Membicarakan Fenomena “Urban Sprawl”

dki-jakarta
Ibukota Indonesia (sumber gambar: ilmupengetahuanumum.com, diakses pada 14 Desember 2016)

Fenomena urbanisasi di mana migrasi dari desa ke kota untuk mencari penghidupan yang lebih baik telah membuat sebuah kota kelebihan muatan kapasitas di dalamnya. Kota yang pada awalnya direncanakan untuk 600.000 jiwa sekarang harus kelelahan menampung 3.000.000 jiwa di mana tidak semuanya adalah warga asli kota tersebut. Salahkah penduduk yang bermigrasi tersebut? Ketika urusan perut menjadi sebuah alasan untuk mereka berpindah, apakah perpindahan mereka masih dianggap hal yang salah?

Pernahkah teman-teman mendengar tentang urban sprawl? Diambil dari bahasa inggris, istilah ini berarti acak atau menyebar. Hal ini berarti kota berkembang ke arah yang tidak teratur, secara acak, serta di luar dari perencanaan yang sudah ada. Salah satu penyebab fenomena ini terjadi adalah pemikiran masyarakat bahwa harga tanah di daerah pinggiran kota akan lebih murah daripada harga tanah di perkotaan. Akan banyak masyarakat yang memilih untuk mempunyai pemukiman di daerah pinggiran dan melakukan aktifitas ekonomi seperti bekerja di pusat kota.

Hal ini memicu perubahan secara tidak terkontrol pada RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah) di daerah pinggiran/pedesaan menjadi didominasi oleh area pemukiman. Kota yang ideal berkembang mengikuti rencana yang telah dibuat oleh pemerintah. Kota yang ideal. Pada realitanya, fungsi kontrol yang lemah dari pemerinta untuk mengawasi setiap sektor dan lini pembangunan membuat rencana tidak terealisasi dengan baik. Seharusnya kita baru dapat melihat sukses atau tidaknya sebuah perencanaan dalam kurun waktu tertentu. Misalnya daerah A memiliki perencanaan dalam kurun waktu 20 tahun. Kita dapat mengevaluasi rencana itu setelah hal tersebut berjalan sesuai rencana dalam 20 tahun. Tidak dapat dipungkiri, hal tersebut masih sulit untuk dicapai. Saya sempat bertanya pada teman saya, “Adakah kota yang ideal? Kota yang tidak terkena dampak urban sprawl?”. Jawaban yang dilontarkan sesuai dengan ekspetasi saya, “Hampir tidak ada.”

Konsep kota ideal tanpa urban sprawl masih sulit diwujudkan. Kendala utama yang menyebabkan hal ini terjadi adalah tidak terkontrolnya sebuah pembangunan. Polemik yang terjadi memiliki siklus yang sulit diputus. Pembangunan saat ini banyak dikuasai oleh pihak swasta karena pemerintah tidak memiliki dana untuk merealisasikan rencana pembangunan mereka sendiri. Tidak dapat disalahkan bahwa pihak swasta akan lebih banyak bermain di profit-oriented di mana keuntungan yang masuk haruslah sebanyak-banyaknya.

Kota yang terencana tidak akan mengalami urban sprawl. Mungkinkah hal ini terjadi? Tidak ada yang bisa mengontrol setiap kegiatan dan pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat. Mengingat hal ini sulit diwujudkan maka langkah adaptif yang dapat dilakukan oleh kita sebagai pihak yang mengetahui bagaimana seharusnya kota terbentuk adalah mencari solusi. Solusi yang mampu mereduksi dampak negatif yang timbul akibat urban sprawl dan perubahan RTRW ini. Contohnya seperti memperkuat sektor UMKM sebagai aktifitas ekonomi yang masih mendominasi di area pinggiran/pedesaan. Dengan memperkuat UMKM, maka ekonomi yang timbul tidak melulu mengarah ke perkotaan namun juga ekonomi pada area pedesaan ikut dimajukan.

Fenomena ini tidak hanya mengakibatkan perubahan lahan saja. Konteks yang mencakup area ini cukup luas termasuk dampak sosial yang timbul. Masyarakat pedesaan pada akhirnya harus menyingkir karena lahannya digunakan untuk kaum berpenghasilan baik yang memilih untuk tinggal di area pinggiran. Meningkatkan pasar jual kendaraan untuk mencapai tempat kerja dari area pemukiman. Kemacetan akan timbul seiring dengan kebutuhan manusia untuk menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai tempat kerjanya sehari-hari.

Dampak positif yang timbul dari fenomena ini sebenarnya membuat daerah pinggiran menjadi lebih diperhatikan potensinya untuk dikembangkan dan dibantu meningkatkan fasilitas infrastruktur kotanya. Namun yang menjadi pertanyaan, untuk siapakah infrastruktur dan pembangunan itu dilakukan? Untuk penduduk lokal pinggirannya ataukah lagi-lagi untuk kepentingan masyarakat menengah ke atas yang hanya menggunakan area pinggiran untuk tempat bermukimnya?

Tidak akan ada manusia yang dapat bersifat adil. Kembali pada pertanyaan, ketika seorang manusia diberika kekuasaan yang absolut atas sesuatu, mampukah ia mengontrol dirinya untuk tidak tergoda melakukan hal-hal diluar rencana untuk mendatangkan keuntungan yang lebih besar?

Bandung, 2016
Dari yang mencintai Kota Bandung dengan segala permasalahannya.
#30DWCHari14

 

 

One thought on “Membicarakan Fenomena “Urban Sprawl”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s