Secuil Cerita Perjalanan ke Pontianak

Processed with VSCO with c1 preset
Choi Pan/Cha Kue versi Jumbo yang saya makan di D’Bamboo. Best of the best!

Salah satu bagian yang tidak lepas dari pekerjaan saya adalah survei. Tiba-tiba saya dikabari bahwa saya harus mendatangi tiga kota yang akan ditinjau yaitu Cirebon, Pontianak, dan Jambi. Saat akan ke Pontianak, rasanya campur aduk (lebih ke senang tentunya). Pasalnya, saya baru saja ingin masakan khas Pontianak yaitu Cha Kue/Choi Pan. Iya, kue yang tambah booming karena film Aruna dan Lidahnya tersebut berhasil membuat saya berdoa sepanjang waktu agar dapat makan Choi Pang langsung di Pontianak. Oh iya, berbicara soal Choi Pan, makanan ini sebenarnya asli dari Singkawang dan menjadi makanan khas yang dimakan oleh orang-orang Tiongkok [1]. Tidak heran saat berkunjung ke restoran yang menjual Choi Pan di kota ini, akan banyak masyarakat Tiongkok yang memesan dalam jumlah berloyang-loyang!

 

Kota Bisnis Sejati

Processed with VSCO with c1 preset

Kedatangan saya ke kota ini tentu bukan jalan-jalan, itu hanya sambilan saja. Saya datang dalam rangka dinas untuk mengetahui pangsa pasar atau dalam dunia saya sering dikatakan sebagai survei market. Akhirnya perjalanan survei saya diawali dengan mengidentifikasi kegiatan apa saja yang dilakukan masyarakat pontianak di hari biasa dan saat pekan. Selain masyarakat, saya juga mengidentifikasi perilaku dari wisatawan yang datang ke Pontianak. Kebetulan kami datang saat perayaan Cap Go Meh, sungguh sebuah kejutan karena kami tidak merencanakannya. Jadilah banyak wisatawan yang sekedar transit di Pontianak untuk meneruskan perjalanan ke Kota Singkawang atau sekedar merayakan Cap Go Meh di Jalan Gajahmada, ruas jalan perdagangan yang terkenal di kota ini.

Processed with VSCO with c1 preset
Suasana Cap Go Meh di Jalan Gajahmada

Processed with VSCO with c1 preset

Karena akhir-akhir ini saya selalu merasa semua kota pada akhirnya di arahkan menuju kota wisata, saya mendapati hal yang berbeda di Pontianak. Saat survey ke berbagai dinas untuk wawancara, mereka dengan tegas berkata, “Kota ini tentu kota bisnis. Kita tidak punya sesuatu yang bisa ditawarkan sebagai objek wisata. Kebanyakan orang-orang datang untuk transit menuju Singkawang. Karena di Singkawang tidak ada bandara, mau tidak mau mereka harus turun di Bandara Supadio kan?”. Saat kami bertanya kira-kira ada potensi ke arah wisata, sebagian dari perwakilan dinas hanya berkata, “Tidak perlu, kita upgrade kota ini untuk kepentingan masyarakat saja. Memperbaiki kualitas ruang di sisi sungai untuk kehidupan mereka yang lebih baik. Tidak perlu dipaksa menjadi kota wisata cukup dengan kota bisnis dan transit saja.”

 

Akhir Pekan yang Sepi?

Berbeda dengan kebanyakan kota-kota besar di Indonesia, pusat perbelanjaan dan perdagangan Pontianak di akhir pekan cenderung sepi. Bahkan jumlah kendaraan bermotor menuju kota dari kabupaten pun relatif sepi bila dibandingkan dengan hari biasa. Hal ini terlihat di ruas jalan utama Ahmad Yani, yang menjadi jalan penyambung utama antara Kabupaten Kubu Raya dengan Kota Pontianak. Ternyata, masyarakat Kabupaten Kubu kebanyakan bekerja di Kota Pontianak dan saat akhir pekan, mereka lebih suka menghabiskan waktu di rumah untuk berakhir pekan bersama keluarga. Ini jelas berbeda bila dibandingkan dengan Jakarta atau Bandung. Bisa dengan mudah kita mengatakan ruas-ruas jalan menuju pusat perbelanjaan di Jakarta atau Bandung akan selalu ramai dan padat. Nah ternyata, yang ramai di Pontianak bukanlah pusat perbelanjaan melainkan tempat-tempat publik apalagi Alun-Alun Taman Kapuas yang disulap menjadi penuh tempat duduk dan bermain. Dengan modal Rp 15.000, kita bisa menaiki perahu dan mengelilingi Sungai Kapuas di sore hari. Kalau mau wisata gratisan, bisa saja tinggal duduk-duduk di pinggir taman lengkap dengan pemandangan Sungai Kapuas yang sudah pasti tidak bisa kita dapatkan saat di Pulau Jawa. Hal lucu lain yang saya temukan adalah konsep PKL (Pedagang Kaki Lima) yang ada di bantaran sungai. Mereka tidak berjualan di tepi jalan lagi tapi warung mereka benar-benar mengapung di atas sungai. Ombak yang besar tidak berpengaruh, mereka tetap asyik jualan membakar jagung dan melayani pembeli dari warung unik mereka.

Processed with VSCO with c1 preset
Pedagang Kaki Lima yang aku nobatkan menjadi PKL super tahan ombak

 

The Real Shophouses dan Culture ‘Ngopi’

Bicara tentang Arsitektur, terdapat hal yang mencuri perhatian saya selama di Pontianak. Ya, tentang ruko-ruko yang begitu hidup terutama di kawasan perdagangan Pontianak. Pada ruas Jalan Gajahmada/Jalan Tanjung Pura, kita akan disambut oleh ruko-ruko berlanggam lama. Menariknya, lantai dua hingga tiga pada bangunan ruko ini benar-benar dijadikan hunian oleh penghuninya. Tidak sekedar menjadi toko yang akan tutup di malam hari dan buka saat pagi. Tidak heran saat pagi kita akan mendapati penghuninya sedang ‘nongkrong’, jemur baju, kipas-kipas, dan melakukan ragam kegiatan yang bisa dilakukan di balkon. Beruntungnya lagi, saat perayaan Cap Go Meh lengkap dengan naga-naga yang berjalan di sepanjang jalan tersebut, masyarakat yang berpenghuni di ruko bisa menyaksikan dari lantai dua rumah mereka. Sungguh pemandangan yang sangat eksklusif.

Processed with VSCO with c1 preset
Lantai dua dari ruko yang masih berfungsi sebagai balkon

Selain arsitektur ruko yang masih berfungsi dengan baik, kedai kopi kekinian di Kota Pontianak tidaklah ramai. Tentu, kedai kopi legendaris seperti Asiang dan Kopi Aming lebih mencuri perhatian bagi para pecinta kopi dan wisatawan seperti kami. Cukup dengan satu gelas kopi dan colokan, penuh sudah tempat ngopi tersebut. Berbeda dengan Kopi Asiang yang menjaga autentisitasnya dengan tidak membuka cabang atau menjual produknya di tempat lain, Kopi Aming justru merambah pasar sekelas Indomaret/Alfamart dan membuka gerainya di Mall Transmart, Kubu Raya. Saat pulang melalui bandara pun, kita dapat membawa pulang Kopi Aming yang segar dengan menggunakan gula aren. Ya, kopi-kopi ini tentu buka sejak subuh dan ramainya pun sejak warung ini dibuka. Ajaib sekali bukan? Budaya ngopi ini tidak hanya ada di kalangan remaja, tapi justru kalangan tua, bapak atau pun ibu, semua suka ngopi di Pontianak. Tak heran kota ini dipanggil Kota Seribu Kedai Kopi (selain sebutan Kota Seribu Sungai yang sama terkenalnya).

Kopi susu gula aren di Aming Coffee

Masyarakat Sungai

Akhir kata, saya sangat berbahagia dapat mengabadikan banyak hal tentang Kota Pontianak. Kota yang masih menggunakan sungai sebagai jalur transportasinya untuk menyebrang. Tidak hanya manusia, tapi juga terdapat penyebrangan untuk mobil-mobil kecil dan motor yang bisa kita lihat prosesnya saat kita berkunjung ke Alun-Alun Kapuas. Seperti sejarahnya, masyarakat Pontianak tidak bisa lepas dari sungai karena pasalnya kota ini pun berkembang dari tepian sungai hingga mekar keluar. Bila melihat dari satelit, pada sisi-sisi terluat sungai, kita akan mendapati jalan-jalan grid persegi panjang. Hal ini dikarenakan permukiman dan jalan lingkungan mulai tumbuh pada area persawahan di sisi selatan Kota Pontianak. Sebab sungai inilah, kota ini dapat berkembang. Pasalnya, sungai merupakan sumber kehidupan di Pulau Kalimantan dan menjadi sarana transportasi antar daerah [2]. Bahkan dari Ketapang hingga Pontianak, selain jalur darat, kita dapat mencapainya dengan jalur sungai! Menarik bukan?

End.

 

Referensi

[1] https://www.idntimes.com/food/dining-guide/naufal-dzulhijar/choi-pan-makanan-khas-singkawang-yang-wajib-kalian-coba-exp-c1c2/full

[2] Kusnoto, Yuver dan Yulita Dewi P. (2018). Permukiman Awal Sungai Kapuas. SOCI: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 15, No. 1 Tahun 2018 hal. 71-78