Astronot yang Rindu Pulang

IMG_6658

Kota, kota, kota. Mahasiswa perancangan kota tapi jarang berjalan-jalan mengelilingi setiap sudut kota, apakah masih relevan? Semua selalu bilang, enak sekarang ada internet, bisa jalan-jalan dari layar. Tapi kamu pasti paham kan, jalan-jalan lewat layar dengan merasakan secara langsung adalah dua hal yang sangat berbeda. Orang bilang, kuliah di dunia perancangan itu sama seperti astronot. Di studio terus, 24/7, pikirannya 24/7 studio, makan kepikiran studio, tidur kepikiran studio, bahkan menulis hal yang bukan berurusan dengan studio pun kepikirannya studio. Benar tidak? Bagiku bagaimana ya? Walaupun teman-teman tidak mau tahu, tapi sini aku ceritakan secara gamblang bagaimana diriku bersahabat dengan dunia perancangan kurang lebih 7 tahun belakangan ini. Mulai dari menjadi mahasiswi Arsitektur di Brawijaya, bekerja menjadi seorang junior arsitek lanskap, hingga sekarang menjadi mahasiswi (lagi) di magister rancang kota di Bandung.
Sewaktu kecil, aku bercita-cita menjadi astronot atau agen perempuan keren di FBI, superspy gitu lah ya. Di sini, aku dapat dua-duanya. Katakanlah aku dapat jadi astronot, bulan adalah studio, studio adalah bulan. Seragamku adalah jaket yang setia menemani di segala kondisi. Mau panas, hujan, terik, hujan es, hujan angin, serangan AC alias Air Conditioner dalam studio, itulah seragam astronotku. Jadi, impianku menjadi astronot terkabul bukan? Bagaimana dengan mimpiku menjadi agen FBI? Terkabul juga. Tapi kalau ini bukan tentang misi-misi politik ataupun dendam pribadi seperti di film Mission Impossible gitu. Aku superspy yang mengamati setiap gerak-gerik aktifitas pola perilaku masyarakat di suatu wadah dalam kota yang saya tinggali. Ketika meneliti sesuatu, kita akan mengamati, mencari tahu, apa fungsi utama, kenapa hal tersebut ada di sini, kenapa masyarakat cenderung mau lewat jalan ini daripada jalan yang satunya, mengapa public space di sini sepi tapi yang di dekat alun-alun ramai? Yah… Kurang tepat sebenarnya bila menganggap itu sebagai profesi superspy yang menggunakan baju hitam seperti yang sering teman-teman lihat di televisi, tapi boleh kan aku menganggapnya seperti superspy yang keren tapi dalam cara yang berbeda? Boleh.

IMG_6019

Lanjut!
Maka munculah demo-demo menuntut hak mahasiswa untuk mendapat pembelajaran di luar kampus, seperti ekskursi, studi lapangan, workshop, dan lain-lain. Kadang kalau tidak diagendakan oleh pihak kampus, akan terdapat dua kemungkinan yang terjadi. Alasan yang pertama adalah waktunya tidak ada! Bentrok dengan perkuliahan dan studio sana sini yang menyebabkan kami sulit keluar dari stasiun luar angkasa ala kami. Hal kedua adalah melawan rasa takut karena bila berpergian, tugas tidak akan selesai. Walaupun saya termasuk dalam kategori mahasiswa ‘’slow aja tapi tetap memiliki target”, jujur dalam lubuk hati, perihal tugas ini selalu berlari-lari dalam pikiran saya di manapun saya sedang makan ataupun main handphone. Hal ini terjadi pada mahasiswa yang tipe “slow mode” seperti saya, bayangkan apa yang terjadi dengan teman-teman saya yang tipenya bukan slow mode? Perang dunia III pecah. Massa menyerang dari segala lini untuk bertanya, “Ini tugas diapain ya? Kenapa tidak selesai-selesai?”

Dan untuk beberapa orang di bumi yang melihat kami para astronot sedang berjuang melakukan penelitian di ruang angkasa kami, akan selalu timbul pertanyaan, “Kamu lagi apa? Nugas ya? Kok tugas kamu gak selesai-selesai?” Lalu pertanyaan itu seketika menjadi bom waktu yang sudah siap dijawab dengan jawaban, “Saya mahasiswa Mas/Mbak. Wajar kalau hidupnya bersama tugas, lebih aneh kalau hidupnya ada di dalam air sambil diving setiap hari.” Jangan anggap itu bentuk sarkas, tapi ungkapan itu adalah kegundahan kami atas jawaban bahwa “Kami juga maunya tidak begini, tapi ini tanggung jawab yang harus diselesaikan dengan baik dan bersungguh-sungguh agar nantinya bisa dipertanggung jawabkan. Begitu bukan?”

IMG_6980
Kalau survey dari matahari terbit hingga matahari terbenam, letih dan bahagia dalam saat yang bersamaan karena dilakukan bersama-sama.

Kamu kok jadi ngelantur, Marisa? Jadi inti dari tulisan ini sebenarnya mengajak teman-teman astronot, para mahasiswa rancang untuk senantiasa meningkatkan moodnya dan menyingkirkan berbagai alasan untuk sekedar berjalan kaki mengelilingi ruang kota. Kalau kata Pak Uli, dosen saya yang sangat keren, menjadi seorang urban designer itu sangat dituntut kepekaannya. Tulisan ini pun bentuk refleksi saya yang akhir-akhir ini jarang keluar stasiun luar angkasa alias studio karena tugasnya begitu banyak dan tiada henti. Ini bukan mengeluh, hanya saja sebuah bentuk cerita betapa tidak jalan-jalan dapat membuat saya menjadi kurang peka dan tidak update. Padahal laboratorium saya dan teman-teman berada di sekeliling kami, begitu besar dan gratis untuk diamati, ruang kota kami. Mari belajar di luar kampus, mari pulang sejenak ke bumi (habis  UAS maksudnya!).

Salam hangat,
Mahasiswi semester 2 yang akan kedatangan UAS beberapa hari lagi.

2 thoughts on “Astronot yang Rindu Pulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s