Kualitas Spasial Kampung Kota

dscf2932
Salah satu sudut di Kampung Braga

Sirkulasi yang gelap dan sulit kering karena tidak ada cahaya yang bisa masuk, lebarnya kurang dari ukuran standar, dan terkadang tidak bisa dihitung sebagai sirkulasi juga, karena terlalu kecil. Rumahkah itu? Ya, itu rumah bagi masyarakat yang telah lama menetap di situ. Tulisan ini sebenarnya berada di permukaan karena saya sendiri belum melakukan penelitian dan pengamatan lebih lanjut tentang hal ini. Seringkali sebagai seorang mahasiswi, saya dihadapkan dengan pertanyaan, “Mbak, menurut Mbak, kampung-kampung kota itu enaknya dibagaimanakan? Di vertikalkan atau gimana?”

Jawaban yang pasti keluar dari saya adalah, “tergantung”
Mari kita kembalikan lagi kepada masyarakatnya, tawarkan segala rencana yang mungkin terjadi terkait pemindahan/revitalisasi kampung tersebut. Pernah saya mendengar dari senior saya bahwa tidak ada yang salah dengan memvertikalkan selama tujuannya baik. Hal yang menjadi salah adalah ‘cara’ beberapa oknum untuk memidahkan penduduk kampung tersebut ke tempat yang lain. Garis bawahi, caranya. Kadang dengan cara yang membuat penduduk menangis dan meratapi tempat tinggalnya rata dengan tanah, kadang menimbulkan perselisihan, dan pendekatannya kurang dapat diterima oleh penduduk yang bermukim di sana.

Respon yang bisa saya tawarkan bila masyarakat belum siap pindah adalah perbaikan kualitas spasial ruang yang terjadi di kampung kota tersebut. Tidak semua praktisi dan akademisi akan serta merta menjadikan kampung kota tersebut hunian vertikal, saya masih merasakan dibimbing untuk mempertahankan hal-hal yang esensial dalam perumahan yang bersirkulasi sempit tersebut.

Perbaikan kualitas spasial ruang itu seperti apa?
Memperbaiki apa yang mungkin diperbaiki dengan eksisting yang ada. Ada satu cerita mengenai community project di Bandung. Masyarakat kampung itu berkata hal yang sangat dibutuhkan oleh kampung tersebut adalah ruang terbuka/public space, akhirnya pihak perancang memutuskan untuk membeli 1 rumah yang dirasa strategis untuk public space dan penghuninya diberikan pendekatan serta dipindahkan ke area yang sama namun tempat yang baru. Jadilah akhirnya public space tersebut dan ramai digunakan. Secara kualitas spasial, kampung itu menjadi lebih baik karena memiliki ruang terbuka publik. Kehidupan pada kampung itu pun semakin marak karena kehadiran ruang bersama tersebut. Kurang lebih seperti itulah perbaikan yang mungkin dilakukan pada kasus kampung di perkotaan.

Di balik suksesnya project ini, saya masih mencari tahu, pendekatan seperti apa yang dilakukan oleh perancang kepada satu penghuni rumah tersebut hingga ia mau memutus tali waktu perjalanan dirinya dengan huniannya tersebut.  Pada intinya, komunikasilah yang terpenting dalam upaya peningkatan kualitas terutama di kampung kota. Hal ini tidak pernah mudah karena menyangkut ‘rumah’ bagi orang-orang yang bermukim di kawasan hunian tersebut.

“semuanya memang butuh waktu, tapi kamu sendirilah yang menentukan kapan waktu yang tepat”

Bandung, Desember 2016
#30DWCHari21

One thought on “Kualitas Spasial Kampung Kota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s