mengkritisi sesuatu agar kita menggunakan akal kita dalam menghadapi dunia -yang semakin keras namun semakin indah- ini. Tidak bisa juga kita langsung men-judge orang yang perilakunya A dia pasti A juga. Orang yang perilakunya A, bisa disebabkan oleh kehidupannya yang BCDEF dst. Terlalu banyak faktor dan yang paling penting, kalau sudah bawa perasaan sekali, nah ini yang suka membuat kita jadi buta sama sesuatu. Sebenarnya apa yang berlebihan kan tidak baik, jangan sampai terlalu logika banget tapi tidak pakai perasaan juga, perasaan dihembuskan pada kita karena kita adalah manusia (ini harus diingat sekali). Terlalu pakai perasaan sekali juga jangan, nanti kita akan buta sama segalanya. Ini adalah tulisan konsep yang sangat mudah kita bicarakan sih, baik saya dan Bima pun masih sama-sama belajar. Cara belajarnya memang tidak bisa sendiri, dukungan dan sudut pandang dari teman-teman sangat membantu kita untuk mendapatkan berbagai macam pijakan untuk membentuk pola pikir dan sikap kita terhadap sesuatu. Jadi, sering-sering berdiskusi dengan teman dan carilah teman yang tidak sepandangan dengan kita, dari situlah kita mendapatkan banyak inputan. 

“Kehadiran seseorang yang berbeda sekali dengan kita itu emang bukan suatu petaka kok. Justru kadang kita merasa dilengkapi oleh keberadaan orang itu kan. Selama tujuannya masih sama, engga ada perbedaan yang perlu diperdebatkan.”

Terima kasih Desember, terima kasih Bima, terima kasih Bandung.

“Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.” – Imam Syafi’i. Selamat belajar memanusiakan manusia!

another home in another galaxy.

IMG_0780

Ibu pernah bertanya, apa yang bikin bahagia kuliah s2-nya?
“Punya mereka sih, hehe”

Sudah hampir tiga semester kita lewati, minus Maya dan Mbak Aline yang sedang ke Jepang. Terima kasih atas cita-cinta-semangat yang saling ditularkan ya! Sini Marisa tuliskan lagi pesan-kesan part keseratus (saking seringnya saya nulis soal kalian tapi tidak bosan-bosan, karena kalian keluargaku yang paling aneh)

kiri-kanan bawah : 

Enggar yang selalu semangat 45 mengejar guyonan kita semua, Hindra yang suka enggak peka sama apa yang kita omongin, Marisa: saya tidak bisa mengisi ini, hanya teman-teman yang bisa, Mbak Leyna mama kita semua yang hobi banget jajan, Maya si ratu monarki tapi saya sayang sekali

kiri-kanan atas :

Azka yang selalu diem tapi senyumnya penuh makna dan sebenarnya selalu merhatiin kita, Kety ini juga kesayangan saya yang selalu punya show ovj di studio, Astri alias Aco yang kepekaannya terhadap hal-hal kecil sudah tidak perlu diragukan, Nelly yang suka panik sendiri tapi entah mengapa kerjaannya selalu bisa selesai dengan detail juga, Bima teman SMA-ku yang paling baik, paling sabar menghadapi anehnya saya, Mbak Aline yang gak pernah satu kelompok sama saya tapi kita berdua dulu suka makan banyak bersama (saya sekarang makan cuma sehari sekali, udah bukan temen Mbak Aline, huhu), Bang Ari kakak aku yang baik, yang suka ngingetin solat dan yang selalu ngasih pengertian kalau saya lagi sedih dan suka curhat malem tapi endingnya bakal diketawain juga, “Terus ngapain cerita Cha kalo gakboleh aku ketawain?”, Dini sesama penonton lenong di studio, temanku yang baik kalau aku lagi pengen senderan tanpa mau ngomong apapun, Aryo temen yang galak, sukanya marahin kalo saya gak ngerti-ngerti (terus saya nangis di kamar mandi karena kesel beneran), tapi tenang, anda mengoleh-olehi saya strukturisasti otak dan logika yang bisa saya gunakan seterusnya, Ipun yang sangat aku sayangi dan cintai, ini sama aja kaya Aryo sukanya marahin saya karena ketikdak logisan saya dalam menghadapi suatu masalah, terima kasih Ipun yang galak, Wiwid si super jutek tapi pintar yang selalu nyebar hoax kalau saya sudah lamaran!! Ini berita darimana coba? kamu harus tanggung jawab, Ivan si 24/7 yang sangat bisa diandalkan tapi dia sangat bawel dan seringkali membuat saya marah karena selalu ribut, tapi tenang kita teman yang sangat-sangat baik kok.

Si Absurd: Cinta

Processed with VSCO with s2 preset

Sebenarnya bukan pribadi yang paham betul apa itu cinta? Karena kemarin sempat beberapa teman meminta untuk dibahas, maka saya akan membahasnya di sini. Semoga memberikan berkah bagi siapapun yang membacanya.

Buat Marisa, cinta itu apa ya?

Dia itu absurd, intangible, dan hanya dapat saya rasakan. Dia bisa melemahkan, menjatuhkan, menguatkan, bahkan membuat pekerjaanmu selesai dalam sekejap. Ya, terkadang ia bisa menjadi moodbooster terbaik. Gagal cinta secara harfiah yang pernah saya rasakan tidak lantas membuat saya menjadi lemah. Saya suka mentransformasikan hal-hal ‘sedih’ tersebut ke dalam sebuah produktivitas, entah tugas, tulisan, ataupun karya yang lain.

Sedih karena cinta itu wajar?

Wajar sekali. Saya pernah merasakannya, rasanya sedih. Mungkin ketidaknyamanan itu yang membuat kita semua tidak pernah siap dengan sebuah kegagalan/perpisahan. Rasa tidak nyaman ini lantas melekat di hati berhari-hari dan membuat semua rasanya menjadi abu-abu. Benar salah kita tidak tahu, logika dan perasaan sulit diimbangi. Ya, saya pernah berada di situ. Bagi saya, hal ini terjadi secara fluktuatif, naik turun secara cepat. Dapat sedih dengan cepat sekali begitupun dengan rasa senangnya. Tapi sekali lagi, sedih karena cinta itu sangat wajar. Karena itu ketika ada teman yang patah hati dan ingin bercerita, jangan dibilang lemah ya. Kekuatan hati dan pikiran tiap pribadi tidak sama, silahkan menjadi tempat mereka bersandar.

Pernah merasakan cinta platonik?

Pernah!!! Wah ini semangat sekali ya menjawabnya. Di sini cinta platonik yang saya maksud adalah cinta yang tulus sebagai sahabat. Benar-benar tulus dan tidak menginginkan lebih dari itu. Bukan sebuah hubungan pacaran namun sebuah relasi yang sangat efektif di mana di dalamnya tidak ada unsur-unsur ketertarikan secara seksual. Bagi saya, cinta platonik terjadi saat saya berada di Sekolah Menengah Pertama (SMA) dan orangnya kemarin baru saja menikah. Saya memanggilnya Kakak, rasanya haru sekali saat dia menikah. Saat acara pemberian pesan dan kesan, saya menahan tangis di hari bahagianya. Hal yang saya ucapkan adalah, “Kami tidak pernah berhubungan secara intens, dia di Solo dan saya di Malang. Lucunya, kami sering mengalami kejadian yang sama. Saat salah satu dari kami sedih, kami akan berkomunikasi saat itu juga via telpon ataupun sms. “ Tidak banyak dan memang tidak perlu banyak orang untuk mengetahui bagaimana hubungan persahabatan laki-laki dan perempuan ini bisa bertahan hinggai hampir 8 tahun. Sebenarnya sama halnya dengan persahabatan saya dengan salah seorang teman saya yang sedang bersekolah di Belanda. Kemarin dia menghilang dan saya mengkhawatirkannya hingga menelponnya. “Saya selalu merasa, kita tidak perlu terlalu banyak bicara untuk saling memahami. Cukup melihat wajahmu saja, saya sudah tahu masalah seberat apa yang sedang kamu lalui.” Iya, mungkin hubungan cinta platonic yang paling saya rasakan adalah bersama kedua orang ini.

Hal yang paling bikin sedih?

Dibohongin. Eh, tegas banget ya. Nggak juga sih, mungkin karena basic saya orangnya sangat extro, terbuka sekali kalau sudah menjalin hubungan dengan seseorang. Apapun detil itu selalu saya ceritakan. Kadang kalau saya mendapati sebuah kebohongan, saya jadi sedih. Padahal kita kan tidak bisa menyamakan persepsi seseorang atau membuat orang itu jadi seperti apa yang saya mau, apalagi kalau dasar hubungannya belum jelas seperti pacaran. Kalau masih dalam taraf hubungan seperti ini, justru biarkan saja dia jadi apa adanya dengan begitu kita bisa saling menilai. Hal yang sulit kan ketika kita sudah menikah, kita tidak bisa lagi berpisah apalagi kalau alasannya bukan soal prinsip atau cuma sekedar bosan. Karena bagian menyakitkan adalah ketika kita menyayanginya dengan setulus hati, tapi itu tidak berbalas. Ketika lisan berkata ya, belum tentu hati berkata yang sama. Kalau saya lebih suka mejalani cerita yang dua-duanya sama-sama iya, lisan iya hati iya (yaiyalah, semua orang juga begitu). Tapi kebanyakan sekarang, saya mendapati cerita-cerita hubungan teman-teman saya yang kurang baik dengan lawannya. Untuk saya, hak mereka saja untuk mempertahankan. Toh, mereka yang menjalani. Tapi ketika ada kebohongan di dalamnya, saya hanya bisa tersenyum pada teman-teman saya. Saya selalu berkata pada mereka, berilah cinta yang baik terhadap lawanmu, nanti cinta itu akan berbalas entah dari mana datangnya. Bila bukan dari dia, maka jangan bersedih. Hal itu menyelamatkanmu dan dia, kalian berdua saling menyelamatkan karena ya… Tidak perlu berlama-lama dalam hubungan yang ternyata bukan ditakdirkan untuk bersama. Semangat!” Kalimat penguat ini sebenarnya datangnya ya dari saya sendiri untuk menguatkan diri saya juga.

Di penghujung obrolan bersama secangkir kopi, saya dan teman saya berkata, “Ngomongin perasaan memang tidak ada matinya, ujungnya juga tidak jelas. Lebih baik kita ngomongin isu lain, agama misalnya?” Karena teman diskusi adalah teman berpikir yang paling baik dan membentuk otak kita. Tapi ya, kalau soal SARA saya tidak mau bahas, takut. Jadi kalau ingin ngobrol soal SARA sama saya harus secara langsung ya. Semoga ini menjawab penasarannya teman-teman pembaca Kalamona. See you!

Betapa Essai Itu Merubah Hidupku

IMG_1018

Ini postingan bergenre pengalaman, santai tapi serius. Mungkin akan bermanfaat untuk yang galau akan ‘mau di bawa ke mana hidup saya. Oh iya, ngomong-ngomong tulisan ini saya buat ketika saya duduk menjadi seorang jr. landscape architect di suatu konsultan arsitektur di Jakarta dan berniat untuk melanjutkan studi ke jenjang berikutnya. Saya tidak mendapatkan beasiswanya tapi saya mendapatkan rezeki lain untuk melanjutkan studi di sini. Poinnya bukan tentang beasiswa ya, tapi bagaimana proses menulis essai ini menjadi satu turning poin yang baik bagi rencana kehidupan saya ke depannya. Ya, rencana kehidupan yang beririsan dengan mimpi-mimpi yang sangat menyenangkan ketika saya menulisnya bahkan untuk diceritakan pada orang-orang terkasih.

Jakarta, Juni 2015

Berkat dukungan, doa, dan semangat dari orang-orang terdekat saya, akhirnya saya memutuskan untuk meng-apply sebuah beasiswa yang sedang ramai dibicarakan di tanah air. Jujur saja rasa minder sempat menjadi kabut tebal selama proses melengkapi dokumen. Sungguh, Tuhan…. Kalau saja saya tahu lebih awal tentang ini semua, saya akan mempersiapkannya jauh-jauh hari, jauh-jauh tahun. Kesalahan saya adalah memimpikan ini tanpa merencanakannya, melihat, hingga mengecek. Padahal kalau saya gesit, saya sudah bisa start sejak 2 tahun sebelum pendaftaran dan mengetahui poin-poin apa saja yang diperlukan untuk mengisi kelengkapan dokumen ini. Tapi sudahlah, tidak ada gunanya penyesalan hidup itu. Nah…. Gimana kalau kita ngobrol perihal judul yang sudah saya tulis? Ya, bagaimana sebuah essai mengubah banyak pola pikir dan pola hidup saya sehari-hari hingga semakin semangat untuk memiliki sebuah tujuan hidup.

Persiapan sebelum hari submit berawal dari bulan Juni, di mana deadline jatuh di bulan Oktober. Memulai adalah hal yang paling berat. Its very true, dear. Sulit sekali rasanya mulai menulis essai. Essai dengan judul sangat simple ini merangkum perjalanan hidup kita. Terdapat tiga essai yang harus dikerjakan, tapi jujur saja, terdapat dua essai yang mampu membuat saya introspeksi diri.  Judul essai ini, “Sukses Terbesar Dalam Hidupku.” dan “Kontribusiku Untuk Indonesia.” Sebelum menulis essai, terdapat guideline poin-poin apa saja yang perlu kita jabarkan karena terbatasnya tulisan yang boleh kita tuangkan dalam beberapa halaman saja.

Essai I: Sukses terbesar dalam hidupku.

Hmm… Waktu menulis essai ini, saya sempat berpikir dan menegur diri sendiri “Bahkan saya tidak bisa menjabarikan definisi sukses untuk hidup saya selama lancar?” Hah? Calon penerima beasiswa yang seperti ini masih harus belajar untuk terus mengasah pikirannya agar lebih kritis dan mampu mengenal dirinya sendiri dengan baik. Saya tidak mau menyerah terhadap pikiran jelek, saya bunuh semua dan berusaha mendopping diri, “Kamu tidak se-useless itu Cha buat hidup kamu sendiri.” Setelah berkontemplasi (mau tidur, berangkat kerja, di kereta, hingga di kantor sedang kejar-kejaran deadline karena tim mau presentasi) akhirnya saya bisa menjabarkan sukses untuk hidup saya. Nah, yang menarik selama proses, saya berusaha mencatat rekam jejak hidup saya. “Saya sudah melakukan apa saja ya untuk diri sendiri dan lingkungan?” Di sinilah akan terlihat perjuangan kita yang tidak mudah dalam versi kita dan lagi akan terlihat di sisi mana sebenarnya kita belum optimal. Karena selama penulisan, kita akan sadar bahwa sebenarnya saat itu kita bisa memberikan sesuatu yang lebih, tapi karena ada faktor a, b, c, d, dan yang lainnya, akhirnya jadi tidak sesuai dengan target. Pelajarannya adalah ketika kita dihadapkan lagi dengan kondisi seperti itu, setidaknya kita sudah sadar dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Essai ini sebagai bahan koreksi diri, penghargaan terhadap diri sendiri. Tidak ada yang bersifat pamer, semua adalah kenyataan tentang apa yang memang telah kita lakukan. Hal-hal nyata yang telah kita lewati dan membentuk kita menjadi pribadi seperti ini. Dari essai ini saya menyadari bahwa saya sebenarnya on the track menuju mimpi saya hanya saja jalannya terjal dan kurang optimal menyebabkan banyak hal yang bisa saya lakukan jadi tidak sempat saya lakukan. What can I do next? Bayar itu semua! Kita masih muda, bayar semua yang kita rasa belum sempat optimal kita lakukan di masa-masa itu.

Essai II: Kontribusiku untuk Indonesia

Anak bangsa banget ya? Ah. Bagian terbaiknya, kamu jadi berusaha mencari tahu apa makna bangsa bagi dirimu sendiri, Nak. Setidaknya dia menyadarkan kita yang terkadang suka lupa bahwa kita hidup di Indonesia dan sudah melakukan apa saja untuk negara kita. Selain protes, hehe. Di essai ini kurang lebih sama dengan essai pertama, bedanya ini lebih rinci dan detail di kegiatan apa saja yang sudah pernah kita lakukan. Di sini kita bisa mengukur:

“Ooh kita udah pernah kaya gini, tapi kok ternyata belum pernah kaya gini ya?”

“Eh dulu pernah kegiatan kaya gini toh ternyata. Wah bermanfaat juga.”

“Loh kok dulu gak pernah ikut kegiatan ginian sih? Harusnya kan ikut!”

Kita diminta untuk menjabarkan mimpi kita tentang dan untuk Indonesia di masa depan dan langkah-langkah apa yang akan kita lakukan untuk mencapai mimpi itu. Ini bagian yang sangat seru! Ternyata pada saat bermimpi, menyusun plan untuk mencapai mimpi itu, di sinilah saya merasa, “inilah hidup. To live with your biggest dream ever!” Saya langsung merasa sangat hidup ketika sudah berbicara soal mimpi. Untuk menulis plan-plan yang begitu nyata dan ada di depan mata, plan-plan kecil namun implementatif yang membantu kamu mendekati mimpi kamu yang besar. Ini indah banget, serius.

Nah, ini adalah hikmah terbaik untuk saya di tahun ini. Hikmah saya yang pada akhirnya nekat mendaftar. Padahal kalau saya lihat dari rekam jejak essai saya, mungkin banyak yang lebih hebat dan berpengalaman dari saya, tapi sudahlah. Ada hikmah indah di balik mendaftarnya saya, salah satunya adalah hidup ini. Tulisan sederhana yang menjadi ajang introspeksi diri, merajut, dan melangkah untuk mendekati mimpi-mimpi yang tertulis. Sungguh kedua essai ini merubah sudut pandang, membuka pola pikir untuk terus berusaha mengkritisi setiap langkah yang akan kita ambil, dan yang terpenting adalah hidup saya memiliki visi dan misi yang jelas (akhirnya). Tentunya, kebahagiaan ini bukan tanpa rasa sakit. Kebahagiaan ini juga bukan akhir dari apa yang saya inginkan. Justru saya tahu, kebahagiaan untuk menyadari hal-hal ini akan diimbangi dengan perjuangan dan kerja keras pada akhirnya. Because my favourite quote is: “Nothing worth comes easy.”

——-

”Hai sayang, sesuatu yang indah tentu harus melalui yang susah-susah dulu, jadi harus semangat ya. Jangan menyerah di tengah jalan! Jangan pernah menyalahkan keadaan! Mungkin diri kamu sendiri yang belum bisa bekerja sama dengan baik bersama dirimu sendiri. Pasti ada sesuatu yang baik di balik kesusahan.”

——

Tips seru untuk yang sedang khawatir soal hidupnya mau dibawa ke mana:

1. Catat, tulis, hal-hal yang sudah kita lakukan selama (minimal) satu tahun terakhir. Koreksi, apakah ada hal-hal yang kurang berguna? Apakah ada sesuatu yang kita lewatkan? Apakah kita sudah bersyukur?

2. Catat, tulis, warnai (hihi) mimpi-mimpi kita! Tulis plan jangka panjang, misalnya sepuluh (10) tahun lagi saya ingin jadi apa, sepuluh (10) tahun lagi saya ada di mana.

3. Setelah menulis dua poin tersebut, ini poin yang terpenting: Tulis, jabarkan, catat hal-hal yang akan kita lakukan untuk mencapai hal-hal yang kamu jabarkan di atas. Tidak ada sesuatu yang gratisan. Tidak ada sesuatu yang instan. Jadi, lakukan effort terbaik yang bisa kita lakukan untuk menggapai itu semua. Tuhan tidak tidur dan akan selalu bersama orang-orang yang berusaha. Bahkan effort terkecil sekalipun akan ada hasilnya.

4. Jangan lupa bersyukur dan merasa cukup atas apa yang sudah diberi. Hal ini menghindari kita dari perasaan tidak bersyukur. Tapi, merasa cukup bukan berarti membuat kita tidak kreatif. Merasa cukup bukan berarti diam di zona nyaman, nanti kita tidak akan berkembang. Bersyukur yang baik diimbangi dengan tindakan serta usaha. (Saya sudah seperti motivator, padahal sesungguhnya diri sendiri mendapat banyak supply semangat dari circle kesayangannya).

Mungkin tips di atas bisa teman-teman lakukan daripada galau berhari-hari di kasur dan memikirkan “Saya mau jadi apa ya?” Catat dan tulis saja dulu, mungkin ini bisa dibilang sebuah langkah action. Kalau kata Raul Renanda di buku 99 untuk Arsitek, “Lakukan saja dulu, kalau salah ya diperbaiki, hal terbaiknya kita tahu bahwa kita sudah bergerak daripada hanya mengkhayal.”

Salam sayang, wish me luck and also, I wish a thousand luck for you all who want to move out from your comfort zone!

Tulisan ini saya tulis di tahun 2015 (umur 23 tahun) dan sunting di tahun 2017 (quarter life crisis saya, ya saya berusia 25 tahun). Ketika melihat kembali tulisan ini, saya merasa saat itu sangat bersemangat dan bahagia sekali menjalani setiap detik dari hari-hari saya. Saat itu juga belum memasuki fase usia seperti sekarang dan rasanya idealisme benar-benar menjadi satu kemewahan yang ada pada diri saya saat itu. Tapi, justru karena saya ‘berkunjung’ dan berusaha membagikan kembali kebahagiaan dan idealisme saya saat itu, saya merasa hari ini pun saya masih menjadi bagian dari apa yang saya tulis saat itu. Walaupun plan meleset, berbelok, terjal, dan sebagainya, saya bersyukur sekali masih memiliki keinginan untuk terus mewujudkannya.
Nah tulisan ini saya publish kembali untuk semua pribadi yang saya cintai dan untuk setiap jiwa yang memiliki semangat, waktu, dan kesempatan. Berkaryalah! Karena setiap inci di bumi ini adalah hal yang patut kita perjuangkan.

Mengapa Bercanda Berlebihan Itu Tidak Baik?

Processed with VSCO with k3 preset

tulisan ini dibuat sebagai upaya bentuk perbaikan diri seorang manusia sebagai makhluk sosial.

Saya termasuk orang yang cukup ekstrovert –dan juga sangat sensitif sebenarnya. Kesensitifan ini membuat sifat ekstrovert saya tertahan cukup banyak. Pasalnya, saya jadi tahu dan kadang sering berkaca “Ternyata diperlakukan begini itu tidak enak. Maka, saya harus begini.” Ketika saya sakit hati akan sesuatu, hal pertama yang saya lakukan adalah introspeksi, “Ini adalah akibat dari sebab yang pernah saya lakukan sepertinya. Semoga ketika saya berbuat sebab, orang yang bersangkutan tidak merasa sakit hati seperti apa yang saya rasakan saat ini.”

Salah satu hal cukup penting yang berusaha saya kontrol adalah bercanda. Bahwa benar adanya manusia tidak dalam kondisi terbaik setiap harinya. Tidak setiap hari pula manusia dapat menerima semua kritikan ataupun masukan dengan akal dan pikiran yang sehat atau stabil. Maka saya meminimalisir bercanda namun mencintai menyisipkan jokes receh di komunikasi saya dengan orang-orang. Bercanda di sini konteksnya dengan perkataan, sebutan, intonasi, dan lain sebagainya. Intinya, jokes yang mengarah pada merendahkan ataupun meledek. Cara Bapak Jokowi untuk dekat dengan masyarakat salah satunya adalah bercanda. Bisa kita lihat bahwa suasana yang kadang terlalu formal bisa menjadi cukup rileks ketika Bapak Jokowi mulai bercanda. Namun, saya sering melihat bahwa Bapak Jokowi bercanda dengan etika, maka itu bukan sembarang bercanda melainkan teknik untuk melepas penat dan membangun komunikasi dengan masyarakat lapisan manapun. Karena bercanda adalah salah satu cara untuk memasuki dunia dan komunikasi yang bisa dipahami oleh banyak layer.

Seringkali saya mendengar “Ih kan cuma bercanda.” “Serius banget, itu kan cuma bercanda.” Ya, tapi hati dan tujuan asli manusia tidak ada yang mengetahui. Upaya paling mudah untuk menghindari sakit hati adalah men-default kan pikiran kita bahwa “Tidak apa-apa, ini pasti hanya bercanda.” Lagi-lagi perlu saya tegaskan bahwa tidak semudah itu bisa men defaultkan pikiran. Terkadang hal yang menyedihkan adalah ketika bercanda dijadikan suatu alat untuk melakukan pembenaran, misal dari awal niatnya memang menyindir, tapi karena tahu lawan bicara tersinggung, dalihnya adalah “Saya kan niatnya cuma bercanda.” Lawan bicara sudah terlanjur sakit hati, nah ini yang tidak menyenangkan. Ketika sebuah niat menyenangkan orang berbuah menjadi benang yang semu di antara dua manusia.

Karena saya orang yang cukup sensitif, saya mengurangi interaksi secara berlebihan dengan menggunakan candaan karena sedikit takut bahwa suatu hari saya yang akan tersakiti dengan apa yang saya tanam sendiri. Tidak jarang saya mendengar teman saya sakit hati karena candaan teman-temannya. Teman-temannya bisa bilang itu bercanda, tapi tidak semua orang bisa menerima candaan tersebut. Mungkin bagi beberapa orang yang membaca tulisan ini akan menganggap saya punya tingkat bercanda yang rendah. Tidak, saya sangat suka bersosialisasi dan menemukan teknik yang tepat untuk menghadapi berbagai pribadi. Di sini saya menulis berbekal sebagai seorang pendengar yang seringkali mendengar kisah bagaimana candaan dapat membangun stereotype orang secara massal. Tentang bagaimana sebuah candaan yang belebihan dapat menyakiti lawan bicara kita tanpa sengaja.

Maka baiknya, dewasa ini kita cukup bijak baik dalam memaknai ‘candaan’ ataupun berkata untuk candaan supaya tidak berlebihan. Bahasa mudahnya, jangan bercanda dengan orang yang tidak suka bercanda berlebihan karena hal ini dapat menimbulkan efek yang kurang baik bagi sebuah tali persaudaraan. Bisa juga tidak bercanda saat kita sedang dituntut untuk serius karena hal ini sangat sering terjadi.  Di sini, kita diuji bahwa tidak bisa kita memperlakukan semua orang sama dengan kita yang mampu menerima candaan.