Betapa Essai Itu Merubah Hidupku

IMG_1018

Ini postingan bergenre pengalaman, santai tapi serius. Mungkin akan bermanfaat untuk yang galau akan ‘mau di bawa ke mana hidup saya. Oh iya, ngomong-ngomong tulisan ini saya buat ketika saya duduk menjadi seorang jr. landscape architect di suatu konsultan arsitektur di Jakarta dan berniat untuk melanjutkan studi ke jenjang berikutnya. Saya tidak mendapatkan beasiswanya tapi saya mendapatkan rezeki lain untuk melanjutkan studi di sini. Poinnya bukan tentang beasiswa ya, tapi bagaimana proses menulis essai ini menjadi satu turning poin yang baik bagi rencana kehidupan saya ke depannya. Ya, rencana kehidupan yang beririsan dengan mimpi-mimpi yang sangat menyenangkan ketika saya menulisnya bahkan untuk diceritakan pada orang-orang terkasih.

Jakarta, Juni 2015

Berkat dukungan, doa, dan semangat dari orang-orang terdekat saya, akhirnya saya memutuskan untuk meng-apply sebuah beasiswa yang sedang ramai dibicarakan di tanah air. Jujur saja rasa minder sempat menjadi kabut tebal selama proses melengkapi dokumen. Sungguh, Tuhan…. Kalau saja saya tahu lebih awal tentang ini semua, saya akan mempersiapkannya jauh-jauh hari, jauh-jauh tahun. Kesalahan saya adalah memimpikan ini tanpa merencanakannya, melihat, hingga mengecek. Padahal kalau saya gesit, saya sudah bisa start sejak 2 tahun sebelum pendaftaran dan mengetahui poin-poin apa saja yang diperlukan untuk mengisi kelengkapan dokumen ini. Tapi sudahlah, tidak ada gunanya penyesalan hidup itu. Nah…. Gimana kalau kita ngobrol perihal judul yang sudah saya tulis? Ya, bagaimana sebuah essai mengubah banyak pola pikir dan pola hidup saya sehari-hari hingga semakin semangat untuk memiliki sebuah tujuan hidup.

Persiapan sebelum hari submit berawal dari bulan Juni, di mana deadline jatuh di bulan Oktober. Memulai adalah hal yang paling berat. Its very true, dear. Sulit sekali rasanya mulai menulis essai. Essai dengan judul sangat simple ini merangkum perjalanan hidup kita. Terdapat tiga essai yang harus dikerjakan, tapi jujur saja, terdapat dua essai yang mampu membuat saya introspeksi diri.  Judul essai ini, “Sukses Terbesar Dalam Hidupku.” dan “Kontribusiku Untuk Indonesia.” Sebelum menulis essai, terdapat guideline poin-poin apa saja yang perlu kita jabarkan karena terbatasnya tulisan yang boleh kita tuangkan dalam beberapa halaman saja.

Essai I: Sukses terbesar dalam hidupku.

Hmm… Waktu menulis essai ini, saya sempat berpikir dan menegur diri sendiri “Bahkan saya tidak bisa menjabarikan definisi sukses untuk hidup saya selama lancar?” Hah? Calon penerima beasiswa yang seperti ini masih harus belajar untuk terus mengasah pikirannya agar lebih kritis dan mampu mengenal dirinya sendiri dengan baik. Saya tidak mau menyerah terhadap pikiran jelek, saya bunuh semua dan berusaha mendopping diri, “Kamu tidak se-useless itu Cha buat hidup kamu sendiri.” Setelah berkontemplasi (mau tidur, berangkat kerja, di kereta, hingga di kantor sedang kejar-kejaran deadline karena tim mau presentasi) akhirnya saya bisa menjabarkan sukses untuk hidup saya. Nah, yang menarik selama proses, saya berusaha mencatat rekam jejak hidup saya. “Saya sudah melakukan apa saja ya untuk diri sendiri dan lingkungan?” Di sinilah akan terlihat perjuangan kita yang tidak mudah dalam versi kita dan lagi akan terlihat di sisi mana sebenarnya kita belum optimal. Karena selama penulisan, kita akan sadar bahwa sebenarnya saat itu kita bisa memberikan sesuatu yang lebih, tapi karena ada faktor a, b, c, d, dan yang lainnya, akhirnya jadi tidak sesuai dengan target. Pelajarannya adalah ketika kita dihadapkan lagi dengan kondisi seperti itu, setidaknya kita sudah sadar dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Essai ini sebagai bahan koreksi diri, penghargaan terhadap diri sendiri. Tidak ada yang bersifat pamer, semua adalah kenyataan tentang apa yang memang telah kita lakukan. Hal-hal nyata yang telah kita lewati dan membentuk kita menjadi pribadi seperti ini. Dari essai ini saya menyadari bahwa saya sebenarnya on the track menuju mimpi saya hanya saja jalannya terjal dan kurang optimal menyebabkan banyak hal yang bisa saya lakukan jadi tidak sempat saya lakukan. What can I do next? Bayar itu semua! Kita masih muda, bayar semua yang kita rasa belum sempat optimal kita lakukan di masa-masa itu.

Essai II: Kontribusiku untuk Indonesia

Anak bangsa banget ya? Ah. Bagian terbaiknya, kamu jadi berusaha mencari tahu apa makna bangsa bagi dirimu sendiri, Nak. Setidaknya dia menyadarkan kita yang terkadang suka lupa bahwa kita hidup di Indonesia dan sudah melakukan apa saja untuk negara kita. Selain protes, hehe. Di essai ini kurang lebih sama dengan essai pertama, bedanya ini lebih rinci dan detail di kegiatan apa saja yang sudah pernah kita lakukan. Di sini kita bisa mengukur:

“Ooh kita udah pernah kaya gini, tapi kok ternyata belum pernah kaya gini ya?”

“Eh dulu pernah kegiatan kaya gini toh ternyata. Wah bermanfaat juga.”

“Loh kok dulu gak pernah ikut kegiatan ginian sih? Harusnya kan ikut!”

Kita diminta untuk menjabarkan mimpi kita tentang dan untuk Indonesia di masa depan dan langkah-langkah apa yang akan kita lakukan untuk mencapai mimpi itu. Ini bagian yang sangat seru! Ternyata pada saat bermimpi, menyusun plan untuk mencapai mimpi itu, di sinilah saya merasa, “inilah hidup. To live with your biggest dream ever!” Saya langsung merasa sangat hidup ketika sudah berbicara soal mimpi. Untuk menulis plan-plan yang begitu nyata dan ada di depan mata, plan-plan kecil namun implementatif yang membantu kamu mendekati mimpi kamu yang besar. Ini indah banget, serius.

Nah, ini adalah hikmah terbaik untuk saya di tahun ini. Hikmah saya yang pada akhirnya nekat mendaftar. Padahal kalau saya lihat dari rekam jejak essai saya, mungkin banyak yang lebih hebat dan berpengalaman dari saya, tapi sudahlah. Ada hikmah indah di balik mendaftarnya saya, salah satunya adalah hidup ini. Tulisan sederhana yang menjadi ajang introspeksi diri, merajut, dan melangkah untuk mendekati mimpi-mimpi yang tertulis. Sungguh kedua essai ini merubah sudut pandang, membuka pola pikir untuk terus berusaha mengkritisi setiap langkah yang akan kita ambil, dan yang terpenting adalah hidup saya memiliki visi dan misi yang jelas (akhirnya). Tentunya, kebahagiaan ini bukan tanpa rasa sakit. Kebahagiaan ini juga bukan akhir dari apa yang saya inginkan. Justru saya tahu, kebahagiaan untuk menyadari hal-hal ini akan diimbangi dengan perjuangan dan kerja keras pada akhirnya. Because my favourite quote is: “Nothing worth comes easy.”

——-

”Hai sayang, sesuatu yang indah tentu harus melalui yang susah-susah dulu, jadi harus semangat ya. Jangan menyerah di tengah jalan! Jangan pernah menyalahkan keadaan! Mungkin diri kamu sendiri yang belum bisa bekerja sama dengan baik bersama dirimu sendiri. Pasti ada sesuatu yang baik di balik kesusahan.”

——

Tips seru untuk yang sedang khawatir soal hidupnya mau dibawa ke mana:

1. Catat, tulis, hal-hal yang sudah kita lakukan selama (minimal) satu tahun terakhir. Koreksi, apakah ada hal-hal yang kurang berguna? Apakah ada sesuatu yang kita lewatkan? Apakah kita sudah bersyukur?

2. Catat, tulis, warnai (hihi) mimpi-mimpi kita! Tulis plan jangka panjang, misalnya sepuluh (10) tahun lagi saya ingin jadi apa, sepuluh (10) tahun lagi saya ada di mana.

3. Setelah menulis dua poin tersebut, ini poin yang terpenting: Tulis, jabarkan, catat hal-hal yang akan kita lakukan untuk mencapai hal-hal yang kamu jabarkan di atas. Tidak ada sesuatu yang gratisan. Tidak ada sesuatu yang instan. Jadi, lakukan effort terbaik yang bisa kita lakukan untuk menggapai itu semua. Tuhan tidak tidur dan akan selalu bersama orang-orang yang berusaha. Bahkan effort terkecil sekalipun akan ada hasilnya.

4. Jangan lupa bersyukur dan merasa cukup atas apa yang sudah diberi. Hal ini menghindari kita dari perasaan tidak bersyukur. Tapi, merasa cukup bukan berarti membuat kita tidak kreatif. Merasa cukup bukan berarti diam di zona nyaman, nanti kita tidak akan berkembang. Bersyukur yang baik diimbangi dengan tindakan serta usaha. (Saya sudah seperti motivator, padahal sesungguhnya diri sendiri mendapat banyak supply semangat dari circle kesayangannya).

Mungkin tips di atas bisa teman-teman lakukan daripada galau berhari-hari di kasur dan memikirkan “Saya mau jadi apa ya?” Catat dan tulis saja dulu, mungkin ini bisa dibilang sebuah langkah action. Kalau kata Raul Renanda di buku 99 untuk Arsitek, “Lakukan saja dulu, kalau salah ya diperbaiki, hal terbaiknya kita tahu bahwa kita sudah bergerak daripada hanya mengkhayal.”

Salam sayang, wish me luck and also, I wish a thousand luck for you all who want to move out from your comfort zone!

Tulisan ini saya tulis di tahun 2015 (umur 23 tahun) dan sunting di tahun 2017 (quarter life crisis saya, ya saya berusia 25 tahun). Ketika melihat kembali tulisan ini, saya merasa saat itu sangat bersemangat dan bahagia sekali menjalani setiap detik dari hari-hari saya. Saat itu juga belum memasuki fase usia seperti sekarang dan rasanya idealisme benar-benar menjadi satu kemewahan yang ada pada diri saya saat itu. Tapi, justru karena saya ‘berkunjung’ dan berusaha membagikan kembali kebahagiaan dan idealisme saya saat itu, saya merasa hari ini pun saya masih menjadi bagian dari apa yang saya tulis saat itu. Walaupun plan meleset, berbelok, terjal, dan sebagainya, saya bersyukur sekali masih memiliki keinginan untuk terus mewujudkannya.
Nah tulisan ini saya publish kembali untuk semua pribadi yang saya cintai dan untuk setiap jiwa yang memiliki semangat, waktu, dan kesempatan. Berkaryalah! Karena setiap inci di bumi ini adalah hal yang patut kita perjuangkan.

Mengapa Bercanda Berlebihan Itu Tidak Baik?

Processed with VSCO with k3 preset

tulisan ini dibuat sebagai upaya bentuk perbaikan diri seorang manusia sebagai makhluk sosial.

Saya termasuk orang yang cukup ekstrovert –dan juga sangat sensitif sebenarnya. Kesensitifan ini membuat sifat ekstrovert saya tertahan cukup banyak. Pasalnya, saya jadi tahu dan kadang sering berkaca “Ternyata diperlakukan begini itu tidak enak. Maka, saya harus begini.” Ketika saya sakit hati akan sesuatu, hal pertama yang saya lakukan adalah introspeksi, “Ini adalah akibat dari sebab yang pernah saya lakukan sepertinya. Semoga ketika saya berbuat sebab, orang yang bersangkutan tidak merasa sakit hati seperti apa yang saya rasakan saat ini.”

Salah satu hal cukup penting yang berusaha saya kontrol adalah bercanda. Bahwa benar adanya manusia tidak dalam kondisi terbaik setiap harinya. Tidak setiap hari pula manusia dapat menerima semua kritikan ataupun masukan dengan akal dan pikiran yang sehat atau stabil. Maka saya meminimalisir bercanda namun mencintai menyisipkan jokes receh di komunikasi saya dengan orang-orang. Bercanda di sini konteksnya dengan perkataan, sebutan, intonasi, dan lain sebagainya. Intinya, jokes yang mengarah pada merendahkan ataupun meledek. Cara Bapak Jokowi untuk dekat dengan masyarakat salah satunya adalah bercanda. Bisa kita lihat bahwa suasana yang kadang terlalu formal bisa menjadi cukup rileks ketika Bapak Jokowi mulai bercanda. Namun, saya sering melihat bahwa Bapak Jokowi bercanda dengan etika, maka itu bukan sembarang bercanda melainkan teknik untuk melepas penat dan membangun komunikasi dengan masyarakat lapisan manapun. Karena bercanda adalah salah satu cara untuk memasuki dunia dan komunikasi yang bisa dipahami oleh banyak layer.

Seringkali saya mendengar “Ih kan cuma bercanda.” “Serius banget, itu kan cuma bercanda.” Ya, tapi hati dan tujuan asli manusia tidak ada yang mengetahui. Upaya paling mudah untuk menghindari sakit hati adalah men-default kan pikiran kita bahwa “Tidak apa-apa, ini pasti hanya bercanda.” Lagi-lagi perlu saya tegaskan bahwa tidak semudah itu bisa men defaultkan pikiran. Terkadang hal yang menyedihkan adalah ketika bercanda dijadikan suatu alat untuk melakukan pembenaran, misal dari awal niatnya memang menyindir, tapi karena tahu lawan bicara tersinggung, dalihnya adalah “Saya kan niatnya cuma bercanda.” Lawan bicara sudah terlanjur sakit hati, nah ini yang tidak menyenangkan. Ketika sebuah niat menyenangkan orang berbuah menjadi benang yang semu di antara dua manusia.

Karena saya orang yang cukup sensitif, saya mengurangi interaksi secara berlebihan dengan menggunakan candaan karena sedikit takut bahwa suatu hari saya yang akan tersakiti dengan apa yang saya tanam sendiri. Tidak jarang saya mendengar teman saya sakit hati karena candaan teman-temannya. Teman-temannya bisa bilang itu bercanda, tapi tidak semua orang bisa menerima candaan tersebut. Mungkin bagi beberapa orang yang membaca tulisan ini akan menganggap saya punya tingkat bercanda yang rendah. Tidak, saya sangat suka bersosialisasi dan menemukan teknik yang tepat untuk menghadapi berbagai pribadi. Di sini saya menulis berbekal sebagai seorang pendengar yang seringkali mendengar kisah bagaimana candaan dapat membangun stereotype orang secara massal. Tentang bagaimana sebuah candaan yang belebihan dapat menyakiti lawan bicara kita tanpa sengaja.

Maka baiknya, dewasa ini kita cukup bijak baik dalam memaknai ‘candaan’ ataupun berkata untuk candaan supaya tidak berlebihan. Bahasa mudahnya, jangan bercanda dengan orang yang tidak suka bercanda berlebihan karena hal ini dapat menimbulkan efek yang kurang baik bagi sebuah tali persaudaraan. Bisa juga tidak bercanda saat kita sedang dituntut untuk serius karena hal ini sangat sering terjadi.  Di sini, kita diuji bahwa tidak bisa kita memperlakukan semua orang sama dengan kita yang mampu menerima candaan.