cerpen dari icha

Malaikat Kecil Mama

Oleh : Marisa Sugangga

Mamaku itu norak dan jadul banget. Aku, Karina, anak sulung dari tiga bersaudara di keluargaku. Aku tinggal dengan Mama, Papa, dan dua adikku, yang laki-laki namanya Raihan dan yang si bungsu perempuan bernama Carissa. Papa jarang sekali pulang ke rumah karena pekerjaannya mengharuskan Papa berada di luar kota. Sedangkan Mama, seorang Ibu Rumah Tangga yang setiap pagi mengantarkan Carissa yang masih duduk di bangku kelas 4 SD untuk sekolah. Mama selalu membebankan apaun di pundakku. Aku selalu merasa anak tunggal! Apa anak Mama hanya aku saja yang bisa dimintai bantuan. Masih ada Raihan yang kelas 9 SMP dan aku tahu benar bahwa itu usia yang sudah cukup besar dan bukan anak kecil lagi. Mama selalu bilang bahwa Raihan masih kecil dan tidak bisa apa-apa. Aku kesal namun kupendam semua dalam hatiku. Aku tidak mau jadi anak yang durhaka kepada kedua orang tuaku.

Tiap sore HP-ku berbunyi saat aku masih ada urusan di sekolah, pasti Mama menelponku dan tanya aku ada di mana lalu menyuruhku cepat pulang untuk membantu beliau mengerjakan pekerjaan rumah. Aku kira mama menelponku pulang karena hari sudah larut dan aku harus cepat pulang karena Mama khawatir aku perempuan dan saat itu hari sudah sore, taunya, aku disuruh cepat pulang untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

“Assalamualaikum…”

“Walaikumsalam. Na, kamu pulang sore banget! Liat tuh udah jam 17.16, kamu tuh pulang sekolah jam berapa sih?”

“Ya ampun Ma, Na sudah sering bilang, Na pulang sekolah jam 15.00 dan belum tentu itu urusan sudah kelar semua.”

“Ah! Pokoknya kamu pulang terlalu sore! Sudah tuh, cucian piring menumpuk di belakang!”

“Iya, aku cuci.”

Air mengalir dan kurasakan dinginnya dari tanganku. Sabun cair pun aku campurkan di dalam mangkok berisi air PAM. Aku mencuci sambil menggerutu dalam hati.

Kenapa Mama tidak pengertian?

Kenapa Mama selalu menyuruhku ini itu?

Kenapa Ma?

Apa Mama menganggap aku seperti pembantu?

17 menit berlalu, selesailah aku dengan piring terakhirku. Aku mencoba Istigfhar sebanyak-banyaknya untuk menenangkan pikiranku. Bayangkan, setiap hari aku dicari untuk mengerkjakan semua ini! Aku sudah lelah dan Mama tidak pernah bertanya dahulu apakah aku letih atau tidak usai menghadapi hari-hari berat di sekolah. Aku kesal sekali. Aku iri dengan cerita teman-temanku yang bercerita tentang kehidupan mereka yang tentram di rumah tanpa harus cape-cape mengerjakan tugas-tugas tumah tangga karena itu sudah merupakan tugas ibu-ibu mereka. Aku iri, mereka semua selalu ingin cepat pulang karena betah di rumah. Sedangkan aku? Aku sangat MALAS untuk pulang ke rumah karena aku tahu bahwa aku akan disuruh ini-itu oleh Mama.

Hari demi hari berlalu dan aku sudah mencoba sabar menghadapi semuanya. Sampai hari ini tiba, hari di mana aku sudah amat sangat lelah menghadapi semua hari-hari beratku.

“Na, ini tuh gimana sih? Kenapa gelasnya di sini?! Ini tuh di atas sana, Na! Kamu tuh gimana sih? Udah diajarin tetep aja ga pernah bener bersih-bersihnya!”

“Mamah! Na cape mah! Kenapa sih Mama ga pernah liat dari sisi Na, Na cape apa engga! Na kan udah berusaha melakukan semua yang Mama mau, tapi kenapa sih Ma? Mama engga pernah bilang kalo semuanya beres dan makasih sama Na? Na emang engga pernah ngeluh Ma, karena Na ga mau jadi anak durhaka yang harus jawab setiap perkataan Mama.”

Mama terdiam. Aku pun terdiam. Adikku Raihan yang saat itu ada di situ juga melihat kami. Aku menangis karena harus mengatakan hal ini pada Mamaku. Padahal aku sudah begitu menjaga semuanya. Ya Allah, andaikan saja setan tidak merasukiku, pasti ini semua tidak akan terjadi.

“Na, kamu cape apa Na? MAMA TANYA KAMU CAPE APA? MAMA JAUH LEBIH CAPE DARIPADA KAMU NA!! MAMA SELALU BERKORBAN BUAT KAMU DAN ADIK-ADIK KAMU!!”

Aku membisu. Aku tahu, pengorbanan Mama yang bertahan saat Papa mulai kambuh sifat kasarnya, pengorbanan Mama yang selalu ada di sampingku bila aku sedih, pengorbanan setiap uang belanja yang Papa berikan ke Mama selalu habis untuk membayar uang sekolah Aku, Raihan, dan Carissa, pengorbanan Mama bangun pagi untuk menyiapkan sarapan. TIDAK TERHITUNG! Itulah jawabannya. Tapi aku kesal! Aku tidak bisa melakukan sesuatu se-sempurna Mama karena aku tahu bahwa aku bukan Mama!

“Ya… Mama seharusnya tidak begitu. Mana Mama yang dulu ceria dan selalu pengertian pada anak-anaknya?”

“UDAHLAH! MAMA CAPE!”

Mama pergi meninggalkanku di dapur itu, beliau menutup kamarnya dan menguncinya. Aku pun tetap menangis dan melanjutkan melakukan perkerjaan yang melelahkan ini.

Esoknya, Mama sudah menyiapkan sarapan rapi sekali tanpa harus aku bantu seperti biasanya. Semuanya sudah tertata mulai dari susu, nasi, dan lauk pauknya. Aku dan Raihan makan sedangkan Carissa masih tertidur di kamarnya. Mama sedang main komputer di ruang kerja keluarga. Aku pun segera berangkat sekolah.

Hari sudah sore, di jam digital merah muda-ku menunjukkan pukul 17.56 dan Mama belum menelpon ataupun SMS. Aku merasa senang karena aku bebas sore ini. Akhirnya aku makan dengan teman-temanku di KFC yang terletak tak jauh dari sekolahku.

18.36, ini aneh sekali. Tidak seperti biasanya aku bisa pulang ke rumah sampai jam segini. Aku pun berpamitan dengan teman-temanku dan bergegas pulang ke rumah.

Aku berjalan menyusuri trotoar yang menuju ke arah rumahku. Di depan rumahku ramai sekali, aku bingung. Perasaanku tidak enak. Aku pun bergegas mempercepat langkahku dan segera masuk menerobos kerumunan orang-orang yang sebagian besar adalah tetanggaku.

Aku melihat Papa sedang menangis, Raihan dan Carissa bergandengan, tidak menangis tapi membisu. Aku pun menghampiri mereka dan melihat Mama berada di atas tempat tidur, terlihat pucat namun senyumnya terulas indah di bibirnya.

Papa pun bangkit, menyeka air matanya dan mengenggam tanganku. “Na, Mama sudah kembali kepada-Nya meninggalkan kita.”

Lusa, 28 November 2008, jam 17.17, HP-ku tidak akan pernah lagi berbunyi. Papa akhirnya diizinkan untuk kerja di kantor yang berada di kota kami. Walaupun harus turun jabatan, namun Papa lebih mementingkan kami. Seperti mimpi, Mama meninggal karena jatuh di teras saat mengepel teras dan saat itu kepalanya yang lebih dahulu terjatuh. Memang sudah takdir Allah, di manapun dan bagaimanapun, semuanya bisa terjadi bila sudah menyangkut tentang kematian. Aku benar-benar lesu.

Tiba aku di rumah. Raihan dan Carissa sedang menonton acara kartun kesukaan mereka. Papa baru pulang sekitar pukul 19.00. Aku masuk ke kamar Papa dan Mama.

Wangi Mama.

Masih teringat dalam benakku saat Mama menyuruhku membersihkan punggungnya dengan lulur kesayangannya dan saat beliau memintaku mengeringkan rambutnya dengan hair dryer Philips-nya. Aku pun terdiam dan berjalan menuju mejanya. Ku tarik laci nya dan kutemukan secarik kertas di dalam binder hijau muda itu.

1 Oktober 2008, “Karina mau ulang tahun… 27 November 2008 sebentar lagi, ayo kasih dia kejutan yang bermakna!”

Karina tertegun. Bahkan ia lupa kalau dirinya baru saja berulang tahun karena Mama meninggal di tanggal 26 November 2008 dan teman-temannya pun hanya berbela sungkawa dan tidak ada yang mengucapkan selamat pada Karina karena mereka tahu Karina sedang tidak ingin apapun selain sendirian.

Dilihatnya lagi tulisan demi tulisan Mamanya yang khas itu.

2 Oktober 2008, “Karina sudah mau 17 tahun, harus diberi hadiah yang bermakna, mungkin suatu pembelajaran hidup yang penting tentang susahnya menjadi Ibu Rumah Tangga! Agar dia benar-benar menjadi wanita yang sholeh budi dan akhlaknya.”

3 Oktober 2008, “Aku akan lebih keras mendidik Karina! Hanya untuk tanggal 27 November 2008, setelah itu aku akan kembali biasa mengurus dia dengan sepenuh hati tanpa harus menyuruh-nyuruh dia lagi.”

4 Oktober 2008, “Saatnya untuk galak kepada Karinaku sayang.”

5 Oktober 2008, “Sepertinya Karina kaget dengan perubahanku, tapi tidak apa-apalah, semua ini penting demi masa depannya.”

Karina menitikkan air mata. Ia menangis dan menyesali semua kekesalan di hatinya untuk Mamanya.

“Papa sengaja datang sore tanggal 26 itu Mba, karena besok Mba mau ulang taun ke-17. Tapi yang Papa dapati malah Mama yang sudah tidak ada. Papa sangat terpukul Mba.” Ucap Raihan dari balik pintu yang sempat melihat Kakaknya menangis.

“Iyah? Wah, Mba baru tau Han. Makasih ya semuanya udah mau nyiapin hal terindah buat Mba.”

Karina pun menangis. 17 tahunnya harus ia lewati tanpa sosok seorang Mama yang begitu pengertian dan tahu akan apa yang dibutuhkan anaknya.

Karina pun berhenti membaca secarik kertas itu dan meletakkannya di laci itu lagi dan tanpa disengaja, Karina melihat sebuah kotak di bawah meja kerja dengan warna kesukaannya yaitu Merah Muda dibungkus dengan balutan pita putih susu.

HandPhone dengan seri yang Karina inginkan.

Terdapat sebuah kartu ucapan bergambar malaikat kecil yang terbang di dekat bulan dan bintang.

27 November 2008

Karina sayang, selamay ulang tahun yah

Ini hadiah khusus yang Mama siapkan (patungan sama Papa, Raihan, dan Carissa juga sih, hehe), semoga kamu suka. Biar mama tetap selalu tahu kamu di mana dan sedang apa. Tenang, Mama ngga akan nelpon kamu buat cepet pulang beres-beres rumah lagi kok. Mama hanya ingin kamu jadi Muslimah yang sholehah budi dan akhlaknya. Maaf kalau Mama terlalu keras. Karina, kamulah Malaikat kecil mama. Kamulah yang akan Mama percaya untuk mengurus Mama di kala Mama dan Papa tua kelak. Karena Mama dan Papa percaya bahwa kamu anak paling sabar yang Papa dan Mama punya.

Tersenyumlah malaikat kecilmu, sweet seventeen yah sayang. I Love You My Little Angel

With Love,

Mama : )

Karina tersenyum dan menghapus air matanya.

“Ma, makasih banyak yah. Walaupun Karina tau Mama ngga akan hubungi Karina lewat HP ini, tapi aku akan selalu ada untuk Mama sebagai malaikat kecil Mama yang selalu mendoakan Mama. Aku janji Ma. I love you too, Mom.” (Icha)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s