Kuliner Bandung – Edisi 1 (Madtari, Cuanki Serayu, & Lekker Story)

Kenapa judulnya saya beri ‘Edisi’? Karena tulisan sejenis ini tidak akan selesai di postingan ini saja, hehe. 

Waktu mendapati akan tinggal di Bandung untuk studi, maka hal yang sudah saya tanamkan sejak jauh-jauh hari adalah bersahabat dengan lingkungannya. Namanya Marisa, suka sekali kalau diajak ke tempat-tempat baru yang belum pernah dikunjungi apalagi mencoba kuliner di daerah tersebut.

Kota yang selalu dipuja para remaja hingga orang tua ini memang menyenangkan. Hal menyenangkan pertama yang saya rasakan adalah anginnya dingin. Dalam satu hari penuh, bisa jadi ujung kaki selalu menggigil kedinginan, thats why saya cinta sekali pakai kaus kaki di kota ini.

Kurang lebih satu minggu sudah saya tinggal di Bandung untuk menyelesaikan administrasi pra-studi. Mulai dari daftar ulang, sidang terbuka (semacam upacara), mengisi KRS, bertemu dosen, dan sebagainya. Di sela-sela kegiatan tersebut, saya memang sudah berniat untuk merasakan hawa perkotaan di Bandung. Seperti mampir ke ruang publik, merasakan trotoar yang begitu memanusiakan manusia, memperhatikan orang-orang duduk di kursi pinggir jalan sambil tertawa bersama teman-temannya,dan menikmati setiap jengkal lampu merah dengan lagu dan senja.

Tulisan pertama mengenai Bandung kali ini beraroma kuliner! Yap, dunia kuliner memang tidak pernah ada habisnya. Kakak Sulung, Mas Rayyan, mengajak saya untuk mengunjungi salah satu tempat studi bahasa Inggris di sekitar jalan Purnawarman. Lokasinya dekat sekali dengan UNISBA. Daerahnya sangat ramai dengan mahasiswa, jajanan kaki lima, dan parkir motor di mana-mana. Khasnya lingkungan universitas. Sembari menunggu tempat studi buka, Mas Rayyan mengajak saya makan di salah satu tempat makan yang katanya cukup terkenal dari jaman 2000-an (atau bahkan sebelum itu ya?). Namanya Cafe Madtari. 

IMG_5351
Suasana di Cafe Madtari sehabis makan siang.

Menu utama di tempat makan ini adalah indomie. Rebus dan goreng. Spesialnya apa ya? Mari saya ceritakan di mana spesialnya Cafe Madtari ini. Saya memesan Indomie Rebus Telor Korned sedangkan kakak saya memesan Indomie Goreng Telor Keju Korned jumbo. Untungnya saya tidak terjebak dalam pikiran ‘lapar siang hari’ dan masih bisa menahan untuk tidak memesan yang jumbo. Benar saja, ketika kedua indomie tersebut datang, saya terheran-heran.

“Mas, itu es campur apa Indomie ya? Makannya gimana itu?”

IMG_5350
Interjuned lebih tepatnya seperti es serut 

Serius.  Keju dalam mangkok itu seperti salju di pegunungan Alpen yang melapisi apa-apa saja di bawahnya. Akhirnya keju sebanyak itu disumbangkan seperempatnya kepada saya agar mie goreng tersebut bisa dimakan dan diaduk. Kenyang sekali, padahal saya pesan yang tidak jumbo dan tidak pakai keju. Untuk penggemar keju, saya sarankan pakai keju. Kejunya enak sekali, bukan keju asal-asalan. Diparutnya pun terlihat sangat lembut dan tidak terputus-putus, jadi kejunya panjang-panjang membuat bahagia. Saya sangat percaya bila malam tempat ini diserbu mahasiswa, apalagi mahasiswa yang suka rapat-rapat dan semacam aktivis kampus. Colokan bertebaran hampir di setiap mejanya.

IMG_5348
Kornednya berlimpah ruah, seperti kejunya. Hmmm…..

Sehabis makan, kami tidak langsung beranjak karena perutnya kekenyangan. Sepertinya tidak akan pernah memesan yang jumbo lagi kecuali dimakannya berdua. Di tengah makan, sempat terjadi obrolan mengenai “Cuanki”. Jajanan khas Bandung satu ini sangat digemari oleh Marisa dan Ayah Marisa. Setiap ke Bandung, kami menyempatkan diri untuk makan Cuaki yang lewat dengan dipanggul ataupun didorong dengan gerobaknya. Ternyata Mas Rayyan mempunyai rekomendasi tempat makan Cuanki yang enak namanya Cuanki Serayu. Langsung saja setelah makan dari Madtari dan tempat kursus, saya diantar menuju Cuanki Serayu yang terletak di Jl. Mangga, depan toko Cairo dan Kantor Republika Online. Katanya ini tempatnya pindahan dari Jl. Serayu.

IMG_5341
Sudah lewat jam makan siang tapi tetap ramai. Makan ditemani mendungnya Bandung.

Saat tiba, tempatnya begitu sederhana seperti warung tenda tapi terlihat banyak yang menikmati hidangan berkuah satu ini. Karena masih agak kenyang, tapi sangat ingin mencicipi cuanki ini, akhirnya saya dan Mas Rayyan memesan masing-masing setengah porsi. Cuanki pun datang dan saya masih bengong, “Ini setengah porsi kok banyak ya?”. Untuk harga setengah porsinya Rp 10.000 dan satu porsi di Rp 15.000. Di meja disediakan seperti kecap asin (khasnya cuanki), cuka, kerupuk, dan perlengkapan makan baso pada umumnya.

IMG_5343
Ada sensasi kriuk-kriuknya, hmm….

Sebagai penggemar Cuanki, sungguh saya akan kembali lagi. Kuahnya enak sekali, for sure. Rasa semua komponen dalam Cuanki-nya saya beri 4.8/5, pokoknya enak! Sangat terasa sekali rasa Cuanki yang khas, berbeda dengan baso pada umumnya.

Bukan Mas Rayyan dan Marisa namanya kalau tidak hobi kuliner, tepat di sebelah Cuanki Serayu ini terdapat Lekker yang bernama Lekker Story. Lekker itu sebenarnya seperti martabak, tapi lebih tipis. Dulu saya suka beli saat SD dan SMP, lekker yang membuat langit-langit di mulut licin karena terlalu banyak menteganya. Kadang rasanya hanya licin saja, haha. Mindset saya tentang lekker licin pun langsung berubah setelah mencoba lekker yang satu ini. Lekker gaul ini memiliki beberapa topping kekinian seperti Nutella, Ovomaltine, dan Silverqueen. Kata mas yang memasak, salah satu best sellernya adalah coklat pisang. Tapi saya sudah terlanjur memesan Ovomaltine.

IMG_5339
Topping di Lekker Story. Yum~

Setelah Lekker dibuat di atas pemanggang yang diputar-putar oleh mas koki lekker, lekker diletakkan di dalam kotak berbentuk setengah lingkaran berwarna hitam. Kotak hidangnya pun didesain cantik dan kekinian sekali. Kata Mas Rayyan, setelah diangkat jangan langsung dimakan, agar sedikit  krispiAkhirnya kami mendiamkan lekker tersebut kurang lebih 1-2 menit ditinggal ngobrol. Saya pun menggigit lekker itu diujungnya, super crispppp! Bahkan tanpa topping pun, rotinya sudah enak sekali. Digigitlah itu roti plus topping Ovomaltine, rasanya membuat bengong. Langsung membayangkan makan lekker sambil main ayunan di taman kota, indahnya. Saya akan kembali lagi untuk mencoba si coklat keju andalan dari Lekker Story.

IMG_5336
Saya nobatkan Lekker Story sebagai Lekker terenak yang pernah saya makan!

Hari sudah menuju sore, mataharinya pun berubah warna menjadi cantik sekali bersandar dengan awan sore hari. Akhirnya kami pulang dengan menobatkan Lekker menjadi makanan ringan yang sangat enak setelah baso goreng untuk versi Marisa, hehe. Kemungkinan besar akan kembali lagi ke Cuanki Serayu, karena kuahnya enak sekali.

Cafe Madtari – The ultimate cheese alive, haha kuberi 3/5 (karena saya tidak bisa sering-sering menyantap Indomie, huhu)

Cuanki Serayu – 4.8/5. I’ll be back as soon as possible!

Lekker Story – 4.6/5. Untung pas datang tidak antri. Dengar-dengar biasanya antri sekali, jodoh memang tidak ke mana ya.

Jangan lupa minum air putih yang banyak setelah jajan ya, agar metabolisme tubuh senantiasa baik.

Tips hemat : Bawa air putih dari rumah, sungguh ini sangat membantu.

 

Salam Kuliner dari Bandung,

 Marisa Sugangga (2016)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s