Tiga Poin Sebagai Catatan Kecil

Marisa in Goa Cina Beach, South Malang, Indonesia (+62341)
Marisa in Goa Cina Beach, South Malang, Indonesia (+62341)

Hey there!

Sudah hampir 9 bulan lamanya saya menggeluti dunia professional sebagai Junior Landscape Architect. Beberapa kesulitan di bulan-bulan pertama sudah teratasi. Hari demi hari saya lewati dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah “Jangan pernah merasa bisa, karena ketika kita merasa bisa maka di situlah kita akan berhenti belajar”. Pernah suatu hari saya merasa saya paling expert bila diberi tugas via sketchup. Ternyata saya tidak seexpert itu, banyak shortcut (atau saya biasa menyebutnya “jurus”). Begitu banyaknya saya sampai berpikir “Sepertinya ini ilmu infinity deh, Haha”.  Tapi pembelajaran itu justru menarik dan membuat saya semakin semangat bekerja setiap harinya karena saya mencari sesuatu, belajar sesuatu di situ.

Berbagi pengalaman bekerja sebagai seorang arsitek yang memiliki output berupa produk yang harus dimengerti baik oleh kalangan professional maupun awam, saya ingin berbagi beberapa pesan untuk saudara-saudari yang sebentar lagi akan memasuki dunia profesional.

1. Have one with expert skill from architectural software

Ini penting banget. Jadi, waktu pertama kali saya diterima kerja, saya sudah menyampaikan kepada kepala studio saya bahwa saya sangat lemah di software Autocad karena saya tidak terbiasa menggunakannya saat kuliah. Dengan berbaik hati, sang kepala studio berkata “Ah tapi kamu bisa sketchup kan? Itu yang kami prioritaskan sekarang. Autocad kamu sembari belajar di sini ya”. Bisa dibilang such an embrassing moment di mana seorang sarjana tidak lancar dengan software arsitektural yang bisa dibilang cukup basic. Maklum, dulu ketika bekerja dengan Autocad, saya selalu merasa pekerjaan saya tidak pernah selesai. Saya selalu merasa gambar saya kurang detail padahal sudah menggunakan Autocad, maka saya lebih suka menggunakan gambar manual (gambar tangan). Nah, di dunia kerja kita selalu menggunakan Autocad. Di beberapa bulan pertama, saya pernah diminta mengerjakan proyek dari 0 dan diharuskan menggunakan Autocad. Kerjaan yang tadinya bisa selesai hanya dalam waktu setengah hari (seharusnya), saya kerjakan dalam waktu 1,5 hari, parah sekali bukan? Untung bukan deadline. Namun, karena saya masih memiliki nilai lebih di software yang lain, saya masih bisa bermanfaat untuk sesama untuk mengejar deadline-deadline yang ada. Software apa saja bisa sketchup, Autocad, Photoshop, 3Dmax, yang penting ada satu di mana kita merasa merasa kuat dan bisa diandalkan di situ ya!

2. Uptodate material – its so basic and a must!

Ini penting. Material adalah basic dari segala perencanaan menurut saya. Material memiliki nilai estetika yang membantu kita dalam mendesain. Sebagai seorang arsitek, kita tentu harus paham jenis material dan efek yang ditimbulkan ketika akan menggunakan material tersebut. Seperti batu andesit. Lantai andesit yang telah diolah di pabrik memiliki dua efek (yang baru saya kenal), ada efek dove dan efek gliter. Bila kita merencanakan menggunakan lantai andesit bergliter di area yang gelap, tentu efek gliternya tidak terlihat berbeda dengan di tempat yang terang. Padahal harga andesit dove dengan gliter berbeda, kita bisa menekan harga dari segi tempat pemasangan lantai bermaterial andesit tersebut. Tidak sia-sia juga karena telah menggunakan lantai andesit di tempat yang gelap. Walaupun sudah hampir 9 bulan, saya tetap belajar dan terus menerus mengenal material baru. Antisipasi pengetahuan material ini biasa saya lakukan dengan rutin membeli majalah arsitektur bulanan yang banyak iklan-iklan dan pengenalan material baru. Material bisa dipelajari secara perlahan namun konsisten.

3. Have a good literature from a book, not a website.

Its super serious. Saya merasa banyak perbedaan ketika kita surfing pengetahuan lewat buku dan lewat website. Bila di buku, kita ‘dipaksa’ membaca apa saja yang ada di dalamnya, kadang mau menskip pun bingung, menskip darimana dan mulai dari mana. Jadi mau tidak mau kita harus memulainya dari awal. Kalau via web, biasanya kita tinggal mengetik topik apa yang ingin kita diskusikan nah langsung keluar deh. Terkadang image reference pun banyak terdapat di buku, bukan di website. Jadi, rajin-rajin buka dan baca literatur dari buku :)

Tiga poin itu menurut saya wajib jadi pedoman ketika kita akan berada di dunia profesional. Menarik sekali menekuni pekerjaan bila kita suka dan passion di sana. Oh ya, basic dari itu semua tetap saja, itu harus sesuai dengan passion kita, jadi kita tidak merasa berat untuk menjalani dan melaksanakannya.

Jadi, di sini siapa yang ingin jadi arsitek (building, landcape, urban designer)? – tenaga pengajar juga memerlukan tiga poin ini loh ;)

 

 

Regards,

Marisa Sugangga Soerodidjojo

Jr. Landscape Architect

marisasugangga@gmail.com

Indonesia (+62) – Kindly contact me if you have a question about Architecture and more.

3 thoughts on “Tiga Poin Sebagai Catatan Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s