Ali’s House Project, Bandung (2014)

Arsitek dengan Klien itu partner!

Ketika mengerjakan sebuah proyek, saya selalu dihantui perasaan “Ini kalau sampai ada miss design, dampaknya selamanya.” Apalagi ketika mendesain sebuah rumah tinggal. Proyek rumah tinggal adalah proyek yang paling challenging bila menurut saya. Mengapa? Manusia yang tinggal di balik atap ini akan hidup hampir 24 jam dalam hidupnya. Ia akan membentuk jiwa, membangun kebahagiaan, berbagi kesedihan, dan melakukan segala aktivitas sehari-harinya di atas desain kita. Dari dasar inilah penting bagi kita untuk berkomunikasi dengan klien ketika mendapatkan sebuah proyek rumah. Berdasarkan pengalaman saya, membangun komunikasi dengan klien tidaklah semudah yang dibayangkan. Tidak semua klien sama, ada yang pengertian, ada yang tiba-tiba merasa tidak cocok dengan kita dan benar-benar menghilang, dan ada juga yang terlalu baik sampai kita yang tidak enak hati untuk melakukan sebuah kesalahan.

Project Name : Ali’s House
Location : Bandung, West Java, Indonesia
Building area : 124,5 m2
Type : Residence
In colaboration:
1. Randy Hardyanto
2. Muhammad Zulfikri
Year : 2014

Cerita pagi ini saya fokuskan pada hubungan saya dengan salah satu klien saya yang sangat baik hati. Saya dihubungi kurang lebih 2 minggu sebelum akhirnya mulai memikirkan desainnya. Di sini, saya menjadi jembatan utama antara tim dengan klien. Peran kemajuan teknologi sangat besar untuk kelancaran proyek jarak jauh ini. Posisi saya dan tim berada di Malang sedangkan proyek ini berada di Bandung. Saling kirim mengirim gambar pun sering terjadi selama proses mendesain. Setelah segala kemungkinan kendala kami coba atasi, maka kami bekerja dengan menggunakan kontrak untuk melindungi kedua belah pihak dari hal-hal yang tidak diinginkan dan koridor pekerjaan kami menjadi sangat jelas.

Kami memanggilnya Ibu Ali. Ibu Ali adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak. Ia tinggal di sebuah hunian padat penduduk di Kota Bandung dan menghubungi saya untuk meminta tolong merenovasi rumahnya. Pada awalnya, Ibu Ali tidak cerita mengapa ia mau merenovasi rumahnya. Hingga pada akhirnya, rumah berukuran 15 x 8,3 m itu diharuskan memiliki sebuah kamar mandi difabel.

“Ibu saya sakit Mbak, jadi saya berharap rumah ini sudah siap tinggal kurang lebih 2 bulan lagi karena Ibu saya akan segera pindah. Sekarang, beliau harus menggunakan kursi roda untuk melakukan aktivitasnya. Tolong dibuatkan desainnya yang memudahkan mobilitas beliau tapi juga minim biaya renovasi ya Mbak.”

Awalnya kami sempat ragu untuk menerima proyek karena kesibukan menyusun skripsi pada saat itu, namun dengan niat membantu niat baik Ibu Ali, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk memprioritaskan proyek ini. Dimulailah proses mendesain. Tantangan pertama yang kami dapatkan adalah rumah ini tidak hanya akan dihuni oleh orang tua Ibu Ali, namun juga ketiga anak Ibu Ali yang kurang dari 5 tahun. Beberapa aspek keamanan seperti keamanan tangga, sudut-sudut ruangan pun harus kami perhatikan.

Hal pertama yang paling saya ingat adalah Ibu Ali menginginkan ruang tamu yang besar dan lapang untuk tempat bermain anak-anaknya. Maka kami menyarankan untuk satu ruang tidur dipindahkan ke atas, namun ide kami itu kurang tepat. Kami sempat melupakan bahwa ruang kamar orang tua Ibu Ali pastilah berada di lantai 1 dan akan membutuhkan satu kamar lagi untuk menemani kedua orangtua Ibu Ali di lantai 1.

“Semua anak-anak akan berada di lantai 2 Mbak. Tolong desain tangganya yang aman bagi anak-anak ya, jangan terlalu curam. Karena buku kami sangat banyak, bila bisa minta tolong didesainkan storage (tempat penyimpanan) buku di bawah tangga.”

Tiga alternatif kami buat karena mencari posisi tangga yang tepat dalam bangunan ini tidaklah mudah mengingat konstruksi yang sudah terbangun dan kami ingin mempertahankan eksisting sebanyak mungkin untuk menekan biaya konstruksi. Selain dari posisi yang nantinya akan mempengaruhi jumlah anak tangga dan kemiringannya, pemilihan material pun ikut andil bila kita ingin mendesain sebuah desain yang ramah anak.  Prioritas kami adalah keselamatan dan kami meletakkan tangga di antara ruang tamu dan ruang makan (ruang keluarga) agar dapat terus terpantau dan juga tempat yang paling possible untuk digunakan ruang tangga yang luas.

Untuk rumah dua lantai, masalah pencahayaan kerap menjadi momok menakutkan. Lantai satu bisa menjadi sangat gelap bila kita tidak hati-hati dalam mendesainnya. Area piano akan berada di sekitar ruang makan dan dapur, maka kami membuat area void di sana. Posisi ini sangat menguntungkan karena sliding door dari ruang makan menuju taman belakang akan memberikan banyak efek luas dan memasukkan banyak cahaya. Ketika dipasangkan void di sini, pencahayaan pun akan sampai di lantai 2.

12
Rancangan dapur, area makan, dan ruang piano.

 

Capture
Satu dari tiga alternatif denah yang kami kondisikan untuk kebutuhan Ibu Ali. 

Proses pengerjaan berlangsung kurang lebih tiga minggu, hampir tiga hari sekali saya menyampaikan proggress untuk meminimalisir hal-hal yang menjadi bisa menjadi obstacle selama proses mendesain. Hal yang paling penting bagi saya untuk terus berkomunikasi adalah kami berhasil membentuk apa yang diimpikan oleh Ibu Ali untuk keluarganya. Kami di sini bertugas sebagai fasilitator yang membantu mewujudkan impian Ibu Ali dan keluarganya.

Tim saya tidak pernah berdebat terlalu alot perihal desain, karena Ibu Ali biasanya menyetujui desain kami dan cara komunikasi beliau dengan kami pun sangat kami apresiasi. Contohnya, “Mbak desain yang ini sudah baik, tapi boleh tidak kalau saya menambahkan ini di sini. Sepertinya lebih cocok kalau di sini.” Kami tidak langsung mengerjakan, namun mendiskusikannya terlebih dahulu dengan tim, bila dikira permintaan itu pada kenyataannya memang lebih baik dari hasil desain, kami pun menyampaikan bahwa saran Ibu Ali bisa kami kembangkan karena memang itu pilihan yang terbaik di antara pilihan yang ada.

Hingga pada akhirnya, desain ini terbangun namun orang tua Ibu Ali belum sempat merasakannya karena harus ‘pulang’ terlebih dahulu. Kami pun merasakan kesedihan yang teramat dalam namun hal yang tidak kami sesali adalah kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan desain ini secepat mungkin dan sebaik mungkin (sesuai dengan kebutuhan dan impian Ibu Ali). Bagi kami, niat mulia Ibu Ali memberikan kami banyak pelajaran berharga tentang sebuah ketulusan kepada orang tua. Saya dan tim pun bersyukur mendapatkan klien yang memberi kami banyak pelajaran dan begitu pengertian kepada kami. Ya, tidak semua klien bisa sepengertian Ibu Ali namun itu membuat kami sadar bahwa setiap orang memang berbeda-beda. Seperti kata Raul Renanda di buku 99 Untuk Arsitek, “Seorang arsitek adalah sebuah ‘alat’ bagi klien untuk menghasilkan karya yang baik. Pastikan kita memahami apa yang diperlukan oleh klien dan kita dapat menyesuaikan apa yang mereka perlukan.” Beberapa pertanyaan yang dapat ditanyakan pada diri kita sendiri:

  • apakah kita membutuhkan proyek ini agar dapat mewujudkan ide kita?
  • apakah kita membutuhkan proyek ini untuk ‘mencari makan?’
  • apakah yang kita lihat adalah sebuah relasi jangka panjang dengan sang klien?

Saya dan tim saya sevisi dalam hal ini bahwa kami lebih mementingkan sebuah hubungan manusia, relasi jangka panjang dengan sang klien. Di sinilah, ego perlu dikendalikan untuk menghasilkan sebuah produktivitas yang bermanfaat.

Bandung, Maret 2017
Marisa Sugangga

 

Advertisements

Menata Ulang Mimpi

DSCF5886

Apa ini? Tiba-tiba sudah masuk bulan ke-3 di tahun 2017. Tidak biasanya saya berdiam diri di awal tahun tanpa membuat resolusi. Bukan berarti pesimis dan percaya dengan omongan, “Untuk apa tahun baru selalu menulis resolusi tapi tidak pernah dijalani? Hanya semangat tahun baru saja kan?”
Ya. 
Namanya semangat, keadaan super menggebu-gebu di awal memang sudah biasa terjadi di antara kita semua. Walaupun begitu, saya termasuk pribadi yang menjadikan tahun baru sebagai momentum refleksi “Apa saja yang sudah saya lakukan tahun lalu? Dan saya harus melakukan apa untuk melakukan ‘upaya’ perbaikan diri di tahun yang baru ini?”. Sebenarnya judul tulisan ini muncul dari salah satu teman pena saya di Tumblr yang gemar menceritakan tentang kehidupannya sehari-hari kepada saya via fitur mailbox. Lalu saya menerka, pada umumnya setiap orang akan mempercayai mimpinya bukan untuk terus memiliki harapan pada kehidupan yang singkat ini? Begitu pun saya.
Di usia seperempat abad ini, tidak ada yang salah dengan ‘menata ulang mimpi’. Mimpi tidak punya batasan umur untuk terus dirajut dan ditata kembali.
Setengah dari bucket list saya di tahun lalu terwujud. Saya menyusun kembali bucket list baru untuk tahun 2017. Rasanya begitu menyenangkan! Jadi, sudahkah menata ulang mimpi untuk menjalani hari-hari berikutnya yang lebih bersemangat?