Pro Kontra One Way Lingkar Universitas Brawijaya

Saat ini Kota Malang tercinta sedang ada pro kontra masalah one way di lingkar kampus UB. jalur yang tadinya dua arah, sekarang jadi hanya satu arah. kebetulan Eksekutif Mahasiswa kampus saya sudah men-chipstory kan bahasan dari @D_Kebangsaan yang membahas tentang pro kontra One Way (bisa dilihat di sini: http://chirpstory.com/li/171202). 

Oke, sekarang saya mau ikut berpendapat mengenai One Way lingkar UB yang kebijakannya sudah berjalan kurang lebih 2-3 minggu terakhir. Saya pribadi memang tidak mengelakkan bahwa perkembangan Universitas Brawijaya semakin pesat, pembangunan sana-sini, dan overload-nya mahasiswa yang berada di kampus biru kesayangan ini. Overload bisa saya nilai dari tempat parkir dan kelas yang tersedia. Seringkali saya sendiri sebagai mahasiswa angkatan 2010 yang berjumlah kurang lebih 130 orang mengalami kesulitan mendapatkan kelas, tak jarang pula kami harus kuliah di ruang kuliah bersama yang di dalamnya terdapat ruang dosen dan sekat pembatas untuk ruang kuliah di sebelahnya. Jadi, terdapat tiga aktifitas dalam satu ruangan yang terkadang menganggu konsentrasi baik kami maupun kelas sebelas sekat kami. Nah, membludaknya mahasiswa sejak angkatan 2011-2013 ini menyebabkan populasi pendatang di kota Malang semakin meningkat pula, inilah yang menyebabkan kemacetan di lingkar UB baik sejak saat jalan lingkar UB masih dua arah. 

Saat ini, percobaan one way memang belum menemukan pencerahan, hal ini didapatkan dari kemacetan yang semakin bertambah di titik-titik tertentu, terutama saat kami atau para pejalan kaki sangat amat susah menyebrang jalan bahkan di zebra cross sekalipun. Motor dan mobil bersalip-salipan dengan kecepatan tinggi, jarang sekali yang memberikan jalan, kalo kami ga nekat lambai-lambai tangan dari jauh untuk sekedar berlari sejenak menyebrang, kami akan sulit sekali menyebrang.

Positifnya? Jembatan di lingkar UB yang sudah kadaluarsa masa pakainya memang jadi lebih longgar, Alhamdulillah lalu sudah pasti jalanan memang menjadi lebih lebar pemakaiannya, biasanya MT Haryono dan Sumbersari merupakan jalan sempit yang rawan tabrakan karena adegan salip menyalip yang kurang baik dari pengguna jalan dua arah. Sebagai masyarakat, saya hanya percaya bahwa segala kebijakan yang diambil pemerintah bukanlah kebijakan yang main-main semata alias sudah dipertimbangkan dengan segala rencana yang matang. Saya pro terhadap one way dengan solusi pedestrian lebih dibenahi juga sarana penyebrangan juga ditingkatkan, mungkin bisa mencontoh seperti di Surabaya, penyebrangan yang terdapat di depan Galaxy Mall menggunakan sistem tekan lampunya ketika akan menyebrang maka mobil dan motor akan berhenti sejenak untuk membiarkan kita lewat. Andaikata memang one way merupakan solusi untuk kemacetan lingkar UB dua arah terdahulu, harapan saya ada di dua poin tadi yang ditingkatkan.

Jadi, mari dukung Abah Anton, semoga dari one way dan two way sama-sama memiliki solusi dan terdapat pencerahan efisiensi jalan yang tepat untuk masyarakat Kota Malang yang sedang dilanda penyakit yaitu: Macet :D

2 thoughts on “Pro Kontra One Way Lingkar Universitas Brawijaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s