Si Absurd: Cinta

Processed with VSCO with s2 preset

Sebenarnya bukan pribadi yang paham betul apa itu cinta? Karena kemarin sempat beberapa teman meminta untuk dibahas, maka saya akan membahasnya di sini. Semoga memberikan berkah bagi siapapun yang membacanya.

Buat Marisa, cinta itu apa ya?

Dia itu absurd, intangible, dan hanya dapat saya rasakan. Dia bisa melemahkan, menjatuhkan, menguatkan, bahkan membuat pekerjaanmu selesai dalam sekejap. Ya, terkadang ia bisa menjadi moodbooster terbaik. Gagal cinta secara harfiah yang pernah saya rasakan tidak lantas membuat saya menjadi lemah. Saya suka mentransformasikan hal-hal ‘sedih’ tersebut ke dalam sebuah produktivitas, entah tugas, tulisan, ataupun karya yang lain.

Sedih karena cinta itu wajar?

Wajar sekali. Saya pernah merasakannya, rasanya sedih. Mungkin ketidaknyamanan itu yang membuat kita semua tidak pernah siap dengan sebuah kegagalan/perpisahan. Rasa tidak nyaman ini lantas melekat di hati berhari-hari dan membuat semua rasanya menjadi abu-abu. Benar salah kita tidak tahu, logika dan perasaan sulit diimbangi. Ya, saya pernah berada di situ. Bagi saya, hal ini terjadi secara fluktuatif, naik turun secara cepat. Dapat sedih dengan cepat sekali begitupun dengan rasa senangnya. Tapi sekali lagi, sedih karena cinta itu sangat wajar. Karena itu ketika ada teman yang patah hati dan ingin bercerita, jangan dibilang lemah ya. Kekuatan hati dan pikiran tiap pribadi tidak sama, silahkan menjadi tempat mereka bersandar.

Pernah merasakan cinta platonik?

Pernah!!! Wah ini semangat sekali ya menjawabnya. Di sini cinta platonik yang saya maksud adalah cinta yang tulus sebagai sahabat. Benar-benar tulus dan tidak menginginkan lebih dari itu. Bukan sebuah hubungan pacaran namun sebuah relasi yang sangat efektif di mana di dalamnya tidak ada unsur-unsur ketertarikan secara seksual. Bagi saya, cinta platonik terjadi saat saya berada di Sekolah Menengah Pertama (SMA) dan orangnya kemarin baru saja menikah. Saya memanggilnya Kakak, rasanya haru sekali saat dia menikah. Saat acara pemberian pesan dan kesan, saya menahan tangis di hari bahagianya. Hal yang saya ucapkan adalah, “Kami tidak pernah berhubungan secara intens, dia di Solo dan saya di Malang. Lucunya, kami sering mengalami kejadian yang sama. Saat salah satu dari kami sedih, kami akan berkomunikasi saat itu juga via telpon ataupun sms. “ Tidak banyak dan memang tidak perlu banyak orang untuk mengetahui bagaimana hubungan persahabatan laki-laki dan perempuan ini bisa bertahan hinggai hampir 8 tahun. Sebenarnya sama halnya dengan persahabatan saya dengan salah seorang teman saya yang sedang bersekolah di Belanda. Kemarin dia menghilang dan saya mengkhawatirkannya hingga menelponnya. “Saya selalu merasa, kita tidak perlu terlalu banyak bicara untuk saling memahami. Cukup melihat wajahmu saja, saya sudah tahu masalah seberat apa yang sedang kamu lalui.” Iya, mungkin hubungan cinta platonic yang paling saya rasakan adalah bersama kedua orang ini.

Hal yang paling bikin sedih?

Dibohongin. Eh, tegas banget ya. Nggak juga sih, mungkin karena basic saya orangnya sangat extro, terbuka sekali kalau sudah menjalin hubungan dengan seseorang. Apapun detil itu selalu saya ceritakan. Kadang kalau saya mendapati sebuah kebohongan, saya jadi sedih. Padahal kita kan tidak bisa menyamakan persepsi seseorang atau membuat orang itu jadi seperti apa yang saya mau, apalagi kalau dasar hubungannya belum jelas seperti pacaran. Kalau masih dalam taraf hubungan seperti ini, justru biarkan saja dia jadi apa adanya dengan begitu kita bisa saling menilai. Hal yang sulit kan ketika kita sudah menikah, kita tidak bisa lagi berpisah apalagi kalau alasannya bukan soal prinsip atau cuma sekedar bosan. Karena bagian menyakitkan adalah ketika kita menyayanginya dengan setulus hati, tapi itu tidak berbalas. Ketika lisan berkata ya, belum tentu hati berkata yang sama. Kalau saya lebih suka mejalani cerita yang dua-duanya sama-sama iya, lisan iya hati iya (yaiyalah, semua orang juga begitu). Tapi kebanyakan sekarang, saya mendapati cerita-cerita hubungan teman-teman saya yang kurang baik dengan lawannya. Untuk saya, hak mereka saja untuk mempertahankan. Toh, mereka yang menjalani. Tapi ketika ada kebohongan di dalamnya, saya hanya bisa tersenyum pada teman-teman saya. Saya selalu berkata pada mereka, berilah cinta yang baik terhadap lawanmu, nanti cinta itu akan berbalas entah dari mana datangnya. Bila bukan dari dia, maka jangan bersedih. Hal itu menyelamatkanmu dan dia, kalian berdua saling menyelamatkan karena ya… Tidak perlu berlama-lama dalam hubungan yang ternyata bukan ditakdirkan untuk bersama. Semangat!” Kalimat penguat ini sebenarnya datangnya ya dari saya sendiri untuk menguatkan diri saya juga.

Di penghujung obrolan bersama secangkir kopi, saya dan teman saya berkata, “Ngomongin perasaan memang tidak ada matinya, ujungnya juga tidak jelas. Lebih baik kita ngomongin isu lain, agama misalnya?” Karena teman diskusi adalah teman berpikir yang paling baik dan membentuk otak kita. Tapi ya, kalau soal SARA saya tidak mau bahas, takut. Jadi kalau ingin ngobrol soal SARA sama saya harus secara langsung ya. Semoga ini menjawab penasarannya teman-teman pembaca Kalamona. See you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s