Kuala Namu International Airport (KNO)

Halo semua!

Dulu saya pernah mempunyai resolusi, “Pokoknya sebelum lulus kuliah harus dan wajib mengunjungi Pulau Sumatera!”. Saya tidak pernah keluar Pulau Jawa pada masa sebelum kuliah. Baru setelah menjalani beberapa waktu di awal kuliah saya, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Pulau Bali yang amat sangat menyenangkan dan Pulau Lombok yang keindahan lautnya hampir semua berwarna tosca. Ternyata doa saya terkabul. Ayah saya mendapat surat keputusan untuk pindah ke Pulau Sumatera tepatnya di Belawan, Medan. Kantor Ayah berada di Belawan sedangkan rumah yang kami tinggali berada di daerah Kota Medan, tepatnya daerah Marendal. Belawan sendiri merupakan salah satu kecamatan yang berada di Medan, letaknya kurang lebih 30 menit dari Medan via jalan tol. Kali ini saya ingin bercerita bukan tentang Belawan melainkan kesan pertama saya mendarat di Medan menggunakan jalur udara. Ya, semua penerbangan dialihkan dari Bandara Polonia (MES) ke Kuala Namu International Airport (KNO). Bandara Polonia sendiri terletak di tengah Kota Medan sedangkan KNI berada kurang lebih 1 jam dari Kota Medan, ya cukup jauh memang tapi itu adalah hal yang wajar untuk sebuah bangunan Bandar Udara.

Waiting room Kuala Namu dilihat dari lantai keberangkatan

Untuk sekedar info tambahan, saya menyunting sejarah pembangunan KNIA dari http://id.wikipedia.org/wiki/Bandar_Udara_Internasional_Kuala_Namu :

“Pemindahan bandara ke Kuala Namu telah direncanakan sejak tahun 1992. Dalam kunjungan kerja ke Medan oleh Menteri Perhubungan saat itu, Azwar Anas, berkata bahwa demi keselamatan penerbangan, bandara akan dipindah ke luar kota.
Persiapan pembangunan diawali pada 1 Agustus 1997, namun krisis moneter yang dimulai pada tahun yang sama kemudian memaksa rencana pembangunan ditunda. Sejak saat itu kabar mengenai bandara ini jarang terdengar lagi, hingga kecelakaan pesawat Mandala Airlines terjadi pada 5 September 2005. Kecelakaan ini menewaskan Gubernur Sumatera Utara Tengku Rizal Nurdin dan juga menyebabkan beberapa warga yang tinggal di sekitar wilayah bandara tewas akibat letak bandara yang terlalu dekat dengan pemukiman. Hal ini menyebabkan munculnya kembali seruan agar bandara udara di Medan segera dipindahkan ke tempat yang lebih sesuai. Selain itu, kapasitas Polonia yang telah melebihi batasnya juga merupakan salah satu faktor direncanakannya pemindahan bandara.
Rencana pembangunan selama bertahun-tahun terhambat masalah pembebasan lahan. Pada 1 Juli 2006, baru 1.650 hektar lahan yang telah tidak bermasalah, sementara lahan yang dihuni 71 kepala keluarga lainnya masih sedang dinegosiasikan. Pada 1 November 2006 dilaporkan bahwa Angkasa Pura II telah menyelesaikan seluruh pembebasan lahan”

Sesuai dugaan saya, pembangunan bandara di Indonesia sekarang memiliki tipe yang sama. Meskipun bentuknya berbeda-beda di setiap daerah, tapi dari segi tipologi seperti konstruksi dan material yang digunakan adalah sama. Sebut saja Terminal 3 bandara Soekarno Hatta yang memulai pembangunan bandara dengan konsep ramah lingkungan, nah KNO pun memiliki konsep yang kurang lebih sama. Jujur saya kagum dengan sistem yang berada di Bandara ini. Bandara ini merupakan bandara di Indonesia yang akhirnya terintegrasi langsung dengan kereta api. Jadi, terdapat stasiun kereta api bandara yang melayani rute KNIA-Medan begitu pun sebaliknya. Harga tiket yang dipatok adalah Rp 80.000. Relatif mahal menurut saya pribadi namun kita terhindar dari kemacetan dan fasilitas yang ditawarkan pun begitu lengkap dan praktis. Terdapat 10 jadwal dari KNIA-Medan, Medan-KNIA. Bandara ini juga menggunakan konsep Mall yang membuat para penumpang hingga pengantar bisa berputar-putar dahulu tanpa harus bosan berada di dalam Bandara. Bandara ini merupakan bandara terbesar kedua setelah Soekarno-Hatta International Airport di Tangerang. Sebelum memasuki waiting room, kita wajib melakukan pengecekan barcode yang di bandara ini kita lakukan sendiri (biasanya dilakukan oleh petugas), jadi sirkulasi penumpang pun berjalan lebih cepat dan mandiri. Keberangkatan berada di lantai paling atas sedangkan kedatangan berada di bawah dan begitu keluar bangunan langsung dihadapkan dengan stasiun kereta api bandara. Cukup menyenangkan berada di dalam bandara ini karena mungkin terdapat sistem yang lebih maju dari bandara-bandara yang belum mengalami perbaikan di Indonesia.

Atap Bandara Kuala Namu

Image

Tampak depan stasiun kereta api bandara
Suasana lantai keberangkatan

Saya sendiri cukup berbangga karena pembangunan fasilitas transportasi dengan sistem yang lebih baik terus dilakukan hingga saat ini. Semoga keberadaan bandara ini dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak ya. Anda harus mencoba melakukan penerbangan ke Medan. Setahu saya rute dari Surabaya-Medan terdapat di Lion Air, Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, dan Citylink. Selamat datang di Medan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s