Other Perspective: Cikini Mengindahkanku Tentang Jakarta

DSCF3841
Marisa (November 2011)

Bagiku kerja di Jakarta bukanlah sebuah tujuan ataupun cita-cita ketika aku lulus dari bangku perkuliahan S1. Dalam benakku, aku akan bekerja dekat rumah di kawasan Bogor. Membayangkan akan berdesakkan di KRL saja sudah membuat nyaliku ciut, seciut-ciutnya manusia membayangkan hal paling mengerikan dalam hidupnya. Gambaran yang diberikan media tentang KRL begitu menyeramkan, hingga akhirnya aku merajut sendiri cerita sehari-hariku bersama KRL Jabodetabek. Not bad at all, seriously. Masih hangat di ingatan bagaimana rasanya berjuang bersama 24 jam waktu yang kumiliki, ketika semangatku begitu menggebu untuk menggapai segala cita-cita pada kala itu. Belajar TPA sambil berdiri di komuter, tangan kanannya pegangan pada pengait di atas dan di tangan kirinya memegang buku TPA ataupun TOEFL. Ketika mendapat duduk, bukannya lanjut mengerjakan malah tertidur di pundak orang sebelah (dan kadang membuat orang di sebelah risih, maaf ya!). Pernah juga mengalami kejadian ketiduran ketika berangkat kantor dan membuatku harus turun di dua stasiun dari stasiun yang seharusnya, kalau tidak di Gondangdia ya Juanda, lalu melanjutkan perjalanan kembali dengan ojek atau kalau sedang tidak buru-buru ke kantor, menunggu kereta kembali ke Cikini (biasanya lama, huhu). Hal yang aku yakini dengan segala proses bersama Komuter saat itu adalah Tuhan bersama orang-orang yang berusaha! That’s all :) Maka segala tenaga, curahan kebahagiaan, semua murni aku ikhlaskan demi masa depan yang lebih baik dari saat ini. Semua benar-benar terjawab pada waktunya, meskipun jalannya tidak selalu mulus.

Aku punya kenangan tersendiri dengan kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Di kawasan inilah letak kantor pertamaku, sekaligus yang paling berkesan bagi hidupku selama 25 tahun terakhir, PT. Airmas Asri. Airmas Asri sendiri adalah sebuah konsultan yang bergerak di bidang Arsitektur, Interior, dan Lanskap.  Terbagi dalam beberapa divisi dan aku masuk dalam keluarga divisi Arsitektur Lanskap, karena memang aku sendiri yang menginginkan berada di divisi tersebut ketika melamar kerja di sana. Tuhan memang Maha Penyayang, keluargaku begitu hangat dan menyenangkan. Di sana kami bekerja secara tim, bekerja sama dengan divisi Arsitektur terkadang bersama tim Interior sekaligus. Karena keperluan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang lebih lanjut, dengan berat hati aku mengajukan pengunduran diri karena harus berpindah ke kota Pahrayangan, Bandung. Hingga akhirnya bulan November 2016 kemarin, aku berkesempatan untuk berkunjung ke kantor lama. Masih dengan kehangatan yang sama, mereka menyambutku dengan begitu baik. Maka tumpah ruah segala cerita dan bangku yang dulu aku tempati ternyata masih kosong.

DSCF3861
Muda-mudi di geng Lanskap kesayangan aku (Mas Ben, Kak Niko, Marisa, Kak Windi, Ecki, dan Aji)

Cikini dan Segala Bala Bahagianya

Cinta. Mungkin ini yang mendefinisikan Cikini di hati Marisa. Satu daerah di Jakarta yang memiliki ruang tersendiri di hatiku hingga saat ini. Entah kulinernya, trotoar yang menjadi saksi bisu bagaimana seringnya aku menatap langit di Jakarta yang jarang terlihat bintang, bangunan-bangunan lama tempat aku sering bertemu dengan kawan lama yang sedang berkunjung ke Jakarta, pempek di Metropole XXI yang sering membuat aku pulang larut sampai ke Bogor karena mampir dulu sebelum pulang ke sana, dan masih banyak lagi cerita tentang jalanan Cikini.

Di Cikini pula kamu bisa merasakan bubur yang enak di ujung jalan dekat stasiun. Membeli buket bunga untuk akhirnya kamu lepas dan urai ketika sampai di rumah untuk diletakkan di vas bunga pada meja, menunggu kereta sembari membeli onigiri di indomaret yang berada di lantai satu stasiun. Berlari mengejar kereta ketika mendengar tujuan ‘Bogor’ akan memasuki peron dan mengetahui kereta ke Bogor berikutnya masih berjarak kurang lebih 40menit lagi (Oh my….) Hanya di sini kamu bisa bertemu dengan dosen pengujimu, yang sedang menjalani kuliah S3 di UI ketika akan keluar dari stasiun. Dan di sinilah aku mendapati kedua sahabatku sedang menungguku pulang dari kantor dan membawa kue untuk aku tiup lilinnya lengkap dengan balon dan karangan bunga di kepala. Ya, itu adalah sebagian kenangan kecilku dengan Cikini. Lelah mana yang lalu bisa menjadi alasanku untuk berkeluh mengenai Jakarta hari ini dan berikutnya?

Di balik itu semua, aku juga memiliki satu spot kesukaan aku di Cikini. Nah, jadi di sini ada satu kafe kesukaan aku karena jendelanya sangat besar, namanya Kedai Tjikini. Di sini ada dua cerita yang sarat kenangan dalam hidupku dan termasuk dalam kenangan yang cukup manis untuk diingat. Suasana dalam kedai ini sangat warm dan friendly. Kafenya tidak terlalu ramai -mungkin karena aku datangnya selalu saat weekday- dan berada di pinggir jalan Cikini, tepatnya di seberang Menteng Huis. Oh ya, di depan kafe ini juga terdapat mural yang dilukiskannya pada trotoar! Aku lupa ini kerjasama Jakarta dengan siapa, seingatku dengan Korea sih (tapi kalau salah mohon direvisi ya, hehe). Trotoar di sepanjang jalan depan kafe ini begitu cantik dan membuat kita gemas ingin mengabadikan kaki-kaki yang sedang berjalan kecil di atasnya.

DSCF3829

DSCF3830
Jendela besar kesukaan Marisa
DSCF3814
Enam dari mural lain yang terdapat di sepanjang trotoar di depan Kafe Tjikini!

Lucunya, kafe ini pun selalu berhasil menjadi alasan aku ‘pulang’ lagi dan lagi ke Cikini. Entah hanya untuk melepas rindu atau mencari alasan mengapa aku selalu mencintai kawasan ini. Cikini juga berhasil membuat stereotype aku mengenai hiruk pikuk dan horornya Kota Jakarta tidak separah seperti sebelum aku menjalani kehidupan di sini. Walaupun termasuk menjadi pribadi yang jarang menghabiskan waktu malam di Jakarta karena harus segera pulang ke Bogor, tapi kebahagiaanku dan negatif thinkingku tentang Jakarta setidaknya sudah mulai menghilang. Mungkin juga karena aku mencoba berpikir dan memandang Jakarta dari sudut yang lain, tidak berfokus pada akar masalah yang ada di Ibukota kita ini. Dan bisa jadi ini adalah salah satu cara untuk menikmati Jakarta sebagaimana mestinya. Aku memang bukan satu dari ribuan manusia yang terkena macet di Jakarta, tapi aku termasuk dalam satu dari ribuan orang yang pulang-pergi keluar masuk Jakarta setiap harinya untuk bercengkrama dengan kota ini. Jadi mungkin suara kebahagiaanku terhadap hari-hariku di Jakarta bisa menjadi satu pandangan lain bagimu tentang bagaimana baiknya menilai ataupun menikmati Jakarta. Sejenak kamu akan merasa lagu Adithia Sofyan was so me kan? Kadang.

“And I put all my heart to get to where you are, maybe it’s time to move away
I forget Jakarta and all the empty promises will fall
This time, I’m gone to where this journey ends
But if you stay, I will stay…” 

Ya, seperti itulah Cikini. Dia adalah ‘sosok’ yang berhasil membuat Jakarta bagiku begitu berbeda dengan apa yang selama ini aku pikirkan ataupun beberapa orang pikirkan.

Salam sayang dari Bandung,
Marisa (yang sedang menjalani minggu UAS, doakan aku!)

Advertisements