Si ‘Aerospace Enthusiasm’ yang Takut Goncangan

Halo, Kalamona! Happy new year 2017!
hari pertama di tahun 2017 kemarin saya lalui di Bandara dan pesawat udara. Sangat menyenangkan sekali karena saya terakhir terbang di bulan Mei. Sejenak melepas kerinduan dengan langit dan awan, terima kasih Ibu atas liburannya.

sam_0133
my experince with Tigerair, si kuning gemas (saya suka sekali paduan warna logonya)) 

Setelah masuk ke dunia perkuliahan yang berada satu provinsi dengan tempat tinggal, saya semakin jarang menggunakan transportasi yang saya sukai yaitu pesawat udara. Salah satu wishlist saya sebagai seorang arsitek ialah ingin terlibat di salah satu proyek bandara di kota kecil-berkembang di Indonesia. Cita-cita sembari berkuliah di Arsitektur ini membuat kecintaan saya kepada dunia penerbangan tidak pernah surut seperti mempelajari detail dan seluk beluk bandara, sistem manajemen yang terjadi antara bandara dengan perusahaan-perusahaan penerbangan terkait, mengapa ada delay, dan lain sebagainya. Di masa semester 5 saat jenjang sarjana, saya mendesain sebuah bandara di Malang. Pertanyaan yang lantas keluar sungguh di luar ekspetasi saya, “Mbak, ini kalau Presiden turun dari pesawat, sirkulasi VVIP-nya di mana ya?” Lalu saya tidak bisa menjawab. Beberapa hari kemudian, salah satu dosen saya berkata, “Ya kalau Presiden bandara dan fasilitasnya menggunakan milik militer. Masa satu runway dan sefasilitas sama komersil, Cha?” – Hmm (lalu memicingkan mata).

Trik saya agar dapat mengunjungi bandara adalah menggunakan fasilitas transit. Fasilitas ini dalam dunia penerbangan memang lebih murah karena biasanya kita akan berhenti cukup lama di salah satu Bandara transit. Untuk sebagian orang yang berbisnis, hal seperti ini justru merugikan. Bagi saya? Keuntungan. Dalam benak seorang ‘tukang jalan-jalan’ seperti saya, ketika ada waktu berlebih, transit menjadi hal yang menyenangkan. Selain menengok bandaranya, kita juga dapat bepergian sejenak untuk mengenal kotanya. Tapi ingat, jangan sampai jadi tertinggal penerbangan berikutnya ya.

Mengapa menyukai Bandara dan pesawat udara?

Bila ditanya mengapa suka pesawat? Saya merasa cukup beruntung berkembang dalam kondisi nomaden yang siap menghadapi segala perpindahan dan perantauan. Karena saya, keluarga, hingga teman-teman tidak memiliki tempat berutinitas yang sama, maka perjalanan menjadi hal yang biasa bagi kami. Saya sangat sering bolak-balik Jakarta-Surabaya, Jakarta-Malang, dan Bandung-Surabaya. Hal yang paling ‘hectic’ bagi saya terjadi di tahun 2013 di mana saya melakukan perjalanan udara sebanyak 4x dalam satu minggu kurang dengan rute Surabaya-Jakarta, Jakarta-Kuala Lumpur, Singapura-Jakarta, Jakarta-Malang.

Berawal dari seringnya mengunjungi Bandara dan naik pesawat udara sejak kecil membuat saya jatuh cinta dengan dunia satu ini. Waktu kecil alasannya adalah bisa melihat awan! Awan yang ‘bergerumbul’ sangat menggemaskan. Ketika take off, pesawat akan menembusnya dan lihatlah negeri di atas awan! Hehe. Alasan kedua saya menyukai dunia Aerospace karena menikmati waktu-waktu senggang, sendiri, termenung ketika di Bandara. Saya menyadari bahwa hidup begitu cepat, orang-orang berpindah dengan begitu mudah, hingga menyelami raut muka para penumpang pesawat. Mereka akan ke mana, ingin apa, bersama siapa, dan apa kesibukan mereka hingga mereka harus berpergian. Banyak kontemplasi yang saya lakukan ketika berada di Bandara.

Ketiga adalah belajar untuk saling peka dan mendoakan sesama. Ketika berada dalam pesawat, kita harus sepenuhnya percaya pada pilot dan awak kabin. Apa yang mereka lakukan adalah effort terbaik dari yang mereka punya. Saya pernah duduk dengan seorang Ibu yang bolak-balik Jakarta-Amerika dan saat itu pesawat sedang mengalami guncangan. Saya sangat takut dan memegang tangan beliau. Ibu tersebut hanya tersenyum dan perkata, “Dik, kita bisa meninggal di mana saja. Untuk sekarang, percayakan semua sama bapak Pilot. Didoakan ya.” Sepenggal kalimat ini benar adanya dan cukup berhasil mengusir kecemasan saya.

Mengusir Aerophobia

Perasaan gelisah ketika berada di udara baru saya rasakan di penghujung usia 23 tahun, justru ketika saya sedang jarang-jarangnya naik pesawat. Biasanya perjalanan 60 menit sangat saya nikmati, tapi kali ini berbeda. Saya sering menyebutnya air-stress, sebutan bagi saya sendiri. Perasaan takut, cemas, dan melihat jam karena ingin segera sampai menjadi hal yang lumrah pada saat itu. Saya dapat menekan tombol untuk bantuan pramugari hanya untuk menanyakan, “Mbak, ini gapapa ya? Saya takut. Mau pinjam tangannya.” Duh. Ini hanya saya lakukan ketika saya terbang sendirian dan sebelah saya laki-laki. Biasanya bila sebelah saya seorang Ibu, saya akan berkata kepada beliau untuk menemani saya.

Hal kedua yang dapat meredam kecemasan saya adalah membaca buku. Saya sering menyiapkan buku dalam perjalanan untuk mengalihkan perhatian saya. Entah ini hanya perasaan saya atau tidak, proses take off dan landing akhir-akhir ini tidak semulus jaman dahulu kala. Mungkin cuaca saat ini sudah tidak sebagus dulu (mungkin). Membawa bantal atau boneka selama perjalanan pun menjadi langkah ampuh ketiga untuk menghilangkan air-stress saya. Berangsur-angsur ketakutan saya mereda, walau kadang timbul tenggelam, tapi hal ini harus segera di atasi karena khawatir ketakuan malah membuat saya memiliki aerophobia #sad.

Pesan dari Bapak Rudy Habibie

Bagi yang sudah menonton film Habibie & Ainun, pesan ini pastilah tidak asing. Ketika Bapak Habibie membawa Bu Ainun untuk tinggal di Jerman, di dalam kabin pesawat, Bu Ainun sempat gelisah karena pesawatnya bergetar. Dengan senyumnya, Pak Habibie menenangkan dan berkata, “Tenang saja. Kalau pesawat itu bergetar berarti bagus, tidak terjadi keretakan.” Jadi saya mengambil kesimpulan bila pesawat sedang bergetar, tidak apa-apa karena itu bagus. Pilot pun jadi menyadari bahwa ada ‘sesuatu’ ketika bergetar. Nah, ini menjadi salah satu pesan yang berharga untuk para aerophobia (semoga saya tidak termasuk, hehe).

Peran pesawat udara di Nusantara sangatlah besar, Pak Habibie tahu itu. Ia mampu menjadi transportasi utama karena negara kita merupakan kepulauan. Perjalanan darat akan memakan waktu yang lebih lama dan terkadang menjadi tidak efektif. Namun tidak dapat kita pungkiri bahwa biaya untuk perjalanan udara jauh lebih mahal. Hal ini disebabkan banyaknya hal-hal yang harus dilakukan baik sebelum hingga sesudah pesawat tersebut terbang. Dari segi biaya maintenance jelas lebih mahal namun kita akan untung banyak di bagian waktu. Hingga kini, saya masih percaya bahwa putra-putri Indonesia selalu mengembangkan teknologi di bidang penerbangan karena bukan hanya Bapak Habibie dan saya yang menyadari pentingnya peran pesawat udara sebagai penyambung antar pulau.  Maka untuk bersahabat dengan zaman, bersahabat dengan dunia penerbangan dan mengusir ketakutan di dalam pesawat adalah hal yang harus dilakukan.

Jadi salah satu resolusi di 2017 adalah menetralkan kembali perasaan takut yang saya miliki dua tahun belakangan ini #Resolusi2017Marisa. Semoga di tahun ini banyak bertemu dengan Bandara dan langit-langit di Nusantara hingga penghujung dunia.

Bogor, Januari 2017
Marisa Sugangga, si Aerospace Enthusiasm

 

2 thoughts on “Si ‘Aerospace Enthusiasm’ yang Takut Goncangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s