Menulis Bagi Saya

Saya tidak bisa mengingat dengan pasti, sejak kapan menulis menjadi hal yang mampu mengisi hari-hari saya. Tepatnya saat duduk di bangku sekolah dasar, buku-buku diary bergambar kartun yang lucu-lucu itu tersusun dan terisi rapi di pinggir kasur saya. Sesekali orang tua saya membaca dan tertawa. Tertawa membaca tulisan saya yang hurufnya besar kecil dan penuh perjuangan menulisnya. Lanjut ke tingkat yang selanjutnya, saya suka bertukar buku diary dengan teman-teman perempuan saya. Menulis apapun yang ingin kami tulis, penting ataupun tidak penting. Menempelkan foto dan menghias halamannya. Kebiasaan bertukar ini berlanjut hingga saya memiliki ‘partner’ untuk berbuat hal-hal baik dan seru setiap hari. Hingga akhirnya kami berakhir, buku itu masih ada dan selalu membuat saya tertawa dengan tulisan-tulisan polos di dalamnya.

Dunia tulis menulis sangat erat dengan kehidupan saya sekaligus telah menjadi hal yang menyenangkan untuk saya. Kesenangan menulis saya didukung oleh lingkungan yang seringkali memberikan feedback atau masukan terkait tulisan saya. Pada masa perkuliahan di tingkat sarjana, tulisan saya dikenal dengan gaya yang ringan dan menggunakan bahasa sehari-hari. Seringkali teman-teman saya terhibur dan dapat mengisi waktu luang mereka dengan membaca tulisan saya. Komentar yang seringkali keluar adalah:

“Ca, tulisannya easy to read banget.”

“Bahasanya sehari-hari banget jadi suka bacanya”

Ketika mendapati teman yang terhibur ataupun mendapat manfaat dari tulisan saya, itulah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Semangat menulis bisa kita tumbuhkan dengan kemauan yang kuat namun juga bisa datang dari lingkungan yang tak sungkan memberikan saran dan kritik bagi saya.

Seperti yang saya katakan bahwa kritik dan saran sangat penting bagi perkembangan tulisan kita. Maka jangan segan untuk berbagi dan pastikan ada yang membaca tulisan kita. Ada satu poin yang menurut saya cukup penting bagi seorang penulis. Mau membaca, berikan kritik dan saran juga. Kita menulis untuk dapat dibaca manfaatnya, bila ingin tulisan kita dibaca maka kita harus rajin membaca milik penulis lain pula. Itulah hubungan timbal balik yang saya yakini.

Tips menulis yang ‘saya banget’ kurang lebih seperti ini:
1. Menulislah tentang apapun. Apapun yang sekiranya menurut kita menarik dan membuat kita ingin menulis. Dulu saya selalu beranggapan seperti itu, apa saja saya tulis hingga curhat galau labil khas anak remaja. Hingga berusia hampir 1/4 abad ini, saya menyadari bahwa tulisan saya minimal dapat membawa manfaat bagi siapapun yang membacanya. Jadi, sesantai apapun tulisannya, saya selalu mengupayakan menyisipkan pesan yang dapat pembaca ambil dari tulisan saya.
2. Bila senang fotografi, perasaan ingin menulis bisa timbul ketika membuat caption bagi foto yang kita tangkap. Setelah memfoto, kita dapat membubuhkan tulisan kita pada captionnya. Biasanya lebih lancar untuk teman-teman yang suka menulis sekaligus fotografi
3. Be yourself. Memiliki penulis favorit adalah hal yang lumrah. Menurut dosen saya, tidak ada yang benar-benar ‘baru’ dari karya yang kita buat. Kita sebenarnya terinspirasi oleh satu/banyak hal. Nah, karena itu tidak masalah ketika kita memiliki preseden tulisan yang kita sukai. Asal tidak plagiasi ya :)

ada imaji yang merdeka dari menginterpretasikan tulisan mba ica. jangan berhenti menulis ya, mba

Malang, Desember 2016

#30DWCHari30

Mengoptimalkan Twitter

twitter
Homepage twitter Marisa

Semakin banyak media sosial baru bertebaran saat ini. Masih ingatkah dengan Twitter? Di mana kita  dapat berkicau hanya dengan 140 karakter. Hal ini pernah menjadi tantangan bagi saya saat menjabat menjadi salah satu koordinator publikasi yang bertugas sebagai penanggung jawab akun twitter satu acara tersebut. Bagaimana caranya memadatkan info dalam 140 karakter. Bila tidak pandai mengolah, info yang diberikan dapat sepotong-sepotong. Dosen saya pun pernah berkata bahwa Twitter menjadi menarik karena ia ‘membatasi’. Ya, justru menariknya karena fitur keterbatasan tersebut. Hingga kini, Twitter tidak merubah fitur tersebut dan menurut saya konsistensinya menjadi branding tersendiri baginya.

Banyaknya portal berita saat ini terkadang membuat kita bingung di mana kita dapat mencari/membuka info sesuai yang kita inginkan. Secara tidak sadar, sebenarnya Twitter memberikan kita fasilitas yang dapat memfilter portal mana yang kita ikuti. Lebih praktisnya lagi, kita dapat mau membuka berita yang mana berdasarkan headline yang muncul sebagai twit dari portal tersebut. Contohnya, saya mengikuti akun twitter kompas, saya tidak harus membaca semua beritanya dan saya dapat memfilternya secara cepat karena hanya headline-nya yang kita baca, barulah kita ‘klik’ untuk mengetahui kelanjutan beritanya.

Untuk menggunakan twitter secara optimal, pilihlah 3 (tiga) minat utama yang teman-teman inginkan. Misalnya saya tertarik pada tema Arsitektur, Sosial, dan Berita Terkini. Maka akun-akun portal yang saya ikuti kebanyakan yang berdasarkan dari 3 (tiga) minat tersebut. Twitter saya akan lebih produktif dan membantu saya untuk selalu up to date dengan berita-berita terkini sesuai minat saya. Oh ya, berita dari Twitter pun selalu terkini maka jangan takut untuk mendapatkan berita yang lama. Selamat mengoptimalkan Twitter!

Malang, Desember 2016
#30DWCHari29

Prioritas

“Teman, bukan tentang berapa banyak yang kamu punya, tapi tentang berapa orang yang memberi begitu banyak warna dalam hidupmu.” – kuntawiaji

Semakin dewasa, tema mengenai ini sering terjadi di tengah meja tempat kami bercengkraman. Kami para manusia yang merasa sekitar kami perlahan berjalan menjauh, entah mengejar mimpi atau memang sudah terkena seleksi alam.

Tidak. Tidak ada yang salah tentang itu. Setiap manusia memiliki porsi dalam ruang seseorang dan berhak memilih lingkungan tempat ia berkembang. Satu dari beberapa teman saya berkata, “Boleh kita membaur tapi jangan sampai melebur.” Menurut saya kalimat ini cukup membantu ketika kita bergaul dalam lingkungan manapun. Apalagi di zaman sekarang, media sosial telah menembus banyak ruang dan mengekspos segala hal tentang lingkungan kita. Alhasil, terkadang ketika bertemu, pertanyaan “Apa kabar hari ini” sudah tidak harus terlontar lagi. Beberapa obrolan tidak lagi perkara kualitas namun sekedar formalitas.

Namun ketika harus memilih, saya memilih untuk memiliki sedikit circle namun berkualitas ketimbang banyak tapi tidak berkualitas. Hidup ini perkara prioritas, siapa prioritasmu. Keluarga? Sahabat? Pekerjaan? Dan ketika kita telah berhasil mengetahui siapa dan apa prioritas kita, pada saat itu pula tanpa perlu usaha yang lebih berat, secara otomatis kita akan selalu mencari dan membutuhkannya.

“Ketika suatu hari harus berpisah, saya akan sedih sekaligus takut untuk menghadapinya. Hari itu nantinya akan menjadi titik berbaliknya atas berbagai macam hal yang telah kita lalui. Namun sebelum hari itu datang, saya ingin merajut banyak makna agar nantinya masing-masing dari kita belajar artinya kehilangan dan punggung ini memiliki banyak arti.”

Malang, Desember 2016
#30DWCHari28

 

Mengkritik Serta Memberi Solusi

agung-hapsah

Video lengkapnya bisa dilihat di sini

“Saya siap menerima kritik dan saran. Jadi saya adalah pribadi yang tidak menutup pendapat dari pandangan apapun masuk dalam diri saya.”
“Demokrasi ya, Pak?”

Saya bukan youtube mania tapi terkadang di waktu senggang, saya suka menonton video dari youtubers Indonesia. Hal ini cukup menarik karena Presiden kita Bapak Jokowi, sampai mengundang para youtubers muda Indonesia. Kenapa? Menurut saya langkah beliau cukup bagus mengingat presentase penonton televisi pada masa ini mayoritas sudah pindah ke youtube/streaming. Banyak pesan yang ingin Bapak Jokowi titipkan ke youtubers muda Indonesia, karena influence mereka cukup besar bagi masyarakat. Agung merupakan satu dari sekian banyak youtubers Indonesia yang kualitasnya bukan hanya sekedar ‘video lewat’. Kontennya menurut saya cukup berbobot (walaupun tidak semua videonya bertemakan ‘serius’) dan Agung berusaha menyelipkan pesan-pesan baik bagi anak muda Indonesia.

Hal pertama yang membuat saya jatuh cinta dengan Agung adalah grading videonya. Agung merupakan anak bangsa yang menurut saya cukup berpotensi dalam dunia perfilman. Tone yang dia suguhkan dalam video-videonya sungguh bagus (dan saya suka sekali). Teknik pengambilan gambarnya pun menurut saya sudah berada di atas rata-rata youtubers pada umumnya. Ya, Agung men-tag dirinya sebagai filmmaker dan bagi saya gelar itu cocok untuk dia. Saya telah melihat semua videonya, salah satu video yang saya suka adalah ‘Solar Eclipse’.

Oh ya, lalu kenapa link yang saya share bukan ‘Solar Eclipse’? Sembari makan siang sekaligus break dari tugas, kebetulan saya menonton video yang ini. Agung menjelaskan bagaimana cara mengkritik yang baik. Ternyata dalam proses mengkritikpun ada etikanya. Tidak serta merta ia mengkritik sesuatu namun ada proses panjang di baliknya. Sebagai manusia, Agung menjelaskan bila mengkritik adalah hal yang wajar. Ketika kita mengkritik sesuatu, bukan berarti kita sempurna/expert di bidang itu. Kritik itu sah-sah saja, asal diimbangi dengan proses yang tepat pula. Seperti saat ia mengkritik sebuah film, ia akan menonton filmnya berulang-ulang, mencatat apa yang dia kira salah, menonton kembali sembari mengecek apakah ada yang salah dari catatannya. Hmm…… Proses mengkritik yang sungguh panjang bukan? Jadi bukan satu kali melihat lalu langsung mengkritik.

Bagi saya pun tidak ada yang salah dengan proses mengkritik. Di dunia perkuliahan pun, kami semua selalu diajarkan bagaimana cara mengkritik. Kami lebih senang menyebutnya kritik yang membangun. Kritik yang tidak membangun adalah kritik yang tidak solutif. Beberapa kritik yang membangun dapat diawali dengan apa yang baik terlebih dahulu disampaikan baru apa yang dikritik dikeluarkan beserta solusi atau alternatif lain yang membangun/membantu kelangsungan dari apa yang telah dihasilkan oleh subjek/objek yang dikritik.

Menulis adalah salah satu media menyampaikan ide yang menyenangkan. Resolusi saya di 2017, saya mampu menghasilkan tulisan-tulisan yang berdasarkan fakta data yang sudah ada dan tidak berhenti hingga tataran konsep. Saya bisa beridealisme dan mengkritik sesuatu yang saya kira kurang baik lewat tulisan karena bagi saya tulisan berbicara lebih banyak daripada ketika saya berlisan. Dengan belajar dari Agung Hapsah dan beberapa penulis serta website menulis lainnya, saya mengerti bahwa menulis berdasarkan fakta data serta proses berupaya untuk membaca kembali tulisan sebelum diterbitkan adalah hal yang perlu dilakukan. Dengan begitu, proses mengkritik lewat tulisan akan memiliki pondasi yang lebih kuat daripada menulis berdasarkan pandangan sendiri.  Bagian dari tulisan yang saya sadari sangat penting keberadaannya adalah solusi atau kesimpulan. Bagian ini adalah inti dari proses mengkritik yang telah kita lakukan karena dengan memberikan solusi, kita akan memberikan kritik yang membangun bagi siapapun yang membacanya.

Saya akan membiasakan diri untuk selalu menulis setiap hari dan dalam satu bulan saya akan mengusahakan untuk menulis artikel yang memiliki argumentasi dan data pendukung yang kuat.

Malang, Desember 2016
#30DWCHari27 #Resolusi2017

 

Senyum yang Kurindukan

Mungkin ada hampa yang tidak pernah mau aku rasakan. Tidak mau aku akui keberadaannya.
Aku tahu kamu menitipkan sebuah rindu pada daun pinus tanpa aku ketahui. Menumpahkan sejuta kelam, berbagi ribuan tawa. Menawarkan bahu yang begitu kuat, namun hati yang begitu rapuh.
Lagi-lagi kamu bosan, berkata bahwa badai sedang menertawakanmu. Entah karena apa, sendumu begitu berarti. Merengkuh segala kekuranganmu, menunggu kebebasan berada di sekitarmu.

Ya, aku berlagak tahu bahwa kamu selalu menumpahkan sedihmu pada pasir-pasir di pinggir laut. Berteriak pada angin di pegunungan. Padahal tidak pernah seperti itu. Kamu menyembunyikannya, menutup rapat seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi di sini, senja selalu sama. Bergradasi warna yang begitu kita cintai perjumpaannya.
Tanpa perlu kamu tahu.
Dan sebenarnya aku tidak berharap kamu tahu.
Bahwa lautmu, selalu merindukan senyum lengkung yang tidak pernah terpaksa.
Tapi apa yang bisa dilakukan selain berdoa dan berharap agar masing-masing dari kita baik-baik saja?
Malang, Desember 2016
#30DWCHari26

Kopi dan Dua Biji Biskuit Manis

Bandung hari ini dirayapi banyak manusia. Semua ruang publik mendadak aktif bahkan bagi sudut-sudut pasif di bawah rerimbunan pohon dan air-air yang tumpang tindih bersama daunnya. Bersama gerimis kecil di Jalan Hegarmanah, aku bersama seorang temanku sedang berusaha bergelut menyelesaikan tanggung jawab atas studi yang kami jalani saat ini. Sebut saja kami pelajar strata tingkat 2 yang selalu bertanya, setelah ini kami akan jadi apa. Poin sore ini, bukan tentang itu. Sebuah percakapan ringan, yang tak boleh dilontarkan keras-keras karena tempat ini sarat suara gamblang, tercuri oleh kami berdua.

Konsep kopi tubruk yang kami nikmati sore ini menghadirkan dua biji biskuit manis sebagai teman menyeruput.

“Bisa jadi konsep dari Bapak Baristanya menghadirkan dua biji biskuit ini sebagai pemanis, penyeimbang atas realita pahit yang sedang kita rasakan”

“Ya, bisa jadi seperti itu ya.”
“Yaudah, aku ambil satu ya.”
“Jangan. Hidupku sudah pahit, sama seperti kopi ini. Kalau kamu ambil, terus saya dapat manisnya hidup dari mana?”
“……”
“Itu kan ada dua. Kalau kamu ambil satu, berarti kamu bertanggung jawab atas setengah kebahagiaanku ya.”
“……”
“Ambil.”

Percakapan manis ini kami dapatkan dari meja di sebelah kami yang sedang sibuk berdialog serta bertukar pikiran bersama kertas putih dan setumpuk buku referensi bagi mereka.

Kami berdua hanya tersenyum. Ya, walaupun kami gemar berbagi cerita bersama secangkir kopi pahit tanpa pemanis, kami sadar bahwa kebahagiaan datang dari hal-hal kecil di sekitar kami. Kebahagiaan yang kami ciptakan adalah bentuk apresiasi atas konsep bersyukur yang selama ini sering dilupakan orang-orang yang berlari terlalu cepat hingga lupa bernafas sejenak.

“ya sudah kalau dia yang dipikirkan.”
“apakah masih butuh dijelaskan lagi, berapa hari kita mencipta momen dan melewati pergantian hari dengan banyak cerita?”

#30DWCHari25
Bandung, 2016

Perjalanan Singkat Sore Ini

Studio Rancang Kota – UPT Bahasa ITB – Studio Rancang Kota, Institut Teknologi Bandung, sore ini-.

Kami berjalan menyurusi lorong berkolom batu kali tersebut. Melewati jalan yang tidak pernah kami lewati, lebih tepatnya secara sengaja. Begitu penat dengan si layar 14″ itu, maka ajakan untuk menikmati angin sore ke arah kampus Utara terlihat menyenangkan. Sembari mengambil ‘tugas’, kami melangkah menuruni tangga yang kacanya perlu dibersihkan tersebut.

Visual dari sebuah mata masih menjadi yang maha indah. Ketika kami berdua, sepasang yang gemar mengomentari gelak dunia perfilman tanah air, maka sudah tentu obrolan yang terjadi seputaran itu-itu saja. Menyadari betapa kerennya efek stabilizer di video buatan orang lain, mencoba memperagakan bagaimana si efek stabilizer itu terjadi.

Saya dengan percaya dirinya, menundukkan dan memasang sedikit kuda-kuda sembari berjalan ala slow motion, memperhatikan ranting-ranting di atas kami. Bergerak ke sana, ke mari, mengomentari apa yang dilontarkan partner berjalan sore ini. Segala gerakan aneh yang kadang saya lakukan, sudah cukup dipahami dengan raut wajah aneh khas sahabat saya. Seputar dia akan pulang kampung besok, terjadilah sedikit obrolan dari kami;

“yok!”
*berhenti di tengah jalan*
“weh mbak, sumpah tak kira mau jatoh loh Chaaa! tak buang loh!”
“wkwk…. eh masyok, aku mau oleh-oleh.”
“apa?”
“cerita yang menarik”
“hahahaha apa nih kok eksplisit?”
“ya itu, emang apaan coba, cerita yang menarik lah!”
“mau dua deh oleh-olehnya”
“apaaaan?”
“satu cerita, yang satu kembali dengan selamat”
“hah? tunggu-tunggu, kembali apaan nih?”
“ih! ya kembali ke sinilah!”
“kan makna kembali bisa aku kembali ke Semarang juga.”
“ya ke sinilah, ke Bandung. jangan resign kuliah yok, nanti aku ga ada temen.”
“ealaaa”

Bagi saya, ketika seseorang yang begitu berarti melakukan perjalanan, ketidakhadirannya akan terbayar ketika ia kembali dengan cerita-cerita baru. Cerita yang saya tidak habis pikir, cerita yang tidak akan terjadi ketika dia berada di satu radar dengan kita, cerita yang tidak sepaham dengan kita. Maka ketika teman atau sahabat saya berpergian, oleh-oleh yang saya minta adalah cerita dan foto.

Hal-hal kecil itu justru menjadi sesuatu yang menarik. Tanpa dibuat-buat, tanpa perlu berpikir terlalu keras. Biar saja mengalir apa adanya. Ketidaksengajaan yang sederhana itu, ketulusannya akan sampai pada yang dituju tanpa perlu kamu tuliskan.

Bandung, 26 Oktober 2016
di tengah hectic tugas 2 studio rancang kota

Marisa Sugangga

Proses dan Hasil

Ketika mendapatkan tugas untuk menuliskan tema 15 hari ke depan di #30DWC, saya tidak mengatur untuk meletakkan judul ini di hari ke-23 dan ternyata tepat hari ini adalah perkuliahan terakhir saya di semester satu.
Ada satu tugas yang dikumpulkan di rentang waktu pukul 00.00-05.00 WIB dan membuatsaya beserta teman-teman tidak tidur di malam sebelumnya. Setelah selesai mengirim softfile tugas ini, saya harus mengumpulkan hardcopy-nya ke kampus. Sebelum melakukan aktivitas, saya memutuskan untuk tidur dulu sejenak.
Saat bangun, hal pertama yang saya lakukan adalah bersyukur. Bersyukur karena Tuhan telah banyak membantu proses jatuh bangun di awal perkuliahan ini. Doa yang saya sampaikan hari ini pun hampir sama dengan judul di atas. “Ya Allah, semoga diberikan hasil yang terbaik. Saya percaya bahwa proses akan berbanding lurus dengan hasil.

Pernahkah berada dalam posisi di mana teman-teman merasa sudah melakukan hal dengan begitu sungguh-sungguh namun hasilnya tidak sebanding? Saya pernah. Ibu pernah berkata bahwa banyak faktor yang mempengaruhi hasil. Misalnya ketika berproses kita terlalu tidak peduli dengan lingkungan dan menyebabkan orang lain sakit hati, itu juga bisa mempengaruhi hasil akhir. Lupa berdoa, tidak sempat berbagi, bahkan tidak sayang dengan diri sendiri alias lupa istirahat. Ya, hasil memang akan berbanding lurus dengan proses, namun jangan lupa bahwa hasil pun dipengaruhi oleh faktor yang lain. Hasil memang tidak dapat ditebak namun bersungguh-sungguh dalam proses, itulah hal yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki hasil.

dscf2977
Intermezzo: Ini teman sebangsa dan setanah air kelompok saya. Panggilannya Ipun tapi saya memberinya panggilan sayang Ipuna

“Apalah arti sebuah harapan yang terkadang berbentur dengan kenyataan.”
Terkadang di akhir perjalanan, sebuah kenyataan pahit menjadi proses yang harus dilewati. Namun, itulah hasil. Hasil yang nantinya tergantung dengan bagaimana cara kita menyikapinya.

Bandung, Desember 2016
#30DWCHari23

Motor Plat Aneh

15t
Ini namanya Momo, punya plat paling aneh jaman suka parkir di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (2010-2014)

Halo dunia! 

Bukan suatu keanehan lagi bagi saya ketika mengendarai motor di tengah jalan saat tinggal di Kota Malang, beberapa orang tidak dikenal akan memanggil.
“Mbak, T plat mana Mbak?”
“T itu darimana?”
“Tasikmalaya ya Mbak?”
Bahkan Bapak satpam parkiran, yang sudah saya jelaskan berkali-kali, suka menanyakan hal yang sama setiap harinya. “Mbak, T itu plat mana?”

Indonesia memiliki banyak sekali kota dan jujur saja saya sendiri tidak hafal seluruh plat di Indonesia. Pengetahuan tentang plat kendaraan bermotor ini bertambah karena beberapa teman saya adalah perantauan. Seperti BA adalah Padang, AB Itu DIY, L adalah Surabaya, dan masih banyak lagi (yang sesungguhnya saya sudah lupa, hehe)

Plat nomot T itu berasal dari daerah Karawang di Jawa Barat. Kenapa saya menggunakan plat nomor ini? Pertanyaan menarik. Jawabannya bisa ditemukan kalau berbincang langsung dengan saya ya.
Motor berplat aneh ini telah menjelajahi berbagai kota di Jawa. Sebut saja Bogor, Bandung, Malang, Surabaya, Batu, Malang Selatan (kawasan tepi pantai tentunya), hingga Probolinggo. Semakin banyak motor ini menjelajahi kawasan-kawasan yang bukan asal platnya, semakin banyak juga orang tidak dikenal yang memanggil saya.

Bagi saya pribadi, menemukan plat nomor aneh (aneh: jarang saya lihat) adalah hal yang menyenangkan. Misalnya dalam keadaan jalan macet, mata saya suka mencari-cari apakah ada plat yang saya tidak ketahui di ruas jalan tersebut. Plat B dan D sudah menjadi makanan sehari-hari bagi saya. Tidak jarang kan hal-hal yang mengeneralisir terjadi, seperti “Lha! Itu kenapa klakson-klakson? Oh platnya B, pantes….” Padahal hal seperti itu tidak selamanya berlaku. Pernah suatu hari di lampu merah, mobil belakang saya sangat suka mengklakson, ketika saya lihat platnya D. Nah, tidak tentu kan.

Berikut adalah tautan yang memuat info mengenai nomor plat kendaraan bermotor di Indonesia, siapa tahu tertarik: http://superpolishpremium.com/daftar-plat-nomor-kendaraan-di-indonesia/.

“Ini platnya sampai kapanpun jangan diganti ya!”
“Loh kenapa?”
“Ya soalnya kan B udah banyak, jarang aja. Nanti kalau sudah kerja, plat yang ini tetap digunakan kalau bisa!”
“Iya. He em.”

Bandung, Desember 2016
#30DWCHari22

Kualitas Spasial Kampung Kota

dscf2932
Salah satu sudut di Kampung Braga

Sirkulasi yang gelap dan sulit kering karena tidak ada cahaya yang bisa masuk, lebarnya kurang dari ukuran standar, dan terkadang tidak bisa dihitung sebagai sirkulasi juga, karena terlalu kecil. Rumahkah itu? Ya, itu rumah bagi masyarakat yang telah lama menetap di situ. Tulisan ini sebenarnya berada di permukaan karena saya sendiri belum melakukan penelitian dan pengamatan lebih lanjut tentang hal ini. Seringkali sebagai seorang mahasiswi, saya dihadapkan dengan pertanyaan, “Mbak, menurut Mbak, kampung-kampung kota itu enaknya dibagaimanakan? Di vertikalkan atau gimana?”

Jawaban yang pasti keluar dari saya adalah, “tergantung”
Mari kita kembalikan lagi kepada masyarakatnya, tawarkan segala rencana yang mungkin terjadi terkait pemindahan/revitalisasi kampung tersebut. Pernah saya mendengar dari senior saya bahwa tidak ada yang salah dengan memvertikalkan selama tujuannya baik. Hal yang menjadi salah adalah ‘cara’ beberapa oknum untuk memidahkan penduduk kampung tersebut ke tempat yang lain. Garis bawahi, caranya. Kadang dengan cara yang membuat penduduk menangis dan meratapi tempat tinggalnya rata dengan tanah, kadang menimbulkan perselisihan, dan pendekatannya kurang dapat diterima oleh penduduk yang bermukim di sana.

Respon yang bisa saya tawarkan bila masyarakat belum siap pindah adalah perbaikan kualitas spasial ruang yang terjadi di kampung kota tersebut. Tidak semua praktisi dan akademisi akan serta merta menjadikan kampung kota tersebut hunian vertikal, saya masih merasakan dibimbing untuk mempertahankan hal-hal yang esensial dalam perumahan yang bersirkulasi sempit tersebut.

Perbaikan kualitas spasial ruang itu seperti apa?
Memperbaiki apa yang mungkin diperbaiki dengan eksisting yang ada. Ada satu cerita mengenai community project di Bandung. Masyarakat kampung itu berkata hal yang sangat dibutuhkan oleh kampung tersebut adalah ruang terbuka/public space, akhirnya pihak perancang memutuskan untuk membeli 1 rumah yang dirasa strategis untuk public space dan penghuninya diberikan pendekatan serta dipindahkan ke area yang sama namun tempat yang baru. Jadilah akhirnya public space tersebut dan ramai digunakan. Secara kualitas spasial, kampung itu menjadi lebih baik karena memiliki ruang terbuka publik. Kehidupan pada kampung itu pun semakin marak karena kehadiran ruang bersama tersebut. Kurang lebih seperti itulah perbaikan yang mungkin dilakukan pada kasus kampung di perkotaan.

Di balik suksesnya project ini, saya masih mencari tahu, pendekatan seperti apa yang dilakukan oleh perancang kepada satu penghuni rumah tersebut hingga ia mau memutus tali waktu perjalanan dirinya dengan huniannya tersebut.  Pada intinya, komunikasilah yang terpenting dalam upaya peningkatan kualitas terutama di kampung kota. Hal ini tidak pernah mudah karena menyangkut ‘rumah’ bagi orang-orang yang bermukim di kawasan hunian tersebut.

“semuanya memang butuh waktu, tapi kamu sendirilah yang menentukan kapan waktu yang tepat”

Bandung, Desember 2016
#30DWCHari21