Lautan Kabut ini Berada Di Dekatku

kami kaum urbanis, yang lupa rasanya mencintai alam. kami kaum urbanis, yang berkata cinta alam namun membuang limbah kami sembarangan – 2016

Semalam kami memutuskan untuk bersentuhan dengan alam di pagi hari. Rasanya saat itu menjadi mahasiswa yang gagal karena tidak sempat bermain. Bermain-main kecil saja seperti olahraga, jalan kaki, jogging pagi, dan main ke hutan. Bersama kafein malam itu, tercetuslah ide kami untuk mencari udara pagi. Niat awal ke Lembang, lalu entah bagaimana ceritanya bisa belok ke tempat yang sedang hips sekali, Tebing Keraton.

Pagi itu kami berangkat pukul 5 (lima) pagi seuasai adzan subuh berkumandang. Udara Bandung pagi itu tidak terlalu dingin, kalau yang menyolek pipi sih jangan ditanya, itu sudah dapat dipastikan dinginnya seperti apa.

Bulan masih setia menemani perjalanan kami. Jalanannya menanjak, sebenarnya relatif masih bagus kecuali saat akan sampai di tujuan. Bergejolak dan beberapa menukik tajam, bahkan di ruas tertentu, kendaraan tak sanggup membawa kami ke atas. Akhirnya saya turun dan berjalan kaki.

Sebelum menuju tempat baru, saya punya kebiasaan untuk mencari referensi lewat blogger. Informasi yang saya dapatkan, ternyata Tebing Keraton memiliki jam operasional. Tenang saja, sunrise bisa kita dapatkan di sini. Tebing ini dibuka pukul 05.00. Biaya masuknya untuk wisatawan lokal Rp 12.000 (harga September 2016). Saya memang senang sekali ke tempat baru, namun saya tidak menyangka, ternyata tempat ini cantiknya melebihi ekspetasi saya. Saya memanggilnya, lautan kabut. Dari tebing ini, kami bisa melihat kabut bergerak. Menghilang, menari bersama kaki gunung, mengalir di sela-sela hutan pinus di bawah pandang kami.

dscf2650
Sekitar pukul 06.00, langit masih gelap.
dscf2698
Tahura berada tepat di bawah kami. Pinusnya cantik sekali
dscf2667
Matahari mulai menyapa malu-malu

Ketika mengetahui ketenaran tempat ini, saya tidak terlalu berharap akan keindahan yang ditawarkan. Lebih cemas kalau ternyata tempatnya kotor. Ternyata, pagi itu saya cukup berbahagia mendapati tempat tersebut bersih. Cukup menghibur saya. Kami berada di sini sejak buka hingga sekitar pukul 08.00 di mana orang-orang sudah silih berganti, mungkin kami adalah pengunjung yang paling lama berada di sana. Saat ke sana, hanya ramai di pagi hari saja. Selepas pukul 07.00, tebing mendadak sepi. Hanya ada kami dan lagu-lagu yang mengalun dari gadget kami.

Sebelum benar-benar pulang untuk makan Batagor Rp 10.000 di pintu keluar, kami mencoba menuruni jalan menuju camp area di kawasan ini. Lagi-lagi, kami dimanjakan dengan pinus-pinus yang gagah dan membuat cahaya matahari malu-malu untuk menginjak tanah bumi perkemahana. Harus diperhatikan, karena lembab maka paving jalan menuju tempat ini menjadi licin. Sepertinya beberapa lumut telah bersandar pada batuan tersebut. Bukan berarti tidak bisa dilewati, harap berhati-hati saja. Teman saya memilih jalan tanah dibanding paving, sedangkan saya tetap berada di pavingnya.

dscf2714
Salam hangat dari geng pinusan!

“Walaupun banyak negeri kujalani, yang mahsyur permai dikata orang. Tetapi kampung dan rumahku, di sanalah ku rasa senang.” Selamat akhir pekan! 

 

Bandung, September 2016

Marisa Sugangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s