Menulis Bagi Saya

Saya tidak bisa mengingat dengan pasti, sejak kapan menulis menjadi hal yang mampu mengisi hari-hari saya. Tepatnya saat duduk di bangku sekolah dasar, buku-buku diary bergambar kartun yang lucu-lucu itu tersusun dan terisi rapi di pinggir kasur saya. Sesekali orang tua saya membaca dan tertawa. Tertawa membaca tulisan saya yang hurufnya besar kecil dan penuh perjuangan menulisnya. Lanjut ke tingkat yang selanjutnya, saya suka bertukar buku diary dengan teman-teman perempuan saya. Menulis apapun yang ingin kami tulis, penting ataupun tidak penting. Menempelkan foto dan menghias halamannya. Kebiasaan bertukar ini berlanjut hingga saya memiliki ‘partner’ untuk berbuat hal-hal baik dan seru setiap hari. Hingga akhirnya kami berakhir, buku itu masih ada dan selalu membuat saya tertawa dengan tulisan-tulisan polos di dalamnya.

Dunia tulis menulis sangat erat dengan kehidupan saya sekaligus telah menjadi hal yang menyenangkan untuk saya. Kesenangan menulis saya didukung oleh lingkungan yang seringkali memberikan feedback atau masukan terkait tulisan saya. Pada masa perkuliahan di tingkat sarjana, tulisan saya dikenal dengan gaya yang ringan dan menggunakan bahasa sehari-hari. Seringkali teman-teman saya terhibur dan dapat mengisi waktu luang mereka dengan membaca tulisan saya. Komentar yang seringkali keluar adalah:

“Ca, tulisannya easy to read banget.”

“Bahasanya sehari-hari banget jadi suka bacanya”

Ketika mendapati teman yang terhibur ataupun mendapat manfaat dari tulisan saya, itulah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Semangat menulis bisa kita tumbuhkan dengan kemauan yang kuat namun juga bisa datang dari lingkungan yang tak sungkan memberikan saran dan kritik bagi saya.

Seperti yang saya katakan bahwa kritik dan saran sangat penting bagi perkembangan tulisan kita. Maka jangan segan untuk berbagi dan pastikan ada yang membaca tulisan kita. Ada satu poin yang menurut saya cukup penting bagi seorang penulis. Mau membaca, berikan kritik dan saran juga. Kita menulis untuk dapat dibaca manfaatnya, bila ingin tulisan kita dibaca maka kita harus rajin membaca milik penulis lain pula. Itulah hubungan timbal balik yang saya yakini.

Tips menulis yang ‘saya banget’ kurang lebih seperti ini:
1. Menulislah tentang apapun. Apapun yang sekiranya menurut kita menarik dan membuat kita ingin menulis. Dulu saya selalu beranggapan seperti itu, apa saja saya tulis hingga curhat galau labil khas anak remaja. Hingga berusia hampir 1/4 abad ini, saya menyadari bahwa tulisan saya minimal dapat membawa manfaat bagi siapapun yang membacanya. Jadi, sesantai apapun tulisannya, saya selalu mengupayakan menyisipkan pesan yang dapat pembaca ambil dari tulisan saya.
2. Bila senang fotografi, perasaan ingin menulis bisa timbul ketika membuat caption bagi foto yang kita tangkap. Setelah memfoto, kita dapat membubuhkan tulisan kita pada captionnya. Biasanya lebih lancar untuk teman-teman yang suka menulis sekaligus fotografi
3. Be yourself. Memiliki penulis favorit adalah hal yang lumrah. Menurut dosen saya, tidak ada yang benar-benar ‘baru’ dari karya yang kita buat. Kita sebenarnya terinspirasi oleh satu/banyak hal. Nah, karena itu tidak masalah ketika kita memiliki preseden tulisan yang kita sukai. Asal tidak plagiasi ya :)

ada imaji yang merdeka dari menginterpretasikan tulisan mba ica. jangan berhenti menulis ya, mba

Malang, Desember 2016

#30DWCHari30

One thought on “Menulis Bagi Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s