Senyum yang Kurindukan

Mungkin ada hampa yang tidak pernah mau aku rasakan. Tidak mau aku akui keberadaannya.
Aku tahu kamu menitipkan sebuah rindu pada daun pinus tanpa aku ketahui. Menumpahkan sejuta kelam, berbagi ribuan tawa. Menawarkan bahu yang begitu kuat, namun hati yang begitu rapuh.
Lagi-lagi kamu bosan, berkata bahwa badai sedang menertawakanmu. Entah karena apa, sendumu begitu berarti. Merengkuh segala kekuranganmu, menunggu kebebasan berada di sekitarmu.

Ya, aku berlagak tahu bahwa kamu selalu menumpahkan sedihmu pada pasir-pasir di pinggir laut. Berteriak pada angin di pegunungan. Padahal tidak pernah seperti itu. Kamu menyembunyikannya, menutup rapat seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi di sini, senja selalu sama. Bergradasi warna yang begitu kita cintai perjumpaannya.
Tanpa perlu kamu tahu.
Dan sebenarnya aku tidak berharap kamu tahu.
Bahwa lautmu, selalu merindukan senyum lengkung yang tidak pernah terpaksa.
Tapi apa yang bisa dilakukan selain berdoa dan berharap agar masing-masing dari kita baik-baik saja?
Malang, Desember 2016
#30DWCHari26

One thought on “Senyum yang Kurindukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s