Rumah Vertikal, Keberadaan yang Tidak Terelakkan

http://newurbanreview.com/city-voice/hidup-yang-vertikal/

Sarapan pagi ini berawal dari bacaan dari tautan link di atas. Pada saat membaca hingga setengah paragraf, saya sempat merasa bahwa tulisan ini menyudutkan keberadaan rumah vertikal yang keberadaannya sudah tidak terelakkan lagi.

Namun saya salah.

Ketika membaca sisa dari itu, saya menyadari bahwa ‘komersialisasi’-lah penyebab dari individualisme yang muncul di rumah vertikal. Saya tidak pernah merasakan tinggal di rumah vertikal. Namun saya pernah mencobanya dalam kurun waktu tiga hari saja. Inilah yang saya rasakan sebagai penghuni tidak tetap.

Sebagai manusia pecinta sosialisme dan ngobrol-isme, koridor apartemen yang terbilang mungil itu cukup dingin untuk seorang saya. Cukup mengerikan dan persis seperti adegan-adegan di film Hollywood di mana zombie-nya keluar dari ujung koridor. Tetangga sebelah saya pun, seorang laki-laki, dapat dipastikan dengan kondisi ngantuk. Saya dan 2 orang teman saya segera membuka pintu kamar kami karena kami ketakutan sendiri dengan ‘tetangga’ kami yang bahkan pemilik kamar apartemen ini, teman saya, tidak mengenal tetangganya. Kami tidak bertegur sapa, melihat pun takut karena merasa tidak aman harus berkenalan dengan tetangga kami sendiri, apalagi kondisinya seperti itu. Momen ini membuat saya berpikir “Kenapa hidup di apartemen seram ya, masa tiap hari harus lewat koridor walking dead sepi seperti ini” 

Benar saja. Di lantai kamar saya pun tidak ada ruang interaksi. Ruang penghubung antara koridor adalah ruang lift. Ruang super hening walaupun banyak yang mengantri untuk turun mencari sarapan atau pergi kuliah pada saat pagi hari. Tidak terlihat suatu usaha baik dari manajemen untuk ‘mengadakan’ suatu ruang di situ. Saya juga tidak mencari tahu, itu karena tidak boleh, apakah harus iuran, atau memang fungsi awalnya hanya jadi ruang penghubung yang kosong seperti itu. Salah saya, saya tidak bertanya dan menjadi pertanyaan hingga kini untuk saya. Kami, para pengantri lift, hanya senyum irit satu sama lain dan turun menggunakan lift -saya ketinggalan karena tidak cukup-.

Tak lama dari kejadian ini, salah satu televisi menayangkan pendapat mereka tentang keberadaan rumah vertikal yang mendukung individualisme masyarakat urban saat ini. Saya jadi gemas sendiri ketika mereka sedikit menyudutkan ‘teknologi’ saat ini. Menurut saya teknologi memang harus berkembang, namun pola pikir dan usaha dari user untuk tidak bergantung penuh pada teknologi lah yang harus diperkuat. Pola pikir bahwa kita adalah makhluk sosial. Itulah yang menurut saya harus ada ketika kita mendesain dan manajemen rumah vertikal.

Seperti kata artikel yang saya baca tadi pagi , “

Hunian vertikal sendiri bukan sesuatu yang negatif ketika ia bisa membaca dan memberikan kebebasan bagi penghuninya seperti yang dibangun oleh Corbusier di Marseilles Prancis atau gedung-gedung lain yang dibangun sebagai kolaborasi penghuninya di Jerman. Meskipun memiliki bentuk luar seperti gedung biasanya, ruang-ruang di dalamya memungkin penghuninya untuk berinteraksi tanpa perlu bersifat komersial, misalnya dengan kebun di atap yang dikelola bersama, ruang penitipan anak yang terbuka yang dikelola oleh penghuninya sendiri atau bahkan dengan ruang cuci bersama.

Desain dan manajemen dapat membuat hal-hal bersifat individualisme tadi terkikis, walaupun tidak sekaligus. Sikap kepekaan kita terhadap kebersamaan yang semakin menghilang pun dapat ditunjukkan ketika kita akan membeli unit apartemen, seperti menanyakan kepada sales marketingnya hal-hal yang berbau dengan dunia sosial. Contohnya seperti, “Apa di lantai ini ada ruang sosialisasinya? Ruang bersama?”, “Apa jalur apartemen ini memungkinkan kita untuk bertemu orang untuk sekedar mengobrol?”, ” Apakah ada kebun bersamanya?”, “Apakah di tamannya terdapat ruang sosialisasi untuk para ibu dan bayinya berinteraksi pada pagi hari?”. Mungkin…. Mungkin hal-hal kecil ini bisa kita lakukan sebagai seorang calon user yang cukup peka. Berikanlah masukan dan kritik kepada pihak manajemen dengan secarik kertas bahwa jangan kikis kebersamaan dalam hunian vertikal yang keberadaannya tidak terelakkan.

Saya sempat memimpikan, ketika saya harus berada di hunian vertikal. Minimal saya harus memiliki kemauan untuk mengenal tetangga-tetangga saya. Untuk bertegur sapa. Saya bermimpi hunian saya memiliki sebuah fasilitas cuci jemur yang memungkinkan untuk kami berkelompok mengobrol dan ‘menggosip’ hal-hal bermanfaat saat menunggu cucian kami kering. Para kepala keluarga sibuk menonton acara bola kesukaannya saat tim kesayangannya bertanding di sebuah ruang tengah sambil mengemil. Anak-anak kami pun menjadi anak yang peka karena setiap pagi berinteraksi dengan teman-teman sebayanya di taman sebelum berangkat sekolah. Kurang lebih seperti itu sedikit mimpi kecil saya tentang hunian vertikal.

Advertisements

Dinding Putih Untuk Kamar Mandi Mungil

Akhirnya raga kembali dari perjalanan ke dua kota, Bandung dan Yogyakarta. Saya membawa sebuah oleh-oleh tentang pengalaman ruang ketika menginap di salah satu hotel di Yogyakarta. Horison Hotel yang terletak di Jl. Urip Sumiharjo, Yogyakarta memberikan sebuah kesan ruang yang menyenangkan untuk saya pribadi. Begitu pun dengan Tune Hotel yang berada di Jl. Sumur Bandung, Bandung-Jawa Barat. Kedua budget hotel ini memiliki ukuran kamar mandi yang minimalis namun berfasilitas lengkap. Untuk kelengkapan alat mandi, dipegang oleh Horison sedangkan kelebihan dari Tune Hotel ialah sebuah hairdryer yang sudah tersedia tanpa kita harus menelpon ke housekeeping terlebih dahulu.

Pengalaman ruang yang saya dapat? Ternyata sebuah ruangan kecil bernama kamar mandi adalah tempat relaksasi dan berpikir yang sangat menenangkan pikiran. Pasti ada di antara teman-teman yang sangat menyukai membangun dan membuat ide dalam kamar mandi kan, karena itu keberadaan kamar mandi yang memiliki pengalaman ruang menyenangkan patut dipertimbangkan sekecil apapun kamar mandinya.

(image source: pinterest)

Saya menyadari hal ini ketika menginap di Horison. Sayangnya, saya tidak sempat mengabadikan ruangannya (berharap dapat kembali lagi ke sana). Saya berikan gambar penunjang saja, koleksi dari pinterest saya. Sebuah nuansa dinding putih keramik berukuran kurang lebih 120 x 80 menghiasi dinding di kamar mandi tersebut. Menurut saya sebuah dinding keramik hingga saat ini tidak kuno-kuno amat dan memiliki kelebihan yang cukup baik di era serba cepat saat ini, mudah dibersihkan. Bisa hanya dengan disikat ataupun dibersihkan dengan kain. Dinding keramik pun memiliki performa yang baik untuk rumah tinggal yang berada di daerah bercurah hujan tinggi dan memiliki kelembapan yang tinggi. Jadi, dinding keramik dapat menjadi alternatif yang cukup menyenangkan dan low maintenance. Warna putih adalah warna bersih. Saya menyebutnya ia adalah penolong untuk ruangan yang mungil. Warna putih menambahkan kesan luas pada ruangan ini. Dinding dan plafon putih tidak akan membuat ruangan kamar mandi mungil anda terasa sempit.

Untuk desain yang lebih ‘hidup’, sebuah sentuhan lantai keramik bercorak alam berwarna abu-abu dapat membangun suasana ruang mungil tersebut. Pemilihan keramik menggunakan corak untuk meninggalkan kesan monoton dan menambah sense of feeling dari user. Tidak hanya dimanjakan visual, tetapi juga dimanjakan indera perabanya di bagian kaki.

Sang desainer menambah kehangatan dengan menggunakan aksen kayu pada area wastafelnya. Alhasil, sentuhan dominan monokrom pada ruangan itu menjadi tidak dingin. Menyenangkan sekali loh berlama-lama di dalamnya, hehe. Menurut saya kamar mandi di hotel Horison ini dapat diadaptasi dalam desain-desain kamar mandi yang mungil tapi tetap terdesain dengan baik. Bagian yang tidak kalah penting adalah low maintenance untuk teman-teman yang hidupnya sangat mobile.

Do :

(image source: pinterest)
  1. Membersihkan kamar mandi! Walaupun terlihat low maintenance, tapi kewajiban membersihkan kamar mandi jangan sampai hilang ya. Bersih bukan berarti bersih seutuhnya.
  2. Sediakan parfum/pengharum ruangan kesukaan teman-teman. Hal ini akan menambah kenyamanan dan membangun suasana yang baik ketika kita memasuki kamar mandi
  3. Di dalam kamar mandi bukan berarti tidak boleh ada aksesoris, belilah sebuah pajangan yang menyenangkan untuk dilihat. Bisa jadi pajangan tersebut memiliki dwifungsi seperti tempat sabun atau wadah sikat gigi

Don’t :

  1. Memilih material kamar mandi yang licin. Sebagus apapun itu, utamakan fungsi terlebih dahulu ya teman-teman. Safety comes first.
  2. Jangan menggunakan tempat sampah yang terbuka, karena tisu-tisu akan terlihat. Belilah tempat sampah yang tertutup dengan pembuka menggunakan pijakan kaki ya. Lebih higienis.

Selamat menghias kamar mandi.

Salam hangat, Marisa. (@marisasugangga)