Cerita Tentang LDR dengan Papa dan Mama

“I will always care for you, even if we’re not together and even if we’re far, far away from each other”

Tidak bosan-bosan sebenarnya saya menceritakan tentang kehidupanku dengan keluarga saya yang diwarnai dengan anugerah dari Allah yaitu jarak. Sebenarnya saya bukan orang yang bermasalah dengan jarak. Beberapa kali mengalami hubungan dengan orang-orang tersayang bersama jarak dan itu menguatkan. Jarak itu bijak, kadang kita saja yang terlampau ketakutan entah karena apa.
Saya tahu bahwa mengenai orang tua, semua akan sangat berbeda. Alm. Pak Galih pernah memberikan kuliah tentang “Ruang Ibu”. Dialognya sangat singkat dan sangat berbekas di hati saya, kurang lebih seperti ini:

“Pernah tidak satu ketika, kamu sedih, lalu Ibu kamu menelpon, “Adik gapapa? Apa kabar? Kok kayaknya kamu lagi sedih ya?” Di saat itu, kamu sedang sekuat tenaga menahan untuk tidak menceritakan segalanya karena khawatir Ibu atau Ayahmu terbawa khawatir. Itulah ruang ibu dan anak. Ada juga ruang ayah dan anak. Tidak berdimensi karena tidak terbatas. Ruang itu tidak hanya tentang dimensi yang berbatas, ada juga ruang yang Allah ciptakan, ya ruang batin itu namanya.

Keluar dari ruang kelas itu, saya tersenyum, benar yang dikatakan Alm. Pak Galih. Ruang tidak terlihat itu sangat nyata, bahkan dibuat oleh-Nya tanpa kekurangan dan pada porsi yang begitu presisi. Memiliki jarak dengan beliau berdua membuat saya menjadi sosok yang mandiri, mencoba untuk lebih kritis dalam menghadapi suatu masalah, dan juga tidak mudah mengeluh. Jarak pun mengajarkan kepada saya dan keluarga untuk lebih peka, bahwa ada orang-orang yang selalu menanti kabar kita, menunggu kehadiran kita secara fisik dekat bersamanya, apalagi orang tua kan?

Terbantulah semua dengan media sosial. Yang menghubungkan kami melalui layar kecil dan suara yang real time. Selalu saja banyak hal lucu terjadi, misalnya…. Ketika saya kuliah di Malang, orang tua saya dinas di Bandung. Ketika saya bekerja di Jakarta, Papa dinas di Medan, dan sekarang ketika saya berkuliah di Bandung, Ayah berada di Jayapura dan Ibu berada di Malang. Rasanya seperti kota yang kami tapaki sama, tapi dalam kurun waktu yang berbeda. Selalu seperti itu, tapi Tuhan pun selalu punya rencana terbaik-Nya. 

Terdapat hadiah istimewa yang hadir di awal tahun 2017 ini. Beruntung bahwa tulisan saya tentang sosok Ayah dan pesannya sempat tertuang dalam buku. Saat itu terdapat event menulis dan dipilihlah beberapa kontributor untuk dapat ikut andil menulis. Bila beruntung, tulisannya akan dibukukan bersama 40 kontributor lain. Masih teringat, di malam sendu itu, sebuah kabar baik datang. “Selamat, tulisan anda terpilih untuk dibukukan bersama 40 kontributor lain dalam buku “Kata Ayah”. Rasanya senang sekali, seperti sedikit demi sedikit mimpi menjadi kenyataan. Kalau kata Mas Rayyan, semua itu tergantung niatnya. Bila baik maka akan tersalurkan baik pula wujudnya.

Saya pun sangat jarang dan tidak berani menilai orang. Namun, ada satu penilaian saya terhadap kepribadian seseorang, yaitu bagaimana cara ia berlaku dan bertutur kata kepada kedua orang tuanya. Bila baik, saya berani memastikan bahwa orang tersebut memang baik. Bila tidak, saya akan menganggapnya bahwa ada suatu proses atau kejadian yang pada akhirnya membuat ia bersikap seperti itu. Dan selama kedua orang tua kita masih ada, maka berilah sedikit waktumu, luangkanlah untuk sekedar menanyakan kabarnya. Beberapa cerita pun datang dari berbagai teman, seperti:
“Kalau orang yang dekat dengan orang tuanya, pasti akan berkata lebih enak jauh dari orang tua. Kalau orang yang jauh dari orang tuanya, pasti akan menginginkan sosok orang tua di dekatnya.” Ya kan, manusia memang tidak pernah puas dengan kondisi yang ia anggap kurang ideal? Tapi percayalah, orang tua akan terus menua. Selain sibuk dengan urusan kejar-mengejar mimpi, jangan lupa untuk berkunjung ke orang tua selagi kita masih sama-sama berada di bumi ya.

Dan foto itu, saya ambil diam-diam, foto beliau berdua. Selalu terpajang di meja tempat saya menimba ilmu, membutuhkan semangat lebih untuk berkarya, dan menjadi pelepas lelah ketika saya sedang suntuk.

“Aku yakin, ketika kita bisa memilih sebelum dilahirkan, kita akan memilih untuk lahir dari orang tua yang sama.” – Nelza M. Iqbal, dalam percakapan tentang orang tua.

Bandung, 24 April 2017
Yang mencintaimu,
Marisa Sugangga

2 thoughts on “Cerita Tentang LDR dengan Papa dan Mama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s