Mengapa Bercanda Berlebihan Itu Tidak Baik?

Processed with VSCO with k3 preset

tulisan ini dibuat sebagai upaya bentuk perbaikan diri seorang manusia sebagai makhluk sosial.

Saya termasuk orang yang cukup ekstrovert –dan juga sangat sensitif sebenarnya. Kesensitifan ini membuat sifat ekstrovert saya tertahan cukup banyak. Pasalnya, saya jadi tahu dan kadang sering berkaca “Ternyata diperlakukan begini itu tidak enak. Maka, saya harus begini.” Ketika saya sakit hati akan sesuatu, hal pertama yang saya lakukan adalah introspeksi, “Ini adalah akibat dari sebab yang pernah saya lakukan sepertinya. Semoga ketika saya berbuat sebab, orang yang bersangkutan tidak merasa sakit hati seperti apa yang saya rasakan saat ini.”

Salah satu hal cukup penting yang berusaha saya kontrol adalah bercanda. Bahwa benar adanya manusia tidak dalam kondisi terbaik setiap harinya. Tidak setiap hari pula manusia dapat menerima semua kritikan ataupun masukan dengan akal dan pikiran yang sehat atau stabil. Maka saya meminimalisir bercanda namun mencintai menyisipkan jokes receh di komunikasi saya dengan orang-orang. Bercanda di sini konteksnya dengan perkataan, sebutan, intonasi, dan lain sebagainya. Intinya, jokes yang mengarah pada merendahkan ataupun meledek. Cara Bapak Jokowi untuk dekat dengan masyarakat salah satunya adalah bercanda. Bisa kita lihat bahwa suasana yang kadang terlalu formal bisa menjadi cukup rileks ketika Bapak Jokowi mulai bercanda. Namun, saya sering melihat bahwa Bapak Jokowi bercanda dengan etika, maka itu bukan sembarang bercanda melainkan teknik untuk melepas penat dan membangun komunikasi dengan masyarakat lapisan manapun. Karena bercanda adalah salah satu cara untuk memasuki dunia dan komunikasi yang bisa dipahami oleh banyak layer.

Seringkali saya mendengar “Ih kan cuma bercanda.” “Serius banget, itu kan cuma bercanda.” Ya, tapi hati dan tujuan asli manusia tidak ada yang mengetahui. Upaya paling mudah untuk menghindari sakit hati adalah men-default kan pikiran kita bahwa “Tidak apa-apa, ini pasti hanya bercanda.” Lagi-lagi perlu saya tegaskan bahwa tidak semudah itu bisa men defaultkan pikiran. Terkadang hal yang menyedihkan adalah ketika bercanda dijadikan suatu alat untuk melakukan pembenaran, misal dari awal niatnya memang menyindir, tapi karena tahu lawan bicara tersinggung, dalihnya adalah “Saya kan niatnya cuma bercanda.” Lawan bicara sudah terlanjur sakit hati, nah ini yang tidak menyenangkan. Ketika sebuah niat menyenangkan orang berbuah menjadi benang yang semu di antara dua manusia.

Karena saya orang yang cukup sensitif, saya mengurangi interaksi secara berlebihan dengan menggunakan candaan karena sedikit takut bahwa suatu hari saya yang akan tersakiti dengan apa yang saya tanam sendiri. Tidak jarang saya mendengar teman saya sakit hati karena candaan teman-temannya. Teman-temannya bisa bilang itu bercanda, tapi tidak semua orang bisa menerima candaan tersebut. Mungkin bagi beberapa orang yang membaca tulisan ini akan menganggap saya punya tingkat bercanda yang rendah. Tidak, saya sangat suka bersosialisasi dan menemukan teknik yang tepat untuk menghadapi berbagai pribadi. Di sini saya menulis berbekal sebagai seorang pendengar yang seringkali mendengar kisah bagaimana candaan dapat membangun stereotype orang secara massal. Tentang bagaimana sebuah candaan yang belebihan dapat menyakiti lawan bicara kita tanpa sengaja.

Maka baiknya, dewasa ini kita cukup bijak baik dalam memaknai ‘candaan’ ataupun berkata untuk candaan supaya tidak berlebihan. Bahasa mudahnya, jangan bercanda dengan orang yang tidak suka bercanda berlebihan karena hal ini dapat menimbulkan efek yang kurang baik bagi sebuah tali persaudaraan. Bisa juga tidak bercanda saat kita sedang dituntut untuk serius karena hal ini sangat sering terjadi.  Di sini, kita diuji bahwa tidak bisa kita memperlakukan semua orang sama dengan kita yang mampu menerima candaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s