Escape: Semarang Early 2017!

Aaaa. So happy when i know today iam in 2nd semester! Engga deh bohong. Sedih juga sih mendapati waktu begitu cepat berlalu. Ya ini terjadi karena saya begitu menikmatinya, disyukuri saja ya.
Karena orangnya suka tiba-tiba impulsif pergi, kali ini destinasinya sedikit jauh yaitu Semarang. Alih-alih dapat voucher potongan tiket kereta, ketika akan melakukan pembayaran malah lupa untuk mengetik kode voucher tersebut. Huvd. 

Semarang kali ini saya lalui dengan perjalanan cukup singkat, hanya 2 hari 1 malam. Destinasinya pun yang di dalam kota saja karena untuk mencapai destinasi yang lain sepertinya tidak ada waktu. Saya melakukan perjalanan dengan kereta ekspress malam Harina (Bandung-Semarang Tawang). Untuk pemberangkatan, saya menggunakan kelas ekonomi dengan tiket seharga Rp 185.000 dan pulang dengan kelas bisnis Rp 285.000. Sewaktu berangkat, saya cukup beruntung mendapatkan teman duduk seorang ibu muda dan sepasang di hadapan saya adalah ibu dan anak. Kami berempat cukup berkompromi untuk sekedar ‘rebahan’ dan meluruskan kaki. Berangkat dari Bandung pukul 21.40, saya menyiapkan perbekalan ala kadarnya yaitu roti, air putih, dan tolak angin. Hari ini pun saya cukup repot hingga hanya sempat mengisi perut sebelum naik kereta dengan…. Popmie! (Itu pun makannya cepat-cepat karena keretanya sudah datang). Super deg-degan. Kereta ekonominya sangat dingin, sepertinya karena saya kedapatan duduk di limpahan angin AC. Beberapa kali sempat merungkel-rungkel di balik syal yang saya bawa.

dscf4681
HALO AKHIRNYA KITA BERTEMU!

Setelah kurang lebih 7 jam dari Bandung. Akhirnya, halo Semarang Tawang!

Dijemput oleh teman saya di Semarang Tawang kurang lebih pukul 05.00 pagi, akhirnya untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di stasiun tertua di Indonesia! Bangunan tua ini memiliki double facade. Jadi di atas atap bangunan yang lama, terdapat atap lagi. Karena bangunan lama terus turun dikarenakan land subsidence. Kalau saya lihat mungkin agar bangunannya tidak terkesan benar-benar ‘tenggelam’ dari ketinggan awalnya, karena itu atap di atasnya dibuat supaya bangunannya tetap terlihat baik-baik saja. Tur pertama di mulai dari melihat kawasan kota lama Semarang di pagi hari. Di depan Stasiun Tawang, terdapat Polder. Polder ini dibuat untuk mengantisipasi banjir yang kerap melanda kawasan kota lama. Diharapkan air mengalir ke dalam polder untuk nantinya dilepaskan ke laut. Area Polder ini awalnya adalah lahan parkir milik Stasiun Tawang yang sekarang akhirnya berubah fungsi.

dscf4685
Ini Polder di Semarang. Jenis aktifitas di sekitarnya: Orang jogging, ngobrol, bersepeda, terus katanya kadang pacaran sore-sore.

Perjalanan di hari pertama akan ditemani oleh teman saya. Berbeda di hari kedua yang akan saya lalui dengan diri sendiri (dan abang gojek!). Nah setelah sedikit ngobrol perihal stasiun dan polder, ini bagian paling bersemangat, jalan-jalan di Kota Lama! Karena selama ini hanya mendengar dari cerita saja tentang Kota Lama Semarang, hari ini bisa pergi ke sana rasanya sangat senang. Perjalanan pertama dimulai dari dekat Taman Sri Gunting. Taman ini terletak di sebelah Gereja Blenduk Semarang. Gereja Protestan ini merupakan salah satu landmark yang cukup terkenal di kawasan Kota Lama. Nah, beranjak dari bangunan, hal yang saya soroti adalah jalan yang dipaving! Semua kawasan Kota Lama jalannya di paving. Tapi kalau tidak hati-hati, saya kadang jadi bingung ini jalan pedestrian atau jalan kendaraan bermotor ya? Sempat saya berkata, “Ini kalau bukan orang asli Semarang pasti bingung jalan ini sebenarnya boleh dilewati mobil atau tidak.” Apalagi didukung suasana pagi yang sepi dan mengakibatkan pedestrian berjalan sesuka hati.

Akomodasi selama di Semarang

Saya menginap di hotel Cityone Semarang. Untuk info, hotel ini menyediakan kamar untuk satu orang saja. Jadi kamu tidak perlu membayar kamar untuk dua orang bila bepergian sendiri. Saya mengecek di tiga website hotel yang berbeda, harganya bersaing dan mirip-mirip. Akhirnya pilihan saya jatuhkan untuk membooking via booking.com dengan harga satu malam Rp 161.000. Fasilitasnya sudah standar hotel pada umumnya seperti AC, TV, kamar mandi dalam (air panas), air putih, dan kasur yang empuk. Menurut saya untuk single backpacker, hotel ini dapat menjadi alternatif. Terletak di Jalan Lamper Tengah, untuk mencapai area tengah kota berkisar 15-20 menit. Kekurangan yang menurut saya cukup krusial adalah tembok yang terbangun dari papan, jadi kadang aktifitas kamar sebelah cukup terdengar. Gampang sebenarnya, pakai headset saja atau pasang televisi. Untuk ukuran kamar sendiri kalau saya hitung kira-kira 2 x 2 dan kamar mandinya 1,5 x 2 (toilet, wastafel, dan shower).

Di hari pertama ini sebenarnya saya mendapatkan banyak city tour via jendela mobil untuk bekal besok jalan-jalan sendiri. Di siang hari, saya sempat mengunjungi Mesjid Agung Jawa Tengah yang ternyata kompleknya super besar (buat saya). Lahannya sendiri memiliki luas kurang lebih 10 hektar dan mesjidnya bisa menampung 15.000 jamaah. Kalau hari jumat, payung yang terdapat di teras mesjid ini dapat terbuka seperti di Mesjid Nabawi. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan yang datang ke komplek Mesjid ini. Saya datang kurang lebih pukul 10.00 dan komplek mesjidnya sangat sepi.

dscf4755
Karena bukan hari Jumat, jadi payungnya tidak terbuka.

Sepertinya destinasi wisata di hari pertama sudah habis. Kegiatan lain yang saya lakukan di hari ini lebih banyak city tour dan makan. Tidak ada kuliner khas yang saya makan selama di sini. Makanan yang saya konsumsi alakadarnya dengan prinsip yang penting makan!

Hari ke-2 (sekaligus terakhir)

Di hari kepulangan ini, saya melakukan perjalanan sendiri. Untungnya di Semarang sudah terdapat go-jek! Dengan fitur go-pay, kita akan mendapatkan potongan biaya sebesar 50% dan lebih praktisnya lagi kita sudah tidak perlu mengeluarkan uang berbentuk fisik. Dengan pertimbangan barang bawaan (satu ransel besar dan satu ransel mini), saya menyusun perjalanan destinasi serapi mungkin agar tidak kelelahan. Semua destinasi yang sekiranya membutuhkan jalan kaki, saya letakkan di pagi hari. Untuk siang saya memilih membunuh waktu sembari menunggu kereta pulang dengan dominasi kegiatan duduk. Dengan semangat, saya bangun pukul 05.00 dan segera mandi. Perjalanan dimulai pukul 06.00 dengan berjalan ke SPBU terdekat untuk top up go-pay. Ternyata usaha untuk top up via atm gagal, akhirnya saya top up via driver sebesar 45.000. Itu saja masih sisa ketika saya sampai di Bandung, hehe. Perjalanan paling mahal memakan biaya 9.000 yaitu dari penginapan ke Mall Paragon.

Kanal Banjir Semarang

Ini salah satu public space yang digunakan warga sekitarnya untuk beraktivitas pagi seperti berjemur, jalan pagi, atau seperti saya yaitu sekedar nongkrong pagi. Karena kemarin dilewatkan tempat ini dan histeris karena melihat air turun begitu bagus, akhirnya memutuskan untuk duduk pagi di sini. Sebagai satu-satunya anak muda yang jalan-jalan pagi itu, saya merasa asing sendiri. Apalagi bawa-bawa kamera, harus super percaya diri dan bertingkah seperti warga lokal. Secara fasilitas, area public space ini cukup baik dan terawat. Untuk masalah penerangan, saya kurang mengetahui apakah bila malam tempat ini memiliki pencahayaan yang baik?

dscf4803dscf4791

Klenteng Sam Poo Kong & Lawang Sewu

“Ini gimana ya caranya ke Sam Poo Kong?”
Aaaah super kesal kalau sedang jalan-jalan karena GPS di hp saya rusak. Koordinatnya mental sekitar 5 meter dari aslinya. Hal ini sangat menyulitkan ketika saya berurusan dengan google maps. Akhirnya saya mencoba membuka peta dan menulis destinasi awal dan akhir, didapatkan Klenteng Sam Poo Kong terletak kurang lebih 1,2 km dari Kanal Banjir. Ya masa naik gojek. Setelah menelusuri peta dan jalannya cukup mudah, akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki. Seringkali saya dipanggil, “Dek kenapa sendirian aja pagi-pagi. Gak sekolah?/Gak kuliah?” Lalu saya hanya tersenyum. Penting untuk diketahui untuk traveller perempuan, ketika bepergian gunakanlah pakaian sebiasa mungkin dan tidak mencolok. Kalau bawa kamera ditutupi saja dengan kain karena kemarin saya pun begitu, menutupi kamera yang menggantung di leher saya dengan syal atau kalau mau dimasukkan sekalian. Sembari menukar uang menjadi pecahan kecil untuk memudahkan transaksi, saya membeli sarapan satu kotak yogurt cair dan melanjutkan perjalanan menuju klenteng. Klentengnya terdapat di tengah kota jadi tidak usah takut untuk kesulitan menemukannya. Biaya masuk ke komplek Klenteng ini adalah Rp 10.000 dan saya hanya bertiga bersama pengunjung lain. Beruntung di dalam komplek diajak berputar-putar dengan Bapak yang sedang menyapu bagian altar Klenteng.
“Klentengnya sebenarnya begini aja dik. Tapi kenapa ya selalu ramai dikunjungin orang?”
“Tapi bagus kok Pak. Ini kalau dilihat dari atas sini kayak bukan lagi di Semarang, hehe.”

Lawang Sewu menjadi destinasi selanjutnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00, waktu saya cek, katanya Lawang Sewu buka pukul 09.00. Sesampainya di sana, ternyata jam bukanya pukul 07.00. Harga tiket masuknya sebesar Rp 10.000. Sebenarnya saya ditawari menggunakan guide, tapi karena ingin jalan-jalan sendiri akhirnya saya menolak untuk menggunakan guide.  Saya pun baru tahu kalau di dalam Lawang Sewu menyangkut dunia perkereta apian Indonesia. Gedung ini dahulu merupakan kantor dari NIS (Netherlands-Indische Spoorweg Maatschappij) yang selesai dibangun pada tahun 1907. Berada di kawasan strategis Tugu Muda Semarang.

Di sebut Lawang Sewu karena memiliki pintu yang cukup banyak. Ketika berkunjung, saya jadi memperhatikan pintunya. Memang cukup banyak tapi sepertinya tidak sampai seribu! Lawang Sewu telah mengalami konservasi dan revitalisasi dan terlihat bahwa bangunan ini sangat terawat. Menariknya di dalam ruang pamernya, terdapat blue print denah dan tampak dari Lawang Sewu. Lagi-lagi saya hanya bertiga (atau malah sendiri ya?) berada di kawasan komplek dengan para petugas kebersihan dan security. Di dalam sini, kita dapat mempelajari sejarah perkereta apian Indonesia.

Catatan kegiatan membunuh waktu yang lain…..
Semua destinasi bucketlist wisata telah saya kunjungi. Waktunya untuk pulang sejenak ke penginapan untuk mengambil barang dan mandi. Kegiatan siang yang menjadi alternatif menunggu adalah menonton. Saya menonton film di Mall Paragon yaitu La La Land dan menitipkan barang bawaan saya selama menonton di penitipan XXI Cinema. Saat kedatangan kemarin, teman saya bercerita di kawasan Kota Lama terdapat benda-benda lama yang dijual di dekat Taman Sri Gunting. Selesai menonton, saya meluncur dengan gojek ke kawasan Kota Lama. Kebetulan karena Stasiun Tawang terdapat di Kawasan Kota Lama, maka saya bisa bersantai hingga waktu keberangkatan kereta pulang ke Bandung. Terdapat beberapa barang lama seperti cangkir, pajangan dinding, buku, hingga pernak-pernik yang dijual di pasar ini. Sayangnya, ketika pasarnya di buka, saya malah tidak mengambil momennya karena…. Saya lupa karena apa, kalau tidak salah karena saya sendirian dan takut-takut sendiri ketika mau mengambil foto.

Saya super senang.
Jam-jam terakhir di Semarang saya habiskan di Spiegel Bistro&Bar yang memiliki jendela besar di pinggir jalan. Ya, interior kesukaan saya. Untuk makanan sendiri, Spiegel memiliki menu yang kurang lebih sama dengan bistro lain seperti pasta, nasi, dan makanan western lainnya. Picollo yang dibuat di sini juga cukup enak menurut saya. Dari pukul 16.30 hingga 19.00 saya memilih untuk menulis agar memiliki pengalaman menulis di Semarang. Mungkin 2 hari 1 malam ini menjadi momen awal tahun yang sangat menyenangkan dan berbekas di memori saya. Next trip lagi ke mana ya?

Catatan biaya, siapa tahu berguna untuk teman-teman (Januari 2017):
Tiket kereta Harina (Bandung-Semarang Tawang)
Berangkat (Eko) : Rp 185.000 (via tiket.com, pesan di hari keberangkatan bayar via atm)
Pulang (Bisnis) : Rp 285.000 (via tiket.com, pesan h-1 keberangkatan bayar via atm)
Penginapan (Cityone hotel (express)) : Rp 161.000 (via booking.com bayar saat datang)
Top up gojek : 45.000 (Sisa berlimpah di Bandung)
Makan&jajan 2 hari : Rp 100.000
Makan di Spiegel : Rp 110.000 (T_T Mahal sendiri)
Tiket Sam Poo Kong : Rp 5.000
Tiket Lawang Sewu : Rp 10.000
Gelang di Pasar Barang Antik : Rp 10.000 (3 buah)
Tiket XXI Paragon La La Land: Rp 40.000

Total biaya perjalanan 2 Hari 1 Malam Semarang Rp 951.000.
Nah, sekian cerita awal tahun saya yang menyenangkan. Selamat menyiapkan perjalanan ke Semarang yang lebih seru lagi dari saya!

Urban Traveller, Marisa Sugangga (2017)

 

Si ‘Aerospace Enthusiasm’ yang Takut Goncangan

Halo, Kalamona! Happy new year 2017!
hari pertama di tahun 2017 kemarin saya lalui di Bandara dan pesawat udara. Sangat menyenangkan sekali karena saya terakhir terbang di bulan Mei. Sejenak melepas kerinduan dengan langit dan awan, terima kasih Ibu atas liburannya.

sam_0133
my experince with Tigerair, si kuning gemas (saya suka sekali paduan warna logonya)) 

Setelah masuk ke dunia perkuliahan yang berada satu provinsi dengan tempat tinggal, saya semakin jarang menggunakan transportasi yang saya sukai yaitu pesawat udara. Salah satu wishlist saya sebagai seorang arsitek ialah ingin terlibat di salah satu proyek bandara di kota kecil-berkembang di Indonesia. Cita-cita sembari berkuliah di Arsitektur ini membuat kecintaan saya kepada dunia penerbangan tidak pernah surut seperti mempelajari detail dan seluk beluk bandara, sistem manajemen yang terjadi antara bandara dengan perusahaan-perusahaan penerbangan terkait, mengapa ada delay, dan lain sebagainya. Di masa semester 5 saat jenjang sarjana, saya mendesain sebuah bandara di Malang. Pertanyaan yang lantas keluar sungguh di luar ekspetasi saya, “Mbak, ini kalau Presiden turun dari pesawat, sirkulasi VVIP-nya di mana ya?” Lalu saya tidak bisa menjawab. Beberapa hari kemudian, salah satu dosen saya berkata, “Ya kalau Presiden bandara dan fasilitasnya menggunakan milik militer. Masa satu runway dan sefasilitas sama komersil, Cha?” – Hmm (lalu memicingkan mata).

Trik saya agar dapat mengunjungi bandara adalah menggunakan fasilitas transit. Fasilitas ini dalam dunia penerbangan memang lebih murah karena biasanya kita akan berhenti cukup lama di salah satu Bandara transit. Untuk sebagian orang yang berbisnis, hal seperti ini justru merugikan. Bagi saya? Keuntungan. Dalam benak seorang ‘tukang jalan-jalan’ seperti saya, ketika ada waktu berlebih, transit menjadi hal yang menyenangkan. Selain menengok bandaranya, kita juga dapat bepergian sejenak untuk mengenal kotanya. Tapi ingat, jangan sampai jadi tertinggal penerbangan berikutnya ya.

Mengapa menyukai Bandara dan pesawat udara?

Bila ditanya mengapa suka pesawat? Saya merasa cukup beruntung berkembang dalam kondisi nomaden yang siap menghadapi segala perpindahan dan perantauan. Karena saya, keluarga, hingga teman-teman tidak memiliki tempat berutinitas yang sama, maka perjalanan menjadi hal yang biasa bagi kami. Saya sangat sering bolak-balik Jakarta-Surabaya, Jakarta-Malang, dan Bandung-Surabaya. Hal yang paling ‘hectic’ bagi saya terjadi di tahun 2013 di mana saya melakukan perjalanan udara sebanyak 4x dalam satu minggu kurang dengan rute Surabaya-Jakarta, Jakarta-Kuala Lumpur, Singapura-Jakarta, Jakarta-Malang.

Berawal dari seringnya mengunjungi Bandara dan naik pesawat udara sejak kecil membuat saya jatuh cinta dengan dunia satu ini. Waktu kecil alasannya adalah bisa melihat awan! Awan yang ‘bergerumbul’ sangat menggemaskan. Ketika take off, pesawat akan menembusnya dan lihatlah negeri di atas awan! Hehe. Alasan kedua saya menyukai dunia Aerospace karena menikmati waktu-waktu senggang, sendiri, termenung ketika di Bandara. Saya menyadari bahwa hidup begitu cepat, orang-orang berpindah dengan begitu mudah, hingga menyelami raut muka para penumpang pesawat. Mereka akan ke mana, ingin apa, bersama siapa, dan apa kesibukan mereka hingga mereka harus berpergian. Banyak kontemplasi yang saya lakukan ketika berada di Bandara.

Ketiga adalah belajar untuk saling peka dan mendoakan sesama. Ketika berada dalam pesawat, kita harus sepenuhnya percaya pada pilot dan awak kabin. Apa yang mereka lakukan adalah effort terbaik dari yang mereka punya. Saya pernah duduk dengan seorang Ibu yang bolak-balik Jakarta-Amerika dan saat itu pesawat sedang mengalami guncangan. Saya sangat takut dan memegang tangan beliau. Ibu tersebut hanya tersenyum dan perkata, “Dik, kita bisa meninggal di mana saja. Untuk sekarang, percayakan semua sama bapak Pilot. Didoakan ya.” Sepenggal kalimat ini benar adanya dan cukup berhasil mengusir kecemasan saya.

Mengusir Aerophobia

Perasaan gelisah ketika berada di udara baru saya rasakan di penghujung usia 23 tahun, justru ketika saya sedang jarang-jarangnya naik pesawat. Biasanya perjalanan 60 menit sangat saya nikmati, tapi kali ini berbeda. Saya sering menyebutnya air-stress, sebutan bagi saya sendiri. Perasaan takut, cemas, dan melihat jam karena ingin segera sampai menjadi hal yang lumrah pada saat itu. Saya dapat menekan tombol untuk bantuan pramugari hanya untuk menanyakan, “Mbak, ini gapapa ya? Saya takut. Mau pinjam tangannya.” Duh. Ini hanya saya lakukan ketika saya terbang sendirian dan sebelah saya laki-laki. Biasanya bila sebelah saya seorang Ibu, saya akan berkata kepada beliau untuk menemani saya.

Hal kedua yang dapat meredam kecemasan saya adalah membaca buku. Saya sering menyiapkan buku dalam perjalanan untuk mengalihkan perhatian saya. Entah ini hanya perasaan saya atau tidak, proses take off dan landing akhir-akhir ini tidak semulus jaman dahulu kala. Mungkin cuaca saat ini sudah tidak sebagus dulu (mungkin). Membawa bantal atau boneka selama perjalanan pun menjadi langkah ampuh ketiga untuk menghilangkan air-stress saya. Berangsur-angsur ketakutan saya mereda, walau kadang timbul tenggelam, tapi hal ini harus segera di atasi karena khawatir ketakuan malah membuat saya memiliki aerophobia #sad.

Pesan dari Bapak Rudy Habibie

Bagi yang sudah menonton film Habibie & Ainun, pesan ini pastilah tidak asing. Ketika Bapak Habibie membawa Bu Ainun untuk tinggal di Jerman, di dalam kabin pesawat, Bu Ainun sempat gelisah karena pesawatnya bergetar. Dengan senyumnya, Pak Habibie menenangkan dan berkata, “Tenang saja. Kalau pesawat itu bergetar berarti bagus, tidak terjadi keretakan.” Jadi saya mengambil kesimpulan bila pesawat sedang bergetar, tidak apa-apa karena itu bagus. Pilot pun jadi menyadari bahwa ada ‘sesuatu’ ketika bergetar. Nah, ini menjadi salah satu pesan yang berharga untuk para aerophobia (semoga saya tidak termasuk, hehe).

Peran pesawat udara di Nusantara sangatlah besar, Pak Habibie tahu itu. Ia mampu menjadi transportasi utama karena negara kita merupakan kepulauan. Perjalanan darat akan memakan waktu yang lebih lama dan terkadang menjadi tidak efektif. Namun tidak dapat kita pungkiri bahwa biaya untuk perjalanan udara jauh lebih mahal. Hal ini disebabkan banyaknya hal-hal yang harus dilakukan baik sebelum hingga sesudah pesawat tersebut terbang. Dari segi biaya maintenance jelas lebih mahal namun kita akan untung banyak di bagian waktu. Hingga kini, saya masih percaya bahwa putra-putri Indonesia selalu mengembangkan teknologi di bidang penerbangan karena bukan hanya Bapak Habibie dan saya yang menyadari pentingnya peran pesawat udara sebagai penyambung antar pulau.  Maka untuk bersahabat dengan zaman, bersahabat dengan dunia penerbangan dan mengusir ketakutan di dalam pesawat adalah hal yang harus dilakukan.

Jadi salah satu resolusi di 2017 adalah menetralkan kembali perasaan takut yang saya miliki dua tahun belakangan ini #Resolusi2017Marisa. Semoga di tahun ini banyak bertemu dengan Bandara dan langit-langit di Nusantara hingga penghujung dunia.

Bogor, Januari 2017
Marisa Sugangga, si Aerospace Enthusiasm