Afternoon Tough #1: People Change

DSCF5030

Sudah berapa lama ya rasanya menghilang dari dunia tulis menulis? Iya, lama. Jadi ceritanya saya baru sampai di Indonesia. Beberapa saat yang lalu sempat merasakan tinggal di beberapa kota tepatnya di negara Iran. Hampir satu bulan disana dan banyak sekali hal yang tiba-tiba terlintas di pikiran saya. Sore ini saya akan bercerita tentang satu pikiran yang sempat jadi bahan kontemplasi disana cukup lama: setiap orang pasti berubah ya.

Pemikiran ini tidak saya lemparkan karena saya menilai orang lain. Saya juga berkaca pada diri saya sendiri, apakah saya berubah? Ternyata jawabannya, iya. Banyak sekali perubahan dari diri saya. Nah, perubahan-perubahan ini terjadi bukan tanpa proses. Kalau dari saya pribadi, perubahan yang saya yakini menuju ke arah lebih baik ini terjadi karena rasa sakit yang terpendam menahun. Maka, ketika saya merasakan sakit, seringkali saya meminta pada Allah untuk terus dikuatkan. Saya tidak pernah meminta untuk tidak diberikan rasa sakit, tapi saya meminta untuk dikuatkan ketika rasa sakit itu menghampiri. Rasa sakit ini saya yakini sebagai ‘obat’ pengingat bahwa kita hanyalah manusia yang lemah, rapuh, dan part terpentingnya adalah… membuat saya tidak berharap berlebihan kepada manusia. Benar kata teman saya, ketika kita tidak berharap, maka matilah mimpi itu. Menurut saya, ekspetasi adalah salah satu bagian yang indah dari sebuah kehidupan. Ekspetasi membuat kita terus semangat, percaya bahwa harapan itu ada. Mungkin yang salah adalah ketika kita berekspetasi secara berlebihan, melebihi ekspetasi kita pada Allah. Nah.

Belakangan ini, saya merasa kecewa oleh banyak hal, terlebih halnya kepada manusia. Kecewa ini tidak lantas membuat hubungan silaturahmi saya rusak/putus begitu saja. Kecewa ini saya transfer menjadi energi positif dan suatu bahan bagi saya untuk belajar bagaimana cara memperlakukan manusia lain dengan sebaik-baiknya. Manusia memang tempatnya salah, begitupun orang-orang yang kita sayangi. Satu hal yang akhirnya saya pahami, mereka pasti berubah. Mereka bukan berulah, tapi mereka berubah. Dari satu pribadi yang kita yakini itu ada pada diri mereka hingga akhirnya menjadi pribadi yang mungkin ternyata sudah benar-benar berbeda dengan apa yang telah kita yakini. Kaget? Iya pasti. Kecewa? Mungkin iya, tapi tidak berlebihan. Lantas bermusuhan? Tidak. Ketika saya kecewa, saya titipkan segala rasa pada Allah dan semesta, biarlah Allah dan semesta yang bekerja. Apa yang terbaik adalah mempercayakan segala rasa sakit pada Allah dan tugas kita adalah tetap berpikir positif dan menjalani hari sebaik-baiknya.

Lantas di akhir, aku percaya bahwa ketika ada pribadi yang kita percayakan dan kita kecewa, itu hanya bagian dari sebuah proses. Proses pendewasaan bagi kami, kita, dan semua. Mungkin benar, tidak selamanya sebuah sosok bisa presisi di waktu dan ruang yang sama. Bisa saja memang, eksistensinya hanya presisi di saat itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih. Maka, selagi bisa berbuat sebaik-baiknya, silahkan memberikan yang terbaik. Ketika waktu sosok itu telah usai, kita tidak akan pernah menyesali apapun karena kita telah berbuat yang terbaik untuk siapapun itu.

 

Advertisements

Perspektif tentang Indeks Kebahagiaan Dari Pak Ridwan Kamil

Desain Arsitektur 4 - Site Survey at Graha Candi Golf, Semarang (2012)
Desain Arsitektur 4 – Site Survey at Graha Candi Golf, Semarang (2012)

happy/adj : feeling or expressing pleasure (oxford dictionaries)

bahagia/ba·ha·gia/ 1 n keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan): — dunia akhirat; hidup penuh –; 2 a

kebahagiaan/ke·ba·ha·gi·a·an/n kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yg bersifat lahir batin (KBBI)

Setiap orang memiliki definisi bahagia nya sendiri-sendiri. Ada orang yang hidupnya sederhana, pendapatan di bawah rata-rata, tapi ketika ia bertemu dengan kolega atau temannya, ia tetap bisa tersenyum dan berkata “semua baik-baik saja”. Contoh lain, ada yang pengusaha kaya raya tapi tinggal sendirian karena keluarganya sibuk, Ia mencoba melihat dari sisi yang lain. Ia melihat kesibukan keluarganya untuk masa depan yang lebih baik. Ia tetap berusaha menghubungi satu persatu keluarganya dengan tidak menyalahkan keadaan atas sebuah kesibukan. Ia bahagia akan itu. Ba-ha-gia.

Setiap orang memiliki hak untuk bahagia setelah ia melakukan kewajibannya. Setiap orang memiliki hak untuk bahagia meskipun ia berada di dalam keadaan terhimpit sekalipun. Bahagia adalah hak setiap insan di muka bumi ini.

——

Dalam dunia urban design, Ridwan Kamil memiliki presepsinya sendiri tentang kebahagiaan. Ridwan Kamil adalah walikota Kota Bandung yang selalu menyebutkan kata “indeks kebahagiaan” saat beliau meluncurkan program-programnya, membangun sebuah ruang bersama seperti taman, atau acara-acara lain yang bertujuan untuk memberikan kesenangan kepada masyarakat kota Bandung. Menurut RK, indeks kebahagiaan adalah sebuah teori baru yang berguna untuk mengetahui kemajuan sebuah wilayah di luar peningkatan ekonomi. Teori indeks kebahagiaan ini pertama kali diperkenalkan di Butan.

“Untuk mengukur kemajuan sebuah kota, dapat dilihat dari ekonomi namun bisa juga dilihat dari kebahagiaan. Ada orang yang hidup sederhana tetapi hidupnya tetap happy. Tantangannya adalah bisa atau tidaknya kita menguantifikasi hal yang abstrak itu menjadi sebuah hal yang eksak.” (regional.kompas.com)

RK memberi contoh pada saat acara culinary night yang sedang berkembang di Bandung, program ini memenuhi tiga unsur dalam peningkatan indeks kebahagiaan untuk sebuah kota. Tiga indeks kebahagiaan itu ialah saat orang itu sering tersenyum, sering disapa, dan menemukan hal baru.

“Pada saat culinary night, orang dapat tersenyum, menyapa, dan menemukan hal-hal yang baru. Tiga hal ini akan diterjemahkan dalam program-program baru pemerintah.” Namun RK menjelaskan bahwa program peningkatan indeks kebahagiaan masyarakat adalah sebuah teori baru yang akan diterapkan di Indonesia dan kota Bandung merupakan kota pertama yang akan mencoba mengadopsi teori tersebut. “Karena hal ini belum pernah ada dan akan menjadi sebuah inovasi. Tidak perlu hal yang terlalu wah, bisa jadi murah meriah, seperti pembangunan taman dan pengadaan acara-acara lain,” Ujar RK. (sumber: http://regional.kompas.com/read/2014/05/12/1608547/Kata.Ridwan.Kamil.tentang.Indeks.Kebahagiaan.di.Bandung)

——

Saya sepakat dengan Ridwan Kamil. Di saat kita mudah tersenyum, dalam artian tidak berwajah masam, senyum merupakan obat terampuh untuk kebahagiaan diri sendiri dan orang lain. Senyum dapat meningkatkan hormon bahagia ketika kita dirundung masalah. Percaya tidak percaya, saya sering menggunakan jurus ‘senyum’ ketika saya sedang lelah. Karena pada pasalnya, ketika kita berada dalam lingkungan yang sama-sama lelah (seperti pulang kerja), akan lebih enak melihat wajah orang yang tersenyum dan berseri bukan daripada yang berwajah masam? Ketika teori you will get what you deserve, maka ketika kita tersenyum, kita akan mendapatkan manfaat dari senyum itu sendiri. Jangan lupa senyum ketika tidak sengaja berinteraksi mata dengan sesama. Budi pekerti bangsa Indonesia sebagai bangsa yang ramah jangan sampai hilang. Senyum itu ibadah juga, apalagi terhadap orang-orang yang membutuhkan, jangan sampai melukai hatinya karena wajah kita terlihat sombong.

Lalu poin kedua, sering disapa. Di sini mungkin ditekankan bahwa interaksi langsung lebih baik daripada interaksi dunia maya. Ketika kita terlalu sering berinteraksi dengan gadget, interaksi pada dunia nyata akan berkurang. Saya berbicara seperti ini bukan berarti saya tidak terkena penyakit “gadget”, tapi saya sedang dalam tahap mengurangi penyakit itu. Minimal ketika kita satu meja dengan orang yang sedang tidak memegang gadget, usahakan jangan memegang gadget kecuali untuk mengecek hal-hal penting .Bila urgen, kita bisa izin terlebih dahulu kepada lawan bicara kita. “Maaf ya, Ibuku menelpon. Aku ansos sebentar ya.” Sopannya seperti itu.

Menemukan hal baru. Whoa! Thats my favourite. Ini benar sekali. Ketika kita menemukan hal baru, otomatis hormon bahagia dan rasa penasaran kita akan meningkat. Di sinilah perasaan ingin senyum-senyum akan muncul. Seperti ke tempat baru dan berkata “Wah ini keren ya!” atah datang ke event-event baru dan berteriak “Ini apa?! Kok seru banget.” Bahagia itu dari melihat hal-hal yang tidak pernah kita lihat sebelumnya. Jadi, sering-sering pergi ke public space atau minimal pergilah ke tempat-tempat yang baru, dalam kota juga tidak apa-apa. Diniatkan untuk mencari ilmu dan pengalaman baru, insya Allah jadi berkah.

Itu Indeks Kebahagiaan menurut Pak Ridwan Kamil yang coba saya terjemahkan dalam versi saya, dalam versi kebahagiaan saya yang telah saya alami sendiri. Bagaimana kebahagiaan menurut kamu? Apa tiga poin ini dapat meningkatkan indeks kebahagiaanmu? Senyum, interaksi, dan berhijrah (pergi mencari hal-hal baru yang bermanfaat dan menambah wawasan). Oh ya, adalagi indeks kebahagiaan keempat saya, dipeluk orang-orang tersayang.

Saya, Kamu, dan Kopi

Robbani baru ngasih lagu enak, yang nyanyi Katjie & Piering entah itu band darimana. Lagunya adem bener.

30 Oktober 2012. 01.31 WIB. Malang, suhu sedang (antara panas&dingin). Malam itu, bintang yang terlihat dari teras cuma dua, itu pun yang satu suka malu-malu, kadang terlihat kadang engga. Ditemani roti bakar dan segelas kopi susu, ga lupa background nya ada film The Amazing Spiderman. Selamat, engga bisa kasih apa-apa. Cuma bisa kasih coretan kaya anak kecil yang dibuat sungguh-sungguh dari jam 17.25-19.00, engga lupa coretan muka bulet-bulet yang engga sengaja dibuat pas lagi ngerjain Desain Arsitektur.

Iya, malam itu bisa dibilang malam sumuk buat Kota Malang, tapi kita menikmatinya. Duduk di spot favorit, di tempat itu, di sebelah kiri dari saya, saya dekat sekali sama lampu merah, dekat sekali dengan lampu jalan, dekat sekali dengan pohon. Bisa lihat motor lalu lalang dan mobil lalu lalang, lihat mobil dan motor berhenti di lampu merah, sesekali ketahuan siapa yang mau menyalip siapa yang tertib. Kadang sedang ngobrol super serius, ada motor yang knalpotnya berisik ngebut, persis di film-film yang orangnya engga denger lawannya lagi ngomong apa soalnya motor itu tiba-tiba lewat. Ah, saya sukaaa banget spot ini. Spot kesayangan saya di tempat ini, di mana saya bisa lihat berbagai hal menyebalkan jadi menyenangkan. Ya tentu engga lupa sama partner kesayangan saya yang lagi seneng hidupnya saya rusuhin. Waktu pulang, baru sampai rumah, saya turun dari kendaraan, menengadah ke atas, itu sekitar pukul 01.00 WIB, saya senyum saya bilang “ih bintangnya keliatan lebih banyak daritadi. Tau nggak? Pernah ketika keadaan langit di Malang super keren tuh, waktu satu Malang mati lampu dan langitnya lagi cerah banget, waktu aku liat dari teras atas, aku kaya lagi ada di planetarium, aku sampe bengong, langitnya keren banget! Bintangnya banyaaaaaaaaaak banget!! Itu langit berbintang terkeren yang pernah aku liat selama aku di Malang ini”

Malam ini saya cuma seneng, seneng soalnya masih hidup, masih bisa bernafas, masih diberikan kesempatan untuk menjadi lebih baik. Terima kasih ya Allah untuk hidup yang begitu indah :)

Repost from my Tumblr

Chit-Chat di Motor

a : gue paling seneng satu hal cong!
i : apaan?
a : lampu jalan
i : lha? kenapa dah?
a : gile! kuningnya keren banget, pengen gue bawa pulang satu aja!
i : haha kalo kata gue hal paling keren itu, aspal yang basah abis kena hujan terus kena lampu jalan!!! itu keren banget!!!
buat gue pribadi, arsitektur paling romantis dan paling indah itu datangnya dari perpaduan,melengkapi dan memberi, baik dari segi alam ataupun buatan. jadi, sekontras apapun perbedaan tentang alam dan buatan, tetap saja kalau saling melengkapi hasilnya bisa jadi luar biasa, bahkan dari hal sederhana tentang hujan & lampu jalan.

30 Oktober 2012. Kangen

Ibu, saya cuma mau bilang. Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal kepada saya. Bapak, saya cuma mau bilang terima kasih sudah menjaga putri bapak dengan sepenuh hati. Bapak Ibu, saya cuma mau berkata bahwa, saya, putri kalian, sangat mencintai kalian dengan setulus hati saya sebagai seorang anak. Bapak Ibu, di mana pun kelak kalian berada, entah siapapun yang akan mendahului, ketahuilah, sepanjang hari, sepanjang doaku, saya selalu ingat kalian. Kita berada di satu langit, kita masih berada di satu pulau, hanya jarak yang memisahkan kita, hanya kesibukan yang berbeda yang memisahkan. Seperti kata Pak Galih, kita memiliki ruang, ruangku dengan Bapak, ruangku dengan Ibu, ruang kita, Bapak, Ibu, dan Aku. Ya, dengan adanya ruang itu, saya jadi selalu percaya bahwa kalian selalu ada di dekat saya.

Bapak Ibu, sejauh nantinya raga berpisah, saya selalu berdoa, kita akan bertemu lagi kelak, di kehidupan selanjutnya. Jangan lupa dengan saya ya Bapak Ibu. Sejahat-jahat, seburuk-buruknya saya menjadi manusia, saya tetap sayang sama Bapak Ibu, kapanpun, karena Allah, saya mencintai Bapak Ibu setulus hati saya. Walaupun rasa antar manusia tidak abadi, saya selalu berdoa, rasa ini abadi dan saya masih bisa merasakannya nanti, amin. Bapak Ibu, maaf bila putri Bapak Ibu ini banyak mengecewakan, tapi Bapak Ibu tidak perlu khawatir, Bapak dan Ibu selalu mengajarkan hal yang benar kepada saya :’)

P.S I Love You and Always Be, Papa&Mama yang sedang di Jakarta&Bandung.

From, Marisa Sugangga, putri ke-3 dari 5 bersaudara yang sedang di Malang.

 

Repost from my Tumblr

Buat Annisa Dwi Astuti

Ga berniat ngabarin sahabat yang satu ini tentang posting ini, hehe…… Gatau kenapa, akhir-akhir ini lagi suka review ke belakang dan ada satu perasaan yang ngeganjel waktu inget seseorang, ya ini Annisa Dwi Astuti alias Tuti. Icha cuma mau bilang, maaf. Maaf ya ga ada waktu Tuti susah, waktu Tuti lagi berjuang selama setahun kemarin, rasanya kaya bener-bener lose contact yah? Apa cuma perasaan Icha aja. Tapi Icha yakin, Tuti ga berjuang sendirian. Sebenernya di tengah kesibukan nugas yang numpuk sejak masuk arsitektur, banyak hal-hal cukup penting yang lose gitu aja dari pikiran Icha. termasuk nemenin Tuti :) Inget ga? Dunkin Donuts Regina Pacis sempet jadi tempat favorit kita ngobrol dengan laptop Tuti dan wifi. Kadang-kadang kesel gara-gara wifinya lemot. Atau, ym? Tempat kita curhat-curhat dari hal penting sampe hal paling ga penting. McD? Waktu Tuti shock denger cerita Icha sama ……….. Hehehe….. Dan yang paling penting, sekret OSIS, tempat kita kabur kalo lagi bosen, tempat main waktu pulang sekolah sampe sore banget. Icha, ga pernah lupa itu semua loh. Tangga sebelah XI IPA 6, tempat Tuti sama Ifan dengerin Icha waktu Icha lagi down banget. Smsan sama Tuti, hal-hal ga penting. Ngurusin acara besar bareng. Unforgetable banget. Rasanya ya, kaya ga percaya sekarang bener-bener lose contact. Maaf ya Tuti, kalo ngerasa Icha nya lupa sama Tuti atau gimana hehe tapi ga mungkin sih, Icha yakin Tuti pasti orangnya positif thinking :D
Btw, selamat ya! Buat tempat terbaiknya di Psiko-UI. Inget ga? Kita pernah loh janjian bareng pengen di ITB, tapi ternyata, ITB bukan tempat terbaik buat kita yang dikasih oleh Allah SWT :) Icha denger kabar ini dari Twitter dan udah mention, gatau masuk apa engga, pokoknya selamat ya. Sukses & selamat jadi mahasiswa :p Yakin deh, Tuti bakalan jadi aktivis lagi kaya dulu, apalagi dunia perkuliahan tuh luas banget buat hal kaya gitu.
Sukses terus ya Tuth, lose contact bukan berarti Icha ga sayang lagi sama Tuti, bukannya Icha lupa sama Tuti :) Icha selalu inget, banget, soalnya Tuti kan pernah dan sampai sekarang selalu hadir di kehidupan Icha malah di saat-saat terberat Icha, mana mungkin Icha lupa? Makasih banyak yah. Oh iya, kalau masih suka blogwalking, sebenernya Icha lebih suka nulis kehidupan Icha di Malang via Tumblr ;) alamatnya bisa diliat di samping kanan, hehe. Kalau berminat baca :p

Terima kasih ya Allah, selalu menjaga Tuti seperti doa Icha daridulu. Terima kasih sudah menjawab doa & usahanya :)

I love you & always miss you Tuti, calon Psikolog ;)

Love,
Marisa Sugangga

Mahasiswa Sok Rajin

Bu Dosen: Ya, UTS nya Selasa pagi jam 8, ya!
Mity: Hah? Apaan? Apaan?
Ica: UTS. Jadi Selasa pagi, Mit
Mity: Oh it’s a good news
Ayong: Hah? Kok good news sih??
Ica: Ya kan waktu belajarnya jadi lebih lama
Ayong: O iya ya (nada serius banget)
Ica: Kaya belajar aja lu *muka nggak santai*
Ayong: *muka datar* wahahahaha *tau aja*