Hasil Melamun Hari Ini

Saya selalu salut dengan siapapun yang bisa merebut kebebasan dengan caranya. Kebebasan yang positif pastinya dan beralasan.
Nasib manusia tentulah tidak sama. Ada yang harus berusaha untuk merubah nasib dan ada pula yang beruntung mendapatkan nasib yang dia inginkan.
Namun Tuhan itu adil.
Maka semua akan memiliki porsi ujiannya masing-masing.

Advertisements

Betapa Essai Itu Merubah Hidupku

IMG_1018

Ini postingan bergenre pengalaman, santai tapi serius. Mungkin akan bermanfaat untuk yang galau akan ‘mau di bawa ke mana hidup saya. Oh iya, ngomong-ngomong tulisan ini saya buat ketika saya duduk menjadi seorang jr. landscape architect di suatu konsultan arsitektur di Jakarta dan berniat untuk melanjutkan studi ke jenjang berikutnya. Saya tidak mendapatkan beasiswanya tapi saya mendapatkan rezeki lain untuk melanjutkan studi di sini. Poinnya bukan tentang beasiswa ya, tapi bagaimana proses menulis essai ini menjadi satu turning poin yang baik bagi rencana kehidupan saya ke depannya. Ya, rencana kehidupan yang beririsan dengan mimpi-mimpi yang sangat menyenangkan ketika saya menulisnya bahkan untuk diceritakan pada orang-orang terkasih.

Jakarta, Juni 2015

Berkat dukungan, doa, dan semangat dari orang-orang terdekat saya, akhirnya saya memutuskan untuk meng-apply sebuah beasiswa yang sedang ramai dibicarakan di tanah air. Jujur saja rasa minder sempat menjadi kabut tebal selama proses melengkapi dokumen. Sungguh, Tuhan…. Kalau saja saya tahu lebih awal tentang ini semua, saya akan mempersiapkannya jauh-jauh hari, jauh-jauh tahun. Kesalahan saya adalah memimpikan ini tanpa merencanakannya, melihat, hingga mengecek. Padahal kalau saya gesit, saya sudah bisa start sejak 2 tahun sebelum pendaftaran dan mengetahui poin-poin apa saja yang diperlukan untuk mengisi kelengkapan dokumen ini. Tapi sudahlah, tidak ada gunanya penyesalan hidup itu. Nah…. Gimana kalau kita ngobrol perihal judul yang sudah saya tulis? Ya, bagaimana sebuah essai mengubah banyak pola pikir dan pola hidup saya sehari-hari hingga semakin semangat untuk memiliki sebuah tujuan hidup.

Persiapan sebelum hari submit berawal dari bulan Juni, di mana deadline jatuh di bulan Oktober. Memulai adalah hal yang paling berat. Its very true, dear. Sulit sekali rasanya mulai menulis essai. Essai dengan judul sangat simple ini merangkum perjalanan hidup kita. Terdapat tiga essai yang harus dikerjakan, tapi jujur saja, terdapat dua essai yang mampu membuat saya introspeksi diri.  Judul essai ini, “Sukses Terbesar Dalam Hidupku.” dan “Kontribusiku Untuk Indonesia.” Sebelum menulis essai, terdapat guideline poin-poin apa saja yang perlu kita jabarkan karena terbatasnya tulisan yang boleh kita tuangkan dalam beberapa halaman saja.

Essai I: Sukses terbesar dalam hidupku.

Hmm… Waktu menulis essai ini, saya sempat berpikir dan menegur diri sendiri “Bahkan saya tidak bisa menjabarikan definisi sukses untuk hidup saya selama lancar?” Hah? Calon penerima beasiswa yang seperti ini masih harus belajar untuk terus mengasah pikirannya agar lebih kritis dan mampu mengenal dirinya sendiri dengan baik. Saya tidak mau menyerah terhadap pikiran jelek, saya bunuh semua dan berusaha mendopping diri, “Kamu tidak se-useless itu Cha buat hidup kamu sendiri.” Setelah berkontemplasi (mau tidur, berangkat kerja, di kereta, hingga di kantor sedang kejar-kejaran deadline karena tim mau presentasi) akhirnya saya bisa menjabarkan sukses untuk hidup saya. Nah, yang menarik selama proses, saya berusaha mencatat rekam jejak hidup saya. “Saya sudah melakukan apa saja ya untuk diri sendiri dan lingkungan?” Di sinilah akan terlihat perjuangan kita yang tidak mudah dalam versi kita dan lagi akan terlihat di sisi mana sebenarnya kita belum optimal. Karena selama penulisan, kita akan sadar bahwa sebenarnya saat itu kita bisa memberikan sesuatu yang lebih, tapi karena ada faktor a, b, c, d, dan yang lainnya, akhirnya jadi tidak sesuai dengan target. Pelajarannya adalah ketika kita dihadapkan lagi dengan kondisi seperti itu, setidaknya kita sudah sadar dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Essai ini sebagai bahan koreksi diri, penghargaan terhadap diri sendiri. Tidak ada yang bersifat pamer, semua adalah kenyataan tentang apa yang memang telah kita lakukan. Hal-hal nyata yang telah kita lewati dan membentuk kita menjadi pribadi seperti ini. Dari essai ini saya menyadari bahwa saya sebenarnya on the track menuju mimpi saya hanya saja jalannya terjal dan kurang optimal menyebabkan banyak hal yang bisa saya lakukan jadi tidak sempat saya lakukan. What can I do next? Bayar itu semua! Kita masih muda, bayar semua yang kita rasa belum sempat optimal kita lakukan di masa-masa itu.

Essai II: Kontribusiku untuk Indonesia

Anak bangsa banget ya? Ah. Bagian terbaiknya, kamu jadi berusaha mencari tahu apa makna bangsa bagi dirimu sendiri, Nak. Setidaknya dia menyadarkan kita yang terkadang suka lupa bahwa kita hidup di Indonesia dan sudah melakukan apa saja untuk negara kita. Selain protes, hehe. Di essai ini kurang lebih sama dengan essai pertama, bedanya ini lebih rinci dan detail di kegiatan apa saja yang sudah pernah kita lakukan. Di sini kita bisa mengukur:

“Ooh kita udah pernah kaya gini, tapi kok ternyata belum pernah kaya gini ya?”

“Eh dulu pernah kegiatan kaya gini toh ternyata. Wah bermanfaat juga.”

“Loh kok dulu gak pernah ikut kegiatan ginian sih? Harusnya kan ikut!”

Kita diminta untuk menjabarkan mimpi kita tentang dan untuk Indonesia di masa depan dan langkah-langkah apa yang akan kita lakukan untuk mencapai mimpi itu. Ini bagian yang sangat seru! Ternyata pada saat bermimpi, menyusun plan untuk mencapai mimpi itu, di sinilah saya merasa, “inilah hidup. To live with your biggest dream ever!” Saya langsung merasa sangat hidup ketika sudah berbicara soal mimpi. Untuk menulis plan-plan yang begitu nyata dan ada di depan mata, plan-plan kecil namun implementatif yang membantu kamu mendekati mimpi kamu yang besar. Ini indah banget, serius.

Nah, ini adalah hikmah terbaik untuk saya di tahun ini. Hikmah saya yang pada akhirnya nekat mendaftar. Padahal kalau saya lihat dari rekam jejak essai saya, mungkin banyak yang lebih hebat dan berpengalaman dari saya, tapi sudahlah. Ada hikmah indah di balik mendaftarnya saya, salah satunya adalah hidup ini. Tulisan sederhana yang menjadi ajang introspeksi diri, merajut, dan melangkah untuk mendekati mimpi-mimpi yang tertulis. Sungguh kedua essai ini merubah sudut pandang, membuka pola pikir untuk terus berusaha mengkritisi setiap langkah yang akan kita ambil, dan yang terpenting adalah hidup saya memiliki visi dan misi yang jelas (akhirnya). Tentunya, kebahagiaan ini bukan tanpa rasa sakit. Kebahagiaan ini juga bukan akhir dari apa yang saya inginkan. Justru saya tahu, kebahagiaan untuk menyadari hal-hal ini akan diimbangi dengan perjuangan dan kerja keras pada akhirnya. Because my favourite quote is: “Nothing worth comes easy.”

——-

”Hai sayang, sesuatu yang indah tentu harus melalui yang susah-susah dulu, jadi harus semangat ya. Jangan menyerah di tengah jalan! Jangan pernah menyalahkan keadaan! Mungkin diri kamu sendiri yang belum bisa bekerja sama dengan baik bersama dirimu sendiri. Pasti ada sesuatu yang baik di balik kesusahan.”

——

Tips seru untuk yang sedang khawatir soal hidupnya mau dibawa ke mana:

1. Catat, tulis, hal-hal yang sudah kita lakukan selama (minimal) satu tahun terakhir. Koreksi, apakah ada hal-hal yang kurang berguna? Apakah ada sesuatu yang kita lewatkan? Apakah kita sudah bersyukur?

2. Catat, tulis, warnai (hihi) mimpi-mimpi kita! Tulis plan jangka panjang, misalnya sepuluh (10) tahun lagi saya ingin jadi apa, sepuluh (10) tahun lagi saya ada di mana.

3. Setelah menulis dua poin tersebut, ini poin yang terpenting: Tulis, jabarkan, catat hal-hal yang akan kita lakukan untuk mencapai hal-hal yang kamu jabarkan di atas. Tidak ada sesuatu yang gratisan. Tidak ada sesuatu yang instan. Jadi, lakukan effort terbaik yang bisa kita lakukan untuk menggapai itu semua. Tuhan tidak tidur dan akan selalu bersama orang-orang yang berusaha. Bahkan effort terkecil sekalipun akan ada hasilnya.

4. Jangan lupa bersyukur dan merasa cukup atas apa yang sudah diberi. Hal ini menghindari kita dari perasaan tidak bersyukur. Tapi, merasa cukup bukan berarti membuat kita tidak kreatif. Merasa cukup bukan berarti diam di zona nyaman, nanti kita tidak akan berkembang. Bersyukur yang baik diimbangi dengan tindakan serta usaha. (Saya sudah seperti motivator, padahal sesungguhnya diri sendiri mendapat banyak supply semangat dari circle kesayangannya).

Mungkin tips di atas bisa teman-teman lakukan daripada galau berhari-hari di kasur dan memikirkan “Saya mau jadi apa ya?” Catat dan tulis saja dulu, mungkin ini bisa dibilang sebuah langkah action. Kalau kata Raul Renanda di buku 99 untuk Arsitek, “Lakukan saja dulu, kalau salah ya diperbaiki, hal terbaiknya kita tahu bahwa kita sudah bergerak daripada hanya mengkhayal.”

Salam sayang, wish me luck and also, I wish a thousand luck for you all who want to move out from your comfort zone!

Tulisan ini saya tulis di tahun 2015 (umur 23 tahun) dan sunting di tahun 2017 (quarter life crisis saya, ya saya berusia 25 tahun). Ketika melihat kembali tulisan ini, saya merasa saat itu sangat bersemangat dan bahagia sekali menjalani setiap detik dari hari-hari saya. Saat itu juga belum memasuki fase usia seperti sekarang dan rasanya idealisme benar-benar menjadi satu kemewahan yang ada pada diri saya saat itu. Tapi, justru karena saya ‘berkunjung’ dan berusaha membagikan kembali kebahagiaan dan idealisme saya saat itu, saya merasa hari ini pun saya masih menjadi bagian dari apa yang saya tulis saat itu. Walaupun plan meleset, berbelok, terjal, dan sebagainya, saya bersyukur sekali masih memiliki keinginan untuk terus mewujudkannya.
Nah tulisan ini saya publish kembali untuk semua pribadi yang saya cintai dan untuk setiap jiwa yang memiliki semangat, waktu, dan kesempatan. Berkaryalah! Karena setiap inci di bumi ini adalah hal yang patut kita perjuangkan.

Mengapa Bercanda Berlebihan Itu Tidak Baik?

Processed with VSCO with k3 preset

tulisan ini dibuat sebagai upaya bentuk perbaikan diri seorang manusia sebagai makhluk sosial.

Saya termasuk orang yang cukup ekstrovert –dan juga sangat sensitif sebenarnya. Kesensitifan ini membuat sifat ekstrovert saya tertahan cukup banyak. Pasalnya, saya jadi tahu dan kadang sering berkaca “Ternyata diperlakukan begini itu tidak enak. Maka, saya harus begini.” Ketika saya sakit hati akan sesuatu, hal pertama yang saya lakukan adalah introspeksi, “Ini adalah akibat dari sebab yang pernah saya lakukan sepertinya. Semoga ketika saya berbuat sebab, orang yang bersangkutan tidak merasa sakit hati seperti apa yang saya rasakan saat ini.”

Salah satu hal cukup penting yang berusaha saya kontrol adalah bercanda. Bahwa benar adanya manusia tidak dalam kondisi terbaik setiap harinya. Tidak setiap hari pula manusia dapat menerima semua kritikan ataupun masukan dengan akal dan pikiran yang sehat atau stabil. Maka saya meminimalisir bercanda namun mencintai menyisipkan jokes receh di komunikasi saya dengan orang-orang. Bercanda di sini konteksnya dengan perkataan, sebutan, intonasi, dan lain sebagainya. Intinya, jokes yang mengarah pada merendahkan ataupun meledek. Cara Bapak Jokowi untuk dekat dengan masyarakat salah satunya adalah bercanda. Bisa kita lihat bahwa suasana yang kadang terlalu formal bisa menjadi cukup rileks ketika Bapak Jokowi mulai bercanda. Namun, saya sering melihat bahwa Bapak Jokowi bercanda dengan etika, maka itu bukan sembarang bercanda melainkan teknik untuk melepas penat dan membangun komunikasi dengan masyarakat lapisan manapun. Karena bercanda adalah salah satu cara untuk memasuki dunia dan komunikasi yang bisa dipahami oleh banyak layer.

Seringkali saya mendengar “Ih kan cuma bercanda.” “Serius banget, itu kan cuma bercanda.” Ya, tapi hati dan tujuan asli manusia tidak ada yang mengetahui. Upaya paling mudah untuk menghindari sakit hati adalah men-default kan pikiran kita bahwa “Tidak apa-apa, ini pasti hanya bercanda.” Lagi-lagi perlu saya tegaskan bahwa tidak semudah itu bisa men defaultkan pikiran. Terkadang hal yang menyedihkan adalah ketika bercanda dijadikan suatu alat untuk melakukan pembenaran, misal dari awal niatnya memang menyindir, tapi karena tahu lawan bicara tersinggung, dalihnya adalah “Saya kan niatnya cuma bercanda.” Lawan bicara sudah terlanjur sakit hati, nah ini yang tidak menyenangkan. Ketika sebuah niat menyenangkan orang berbuah menjadi benang yang semu di antara dua manusia.

Karena saya orang yang cukup sensitif, saya mengurangi interaksi secara berlebihan dengan menggunakan candaan karena sedikit takut bahwa suatu hari saya yang akan tersakiti dengan apa yang saya tanam sendiri. Tidak jarang saya mendengar teman saya sakit hati karena candaan teman-temannya. Teman-temannya bisa bilang itu bercanda, tapi tidak semua orang bisa menerima candaan tersebut. Mungkin bagi beberapa orang yang membaca tulisan ini akan menganggap saya punya tingkat bercanda yang rendah. Tidak, saya sangat suka bersosialisasi dan menemukan teknik yang tepat untuk menghadapi berbagai pribadi. Di sini saya menulis berbekal sebagai seorang pendengar yang seringkali mendengar kisah bagaimana candaan dapat membangun stereotype orang secara massal. Tentang bagaimana sebuah candaan yang belebihan dapat menyakiti lawan bicara kita tanpa sengaja.

Maka baiknya, dewasa ini kita cukup bijak baik dalam memaknai ‘candaan’ ataupun berkata untuk candaan supaya tidak berlebihan. Bahasa mudahnya, jangan bercanda dengan orang yang tidak suka bercanda berlebihan karena hal ini dapat menimbulkan efek yang kurang baik bagi sebuah tali persaudaraan. Bisa juga tidak bercanda saat kita sedang dituntut untuk serius karena hal ini sangat sering terjadi.  Di sini, kita diuji bahwa tidak bisa kita memperlakukan semua orang sama dengan kita yang mampu menerima candaan.

Hello: September!

DSCF6588
Pantai Tanjung Aan: Sepenggal cerita liburan kemarin.

Setelah melihat archive sedikit terkaget-kaget. “Serius terakhir nulis di sini bulan Mei? Ke mana aja?” Kasian juga. Bukan sih, masalahnya bukan di perihal sibuk tugas, liburan, jalan-jalan, observasi, internship, dan kumpul keluarga. Hanya saja ‘hawa’ menulisnya terganggu karena hal-hal non teknis yang membuat saya banyak alasan untuk akhirnya bisa rehat menulis sejenak. Untuk mengawali indahnya September, mari menulis hal yang ringan-ringan saja, contohnya kemarin saya ke mana saja ya?

Selamat datang semester 3 yang menakjubkan!
Kenapa bisa saya bilang menakjubkan? Pasalnya mata kuliah dan sksnya lebih sedikit dibanding dua semester sebelumnya, tapi bobotnya jauh berbeda. Semester ini rasanya padat sekali. Sepertinya pemanasan dan disambi mencari literatur untuk thesis yang topiknya (alhamdulillah) sudah ketemu dan di setujui oleh (calon) dosbing dan bapak dosen metodologi penelitian (metlit). Terlebih tadi pagi di kelas, Bapak dosen metlit berkata, “Ingat ya, jangan anggap thesis sebagai masterpiece. Anggap saja batu loncatan agar kalian bisa segera lulus dan menyusun the real masterpiece kalian. Ingat bahwa waktunya hanya 6 bulan, susun strategi dan manajemen waktu dengan baik.” Waduh, waktu dinasihati seperti itu, saya dengan senang hati berkata dalam hati “Oke Bapak, siap!” diiringi dengan wajah berbinar-binar khas saya.

Sempat liburan berkali-kali.

Sebelum memasuki semester ajaib ini, alhamdulillah sempat jalan-jalan juga ke Lombok, Bangkok, dan Jogja! Senang? Jangan ditanya. Nanti kalau ada kesempatannya, saya akan berbagi cerita menyenangkan semasa menghabiskan waktu di sana. Liburan sembari belajar sekaligus berbagi bersama teman-teman kesayangan saya alias Rancang Kota angkatan 2016. Pergi bersama mereka sih sebenarnya hanya ke Bangkok saja, sisanya liburan keluarga dan me time. Iya nanti diceritakan, tapi nanti ya.

Ketika jalan di minggu kedua kemarin, rasanya berat sekali. Perasaan ini semakin besar karena saya merasa sangat kurang dalam hal membaca. Semakin membaca saya merasa semakin bodoh. Semakin masuk kuliah pun saya semakin merasa “Lha ke mana aja Cha? Kemarin baca apa?” Tapi di minggu ke tiga ini, semangatnya sudah bangkit lagi karena ada saja hal-hal yang Allah tunjukkan pada saya. Merasa sangat beruntung karena masih memiliki semangat yang bisa dinyalakan kembali setelah merasa sempat mati (mendadak). Ya ya, kamu harus semangat Cha karena masih banyak yang ingin dilakukan di hari-hari setelah ini. 

Oke, untuk mengawali lembaran yang sudah lama kosong karena penulisnya sedang ‘mogok’ nulis sesaat, kita sudahi dulu ya. Selamat membaca dan jangan lupa membaca buku hari ini!

Other Perspective: Cikini Mengindahkanku Tentang Jakarta

DSCF3841
Marisa (November 2011)

Bagiku kerja di Jakarta bukanlah sebuah tujuan ataupun cita-cita ketika aku lulus dari bangku perkuliahan S1. Dalam benakku, aku akan bekerja dekat rumah di kawasan Bogor. Membayangkan akan berdesakkan di KRL saja sudah membuat nyaliku ciut, seciut-ciutnya manusia membayangkan hal paling mengerikan dalam hidupnya. Gambaran yang diberikan media tentang KRL begitu menyeramkan, hingga akhirnya aku merajut sendiri cerita sehari-hariku bersama KRL Jabodetabek. Not bad at all, seriously. Masih hangat di ingatan bagaimana rasanya berjuang bersama 24 jam waktu yang kumiliki, ketika semangatku begitu menggebu untuk menggapai segala cita-cita pada kala itu. Belajar TPA sambil berdiri di komuter, tangan kanannya pegangan pada pengait di atas dan di tangan kirinya memegang buku TPA ataupun TOEFL. Ketika mendapat duduk, bukannya lanjut mengerjakan malah tertidur di pundak orang sebelah (dan kadang membuat orang di sebelah risih, maaf ya!). Pernah juga mengalami kejadian ketiduran ketika berangkat kantor dan membuatku harus turun di dua stasiun dari stasiun yang seharusnya, kalau tidak di Gondangdia ya Juanda, lalu melanjutkan perjalanan kembali dengan ojek atau kalau sedang tidak buru-buru ke kantor, menunggu kereta kembali ke Cikini (biasanya lama, huhu). Hal yang aku yakini dengan segala proses bersama Komuter saat itu adalah Tuhan bersama orang-orang yang berusaha! That’s all :) Maka segala tenaga, curahan kebahagiaan, semua murni aku ikhlaskan demi masa depan yang lebih baik dari saat ini. Semua benar-benar terjawab pada waktunya, meskipun jalannya tidak selalu mulus.

Aku punya kenangan tersendiri dengan kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Di kawasan inilah letak kantor pertamaku, sekaligus yang paling berkesan bagi hidupku selama 25 tahun terakhir, PT. Airmas Asri. Airmas Asri sendiri adalah sebuah konsultan yang bergerak di bidang Arsitektur, Interior, dan Lanskap.  Terbagi dalam beberapa divisi dan aku masuk dalam keluarga divisi Arsitektur Lanskap, karena memang aku sendiri yang menginginkan berada di divisi tersebut ketika melamar kerja di sana. Tuhan memang Maha Penyayang, keluargaku begitu hangat dan menyenangkan. Di sana kami bekerja secara tim, bekerja sama dengan divisi Arsitektur terkadang bersama tim Interior sekaligus. Karena keperluan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang lebih lanjut, dengan berat hati aku mengajukan pengunduran diri karena harus berpindah ke kota Pahrayangan, Bandung. Hingga akhirnya bulan November 2016 kemarin, aku berkesempatan untuk berkunjung ke kantor lama. Masih dengan kehangatan yang sama, mereka menyambutku dengan begitu baik. Maka tumpah ruah segala cerita dan bangku yang dulu aku tempati ternyata masih kosong.

DSCF3861
Muda-mudi di geng Lanskap kesayangan aku (Mas Ben, Kak Niko, Marisa, Kak Windi, Ecki, dan Aji)

Cikini dan Segala Bala Bahagianya

Cinta. Mungkin ini yang mendefinisikan Cikini di hati Marisa. Satu daerah di Jakarta yang memiliki ruang tersendiri di hatiku hingga saat ini. Entah kulinernya, trotoar yang menjadi saksi bisu bagaimana seringnya aku menatap langit di Jakarta yang jarang terlihat bintang, bangunan-bangunan lama tempat aku sering bertemu dengan kawan lama yang sedang berkunjung ke Jakarta, pempek di Metropole XXI yang sering membuat aku pulang larut sampai ke Bogor karena mampir dulu sebelum pulang ke sana, dan masih banyak lagi cerita tentang jalanan Cikini.

Di Cikini pula kamu bisa merasakan bubur yang enak di ujung jalan dekat stasiun. Membeli buket bunga untuk akhirnya kamu lepas dan urai ketika sampai di rumah untuk diletakkan di vas bunga pada meja, menunggu kereta sembari membeli onigiri di indomaret yang berada di lantai satu stasiun. Berlari mengejar kereta ketika mendengar tujuan ‘Bogor’ akan memasuki peron dan mengetahui kereta ke Bogor berikutnya masih berjarak kurang lebih 40menit lagi (Oh my….) Hanya di sini kamu bisa bertemu dengan dosen pengujimu, yang sedang menjalani kuliah S3 di UI ketika akan keluar dari stasiun. Dan di sinilah aku mendapati kedua sahabatku sedang menungguku pulang dari kantor dan membawa kue untuk aku tiup lilinnya lengkap dengan balon dan karangan bunga di kepala. Ya, itu adalah sebagian kenangan kecilku dengan Cikini. Lelah mana yang lalu bisa menjadi alasanku untuk berkeluh mengenai Jakarta hari ini dan berikutnya?

Di balik itu semua, aku juga memiliki satu spot kesukaan aku di Cikini. Nah, jadi di sini ada satu kafe kesukaan aku karena jendelanya sangat besar, namanya Kedai Tjikini. Di sini ada dua cerita yang sarat kenangan dalam hidupku dan termasuk dalam kenangan yang cukup manis untuk diingat. Suasana dalam kedai ini sangat warm dan friendly. Kafenya tidak terlalu ramai -mungkin karena aku datangnya selalu saat weekday- dan berada di pinggir jalan Cikini, tepatnya di seberang Menteng Huis. Oh ya, di depan kafe ini juga terdapat mural yang dilukiskannya pada trotoar! Aku lupa ini kerjasama Jakarta dengan siapa, seingatku dengan Korea sih (tapi kalau salah mohon direvisi ya, hehe). Trotoar di sepanjang jalan depan kafe ini begitu cantik dan membuat kita gemas ingin mengabadikan kaki-kaki yang sedang berjalan kecil di atasnya.

DSCF3829

DSCF3830
Jendela besar kesukaan Marisa
DSCF3814
Enam dari mural lain yang terdapat di sepanjang trotoar di depan Kafe Tjikini!

Lucunya, kafe ini pun selalu berhasil menjadi alasan aku ‘pulang’ lagi dan lagi ke Cikini. Entah hanya untuk melepas rindu atau mencari alasan mengapa aku selalu mencintai kawasan ini. Cikini juga berhasil membuat stereotype aku mengenai hiruk pikuk dan horornya Kota Jakarta tidak separah seperti sebelum aku menjalani kehidupan di sini. Walaupun termasuk menjadi pribadi yang jarang menghabiskan waktu malam di Jakarta karena harus segera pulang ke Bogor, tapi kebahagiaanku dan negatif thinkingku tentang Jakarta setidaknya sudah mulai menghilang. Mungkin juga karena aku mencoba berpikir dan memandang Jakarta dari sudut yang lain, tidak berfokus pada akar masalah yang ada di Ibukota kita ini. Dan bisa jadi ini adalah salah satu cara untuk menikmati Jakarta sebagaimana mestinya. Aku memang bukan satu dari ribuan manusia yang terkena macet di Jakarta, tapi aku termasuk dalam satu dari ribuan orang yang pulang-pergi keluar masuk Jakarta setiap harinya untuk bercengkrama dengan kota ini. Jadi mungkin suara kebahagiaanku terhadap hari-hariku di Jakarta bisa menjadi satu pandangan lain bagimu tentang bagaimana baiknya menilai ataupun menikmati Jakarta. Sejenak kamu akan merasa lagu Adithia Sofyan was so me kan? Kadang.

“And I put all my heart to get to where you are, maybe it’s time to move away
I forget Jakarta and all the empty promises will fall
This time, I’m gone to where this journey ends
But if you stay, I will stay…” 

Ya, seperti itulah Cikini. Dia adalah ‘sosok’ yang berhasil membuat Jakarta bagiku begitu berbeda dengan apa yang selama ini aku pikirkan ataupun beberapa orang pikirkan.

Salam sayang dari Bandung,
Marisa (yang sedang menjalani minggu UAS, doakan aku!)

Astronot yang Rindu Pulang

IMG_6658

Kota, kota, kota. Mahasiswa perancangan kota tapi jarang berjalan-jalan mengelilingi setiap sudut kota, apakah masih relevan? Semua selalu bilang, enak sekarang ada internet, bisa jalan-jalan dari layar. Tapi kamu pasti paham kan, jalan-jalan lewat layar dengan merasakan secara langsung adalah dua hal yang sangat berbeda. Orang bilang, kuliah di dunia perancangan itu sama seperti astronot. Di studio terus, 24/7, pikirannya 24/7 studio, makan kepikiran studio, tidur kepikiran studio, bahkan menulis hal yang bukan berurusan dengan studio pun kepikirannya studio. Benar tidak? Bagiku bagaimana ya? Walaupun teman-teman tidak mau tahu, tapi sini aku ceritakan secara gamblang bagaimana diriku bersahabat dengan dunia perancangan kurang lebih 7 tahun belakangan ini. Mulai dari menjadi mahasiswi Arsitektur di Brawijaya, bekerja menjadi seorang junior arsitek lanskap, hingga sekarang menjadi mahasiswi (lagi) di magister rancang kota di Bandung.
Sewaktu kecil, aku bercita-cita menjadi astronot atau agen perempuan keren di FBI, superspy gitu lah ya. Di sini, aku dapat dua-duanya. Katakanlah aku dapat jadi astronot, bulan adalah studio, studio adalah bulan. Seragamku adalah jaket yang setia menemani di segala kondisi. Mau panas, hujan, terik, hujan es, hujan angin, serangan AC alias Air Conditioner dalam studio, itulah seragam astronotku. Jadi, impianku menjadi astronot terkabul bukan? Bagaimana dengan mimpiku menjadi agen FBI? Terkabul juga. Tapi kalau ini bukan tentang misi-misi politik ataupun dendam pribadi seperti di film Mission Impossible gitu. Aku superspy yang mengamati setiap gerak-gerik aktifitas pola perilaku masyarakat di suatu wadah dalam kota yang saya tinggali. Ketika meneliti sesuatu, kita akan mengamati, mencari tahu, apa fungsi utama, kenapa hal tersebut ada di sini, kenapa masyarakat cenderung mau lewat jalan ini daripada jalan yang satunya, mengapa public space di sini sepi tapi yang di dekat alun-alun ramai? Yah… Kurang tepat sebenarnya bila menganggap itu sebagai profesi superspy yang menggunakan baju hitam seperti yang sering teman-teman lihat di televisi, tapi boleh kan aku menganggapnya seperti superspy yang keren tapi dalam cara yang berbeda? Boleh.

IMG_6019

Lanjut!
Maka munculah demo-demo menuntut hak mahasiswa untuk mendapat pembelajaran di luar kampus, seperti ekskursi, studi lapangan, workshop, dan lain-lain. Kadang kalau tidak diagendakan oleh pihak kampus, akan terdapat dua kemungkinan yang terjadi. Alasan yang pertama adalah waktunya tidak ada! Bentrok dengan perkuliahan dan studio sana sini yang menyebabkan kami sulit keluar dari stasiun luar angkasa ala kami. Hal kedua adalah melawan rasa takut karena bila berpergian, tugas tidak akan selesai. Walaupun saya termasuk dalam kategori mahasiswa ‘’slow aja tapi tetap memiliki target”, jujur dalam lubuk hati, perihal tugas ini selalu berlari-lari dalam pikiran saya di manapun saya sedang makan ataupun main handphone. Hal ini terjadi pada mahasiswa yang tipe “slow mode” seperti saya, bayangkan apa yang terjadi dengan teman-teman saya yang tipenya bukan slow mode? Perang dunia III pecah. Massa menyerang dari segala lini untuk bertanya, “Ini tugas diapain ya? Kenapa tidak selesai-selesai?”

Dan untuk beberapa orang di bumi yang melihat kami para astronot sedang berjuang melakukan penelitian di ruang angkasa kami, akan selalu timbul pertanyaan, “Kamu lagi apa? Nugas ya? Kok tugas kamu gak selesai-selesai?” Lalu pertanyaan itu seketika menjadi bom waktu yang sudah siap dijawab dengan jawaban, “Saya mahasiswa Mas/Mbak. Wajar kalau hidupnya bersama tugas, lebih aneh kalau hidupnya ada di dalam air sambil diving setiap hari.” Jangan anggap itu bentuk sarkas, tapi ungkapan itu adalah kegundahan kami atas jawaban bahwa “Kami juga maunya tidak begini, tapi ini tanggung jawab yang harus diselesaikan dengan baik dan bersungguh-sungguh agar nantinya bisa dipertanggung jawabkan. Begitu bukan?”

IMG_6980
Kalau survey dari matahari terbit hingga matahari terbenam, letih dan bahagia dalam saat yang bersamaan karena dilakukan bersama-sama.

Kamu kok jadi ngelantur, Marisa? Jadi inti dari tulisan ini sebenarnya mengajak teman-teman astronot, para mahasiswa rancang untuk senantiasa meningkatkan moodnya dan menyingkirkan berbagai alasan untuk sekedar berjalan kaki mengelilingi ruang kota. Kalau kata Pak Uli, dosen saya yang sangat keren, menjadi seorang urban designer itu sangat dituntut kepekaannya. Tulisan ini pun bentuk refleksi saya yang akhir-akhir ini jarang keluar stasiun luar angkasa alias studio karena tugasnya begitu banyak dan tiada henti. Ini bukan mengeluh, hanya saja sebuah bentuk cerita betapa tidak jalan-jalan dapat membuat saya menjadi kurang peka dan tidak update. Padahal laboratorium saya dan teman-teman berada di sekeliling kami, begitu besar dan gratis untuk diamati, ruang kota kami. Mari belajar di luar kampus, mari pulang sejenak ke bumi (habis  UAS maksudnya!).

Salam hangat,
Mahasiswi semester 2 yang akan kedatangan UAS beberapa hari lagi.

Cerita Tentang LDR dengan Papa dan Mama

“I will always care for you, even if we’re not together and even if we’re far, far away from each other”

Tidak bosan-bosan sebenarnya saya menceritakan tentang kehidupanku dengan keluarga saya yang diwarnai dengan anugerah dari Allah yaitu jarak. Sebenarnya saya bukan orang yang bermasalah dengan jarak. Beberapa kali mengalami hubungan dengan orang-orang tersayang bersama jarak dan itu menguatkan. Jarak itu bijak, kadang kita saja yang terlampau ketakutan entah karena apa.
Saya tahu bahwa mengenai orang tua, semua akan sangat berbeda. Alm. Pak Galih pernah memberikan kuliah tentang “Ruang Ibu”. Dialognya sangat singkat dan sangat berbekas di hati saya, kurang lebih seperti ini:

“Pernah tidak satu ketika, kamu sedih, lalu Ibu kamu menelpon, “Adik gapapa? Apa kabar? Kok kayaknya kamu lagi sedih ya?” Di saat itu, kamu sedang sekuat tenaga menahan untuk tidak menceritakan segalanya karena khawatir Ibu atau Ayahmu terbawa khawatir. Itulah ruang ibu dan anak. Ada juga ruang ayah dan anak. Tidak berdimensi karena tidak terbatas. Ruang itu tidak hanya tentang dimensi yang berbatas, ada juga ruang yang Allah ciptakan, ya ruang batin itu namanya.

Keluar dari ruang kelas itu, saya tersenyum, benar yang dikatakan Alm. Pak Galih. Ruang tidak terlihat itu sangat nyata, bahkan dibuat oleh-Nya tanpa kekurangan dan pada porsi yang begitu presisi. Memiliki jarak dengan beliau berdua membuat saya menjadi sosok yang mandiri, mencoba untuk lebih kritis dalam menghadapi suatu masalah, dan juga tidak mudah mengeluh. Jarak pun mengajarkan kepada saya dan keluarga untuk lebih peka, bahwa ada orang-orang yang selalu menanti kabar kita, menunggu kehadiran kita secara fisik dekat bersamanya, apalagi orang tua kan?

Terbantulah semua dengan media sosial. Yang menghubungkan kami melalui layar kecil dan suara yang real time. Selalu saja banyak hal lucu terjadi, misalnya…. Ketika saya kuliah di Malang, orang tua saya dinas di Bandung. Ketika saya bekerja di Jakarta, Papa dinas di Medan, dan sekarang ketika saya berkuliah di Bandung, Ayah berada di Jayapura dan Ibu berada di Malang. Rasanya seperti kota yang kami tapaki sama, tapi dalam kurun waktu yang berbeda. Selalu seperti itu, tapi Tuhan pun selalu punya rencana terbaik-Nya. 

Terdapat hadiah istimewa yang hadir di awal tahun 2017 ini. Beruntung bahwa tulisan saya tentang sosok Ayah dan pesannya sempat tertuang dalam buku. Saat itu terdapat event menulis dan dipilihlah beberapa kontributor untuk dapat ikut andil menulis. Bila beruntung, tulisannya akan dibukukan bersama 40 kontributor lain. Masih teringat, di malam sendu itu, sebuah kabar baik datang. “Selamat, tulisan anda terpilih untuk dibukukan bersama 40 kontributor lain dalam buku “Kata Ayah”. Rasanya senang sekali, seperti sedikit demi sedikit mimpi menjadi kenyataan. Kalau kata Mas Rayyan, semua itu tergantung niatnya. Bila baik maka akan tersalurkan baik pula wujudnya.

Saya pun sangat jarang dan tidak berani menilai orang. Namun, ada satu penilaian saya terhadap kepribadian seseorang, yaitu bagaimana cara ia berlaku dan bertutur kata kepada kedua orang tuanya. Bila baik, saya berani memastikan bahwa orang tersebut memang baik. Bila tidak, saya akan menganggapnya bahwa ada suatu proses atau kejadian yang pada akhirnya membuat ia bersikap seperti itu. Dan selama kedua orang tua kita masih ada, maka berilah sedikit waktumu, luangkanlah untuk sekedar menanyakan kabarnya. Beberapa cerita pun datang dari berbagai teman, seperti:
“Kalau orang yang dekat dengan orang tuanya, pasti akan berkata lebih enak jauh dari orang tua. Kalau orang yang jauh dari orang tuanya, pasti akan menginginkan sosok orang tua di dekatnya.” Ya kan, manusia memang tidak pernah puas dengan kondisi yang ia anggap kurang ideal? Tapi percayalah, orang tua akan terus menua. Selain sibuk dengan urusan kejar-mengejar mimpi, jangan lupa untuk berkunjung ke orang tua selagi kita masih sama-sama berada di bumi ya.

Dan foto itu, saya ambil diam-diam, foto beliau berdua. Selalu terpajang di meja tempat saya menimba ilmu, membutuhkan semangat lebih untuk berkarya, dan menjadi pelepas lelah ketika saya sedang suntuk.

“Aku yakin, ketika kita bisa memilih sebelum dilahirkan, kita akan memilih untuk lahir dari orang tua yang sama.” – Nelza M. Iqbal, dalam percakapan tentang orang tua.

Bandung, 24 April 2017
Yang mencintaimu,
Marisa Sugangga