Menghargai Air

Dalam satu minggu, ada hari saya termenung melihat air yang saya gunakan sehari-hari lewat wastafel. Air bersih bening itu ternyata masih sulit ditemukan di beberapa kota-kota di Indonesia. Saya baru tahu bila kesulitan utama pada kota yang berada di kepulauan adalah sulitnya menemukan sumber air.

Mendapatkan air bersih merupakan tantangan tersendiri bagi daerah tersebut. Di saat kita yang kadang lupa memaknai air bersih yang ada di dekat kita, sebagian teman kita sibuk mencari cara mengangkut air dari sumber mata air terdekat.
Bukan berarti menggunakan air menjadi solusi atas semua ini. Tulisan ini hanya sesederhana berkata bahwa, “rezeki datang dari mana saja.” Termasuk rezeki air yang seringkali luput dari pandangan kita.

“saya di sini hanya sebagai hilir atau muara? tempat air dari gunung bertemu kembali dengan lautannya.”

Bandung, 2016
#30DWCHari20

Membiasakan Diri

Halo!

dscf4272

Hari ini menulisnya dengan bahasa yang lebih ‘rileks’ ya. Akhir-akhir ini saya terlalu serius sampai lupa bagaimana caranya menulis rileks. Saya tidak menganggap hal-hal serius itu lantas bukan saya, tapi lebih membiasakan diri agar bahasanya lebih mudah dicerna oleh banyak pembaca.
Banyak hal yang saya dapatkan di Bandung, terutama dalam upaya membiasakan diri dengan hal yang baru bagi saya. Sebut saja dunia perkuliahan pascasarjana ini. Saat berkuliah di Arsitektur, saya mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Saat-saat berkelompok hanya ada di awal semester saja misalnya 4 bulan pertama untuk keperluan survey.
Berbeda dengan yang saya rasakan di jurusan Rancang Kota saat ini. Satu perjalanan panjang studio saya diisi dengan berkelompok hingga nilai akhir pun pada akhirnya akan ditentukan oleh hasil kelompok. Kalau dulu saya membuat massing model (3D modelling) untuk bangunan saya sendiri, sekarang modelling itu digunakan untuk satu kelompok. Di sini saya belajar untuk mengerjakannya dengan rapi. Bila tidak rapi akan menyulitkan siapapun yang mengeditnya setelah saya. Sungguh banyak sikap toleransi yang harus saya curahkan untuk bertahan di perkuliahan ini.
Beruntung bahwa saya gemar berorganisasi sejak berada di zaman sekolah, untuk berkordinasi dalam satu kelompok bukanlah hal yang sulit. Namun yang perlu ditengahi ketika kita berada di satu titik di mana kita ingin A lalu teman kita menginginkan B, bagaimana caranya mendapatkan AB yang seutuhnya, itulah yang sulit.
Upaya-upaya membiasakan diri dengan sifat teman yang berbeda-beda, ritme pekerjaan dari individu ke kelompok, cuaca Bandung yang begitu kelonable, tidaklah semudah itu. Hal menguatkan saya karena saya tidak sendiri merasakan itu. Setelah terjadi sesi curhat, banyak juga pribadi yang kaget dengan ritme kerja baru seperti ini. Tak mengapa, sungguh menyenangkan.

Adapula upaya perbaikan untuk kualitas diri. Saya lupa pernah membacanya di mana, tapi inti dari bacaan itu adalah seperti ini. “Yang luar biasa adalah ketika kamu bisa rutin dan konsisten di dalam menjalankan satu hal yang menjadi fokusmu itu. Dalam seminggu, catatlah berapa hari kamu membolos. Satu-dua hari lewat itu hal yang biasa, namun bila terus-terusan lewat berarti dirimu kurang bersungguh-sungguh untuk mendapatkan itu.” Kalimat mujarab ini banyak membantu saya ketika saya lengah saat mencapai tujuan-tujuan tertentu dalam hidup saya. Pada intinya rutin dan fokus, lama-lama diri kita akan terbiasa dengan hal tersebut. Kebiasaan adalah hal yang bisa kita ciptakan dengan niat dan kemauan.

a : dan pada akhirnya biarkan kamu yang mengolah, atas setiap respon saya yang biasa ini.
b : ya begitu sajalah, kan saya terbiasa dengan multitafsir
a : berarti jangan protes bila ke depannya saya terus berupaya mencipta momen
b : ya, tidak akan protes
a : jangan protes bila waktu nyata yang kita miliki saat ini begitu sempit. mungkin dariku yang mengajari makna kehilangan nanti, akan membuat dirimu semakin bersyukur atas apa yang kamu miliki nanti. semoga siapapun pria itu nanti akan selalu merasa beruntung dengan dirimu yang telah bertransformasi. pada saat itulah peranku sudah berhenti di kehidupanmu
b : iya
a : dan jangan mengharap pribadi ini muncul dan datang kembali sekali lagi. karena kadang memang hanya itu saja porsi waktu yang paling presisi.
b : iya, nanti akan selalu berupaya membiasakan diri dengan apa yang harus terjadi saat itu kok.
a : aku mencoba meneruskan kalimat dengan akhiran i, biar membentuk harmoni. apalagi ya?
b : hah?
a : hahahahaha eh salah hihihihi
b : ………….

Beberapa upaya membiasakan diri yang tidak bisa ditempuh dengan cara instan. Maka bila berdoa pada Tuhan, mintalah untuk diberi pundak yang kuat saat mendapat cobaan, bukan meminta untuk tidak diberi cobaan. Justru cobaan dan proses membiasakan diri itu akan membuat dirimu kuat.

Bandung, Desember 2016
#30DWCHarike19

Berjalan Beriringan

Bandung memang luar biasa.
Bahkan suasana sorenya selalu membuat kami rindu akan pemandangan langit yang berkolaborasi dengan pohon-pohon besarnya. Ada satu sosok yang selalu ‘kesal’ bila saya berjalan dengan diam. Menghujani saya dengan pertanyaan, “Ada apa?” yang berulang-ulang. Penuh tanya, selalu sendu, namun tidak pernah memaksa saya untuk bicara.

Langkah kaki saya memang terbiasa cepat, maklum cetakan komunitas komuter line JABODETABEK. Terkadang sosok satu ini suka tertinggal di belakang saya dan sebenarnya tidak terlalu jauh. Sesekali mengimbangi langkah kaki saya, tapi tetap saja saya selalu lebih cepat daripada dia.

“Gak mau jalan di belakang ah.”
“Hah kenapa?”
“Gak suka lihat punggung.”
“……..”
“Nanti ada waktunya melihat punggung kok. Sekarang lebih baik jalan beriringan seperti ini. Kalau mau pergi, harus bilang ya.”
“Kenapa?”
“Aku takut.”

 

“Tentang kepergian, janganlah pergi secara tidak bersamaan. karena yang ditinggalkan, akan menjadi pemilik hati yang paling tangguh.” – Marisa. Tangguh di sini berarti hatinya akan terus menerus ditempa karena kesedihan atas ditinggalkannya ia oleh kenyataan yang terus berjalan.

Sejak saat ini, saya memaknai bahwa hubungan, relasi, antar manusia, tidak sesederhana itu. Apalagi kemarin saya melihat bahkan merasakan sendiri detakan jantung seorang manusia yang terlihat begitu kuat namun ternyata se-melankolis itu. Jujur saja, saya tidak pernah ada di sisi se-melankolis itu dan pada akhirnya menyadari betapa tulusnya perasaan yang tercurah pada saat itu.

Maka di sini pula saya berjanji, ketika memang punggung ini harus berjalan menjauh, bukan hanya tentang saya, namun tentang dirimu. Maka akan saya pastikan, kita mempersiapkannya secara bersama, berdua, seperti sebagaimana kita memulainya tidak sendiri, namun berdua.

Bila saat ini berjalan beriringan dirasa yang terbaik, maka saya akan meminta kekuatan untuk menghadapi segala kenyataan yang kapan saja bisa datang.

Bandung, Desember 2016
#30DWCHari18

Berkenalan Dengan Jarak

Sore itu di kereta ekonomi yang berangkat dari Magelang menuju Malang, jendela kereta sedikit terbuka. Angin sore masuk perlahan mengenai mata yang sendu menatap langit

Sebut saja jarak.

Siapa itu jarak? Dewi Lestari bilang, jarak itu ada agar rindu bisa masuk. Benarkah? Bisa jadi benar bisa jadi salah. Hal ini tergantung dari bagaimana kita memaknai jarak

Bagi sebagian manusia yang hidup saat ini, jarak bukan lagi masalah. Teknologi bisa membuat raga ini begitu dekat meskipun jauh pada kenyataannya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan jarak ini terkadang dipermasalahkan oleh sebagian manusia lainnya.

Bagi saya pribadi, hidup bersama orang-orang terkasih bersama jarak adalah hal yang lumrah. Dalam berhubungan sesama manusia, jarak pernah membuat saya dan teman-teman saya begitu jauh. Seiring berjalannya waktu, justru dengan jarak kami bisa tahu, siapa sebenarnya yang mencintai kami dengan tulus. Begitulah saya mengambil hikmah untuk hidup bersama dengan jarak. Tidak, dia bukan penghalang. Jarak adalah salah satu kesempatan untuk melihat dari berbagai perspektif.

Saat mengetahui bahwa jarak begitu “menyebalkan”, di satu sisi saya belajar bahwa makna jarak lebih dari sekedar “jarak”.

jika memang saatnya nanti jarak ini semakin jauh dan lebar, semoga rasa bersalah dan menyesal tidak terlalu menghantui

Bandung, Desember 2016

#30DWCHari17

Memperkenalkan Budaya

“Belum tahu caranya bisa mendidik anak yang cinta budaya negeri sendiri tapi juga bisa menghadapi persaingan global, go international gitu. Kadang kan ada yang pikirannya terlalu kebarat-baratan, super pinter, tapi dia tidak mengenal budaya Indonesia. Itu salah ga ya? Tapi dia kan aset negara juga sebenarnya, hehe”
“Dengan memperkenalkan sih, Cha. Kenalkan saja dengan budaya Indonesia sejak dini. Untuk urusan tantangan global, dia pasti akan mendapatkannya kok di pendidikan formal di luar rumahnya. Cuma memang untuk case budaya, mungkin harus kita yang rajin memberinya pandangan.”

Saya adalah orang yang akan memasang wajah aneh ketika melihat aksara Jawa. Aksara Sunda saja sudah lupa-lupa ingat, walaupun kalau ditunjukkan saya tetap ingat bahwa itu aksara Sunda.

Pada akhirnya saya mengkhawatirkan diri sendiri yang kurang mengenal budaya Indonesia. Saya pun yakin sebenarnya teman-teman saya tidak seapatis itu, mungkin lingkungannya tidak mendukung. Maka beruntunglah pribadi yang mau mengenal dan memperkenalkan budaya Indonesia kepada lingkungan terdekatnya. Setidaknya nilai-nilai budaya itu tidak sepenuhnya luntur tergerus zaman.

Bandung, Desember 2016
#30DWCHari16

Melambatkan Waktu

“Ketika rajutan kata tidak lagi mampu menjadi jembatan untuk saling mengerti, semesta akan selalu membentuk ruang dan waktu untuk mencipta momen agar kita berkontemplasi. Singkat kata, mereka mengerti.”

Apa itu bersyukur?
Lagi-lagi saya membicarakan tentang rasa bersyukur yang sering menjadi momok terlupakan oleh banyak manusia di dunia, termasuk saya. Kemarin saya mendapatkan hal yang menarik dari teman saya. Kurang lebih kejadian dan dialognya seperti ini:

x : Yaudah, aku pulang jam 11.00 ya. Ini 10.45, masih ada 15 menit lagi.
y : oke
diskusi
x : *Melihat jam tangan*
diskusi
x : *Melihat jam tangan*
y : Kenapa lihat jam tangan terus?
x : Hah? Gapapa biar terasa lama waktunya
y : Serius? Bisa gitu ya?
x : Loh baru sadar ya? Marisa pernah merasa tidak, kalau kita menanti sesuatu dengan sadar, itu akan terasa lebih lambat daripada kita menjalaninya tanpa sadar. Contohnya seperti pulang sekolah, kita lihat saat itu jam dinding menunjukkan pukul 10.30. Kita pulang pukul 11.00, pasti akan lambat sekali jarum jam sampai ke 11.00. Hahaha, itu karena kita melihat jam itu terus.
y : Ih memang iya? Kalau yang perumpamaan itu benar, aku juga merasa. Tapi kalau memperlambat waktu dengan cara yang seperti ini, baru tahu hari ini.
x : Coba sendiri

Selang beberapa hari, saya mencobanya dan benar. Mungkin teman-teman yang belum pernah mencobanya, bisa ikut merasakan bagaimana ‘melambatkan’ waktu sejenak. Di saat itu secara bersamaan, saya merasa bahwa setiap detik begitu berharga untuk dilewati.

710720

Bandung, Desember 2016
#30DWCHari15

Membicarakan Fenomena “Urban Sprawl”

dki-jakarta
Ibukota Indonesia (sumber gambar: ilmupengetahuanumum.com, diakses pada 14 Desember 2016)

Fenomena urbanisasi di mana migrasi dari desa ke kota untuk mencari penghidupan yang lebih baik telah membuat sebuah kota kelebihan muatan kapasitas di dalamnya. Kota yang pada awalnya direncanakan untuk 600.000 jiwa sekarang harus kelelahan menampung 3.000.000 jiwa di mana tidak semuanya adalah warga asli kota tersebut. Salahkah penduduk yang bermigrasi tersebut? Ketika urusan perut menjadi sebuah alasan untuk mereka berpindah, apakah perpindahan mereka masih dianggap hal yang salah?

Pernahkah teman-teman mendengar tentang urban sprawl? Diambil dari bahasa inggris, istilah ini berarti acak atau menyebar. Hal ini berarti kota berkembang ke arah yang tidak teratur, secara acak, serta di luar dari perencanaan yang sudah ada. Salah satu penyebab fenomena ini terjadi adalah pemikiran masyarakat bahwa harga tanah di daerah pinggiran kota akan lebih murah daripada harga tanah di perkotaan. Akan banyak masyarakat yang memilih untuk mempunyai pemukiman di daerah pinggiran dan melakukan aktifitas ekonomi seperti bekerja di pusat kota.

Hal ini memicu perubahan secara tidak terkontrol pada RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah) di daerah pinggiran/pedesaan menjadi didominasi oleh area pemukiman. Kota yang ideal berkembang mengikuti rencana yang telah dibuat oleh pemerintah. Kota yang ideal. Pada realitanya, fungsi kontrol yang lemah dari pemerinta untuk mengawasi setiap sektor dan lini pembangunan membuat rencana tidak terealisasi dengan baik. Seharusnya kita baru dapat melihat sukses atau tidaknya sebuah perencanaan dalam kurun waktu tertentu. Misalnya daerah A memiliki perencanaan dalam kurun waktu 20 tahun. Kita dapat mengevaluasi rencana itu setelah hal tersebut berjalan sesuai rencana dalam 20 tahun. Tidak dapat dipungkiri, hal tersebut masih sulit untuk dicapai. Saya sempat bertanya pada teman saya, “Adakah kota yang ideal? Kota yang tidak terkena dampak urban sprawl?”. Jawaban yang dilontarkan sesuai dengan ekspetasi saya, “Hampir tidak ada.”

Konsep kota ideal tanpa urban sprawl masih sulit diwujudkan. Kendala utama yang menyebabkan hal ini terjadi adalah tidak terkontrolnya sebuah pembangunan. Polemik yang terjadi memiliki siklus yang sulit diputus. Pembangunan saat ini banyak dikuasai oleh pihak swasta karena pemerintah tidak memiliki dana untuk merealisasikan rencana pembangunan mereka sendiri. Tidak dapat disalahkan bahwa pihak swasta akan lebih banyak bermain di profit-oriented di mana keuntungan yang masuk haruslah sebanyak-banyaknya.

Kota yang terencana tidak akan mengalami urban sprawl. Mungkinkah hal ini terjadi? Tidak ada yang bisa mengontrol setiap kegiatan dan pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat. Mengingat hal ini sulit diwujudkan maka langkah adaptif yang dapat dilakukan oleh kita sebagai pihak yang mengetahui bagaimana seharusnya kota terbentuk adalah mencari solusi. Solusi yang mampu mereduksi dampak negatif yang timbul akibat urban sprawl dan perubahan RTRW ini. Contohnya seperti memperkuat sektor UMKM sebagai aktifitas ekonomi yang masih mendominasi di area pinggiran/pedesaan. Dengan memperkuat UMKM, maka ekonomi yang timbul tidak melulu mengarah ke perkotaan namun juga ekonomi pada area pedesaan ikut dimajukan.

Fenomena ini tidak hanya mengakibatkan perubahan lahan saja. Konteks yang mencakup area ini cukup luas termasuk dampak sosial yang timbul. Masyarakat pedesaan pada akhirnya harus menyingkir karena lahannya digunakan untuk kaum berpenghasilan baik yang memilih untuk tinggal di area pinggiran. Meningkatkan pasar jual kendaraan untuk mencapai tempat kerja dari area pemukiman. Kemacetan akan timbul seiring dengan kebutuhan manusia untuk menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai tempat kerjanya sehari-hari.

Dampak positif yang timbul dari fenomena ini sebenarnya membuat daerah pinggiran menjadi lebih diperhatikan potensinya untuk dikembangkan dan dibantu meningkatkan fasilitas infrastruktur kotanya. Namun yang menjadi pertanyaan, untuk siapakah infrastruktur dan pembangunan itu dilakukan? Untuk penduduk lokal pinggirannya ataukah lagi-lagi untuk kepentingan masyarakat menengah ke atas yang hanya menggunakan area pinggiran untuk tempat bermukimnya?

Tidak akan ada manusia yang dapat bersifat adil. Kembali pada pertanyaan, ketika seorang manusia diberika kekuasaan yang absolut atas sesuatu, mampukah ia mengontrol dirinya untuk tidak tergoda melakukan hal-hal diluar rencana untuk mendatangkan keuntungan yang lebih besar?

Bandung, 2016
Dari yang mencintai Kota Bandung dengan segala permasalahannya.
#30DWCHari14

 

 

Pagi di Rancaupas

dscf2588
Langit pagi di Rancaupas

Bulan September 2016 lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Bumi Perkemahan Rancaupas di Ciwidey. Bumi ini terletak kurang lebih 50km dari pusat Kota Bandung. Dengan ketiba-tibaan, saya dijemput dini hari oleh teman-teman saya dan untuk pertama kalinya kami bermain bersama berdelapan. Selamat tugas negara tersebut, saya duduk di depan dan bertugas sebagai co-pilot. Sebagai co-pilot yang baik, tidur menjadi pantangan bagi saya.

Kami melewati jalur dalam Kota Bandung. Malam tidak begitu ramai dan mobil kami menuju ke arah Asia-Afrika untuk nantinya masuk ke daerah Kopo. Saat sampai di daerah Ciwidey, jarak pandang sedikit terganggu karena kabut yang tebal. Saya adalah orang yang penuh persiapan alias suka bawa hal-hal yang aneh bila bepergian. Salah satu teman saya berkata bahwa tas saya adalah kantong ajaib doraemon. “Saya penasaran nih di tas Mbak Icha ada apalagi ya?”

Saat memasuki Bumi Perkemahan, kita akan ditarik biaya sebesar Rp 15.000. Sebenarnya biaya itu adalah biaya untuk camping, sedangkan kita tidak camping. Hal ini dikarenakan kita tiba di pukul 02.30 di mana itu masuk dalam hitungan camping. Seingat saya tanpa hitungan camping, masuk area ini dikenakan biaya Rp 5.000 saja.

Super dingin.

Setelan saya setiap hari memang sudah winter style, ke mana-mana sangat suka membawa syal. Malam itu lebihan sandang saya berikan kepada teman yang membutuhkan perlindungan lebih dari cuaca dingin. Di Bumi Perkemahan ini, terdapat camping ground, area makan, dan tempat penangkaran rusa. Tempat rusa ini tidak dibuka 24 jam, terdapat jam operasionalnya bila ingin naik ke area pejalan kaki yang dapat melihat rusa dari atas. Kalau sekedar pegang-pegang rusanya dari luar pagar bisa kapan saja.

Pagi di Rancaupas memberikan saya kenangan yang sulit dilupakan. Gradasi warna saat mataharinya terbit begitu menyenangkan mata sekaligus hati. Deret pohon yang tinggi-pendek, cahaya matahari yang berusaha masuk di celah-celah, dan latar belakang gunung yang membentuk siluet sangat indah. Rancaupas menjadi destinasi yang membahagiakan bagi saya di tengah-tengah perkuliahan. Oh ya, tempat ini sangat dekat dengan Kawah Putih. Bila tidak terlalu lelah, bisa sekali jalan mendapatkan dua tempat yaitu Rancaupas dan Kawah Putih.

dscf2584
Enter a caption
dscf2611
Parking Area di Rancaupas

Tips ‘bermain’ ke Rancaupas
Cuaca dingin menjadi satu hal yang lumrah saat kita berada di destinasi wisata Kota Bandung. Berikut beberapa tips dari saya agar perjalanan menjadi lebih nyaman:

  • Bawa jaket, syal, kaos kaki. Bawa saja. Keperluan sandang akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain
  • Bila ingin mengejar sunrise, berangkat kurang lebih pukul 03.00 dari Bandung sudah cukup. Kami berangkat pukul 01.40 dari Bandung dan terlalu pagi. Kecuali bila teman-teman mau menghabiskan malam bersama partnernya, tidak masalah datang pukul berapapun
  • Tenang, di sana warung makanan buka 24 jam.
  • Setelah melihat sunrise, bisa diagendakan untuk meluncur ke Kawah Putih karena letaknya berdekatan

“Saya jadi merasa bersyukur dengan banyak hal yang saya miliki saat ini”

Sekian satu dari sekian cerita jalan-jalan saya di tahun 2016. Semoga tahun depan bisa explore lebih banyak lagi sembari melaksanakan kewajiban sebagai mahasiswi. Salam dari Bandung!

Bandung, Desember 2016
#30DWCHari13

 

Upaya Berdamai Dengan Perkuliahan Arsitektur

dscf4089
Maket studi kawasan Braga di Lab. Rancang Kota ITB (2016)

Setelah lulus dari dunia kuliah tahap awal, beberapa email masuk dari adik-adik tingkat saya dan bertanya bagaimana bisa survive untuk kuliah di Arsitektur. Tahun 2010 silam, saya menjadi mahasiswi S1 Arsitektur di Universitas Brawijaya. Saya tidak mengenal Arsitektur sebelumnya dan tidak berniat menjadi seorang Arsitek. Jurusan-jurusan yang saya minati sebenarnya ada di ranah sosial, namun Tuhan memberikan jalan terindahnya.

Di pertengahan tahun 2011, saya merasa sangat bersyukur berada di jalan ini. Menjalani 6 (enam) tahun tumbuh kembang bersama Arsitektur dan lingkungan yang baik di Malang. Dia bukan lagi sekedar ilmu ‘nyeni-menyeni’ sebuah bangunan. Dalam mendesain, aspek lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, politik, dan beberapa stakeholder terkait akan mempengaruhi bagaimana desainmu terbentuk.

Tulisan ini bukan sebagai teori paten yang lantas bisa membuat teman-teman menjadi begitu bahagia telah bergabung di dunia Arsitektur. Hanya ingin berbagi dan sangat terbuka untuk pertanyaan, kritik, dan saran yang membangun. Sebut saja poin-poin ini adalah upaya kita untuk berdamai dengan segala konsekuensi yang akan muncul ketika kita berarsitektur.

  • Berusaha untuk memanajemen waktu
    Tidak dapat dipungkiri bahwa seorang (mahasiswa) arsitek akan memiliki kelas bersifat studio. Dari bobot sks, biasanya studio akan memegang peranan paling besar. Itu artinya, nilai studio akan mempengaruhi sebagian besar indeks prestasi (IP) teman-teman. Dalam studio, biasanya output yang diinginkan berupa laporan, panel, slide presentasi, dan maket. Satu tugas output-nya empat! Bisa dibayangkan betapa teman-teman akan membutuhkan spare waktu dan harus jeli dalam menyusun timeline. Usahakan selalu mengikuti rencana dan hindari rencana yang fleksibel (kecuali plan A, plan B). Pada kenyataannya, saya bukan orang yang bisa mengikuti rencana hingga 100%, pasti terdapat beberapa improvisasi rencana tergantung kondisi. Jangan panik, itu hal yang biasa selama kita dapat menyikapinya dengan tenang.
  • Jangan takut ‘tidak bisa menggambar’
    Banyak cara untuk menuangkan ide dan konsep dalam bentuk desain. Implementasi konsep tersebut tidak harus dituangkan dalam ‘gambar tangan/sketsa’. Serangkaian software Arsitektur seperti AutoCAD, sketchup, Revit, dll akan membentuk fisik dari konsep kita. Jiwa dari bangunan/desain adalah konsepnya, maka jangan takut karena tidak bisa menggambar. Sketsa adalah hal yang bisa dipelajari dengan ketekunan dan latihan setiap hari. Sebenarnya tidak dipungkiri bahwa keberadaan sketsa memang kadang diperlukan ketika kita membutuhkan menuangkan ide dalam waktu cepat. Sekali lagi saya berani bilang bahwa jangan sampai hal ini menyurutkan semangatmu untuk berkecimpung di dunia Arsitektur.
  • Gunakan waktu luang untuk mengumpulkan preseden (contoh-contoh)
    Menggunakan preseden bukan berarti kita mencontek. Preseden digunakan untuk menginterpretasikan keinginan kita dalam ranah konsep yang mungkin sulit ditangkap pihak lain. Preseden juga berguna untuk menjadi satu studi kasus yang kita pelajari. Kita dapat memilah hal baik dan kurang baik yang nantinya digunakan sebagai tools dan ide untuk mendesain. Di dunia presentasi, preseden akan dibutuhkan untuk membantu audience mengerti konsep bentuk yang kita inginkan. Bisa juga untuk menyimpan (download) gambar preseden dalam komputer teman-teman. Jangan lupa untuk di organize misalnya sesuai fungsi atau bentuk agar tidak bingung mencarinya saat dibutuhkan.

    untitled
    Archdaily.com, satu dari berbagai website Arsitektur yang menarik untuk belajar mengenai preseden.
  • Rajin berdiskusi untuk melatih kemampuan presentasi
    Presentasi, presentasi, presentasi.
    Mungkin begitulah gambaran kuliah di Arsitektur. Rajin berdiskusi dengan dosen hingga dibawa ke presentasi di depan kelas akan menjadi gambaran yang cukup tepat mengenai studio. Nongkrong di warung kopi sambil bertukar ilmu bersama sahabat bisa menjadi salah satu cara untuk latihan mengasah otak dan menyampaikan ide. Cara ‘cukup’ aneh yang pernah saya lakukan adalah berbicara di depan kaca untuk memperhatikan apakah mata saya berbicara dan gestur saya cukup baik. Menurut saya pribadi, diskusi sangat baik untuk melatih kemampuan kita menyampaikan argumen dan pendapat. Buatlah diskusi yang dua arah agar lebih interaktif dan memastikan bahwa kita juga dalam lingkaran yang saling belajar di dalamnya.
  • Jalan-jalan keluar ruangan dan beranjak dari laptop/meja gambar
    Usahakan untuk mengambil trip sejenak untuk memperhatikan lingkungan di luar. Studio akan membuat kita seperti seorang astronot yang gemar berada di dalam ruangan untuk menyelesaikan deadline. Belilah cemilan/jajan di tempat baru hingga pulang melewati rute yang tidak biasa akan membuat pikiran kita menjadi relax. Jalan-jalan merupakan unsur penting untuk meningkatkan kepekaan kita terhadap lingkungan. Ketika kuliah, teman-teman akan sering mendengarkan Bapak/Ibu Dosen berkata, “Sering-sering jalan ya!” 
  • Inspirasi bisa dibuat/coba dituangkan, tidak harus ditunggu
    Biasanya kita akan stuck ide di tengah-tengah pekerjaan kita. Dalam buku 99 Untuk Arsitek karya Raul Renanda, ada satu bab yang sangat membantu saya dalam menjalani hari-hari stuck. Isi bab itu menjelaskan bahwa salah satu tips untuk menghadapi kebuntuan adalah tetap menggambar/mengkonsepnya. Lakukan saja, gambar saja, tuangkan saja. Ketika sudah tertuang, akan ada hal yang dapat kita ‘pikirkan kembali’ dan bisa menjadi bahan diskusi pada siapapun. Minimal ada hal yang bisa kita diskusikan dan cermati daripada stuck di satu titik dan bercampur aduk di dalam kepala. Bab ini sungguh membantu banyak perjalanan desain saya, terima kasih Om Raul!

Enam poin di atas dapat teman-teman aplikasikan untuk ‘bertahan’ di dunia Arsitektur. Tips di atas saya tulis berdasarkan apa yang saya rasakan dan jalani selama beberapa tahun belakangan ini mulai dari kuliah – kerja – hingga kuliah lagi. Semoga bermanfaat!

“jadi Arsitek jangan cuma nurutin arus urbanisasi ya, Mba. Biar tetap disayang”

Bandung, Desember 2016
#30DWCHari12

 

Potensi dari Segi Perancangan Kota Bogor

Semalam terdapat percakapan menarik antara kami berlima dengan saya sebagai subjek yang terus menerus ditanya (karena bergabungnya paling terakhir). Saat menjawab pertanyaannya, saya merasa perlu berpikir lebih saat membicarakan soal “Kota mana yang paling berkesan untuk mba Icha?”

image-php_
Tugu Kujang, landmark Kota Bogor. (sumber gambar:  http://bogor.net/, diakses pada 11 Desember 2016)

Bogor.

Tanpa basa-basi, saya bercerita bahwa bersama Bogor saya menikmati setiap pergantian cuaca di dalamnya. Dari dingin ke panas hingga dari gerimis ke badai. Hal kedua yang saya katakan adalah senjanya. Ada senja yang selalu khas saat saya berada di Bogor. Gradasi warna antara skyline gunung, pohon, langit, dan genteng rumah selalu menjadi pemandangan menarik yang bisa saya nikmati dari balik jendela kamar. Terakhir saya berkata bahwa saya tumbuh dengan Bogor bersama waktu. Rasa adalah hal yang membuat saya merasa nyaman di Bogor. Rasa ini menjadi penguat berbagai sudut Kota Bogor yang mungil ini.

Saat bangun pagi, ternyata ada pikiran yang menarik bagi diri saya sendiri. Secara bentuk fisik, apa yang membuat saya jatuh cinta ya dengan Bogor? Agar lebih mudah, saya akan membedahnya sedikit melalui elemen kota yang terdapat di dalamnya berdasarkan buku The Urban Design Process karya Hamid Shirvani. Di sini, saya tidak membahas semua elemen yang berada di Kota Bogor. Hanya beberapa contoh yang secara kasat mata dapat saya jabarkan di sini.

  • Land use (tata guna lahan)

Dari segi penggunaan lahan, saya melihat persebaran guna lahan di Kota Bogor di dominasi oleh perumahan. Secara kasat mata dan di sepengamatan saya, dapat dilihat bahwa jarak antara perumahan satu dengan satunya begitu dekat. Posisi Kota Bogor yang strategis (berjarak kurang lebih 60km dari Ibu Kota Jakarta) dan kondisi alamnya yang sejuk membuat kota ini begitu diminati sebagai tempat tinggal.

Beberapa tempat tinggal di kota Bogor telah menjadi sebagai perdagangan dan jasa di sektor kuliner. Kafe-kafe mulai ramai dan marak di Kota Bogor mulai tahun 2010. Kafe-kafe ini berhasil menjadi daya tarik tersendiri bagi warga luar kota untuk menghabiskan akhir pekan atau liburannya di Kota Bogor.

  • Building Form and Massing (intensitas dan tata massa bangunan)

Bogor memiliki beberapa bangunan kolonial yang masih dijaga keasliannya hingga kini. Gedung-gedung turunan dari masa Belanda biasanya digunakan untuk kepentingan pemerintah, sekolah, kantor, atau pun museum. Skyline di kota ini hingga 3 tahun lalu masih didominasi oleh rumah-rumah bertingkat 2-3 lantai. Saat ini, sudah banyak pembangunan hotel dengan tingkat middle rise. Terdapat satu bangunan yang berada di sekitar Tugu Kujang disayangkan kehadirannya karena dianggap merusak pemandangan dari satu kesatuan Tugu Kujang dengan Gunung Salak di belakangnya. Kolaborasi pemandangan landmark Kota Bogor dengan gunung tersebut sekarang sudah tidak bisa dinikmati lagi.

Belum banyak rumah vertikal di Kota Bogor. Beberapa pembangunan terus berjalan namun tidak terdapat satu superblock yang didominasi oleh bangunan tinggi di Kota Bogor. Bangunan-bangunan tinggi terletak di pinggiran kota yang dekat dengan area perbatasan. Hal ini disebabkan tidak adanya lagi lahan di tengah kota serta aksesbilitas dengan jalan tol yang menyambungkan Bogor dengan kota lain dekat dengan site. Terdapat satu koridor yang memiliki sense cukup kuat di Bogor, Jalan Suryakencana. Jalan ini berada di kawasan Pasar Bogor dan didominasi oleh toko-toko tua dan jalur satu arah. Bagi saya pribadi, jalan ini memiliki nyawa tersendiri di Kota Bogor yang minim akan sense of place.

  •  Circulation and parking (parkir dan sirkulasi)

Bogor, bogor, bogor…… Tidak akan ada habisnya berbicara soal angkot bila kita mengangkat Kota Bogor sebagai kota yang kita bahas. Angkutan umum bernama hijau telah membuat Bogor dikenal sebagai ‘Kota Angkot’. Bila dilihat dari atas, akan terlihat banyak dominasi warna hijau di sepanjang ruas jalur di Kota Bogor. Terdapat satu ring pada kota Bogor menjadi main ring di Kota Bogor yaitu Jl. Ir. H. Juanda. Di sekitar ruas jalan itulah pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan dan jasa banyak berada.

Dimensi jalan di Kota Bogor saat ini sudah tidak mampu menampung beban kendaraan yang melewatinya karena macet berada di banyak ruas kota mungil ini. Seharusnya untuk mencapai berbagai tempat di Kota Bogor tidak memerlukan waktu yang lama (bila dilihat dari jarak). Namun, hambatan yang berada di sekitar alur sirkulasi kota ini terlalu banyak. Terdapat beberapa terminal bayangan dari angkot (angkutan kota) yang membuat jalan yang sudah ramai menjadi lebih ramai lagi hingga macet terjadi.

  • Open space (ruang terbuka)

Bogor mulai membenahi seluruh tamannya. Ruang-ruang hijau yang tadinya mati di redesain untuk dihidupkan kembali dan dapat digunakan untuk interaksi masyarakat Kota Bogor. Bisa dibilang cukup berhasil karena taman-taman yang didesain ulang kembali ini berhasil menciptakan aktivitas di dalamnya serta memberikan nilai estetika lebih untuk kecantikan Kota Bogor.

  • Pedestrian ways (jalur pejalan kaki)

Sama halnya dengan ruang publik di kota yang sedang dibenahi, begitu pula dengan jalur pedestriannya. Jalur pedestrian di kota diperbesar dimensinya dan dilengkapi elemen-elemen penunjangnya seperti lampu, bangku, tempat sampah, dan penambahan jalur kuning (untuk difabel) di setiap ruas jalur pedestrian. Pembangunan jalur-jalur pedestrian ini di fokuskan pada area sekitar ring utama Bogor karena jalur ini memutari Kebun Raya Bogor dan saat ini sering digunakan untuk berjalan kaki hingga berolahraga masyarakat sehari-hari.

Kesimpulannya?
Kota Bogor sangat berpotensi menjadi kota yang diproyeksikan sebagai kota hunian. Dapat dibilang, Kota Bogor merupakan kota yang men-support perekonomian yang terjadi di Jakarta. Warga Bogor sangat mengandalkan commuter line sebagai transportasi utama untuk mencapai kota Jakarta. Walaupun dari segi jarak terlihat jauh, waktu yang ditempuh Bogor-Jakarta dengan kereta kurang lebih 1.5-2 jam dari Stasiun Bogor ke stasiun terjauh yaitu Jakarta Kota.
Hal baru yang saya sadari tentang Bogor adalah jarak. Jarak pencapaian dari satu tempat ke tempat lain tidaklah jauh, semua dapat terjangkau baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan publik. Ternyata hal ini membuat saya selalu merindukan Bogor karena aksesbilitasnya sebenarnya begitu baik dan semua kalangan dapat menikmatinya. Kota kecil ini membuat saya berpikir bila tinggal di Jakarta, waktu yang saya habiskan untuk mencapai satu tempat ke tempat tertentu menjadi lebih lama daripada di Bogor. Seringkali saya tidak sadar untuk berkata, “Enak ya di Bogor ke mana-mana dekat”. Kalimat ini juga sering terucap oleh teman-teman saya yang merantau dan kembali ke Bogor, aksesbilitas dan jarak yang dekat.
Permasalahan 
yang cukup serius bagi Kota Bogor adalah kemacetan. Seperti yang kita dengar, Bogor menjadi kota paling macet ke-2 di dunia. Saya tidak heran. Satu hari saya pernah berkata pada teman saya bahwa dengan terbiasa menyetir di Kota Bogor, anda akan terbiasa menyetir di kota manapun di dunia. Ini serius. Skill dan kesabaran sangat diuji mengingat ruas Kota Bogor dipenuhi oleh angkot yang terkadang suka belok sendiri, melipir sendiri, ngetem (berhenti mencari penumpang) sejenak, dan tiba-tiba menepi dari sisi kanan ke kiri tanpa aba-aba. Saya mengakui hal itu dan menjadi lebih sabar ketika menyetir di kota lain, bahkan untuk menyetir di Jakarta sekalipun.

Bagi orang Bandung, kota kembang itu selalu berhasil melibatkan perasaan di dalamnya. Bagi saya, Bogor juga berhasil membuat saya selalu ingin pulang. Pada kenyataannya, kota mungil yang berkembang cukup pesat dan mengikuti trend pasar ini memiliki kelebihan karena kondisi geografisnya. Kota ini berhasil menciptakan ribuan generasi pluviophile yaitu para pecinta yang tersebar di seluruh tanah air.

Terlepas dari segala permasalahan yang terjadi di dalamnya, menurut saya bentuk fisik kota Bogor sebenarnya sudah terstruktur dengan susunan ring inti-ring 1-ring 2. Hal ini dapat dilihat dari bentuk persebaran serta jenis kegunaan lahan yang telah terbangun saat ini.

Pemandangan serta keberadaan gunung sangat dicintai oleh masyarakat kota ini. Pemerintah menekan pembangunan gedung-gedung midrise & highrise karena Bogor mulai kehilangan latar gunung di setiap sudut kotanya. Padahal variabel pembentuk kota yang menjadikan alam sebagai sumbu adalah jarang. Bogor dapat menjadikan gunung sebagai axis utama dalam setiap pembangunannya. Gunung dan pembangunan akan saling  melengkapi dan bukan saling menutupi untuk membentuk pemandangan tersendiri bagi Kota Bogor.

Sama seperti Bandung, Bogor memiliki banyak pohon besar yang mampu menciptakan ruang sendiri di hati masyarakat yang melewati dan menikmati visualnya. Tidak mengherankan bagi saya bila Kota Bogor dicari warga ibukota saat akhir pekan. Faktor alam merupakan salah satu faktor yang berperan cukup penting sebagai pembentuk keindahan kota hujan ini. Faktor alam, preservasi (hal-hal yang berbau kolonial), dan struktur kota radial (menyebar) menjadi potensi yang dapat dipelajari lebih lanjut bagi Kota Bogor untuk pembangunan kotanya saat ini.

Tulisan di atas dirangkai dengan pengamatan visual dan rasa dari penulis terhadap Kota Bogor. Perspektif dan rasa yang terbangun bagi kami, setiap insan warga Bogor, akan berbeda. Bagi saya, Bogor saat ini adalah Bogor yang sedang ‘mempercantik diri’ di berbagai sektornya dan besar harapan saya bahwa faktor-faktor tadi dapat menjadi unsur pembentuk sense of place ketika merancang ataupun memperbaiki berbagai kawasan di Kota Bogor.

Ya mau seaneh bagaimanapun juga itu elemen pembentuk objek/subjek yang saya kenal dan saya sayangi kan? Apa itu batasan aneh dan biasa saja?

Ditulis di Bandung selagi merindu Bogor,

Desember 2016

#30DWCHari11