Afternoon Talk: Kita Dalam Skenario Orang Lain

Tidak terasa liburan telah tiba. Oh My… Kayak engga percaya gitu sih sebenernya kalau semester 3 sudah selesai saya lewati. Di akhir tahun ini saya mendapatkan banyak-banyak-banyak pelajaran yang membuat saya menjadi pribadi yang ‘baru’ dan insya Allah lebih bijak dalam menilai sesuatu. Di hari terakhir pengumpulan tugas, sore ini didedikasikan untuk keluar bersama Bima. Bima itu teman SMA, teman satu OSIS, yang dulunya kita engga deket (sama sekali, cuma tahu dan paling ngobrol seadanya). Ternyata pas kuliah S2, kita sekelas, sejurusan, dan sempat sekelompok satu kali di studio pertama. Saya selalu merasa, dia adalah pribadi yang sangat unik dan terengga peka di circle saya.

“Pengen burger, Cha”
“Ayok!”

Bandung lagi macet banget, apalagi ruas jalan Dago yang menjadi salah satu ruas utama di kota ini, jadi engga usah heran kenapa kok ini jalan bisa macet. Cuaca hari ini tergolong cerah sekali. Sambil ketawa-ketawa, kita menerobos Bandung yang anginnya sedang ramah (sepertinya sih menyambut hati kita yang sedang berbahagia). Bima sempat mainan dan menertawakan kenapa warna helm (pink) saya norak banget, bikin mata silau, tapi karena yang pakai saya jadi ya sudah biasa. Dari Bima, banyak sudut pandang menarik yang hampir tidak pernah saya dapat dari orang lain. He’s someone from out there, not from our world sih kayaknya.

Sore ini kita ngobrol, saya cerita kalau kemarin baru nonton film ‘Imitation Game’. Film yang diangkat dari kisah nyata seorang figur yang namanya Alan Turing ini sempat membuat saya mindblowing selama satu hari karena kesal. Kenapa kesal? Ternyata segala sesuatu itu, bahkan pikiran, bisa direkayasa. Walaupun satu dari sejuta percobaan kita untuk merekayasa itu baru bisa berhasil, tapi ternyata ada aja yang berusaha atau mencoba untuk bermain sama pikiran kita agar mendapatkan tujuan yang dia inginkan. Secara tidak sadar, ternyata kita bener-bener bisa ada di posisi yang dia ‘rencanakan’ untuk kita, tapi totally kita engga sadar kalau ternyata itu sudah dia arahkan. Wah gila sih ini, entah ini gila atau saya yang tidak pernah mencoba untuk seperti itu.

“Kadang gue suka bingung gitu sih, Cha. Padahal kenyataannya A, tapi kita bisa dihadapkan sama orang yang luwes banget ngomongnya dan bikin seolah-olah kenyataannya adalah B. Dulu gue pernah dihadapkan sama orang yang kaya gitu. Itu bukan kebetulan sih, itu bisa dilihat dari jawaban kita ketika kita nanggepin dia. Gestur kita juga bakal keliatan sama si orang yang merencanakan itu. Ketika gestur kita A, dia akan jawab apa. Ketika gestur kita B, dia akan bertindak apa. Gue sendiri belum bisa sampe ke tahap kaya gitu sih, karena kalau gue ya ngalir aja gitu orangnya, jarang pake rencana.”

“Ya kan sama aja kaya gue. Gue kan bukan tipikal yang bakal tahu isi labirin otak lu apa. Bukan orang yang akan nge-set keadaan kaya apa untuk mendapatkan tujuan yang gue mau. Gue juga belum tahu bisa di mana gue blocking jalan dalam labirin otak lu karena gue juga gak berusaha memetakan labirin lu dalam otak gue. Oke, misalnya gue punya satu harapan atas kondisi yang gue ciptakan. Tapi buat gue, ya harapan itu jadi harapan aja bukan jadi satu tujuan yang ingin gue dapatkan di kondisi yang gue ciptakan saat itu. Fleksibel gitu sih, over flexible but iam not a dead fish flows with the stream juga. Ya gitulah, ngerti kan yang gue maksud? Gue semakin merasa dunia yang gue jalanin ini cuma secuil dari dunia yang sebenernya. Banyak banget orang pinter di luar sana yang bisa mengoptimalkan otaknya untuk memetakan isi otak orang lain ke dalam otaknya sendiri.”

Terus kita berdua sama-sama bengong, lebih ke diem. Kita mikir apa kita pernah ya jahatin orang sampe masukin orang itu ke dalam skenario hidup kita untuk mencapai tujuan kita? Sebenernya gapapa sih kalau kita masukin dia jadi peran yang menguntungkan untuk dia juga, tapi kalau engga, gimana? Dia rugi dong kalau sampai tujuan kita tercapai?

Keseimbangan memang tidak memungkinkan untuk kita menaikan segala variabel dalam kehidupan kita menjadi positif semua. Namanya juga keseimbangan, yang artinya kamu membutuhkan positif dan negatif dalam dunia kamu. Sama seperti dunia ini kan, ada kutub utara ada kutub selatan. Kita emang kadang tidak sadar kalau ternyata kita ada di skenario terburuk seseorang, tapi secara tidak sadar kamu menjadi penyeimbang dalam upaya dia menyeimbangkan kehidupannya. Obrolan ini memang agak absurd sih karena intangible, sesuatu yang tidak bisa kita pegang, erat sekali kaitannya dengan logika dan perasaan. Kembali lagi ke mana kamu akan lebih condong, logika, perasaan, atau berusaha menyeimbangkan keduanya? Lagi-lagi urusan keseimbangan kan? Ah, omong kosong apa ini.

Akhir dari obrolan sebelum liburan ini adalah mau seberat apapun, di manapun kita pada skenario hidup seseorang, jangan sampai kita jadi pribadi yang tidak kritis. Terkadang kita perlu mengkritisi sesuatu agar kita menggunakan akal kita dalam menghadapi dunia -yang semakin keras namun semakin indah- ini. Tidak bisa juga kita langsung men-judge orang yang perilakunya A dia pasti A juga. Orang yang perilakunya A, bisa disebabkan oleh kehidupannya yang BCDEF dst. Terlalu banyak faktor dan yang paling penting, kalau sudah bawa perasaan sekali, nah ini yang suka membuat kita jadi buta sama sesuatu. Sebenarnya apa yang berlebihan kan tidak baik, jangan sampai terlalu logika banget tapi tidak pakai perasaan juga, perasaan dihembuskan pada kita karena kita adalah manusia (ini harus diingat sekali). Terlalu pakai perasaan sekali juga jangan, nanti kita akan buta sama segalanya. Ini adalah tulisan konsep yang sangat mudah kita bicarakan sih, baik saya dan Bima pun masih sama-sama belajar. Cara belajarnya memang tidak bisa sendiri, dukungan dan sudut pandang dari teman-teman sangat membantu kita untuk mendapatkan berbagai macam pijakan untuk membentuk pola pikir dan sikap kita terhadap sesuatu. Jadi, sering-sering berdiskusi dengan teman dan carilah teman yang tidak sepandangan dengan kita, dari situlah kita mendapatkan banyak inputan. 

“Kehadiran seseorang yang berbeda sekali dengan kita itu emang bukan suatu petaka kok. Justru kadang kita merasa dilengkapi oleh keberadaan orang itu kan. Selama tujuannya masih sama, engga ada perbedaan yang perlu diperdebatkan.”

Terima kasih Desember, terima kasih Bima, terima kasih Bandung.

“Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.” – Imam Syafi’i. Selamat belajar memanusiakan manusia!

Advertisements

2 thoughts on “Afternoon Talk: Kita Dalam Skenario Orang Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s