Other Perspective: Cikini Mengindahkanku Tentang Jakarta

DSCF3841
Marisa (November 2011)

Bagiku kerja di Jakarta bukanlah sebuah tujuan ataupun cita-cita ketika aku lulus dari bangku perkuliahan S1. Dalam benakku, aku akan bekerja dekat rumah di kawasan Bogor. Membayangkan akan berdesakkan di KRL saja sudah membuat nyaliku ciut, seciut-ciutnya manusia membayangkan hal paling mengerikan dalam hidupnya. Gambaran yang diberikan media tentang KRL begitu menyeramkan, hingga akhirnya aku merajut sendiri cerita sehari-hariku bersama KRL Jabodetabek. Not bad at all, seriously. Masih hangat di ingatan bagaimana rasanya berjuang bersama 24 jam waktu yang kumiliki, ketika semangatku begitu menggebu untuk menggapai segala cita-cita pada kala itu. Belajar TPA sambil berdiri di komuter, tangan kanannya pegangan pada pengait di atas dan di tangan kirinya memegang buku TPA ataupun TOEFL. Ketika mendapat duduk, bukannya lanjut mengerjakan malah tertidur di pundak orang sebelah (dan kadang membuat orang di sebelah risih, maaf ya!). Pernah juga mengalami kejadian ketiduran ketika berangkat kantor dan membuatku harus turun di dua stasiun dari stasiun yang seharusnya, kalau tidak di Gondangdia ya Juanda, lalu melanjutkan perjalanan kembali dengan ojek atau kalau sedang tidak buru-buru ke kantor, menunggu kereta kembali ke Cikini (biasanya lama, huhu). Hal yang aku yakini dengan segala proses bersama Komuter saat itu adalah Tuhan bersama orang-orang yang berusaha! That’s all :) Maka segala tenaga, curahan kebahagiaan, semua murni aku ikhlaskan demi masa depan yang lebih baik dari saat ini. Semua benar-benar terjawab pada waktunya, meskipun jalannya tidak selalu mulus.

Aku punya kenangan tersendiri dengan kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Di kawasan inilah letak kantor pertamaku, sekaligus yang paling berkesan bagi hidupku selama 25 tahun terakhir, PT. Airmas Asri. Airmas Asri sendiri adalah sebuah konsultan yang bergerak di bidang Arsitektur, Interior, dan Lanskap.  Terbagi dalam beberapa divisi dan aku masuk dalam keluarga divisi Arsitektur Lanskap, karena memang aku sendiri yang menginginkan berada di divisi tersebut ketika melamar kerja di sana. Tuhan memang Maha Penyayang, keluargaku begitu hangat dan menyenangkan. Di sana kami bekerja secara tim, bekerja sama dengan divisi Arsitektur terkadang bersama tim Interior sekaligus. Karena keperluan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang lebih lanjut, dengan berat hati aku mengajukan pengunduran diri karena harus berpindah ke kota Pahrayangan, Bandung. Hingga akhirnya bulan November 2016 kemarin, aku berkesempatan untuk berkunjung ke kantor lama. Masih dengan kehangatan yang sama, mereka menyambutku dengan begitu baik. Maka tumpah ruah segala cerita dan bangku yang dulu aku tempati ternyata masih kosong.

DSCF3861
Muda-mudi di geng Lanskap kesayangan aku (Mas Ben, Kak Niko, Marisa, Kak Windi, Ecki, dan Aji)

Cikini dan Segala Bala Bahagianya

Cinta. Mungkin ini yang mendefinisikan Cikini di hati Marisa. Satu daerah di Jakarta yang memiliki ruang tersendiri di hatiku hingga saat ini. Entah kulinernya, trotoar yang menjadi saksi bisu bagaimana seringnya aku menatap langit di Jakarta yang jarang terlihat bintang, bangunan-bangunan lama tempat aku sering bertemu dengan kawan lama yang sedang berkunjung ke Jakarta, pempek di Metropole XXI yang sering membuat aku pulang larut sampai ke Bogor karena mampir dulu sebelum pulang ke sana, dan masih banyak lagi cerita tentang jalanan Cikini.

Di Cikini pula kamu bisa merasakan bubur yang enak di ujung jalan dekat stasiun. Membeli buket bunga untuk akhirnya kamu lepas dan urai ketika sampai di rumah untuk diletakkan di vas bunga pada meja, menunggu kereta sembari membeli onigiri di indomaret yang berada di lantai satu stasiun. Berlari mengejar kereta ketika mendengar tujuan ‘Bogor’ akan memasuki peron dan mengetahui kereta ke Bogor berikutnya masih berjarak kurang lebih 40menit lagi (Oh my….) Hanya di sini kamu bisa bertemu dengan dosen pengujimu, yang sedang menjalani kuliah S3 di UI ketika akan keluar dari stasiun. Dan di sinilah aku mendapati kedua sahabatku sedang menungguku pulang dari kantor dan membawa kue untuk aku tiup lilinnya lengkap dengan balon dan karangan bunga di kepala. Ya, itu adalah sebagian kenangan kecilku dengan Cikini. Lelah mana yang lalu bisa menjadi alasanku untuk berkeluh mengenai Jakarta hari ini dan berikutnya?

Di balik itu semua, aku juga memiliki satu spot kesukaan aku di Cikini. Nah, jadi di sini ada satu kafe kesukaan aku karena jendelanya sangat besar, namanya Kedai Tjikini. Di sini ada dua cerita yang sarat kenangan dalam hidupku dan termasuk dalam kenangan yang cukup manis untuk diingat. Suasana dalam kedai ini sangat warm dan friendly. Kafenya tidak terlalu ramai -mungkin karena aku datangnya selalu saat weekday- dan berada di pinggir jalan Cikini, tepatnya di seberang Menteng Huis. Oh ya, di depan kafe ini juga terdapat mural yang dilukiskannya pada trotoar! Aku lupa ini kerjasama Jakarta dengan siapa, seingatku dengan Korea sih (tapi kalau salah mohon direvisi ya, hehe). Trotoar di sepanjang jalan depan kafe ini begitu cantik dan membuat kita gemas ingin mengabadikan kaki-kaki yang sedang berjalan kecil di atasnya.

DSCF3829

DSCF3830
Jendela besar kesukaan Marisa
DSCF3814
Enam dari mural lain yang terdapat di sepanjang trotoar di depan Kafe Tjikini!

Lucunya, kafe ini pun selalu berhasil menjadi alasan aku ‘pulang’ lagi dan lagi ke Cikini. Entah hanya untuk melepas rindu atau mencari alasan mengapa aku selalu mencintai kawasan ini. Cikini juga berhasil membuat stereotype aku mengenai hiruk pikuk dan horornya Kota Jakarta tidak separah seperti sebelum aku menjalani kehidupan di sini. Walaupun termasuk menjadi pribadi yang jarang menghabiskan waktu malam di Jakarta karena harus segera pulang ke Bogor, tapi kebahagiaanku dan negatif thinkingku tentang Jakarta setidaknya sudah mulai menghilang. Mungkin juga karena aku mencoba berpikir dan memandang Jakarta dari sudut yang lain, tidak berfokus pada akar masalah yang ada di Ibukota kita ini. Dan bisa jadi ini adalah salah satu cara untuk menikmati Jakarta sebagaimana mestinya. Aku memang bukan satu dari ribuan manusia yang terkena macet di Jakarta, tapi aku termasuk dalam satu dari ribuan orang yang pulang-pergi keluar masuk Jakarta setiap harinya untuk bercengkrama dengan kota ini. Jadi mungkin suara kebahagiaanku terhadap hari-hariku di Jakarta bisa menjadi satu pandangan lain bagimu tentang bagaimana baiknya menilai ataupun menikmati Jakarta. Sejenak kamu akan merasa lagu Adithia Sofyan was so me kan? Kadang.

“And I put all my heart to get to where you are, maybe it’s time to move away
I forget Jakarta and all the empty promises will fall
This time, I’m gone to where this journey ends
But if you stay, I will stay…” 

Ya, seperti itulah Cikini. Dia adalah ‘sosok’ yang berhasil membuat Jakarta bagiku begitu berbeda dengan apa yang selama ini aku pikirkan ataupun beberapa orang pikirkan.

Salam sayang dari Bandung,
Marisa (yang sedang menjalani minggu UAS, doakan aku!)

Astronot yang Rindu Pulang

IMG_6658

Kota, kota, kota. Mahasiswa perancangan kota tapi jarang berjalan-jalan mengelilingi setiap sudut kota, apakah masih relevan? Semua selalu bilang, enak sekarang ada internet, bisa jalan-jalan dari layar. Tapi kamu pasti paham kan, jalan-jalan lewat layar dengan merasakan secara langsung adalah dua hal yang sangat berbeda. Orang bilang, kuliah di dunia perancangan itu sama seperti astronot. Di studio terus, 24/7, pikirannya 24/7 studio, makan kepikiran studio, tidur kepikiran studio, bahkan menulis hal yang bukan berurusan dengan studio pun kepikirannya studio. Benar tidak? Bagiku bagaimana ya? Walaupun teman-teman tidak mau tahu, tapi sini aku ceritakan secara gamblang bagaimana diriku bersahabat dengan dunia perancangan kurang lebih 7 tahun belakangan ini. Mulai dari menjadi mahasiswi Arsitektur di Brawijaya, bekerja menjadi seorang junior arsitek lanskap, hingga sekarang menjadi mahasiswi (lagi) di magister rancang kota di Bandung.
Sewaktu kecil, aku bercita-cita menjadi astronot atau agen perempuan keren di FBI, superspy gitu lah ya. Di sini, aku dapat dua-duanya. Katakanlah aku dapat jadi astronot, bulan adalah studio, studio adalah bulan. Seragamku adalah jaket yang setia menemani di segala kondisi. Mau panas, hujan, terik, hujan es, hujan angin, serangan AC alias Air Conditioner dalam studio, itulah seragam astronotku. Jadi, impianku menjadi astronot terkabul bukan? Bagaimana dengan mimpiku menjadi agen FBI? Terkabul juga. Tapi kalau ini bukan tentang misi-misi politik ataupun dendam pribadi seperti di film Mission Impossible gitu. Aku superspy yang mengamati setiap gerak-gerik aktifitas pola perilaku masyarakat di suatu wadah dalam kota yang saya tinggali. Ketika meneliti sesuatu, kita akan mengamati, mencari tahu, apa fungsi utama, kenapa hal tersebut ada di sini, kenapa masyarakat cenderung mau lewat jalan ini daripada jalan yang satunya, mengapa public space di sini sepi tapi yang di dekat alun-alun ramai? Yah… Kurang tepat sebenarnya bila menganggap itu sebagai profesi superspy yang menggunakan baju hitam seperti yang sering teman-teman lihat di televisi, tapi boleh kan aku menganggapnya seperti superspy yang keren tapi dalam cara yang berbeda? Boleh.

IMG_6019

Lanjut!
Maka munculah demo-demo menuntut hak mahasiswa untuk mendapat pembelajaran di luar kampus, seperti ekskursi, studi lapangan, workshop, dan lain-lain. Kadang kalau tidak diagendakan oleh pihak kampus, akan terdapat dua kemungkinan yang terjadi. Alasan yang pertama adalah waktunya tidak ada! Bentrok dengan perkuliahan dan studio sana sini yang menyebabkan kami sulit keluar dari stasiun luar angkasa ala kami. Hal kedua adalah melawan rasa takut karena bila berpergian, tugas tidak akan selesai. Walaupun saya termasuk dalam kategori mahasiswa ‘’slow aja tapi tetap memiliki target”, jujur dalam lubuk hati, perihal tugas ini selalu berlari-lari dalam pikiran saya di manapun saya sedang makan ataupun main handphone. Hal ini terjadi pada mahasiswa yang tipe “slow mode” seperti saya, bayangkan apa yang terjadi dengan teman-teman saya yang tipenya bukan slow mode? Perang dunia III pecah. Massa menyerang dari segala lini untuk bertanya, “Ini tugas diapain ya? Kenapa tidak selesai-selesai?”

Dan untuk beberapa orang di bumi yang melihat kami para astronot sedang berjuang melakukan penelitian di ruang angkasa kami, akan selalu timbul pertanyaan, “Kamu lagi apa? Nugas ya? Kok tugas kamu gak selesai-selesai?” Lalu pertanyaan itu seketika menjadi bom waktu yang sudah siap dijawab dengan jawaban, “Saya mahasiswa Mas/Mbak. Wajar kalau hidupnya bersama tugas, lebih aneh kalau hidupnya ada di dalam air sambil diving setiap hari.” Jangan anggap itu bentuk sarkas, tapi ungkapan itu adalah kegundahan kami atas jawaban bahwa “Kami juga maunya tidak begini, tapi ini tanggung jawab yang harus diselesaikan dengan baik dan bersungguh-sungguh agar nantinya bisa dipertanggung jawabkan. Begitu bukan?”

IMG_6980
Kalau survey dari matahari terbit hingga matahari terbenam, letih dan bahagia dalam saat yang bersamaan karena dilakukan bersama-sama.

Kamu kok jadi ngelantur, Marisa? Jadi inti dari tulisan ini sebenarnya mengajak teman-teman astronot, para mahasiswa rancang untuk senantiasa meningkatkan moodnya dan menyingkirkan berbagai alasan untuk sekedar berjalan kaki mengelilingi ruang kota. Kalau kata Pak Uli, dosen saya yang sangat keren, menjadi seorang urban designer itu sangat dituntut kepekaannya. Tulisan ini pun bentuk refleksi saya yang akhir-akhir ini jarang keluar stasiun luar angkasa alias studio karena tugasnya begitu banyak dan tiada henti. Ini bukan mengeluh, hanya saja sebuah bentuk cerita betapa tidak jalan-jalan dapat membuat saya menjadi kurang peka dan tidak update. Padahal laboratorium saya dan teman-teman berada di sekeliling kami, begitu besar dan gratis untuk diamati, ruang kota kami. Mari belajar di luar kampus, mari pulang sejenak ke bumi (habis  UAS maksudnya!).

Salam hangat,
Mahasiswi semester 2 yang akan kedatangan UAS beberapa hari lagi.

Cerita Tentang LDR dengan Papa dan Mama

“I will always care for you, even if we’re not together and even if we’re far, far away from each other”

Tidak bosan-bosan sebenarnya saya menceritakan tentang kehidupanku dengan keluarga saya yang diwarnai dengan anugerah dari Allah yaitu jarak. Sebenarnya saya bukan orang yang bermasalah dengan jarak. Beberapa kali mengalami hubungan dengan orang-orang tersayang bersama jarak dan itu menguatkan. Jarak itu bijak, kadang kita saja yang terlampau ketakutan entah karena apa.
Saya tahu bahwa mengenai orang tua, semua akan sangat berbeda. Alm. Pak Galih pernah memberikan kuliah tentang “Ruang Ibu”. Dialognya sangat singkat dan sangat berbekas di hati saya, kurang lebih seperti ini:

“Pernah tidak satu ketika, kamu sedih, lalu Ibu kamu menelpon, “Adik gapapa? Apa kabar? Kok kayaknya kamu lagi sedih ya?” Di saat itu, kamu sedang sekuat tenaga menahan untuk tidak menceritakan segalanya karena khawatir Ibu atau Ayahmu terbawa khawatir. Itulah ruang ibu dan anak. Ada juga ruang ayah dan anak. Tidak berdimensi karena tidak terbatas. Ruang itu tidak hanya tentang dimensi yang berbatas, ada juga ruang yang Allah ciptakan, ya ruang batin itu namanya.

Keluar dari ruang kelas itu, saya tersenyum, benar yang dikatakan Alm. Pak Galih. Ruang tidak terlihat itu sangat nyata, bahkan dibuat oleh-Nya tanpa kekurangan dan pada porsi yang begitu presisi. Memiliki jarak dengan beliau berdua membuat saya menjadi sosok yang mandiri, mencoba untuk lebih kritis dalam menghadapi suatu masalah, dan juga tidak mudah mengeluh. Jarak pun mengajarkan kepada saya dan keluarga untuk lebih peka, bahwa ada orang-orang yang selalu menanti kabar kita, menunggu kehadiran kita secara fisik dekat bersamanya, apalagi orang tua kan?

Terbantulah semua dengan media sosial. Yang menghubungkan kami melalui layar kecil dan suara yang real time. Selalu saja banyak hal lucu terjadi, misalnya…. Ketika saya kuliah di Malang, orang tua saya dinas di Bandung. Ketika saya bekerja di Jakarta, Papa dinas di Medan, dan sekarang ketika saya berkuliah di Bandung, Ayah berada di Jayapura dan Ibu berada di Malang. Rasanya seperti kota yang kami tapaki sama, tapi dalam kurun waktu yang berbeda. Selalu seperti itu, tapi Tuhan pun selalu punya rencana terbaik-Nya. 

Terdapat hadiah istimewa yang hadir di awal tahun 2017 ini. Beruntung bahwa tulisan saya tentang sosok Ayah dan pesannya sempat tertuang dalam buku. Saat itu terdapat event menulis dan dipilihlah beberapa kontributor untuk dapat ikut andil menulis. Bila beruntung, tulisannya akan dibukukan bersama 40 kontributor lain. Masih teringat, di malam sendu itu, sebuah kabar baik datang. “Selamat, tulisan anda terpilih untuk dibukukan bersama 40 kontributor lain dalam buku “Kata Ayah”. Rasanya senang sekali, seperti sedikit demi sedikit mimpi menjadi kenyataan. Kalau kata Mas Rayyan, semua itu tergantung niatnya. Bila baik maka akan tersalurkan baik pula wujudnya.

Saya pun sangat jarang dan tidak berani menilai orang. Namun, ada satu penilaian saya terhadap kepribadian seseorang, yaitu bagaimana cara ia berlaku dan bertutur kata kepada kedua orang tuanya. Bila baik, saya berani memastikan bahwa orang tersebut memang baik. Bila tidak, saya akan menganggapnya bahwa ada suatu proses atau kejadian yang pada akhirnya membuat ia bersikap seperti itu. Dan selama kedua orang tua kita masih ada, maka berilah sedikit waktumu, luangkanlah untuk sekedar menanyakan kabarnya. Beberapa cerita pun datang dari berbagai teman, seperti:
“Kalau orang yang dekat dengan orang tuanya, pasti akan berkata lebih enak jauh dari orang tua. Kalau orang yang jauh dari orang tuanya, pasti akan menginginkan sosok orang tua di dekatnya.” Ya kan, manusia memang tidak pernah puas dengan kondisi yang ia anggap kurang ideal? Tapi percayalah, orang tua akan terus menua. Selain sibuk dengan urusan kejar-mengejar mimpi, jangan lupa untuk berkunjung ke orang tua selagi kita masih sama-sama berada di bumi ya.

Dan foto itu, saya ambil diam-diam, foto beliau berdua. Selalu terpajang di meja tempat saya menimba ilmu, membutuhkan semangat lebih untuk berkarya, dan menjadi pelepas lelah ketika saya sedang suntuk.

“Aku yakin, ketika kita bisa memilih sebelum dilahirkan, kita akan memilih untuk lahir dari orang tua yang sama.” – Nelza M. Iqbal, dalam percakapan tentang orang tua.

Bandung, 24 April 2017
Yang mencintaimu,
Marisa Sugangga

JKT48 dan Single ‘So Long!’

ke-mana-suara-penggemar-veranda-di-pemilu-jkt48-ini-pesan-sang-idol_m_114838
sumber gambar: http://www.jawapos.com

Jarang-jarang kan saya bahas soal girlband ataupun musik, nah karena kebetulan malam minggu kemarin saya warnai dengan melihat pemilihan Senbatsu untuk single ke-17 JKT48, akhirnya tumbuh keinginan untuk menulis postingan ringan ini.
Awal kenal jkt

Awal perkenalan saya dengan JKT48 tak lain karena sahabat-sahabat saya dulu sering mendengarkan JKT48 sejak lagu Heavy Rotation. Saya sendiri baru dekat dengan JKT48 saat single Koisuru Fortune Cookie yang begitu eargasm hadir di ranah publik dengan video klip yang menggemaskan (sebenarnya saya lebih suka MV versi AKB48). Akhirnya saya mendengarkan JKT48 dimulai dari album Heavy Rotation dan menurut saya inilah album terbaik mereka, karena saya mendengarkan hampir semua lagunya (tanpa saya skip hingga sekarang). Banyak sekali single yang saya sukai di sini seperti Heavy Rotation, Gomenne Summer, Ponytail no shu-shu, hingga Shonichi (Hari Pertama). Ketika mendengarkan pertama kali, saya kesal sekali karena liriknya. YAAAA! Teman-teman sekalian pasti sadar bahwa lirik dari JKT48 sangat mengesalkan. Sebagai sister dari AKB48, semua lagu dan single akan mengikuti dari kakaknya. Menurut saya, ketika lagu dinyanyikan oleh AKB48, tidak terjadi masalah yang cukup serius dengan pelafalan liriknya. Momen mengesalkan terjadi ketika lagunya seolah-olah hanya ditranslate begitu saja, entah susunan SPOK ataupun maknanya dapat atau tidak, akhirnya tetap dinyanyikan. Hingga kini saya tidak pernah tahu alasan pasti mengapa JOT ataupun pihak manajemen JKT48 tidak mengatasi hal perihal lirik yang kadang tidak nyambung. Karena awal mula saya menyukai JKT48 karena genre musik dan instrumennya, akhirnya saya berhasil mengesampingkan hal yang menyebalkan ini.

Bila ditanya mengapa bisa suka dengan girlband satu ini? Nomor satu saya akan bilang karena lagunya penuh semangat! Saya mendengarkan semua lagu mereka saat sedang pusing dengan pekerjaan ataupun studio saya. Tidak banyak teman-teman saya memandang saya ‘aneh’ karena suka mendengarkan lagu dengan lirik yang tidak jelas. Jadi dari kecil, saya adalah penggemar segala tentang Jepang. Mungkin karena masa kecil saya sangat erat dengan soundtrack-soundtrack anime, jadi lagu-lagu JKT48 sangat mudah diterima oleh telinga saya. Terkadang bila tidak ingin mendengarkan liriknya, akhirnya saya mendengarkan yang versi AKB48-nya. Kedua ya…. Mungkin karena saya suka melihat transformasi mereka dari yang tidak bisa apa-apa dan saat ini mereka sedikit demi sedikit sukses di dunia baik seni musik maupun peran. Ketika JKT48 konser di Malang, saya akhirnya memutuskan untuk menonton live bersama teman-teman saya. Rasanya seru sekali karena mereka begitu bersemangat, sama seperti ketika saya melihat mereka di youtube. Hal takjub lainnya adalah mereka bisa mengganti kostum (secara beramai-ramai) hanya dalam waktu hitungan menit atau satu lagu. Energinya sangat tersampaikan!

Ada beberapa hal perihal manajemen yang sebenarnya saya kurang suka. Seperti ada member-member lama yang tidak pernah terpilih saat senbatsu dan akhirnya tidak pernah tampil di MV single JKT48. Jadi pemilihan member yang akan hadir di MV single terbaru mereka dihitung berdasarkan vote para penggemar. Bisa dibilang yang daridulu memang sudah ‘terkenal’ akan dapat terus kita lihat di setiap single JKT48, lihat saja seperti Melody, Nabilah, Kinal, Gaby, (generasi pertama, tim J). Dari tim J generasi pertama masih saja ada member yang belum pernah hadir di MV selama kurun waktu 6 tahun berada dalam manajemen JOT. Hingga akhirnya kemarin, Frieska, adik dari Melody, berhasil masuk senbatsu dan dia akan hadir di single ke-17 (akhirnya setelah bersabar bertahun-tahun, saya mengira dia akan graduate karena hal ini)

[MV] So Long! - JKT48 - YouTube.MKV_snapshot_05.48_[2017.03.15_17.52.03]
Satu dari sekian part-part terbaik dari MV So Long! (sumber gambar: 4.bp.blogspot.com)

solong4

Senbatsu untuk single ke-17 kemarin sekaligus menjadi graduation ceremony untuk Jessica Veranda (Ve), salah satu member generasi pertama (Tim J) yang saya suka karena kepribadiannya yang begitu ramah dan santun. Sedikit sedih juga ternyata ditinggal oleh member generasi pertama. Single ke-16 mereka, so long!, didedikasikan sebagai single terakhir Ve sekaligus hadiah perpisahan untuk dirinya. MV ini merupakan satu-satunya MV yang membuat saya ikut sedih karena tahu perjuangan dan kebersamaan mereka selama 6 tahun dan Ve termasuk sebagai sosok yang berpengaruh di JKT48. Kebetulan konsep MV nya pas dan member-membernya pun terlihat sangat menghayati MV yang satu ini karena based on reality sepertinya. Ketika kolom komen untuk MV ini dibuka di youtube, semua fans terharu dan merasa bahwa MV ini sangat menyentuh hati (saya setuju!). Terdapat beberapa komentar yang menurut saya benar, seperti “Kenapa member yang ikut andil dalam MV ini bukan dari Tim J generasi pertama yang tahu betul perjuangan dan kebersamaan bersama Ve?” Memang benar, terdapat sebagian kecil dari member tim J generasi pertama yang tidak hadir dalam MV ini karena tidak terpilih senbatsu. Sedih juga ya, padahal mereka yang sangat tahu arti dari MV ini.

Ya, semoga untuk ke depannya, hal-hal yang berhubungan dengan sistem bisa dikondisikan ketika menyangkut soal perasaan para member dan fans ya JOT. Seperti sistem manajemen JOT menjadi satu-satunya kendala mengapa para fans sering kecewa dengan hasil dari JKT48, sisanya kita dapat menerimanya dengan baik. Sukses terus JKT48!

Salam sayang dari pendengar setia dari Bandung,
Marisa Sugangga

Ali’s House Project, Bandung (2014)

Arsitek dengan Klien itu partner!

Ketika mengerjakan sebuah proyek, saya selalu dihantui perasaan “Ini kalau sampai ada miss design, dampaknya selamanya.” Apalagi ketika mendesain sebuah rumah tinggal. Proyek rumah tinggal adalah proyek yang paling challenging bila menurut saya. Mengapa? Manusia yang tinggal di balik atap ini akan hidup hampir 24 jam dalam hidupnya. Ia akan membentuk jiwa, membangun kebahagiaan, berbagi kesedihan, dan melakukan segala aktivitas sehari-harinya di atas desain kita. Dari dasar inilah penting bagi kita untuk berkomunikasi dengan klien ketika mendapatkan sebuah proyek rumah. Berdasarkan pengalaman saya, membangun komunikasi dengan klien tidaklah semudah yang dibayangkan. Tidak semua klien sama, ada yang pengertian, ada yang tiba-tiba merasa tidak cocok dengan kita dan benar-benar menghilang, dan ada juga yang terlalu baik sampai kita yang tidak enak hati untuk melakukan sebuah kesalahan.

Project Name : Ali’s House
Location : Bandung, West Java, Indonesia
Building area : 124,5 m2
Type : Residence
In colaboration:
1. Randy Hardyanto
2. Muhammad Zulfikri
Year : 2014

Cerita pagi ini saya fokuskan pada hubungan saya dengan salah satu klien saya yang sangat baik hati. Saya dihubungi kurang lebih 2 minggu sebelum akhirnya mulai memikirkan desainnya. Di sini, saya menjadi jembatan utama antara tim dengan klien. Peran kemajuan teknologi sangat besar untuk kelancaran proyek jarak jauh ini. Posisi saya dan tim berada di Malang sedangkan proyek ini berada di Bandung. Saling kirim mengirim gambar pun sering terjadi selama proses mendesain. Setelah segala kemungkinan kendala kami coba atasi, maka kami bekerja dengan menggunakan kontrak untuk melindungi kedua belah pihak dari hal-hal yang tidak diinginkan dan koridor pekerjaan kami menjadi sangat jelas.

Kami memanggilnya Ibu Ali. Ibu Ali adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak. Ia tinggal di sebuah hunian padat penduduk di Kota Bandung dan menghubungi saya untuk meminta tolong merenovasi rumahnya. Pada awalnya, Ibu Ali tidak cerita mengapa ia mau merenovasi rumahnya. Hingga pada akhirnya, rumah berukuran 15 x 8,3 m itu diharuskan memiliki sebuah kamar mandi difabel.

“Ibu saya sakit Mbak, jadi saya berharap rumah ini sudah siap tinggal kurang lebih 2 bulan lagi karena Ibu saya akan segera pindah. Sekarang, beliau harus menggunakan kursi roda untuk melakukan aktivitasnya. Tolong dibuatkan desainnya yang memudahkan mobilitas beliau tapi juga minim biaya renovasi ya Mbak.”

Awalnya kami sempat ragu untuk menerima proyek karena kesibukan menyusun skripsi pada saat itu, namun dengan niat membantu niat baik Ibu Ali, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk memprioritaskan proyek ini. Dimulailah proses mendesain. Tantangan pertama yang kami dapatkan adalah rumah ini tidak hanya akan dihuni oleh orang tua Ibu Ali, namun juga ketiga anak Ibu Ali yang kurang dari 5 tahun. Beberapa aspek keamanan seperti keamanan tangga, sudut-sudut ruangan pun harus kami perhatikan.

Hal pertama yang paling saya ingat adalah Ibu Ali menginginkan ruang tamu yang besar dan lapang untuk tempat bermain anak-anaknya. Maka kami menyarankan untuk satu ruang tidur dipindahkan ke atas, namun ide kami itu kurang tepat. Kami sempat melupakan bahwa ruang kamar orang tua Ibu Ali pastilah berada di lantai 1 dan akan membutuhkan satu kamar lagi untuk menemani kedua orangtua Ibu Ali di lantai 1.

“Semua anak-anak akan berada di lantai 2 Mbak. Tolong desain tangganya yang aman bagi anak-anak ya, jangan terlalu curam. Karena buku kami sangat banyak, bila bisa minta tolong didesainkan storage (tempat penyimpanan) buku di bawah tangga.”

Tiga alternatif kami buat karena mencari posisi tangga yang tepat dalam bangunan ini tidaklah mudah mengingat konstruksi yang sudah terbangun dan kami ingin mempertahankan eksisting sebanyak mungkin untuk menekan biaya konstruksi. Selain dari posisi yang nantinya akan mempengaruhi jumlah anak tangga dan kemiringannya, pemilihan material pun ikut andil bila kita ingin mendesain sebuah desain yang ramah anak.  Prioritas kami adalah keselamatan dan kami meletakkan tangga di antara ruang tamu dan ruang makan (ruang keluarga) agar dapat terus terpantau dan juga tempat yang paling possible untuk digunakan ruang tangga yang luas.

Untuk rumah dua lantai, masalah pencahayaan kerap menjadi momok menakutkan. Lantai satu bisa menjadi sangat gelap bila kita tidak hati-hati dalam mendesainnya. Area piano akan berada di sekitar ruang makan dan dapur, maka kami membuat area void di sana. Posisi ini sangat menguntungkan karena sliding door dari ruang makan menuju taman belakang akan memberikan banyak efek luas dan memasukkan banyak cahaya. Ketika dipasangkan void di sini, pencahayaan pun akan sampai di lantai 2.

12
Rancangan dapur, area makan, dan ruang piano.

 

Capture
Satu dari tiga alternatif denah yang kami kondisikan untuk kebutuhan Ibu Ali. 

Proses pengerjaan berlangsung kurang lebih tiga minggu, hampir tiga hari sekali saya menyampaikan proggress untuk meminimalisir hal-hal yang menjadi bisa menjadi obstacle selama proses mendesain. Hal yang paling penting bagi saya untuk terus berkomunikasi adalah kami berhasil membentuk apa yang diimpikan oleh Ibu Ali untuk keluarganya. Kami di sini bertugas sebagai fasilitator yang membantu mewujudkan impian Ibu Ali dan keluarganya.

Tim saya tidak pernah berdebat terlalu alot perihal desain, karena Ibu Ali biasanya menyetujui desain kami dan cara komunikasi beliau dengan kami pun sangat kami apresiasi. Contohnya, “Mbak desain yang ini sudah baik, tapi boleh tidak kalau saya menambahkan ini di sini. Sepertinya lebih cocok kalau di sini.” Kami tidak langsung mengerjakan, namun mendiskusikannya terlebih dahulu dengan tim, bila dikira permintaan itu pada kenyataannya memang lebih baik dari hasil desain, kami pun menyampaikan bahwa saran Ibu Ali bisa kami kembangkan karena memang itu pilihan yang terbaik di antara pilihan yang ada.

Hingga pada akhirnya, desain ini terbangun namun orang tua Ibu Ali belum sempat merasakannya karena harus ‘pulang’ terlebih dahulu. Kami pun merasakan kesedihan yang teramat dalam namun hal yang tidak kami sesali adalah kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan desain ini secepat mungkin dan sebaik mungkin (sesuai dengan kebutuhan dan impian Ibu Ali). Bagi kami, niat mulia Ibu Ali memberikan kami banyak pelajaran berharga tentang sebuah ketulusan kepada orang tua. Saya dan tim pun bersyukur mendapatkan klien yang memberi kami banyak pelajaran dan begitu pengertian kepada kami. Ya, tidak semua klien bisa sepengertian Ibu Ali namun itu membuat kami sadar bahwa setiap orang memang berbeda-beda. Seperti kata Raul Renanda di buku 99 Untuk Arsitek, “Seorang arsitek adalah sebuah ‘alat’ bagi klien untuk menghasilkan karya yang baik. Pastikan kita memahami apa yang diperlukan oleh klien dan kita dapat menyesuaikan apa yang mereka perlukan.” Beberapa pertanyaan yang dapat ditanyakan pada diri kita sendiri:

  • apakah kita membutuhkan proyek ini agar dapat mewujudkan ide kita?
  • apakah kita membutuhkan proyek ini untuk ‘mencari makan?’
  • apakah yang kita lihat adalah sebuah relasi jangka panjang dengan sang klien?

Saya dan tim saya sevisi dalam hal ini bahwa kami lebih mementingkan sebuah hubungan manusia, relasi jangka panjang dengan sang klien. Di sinilah, ego perlu dikendalikan untuk menghasilkan sebuah produktivitas yang bermanfaat.

Bandung, Maret 2017
Marisa Sugangga

 

Menata Ulang Mimpi

DSCF5886

Apa ini? Tiba-tiba sudah masuk bulan ke-3 di tahun 2017. Tidak biasanya saya berdiam diri di awal tahun tanpa membuat resolusi. Bukan berarti pesimis dan percaya dengan omongan, “Untuk apa tahun baru selalu menulis resolusi tapi tidak pernah dijalani? Hanya semangat tahun baru saja kan?”
Ya. 
Namanya semangat, keadaan super menggebu-gebu di awal memang sudah biasa terjadi di antara kita semua. Walaupun begitu, saya termasuk pribadi yang menjadikan tahun baru sebagai momentum refleksi “Apa saja yang sudah saya lakukan tahun lalu? Dan saya harus melakukan apa untuk melakukan ‘upaya’ perbaikan diri di tahun yang baru ini?”. Sebenarnya judul tulisan ini muncul dari salah satu teman pena saya di Tumblr yang gemar menceritakan tentang kehidupannya sehari-hari kepada saya via fitur mailbox. Lalu saya menerka, pada umumnya setiap orang akan mempercayai mimpinya bukan untuk terus memiliki harapan pada kehidupan yang singkat ini? Begitu pun saya.
Di usia seperempat abad ini, tidak ada yang salah dengan ‘menata ulang mimpi’. Mimpi tidak punya batasan umur untuk terus dirajut dan ditata kembali.
Setengah dari bucket list saya di tahun lalu terwujud. Saya menyusun kembali bucket list baru untuk tahun 2017. Rasanya begitu menyenangkan! Jadi, sudahkah menata ulang mimpi untuk menjalani hari-hari berikutnya yang lebih bersemangat?

Escape: Semarang Early 2017!

Aaaa. So happy when i know today iam in 2nd semester! Engga deh bohong. Sedih juga sih mendapati waktu begitu cepat berlalu. Ya ini terjadi karena saya begitu menikmatinya, disyukuri saja ya.
Karena orangnya suka tiba-tiba impulsif pergi, kali ini destinasinya sedikit jauh yaitu Semarang. Alih-alih dapat voucher potongan tiket kereta, ketika akan melakukan pembayaran malah lupa untuk mengetik kode voucher tersebut. Huvd. 

Semarang kali ini saya lalui dengan perjalanan cukup singkat, hanya 2 hari 1 malam. Destinasinya pun yang di dalam kota saja karena untuk mencapai destinasi yang lain sepertinya tidak ada waktu. Saya melakukan perjalanan dengan kereta ekspress malam Harina (Bandung-Semarang Tawang). Untuk pemberangkatan, saya menggunakan kelas ekonomi dengan tiket seharga Rp 185.000 dan pulang dengan kelas bisnis Rp 285.000. Sewaktu berangkat, saya cukup beruntung mendapatkan teman duduk seorang ibu muda dan sepasang di hadapan saya adalah ibu dan anak. Kami berempat cukup berkompromi untuk sekedar ‘rebahan’ dan meluruskan kaki. Berangkat dari Bandung pukul 21.40, saya menyiapkan perbekalan ala kadarnya yaitu roti, air putih, dan tolak angin. Hari ini pun saya cukup repot hingga hanya sempat mengisi perut sebelum naik kereta dengan…. Popmie! (Itu pun makannya cepat-cepat karena keretanya sudah datang). Super deg-degan. Kereta ekonominya sangat dingin, sepertinya karena saya kedapatan duduk di limpahan angin AC. Beberapa kali sempat merungkel-rungkel di balik syal yang saya bawa.

dscf4681
HALO AKHIRNYA KITA BERTEMU!

Setelah kurang lebih 7 jam dari Bandung. Akhirnya, halo Semarang Tawang!

Dijemput oleh teman saya di Semarang Tawang kurang lebih pukul 05.00 pagi, akhirnya untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di stasiun tertua di Indonesia! Bangunan tua ini memiliki double facade. Jadi di atas atap bangunan yang lama, terdapat atap lagi. Karena bangunan lama terus turun dikarenakan land subsidence. Kalau saya lihat mungkin agar bangunannya tidak terkesan benar-benar ‘tenggelam’ dari ketinggan awalnya, karena itu atap di atasnya dibuat supaya bangunannya tetap terlihat baik-baik saja. Tur pertama di mulai dari melihat kawasan kota lama Semarang di pagi hari. Di depan Stasiun Tawang, terdapat Polder. Polder ini dibuat untuk mengantisipasi banjir yang kerap melanda kawasan kota lama. Diharapkan air mengalir ke dalam polder untuk nantinya dilepaskan ke laut. Area Polder ini awalnya adalah lahan parkir milik Stasiun Tawang yang sekarang akhirnya berubah fungsi.

dscf4685
Ini Polder di Semarang. Jenis aktifitas di sekitarnya: Orang jogging, ngobrol, bersepeda, terus katanya kadang pacaran sore-sore.

Perjalanan di hari pertama akan ditemani oleh teman saya. Berbeda di hari kedua yang akan saya lalui dengan diri sendiri (dan abang gojek!). Nah setelah sedikit ngobrol perihal stasiun dan polder, ini bagian paling bersemangat, jalan-jalan di Kota Lama! Karena selama ini hanya mendengar dari cerita saja tentang Kota Lama Semarang, hari ini bisa pergi ke sana rasanya sangat senang. Perjalanan pertama dimulai dari dekat Taman Sri Gunting. Taman ini terletak di sebelah Gereja Blenduk Semarang. Gereja Protestan ini merupakan salah satu landmark yang cukup terkenal di kawasan Kota Lama. Nah, beranjak dari bangunan, hal yang saya soroti adalah jalan yang dipaving! Semua kawasan Kota Lama jalannya di paving. Tapi kalau tidak hati-hati, saya kadang jadi bingung ini jalan pedestrian atau jalan kendaraan bermotor ya? Sempat saya berkata, “Ini kalau bukan orang asli Semarang pasti bingung jalan ini sebenarnya boleh dilewati mobil atau tidak.” Apalagi didukung suasana pagi yang sepi dan mengakibatkan pedestrian berjalan sesuka hati.

Akomodasi selama di Semarang

Saya menginap di hotel Cityone Semarang. Untuk info, hotel ini menyediakan kamar untuk satu orang saja. Jadi kamu tidak perlu membayar kamar untuk dua orang bila bepergian sendiri. Saya mengecek di tiga website hotel yang berbeda, harganya bersaing dan mirip-mirip. Akhirnya pilihan saya jatuhkan untuk membooking via booking.com dengan harga satu malam Rp 161.000. Fasilitasnya sudah standar hotel pada umumnya seperti AC, TV, kamar mandi dalam (air panas), air putih, dan kasur yang empuk. Menurut saya untuk single backpacker, hotel ini dapat menjadi alternatif. Terletak di Jalan Lamper Tengah, untuk mencapai area tengah kota berkisar 15-20 menit. Kekurangan yang menurut saya cukup krusial adalah tembok yang terbangun dari papan, jadi kadang aktifitas kamar sebelah cukup terdengar. Gampang sebenarnya, pakai headset saja atau pasang televisi. Untuk ukuran kamar sendiri kalau saya hitung kira-kira 2 x 2 dan kamar mandinya 1,5 x 2 (toilet, wastafel, dan shower).

Di hari pertama ini sebenarnya saya mendapatkan banyak city tour via jendela mobil untuk bekal besok jalan-jalan sendiri. Di siang hari, saya sempat mengunjungi Mesjid Agung Jawa Tengah yang ternyata kompleknya super besar (buat saya). Lahannya sendiri memiliki luas kurang lebih 10 hektar dan mesjidnya bisa menampung 15.000 jamaah. Kalau hari jumat, payung yang terdapat di teras mesjid ini dapat terbuka seperti di Mesjid Nabawi. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan yang datang ke komplek Mesjid ini. Saya datang kurang lebih pukul 10.00 dan komplek mesjidnya sangat sepi.

dscf4755
Karena bukan hari Jumat, jadi payungnya tidak terbuka.

Sepertinya destinasi wisata di hari pertama sudah habis. Kegiatan lain yang saya lakukan di hari ini lebih banyak city tour dan makan. Tidak ada kuliner khas yang saya makan selama di sini. Makanan yang saya konsumsi alakadarnya dengan prinsip yang penting makan!

Hari ke-2 (sekaligus terakhir)

Di hari kepulangan ini, saya melakukan perjalanan sendiri. Untungnya di Semarang sudah terdapat go-jek! Dengan fitur go-pay, kita akan mendapatkan potongan biaya sebesar 50% dan lebih praktisnya lagi kita sudah tidak perlu mengeluarkan uang berbentuk fisik. Dengan pertimbangan barang bawaan (satu ransel besar dan satu ransel mini), saya menyusun perjalanan destinasi serapi mungkin agar tidak kelelahan. Semua destinasi yang sekiranya membutuhkan jalan kaki, saya letakkan di pagi hari. Untuk siang saya memilih membunuh waktu sembari menunggu kereta pulang dengan dominasi kegiatan duduk. Dengan semangat, saya bangun pukul 05.00 dan segera mandi. Perjalanan dimulai pukul 06.00 dengan berjalan ke SPBU terdekat untuk top up go-pay. Ternyata usaha untuk top up via atm gagal, akhirnya saya top up via driver sebesar 45.000. Itu saja masih sisa ketika saya sampai di Bandung, hehe. Perjalanan paling mahal memakan biaya 9.000 yaitu dari penginapan ke Mall Paragon.

Kanal Banjir Semarang

Ini salah satu public space yang digunakan warga sekitarnya untuk beraktivitas pagi seperti berjemur, jalan pagi, atau seperti saya yaitu sekedar nongkrong pagi. Karena kemarin dilewatkan tempat ini dan histeris karena melihat air turun begitu bagus, akhirnya memutuskan untuk duduk pagi di sini. Sebagai satu-satunya anak muda yang jalan-jalan pagi itu, saya merasa asing sendiri. Apalagi bawa-bawa kamera, harus super percaya diri dan bertingkah seperti warga lokal. Secara fasilitas, area public space ini cukup baik dan terawat. Untuk masalah penerangan, saya kurang mengetahui apakah bila malam tempat ini memiliki pencahayaan yang baik?

dscf4803dscf4791

Klenteng Sam Poo Kong & Lawang Sewu

“Ini gimana ya caranya ke Sam Poo Kong?”
Aaaah super kesal kalau sedang jalan-jalan karena GPS di hp saya rusak. Koordinatnya mental sekitar 5 meter dari aslinya. Hal ini sangat menyulitkan ketika saya berurusan dengan google maps. Akhirnya saya mencoba membuka peta dan menulis destinasi awal dan akhir, didapatkan Klenteng Sam Poo Kong terletak kurang lebih 1,2 km dari Kanal Banjir. Ya masa naik gojek. Setelah menelusuri peta dan jalannya cukup mudah, akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki. Seringkali saya dipanggil, “Dek kenapa sendirian aja pagi-pagi. Gak sekolah?/Gak kuliah?” Lalu saya hanya tersenyum. Penting untuk diketahui untuk traveller perempuan, ketika bepergian gunakanlah pakaian sebiasa mungkin dan tidak mencolok. Kalau bawa kamera ditutupi saja dengan kain karena kemarin saya pun begitu, menutupi kamera yang menggantung di leher saya dengan syal atau kalau mau dimasukkan sekalian. Sembari menukar uang menjadi pecahan kecil untuk memudahkan transaksi, saya membeli sarapan satu kotak yogurt cair dan melanjutkan perjalanan menuju klenteng. Klentengnya terdapat di tengah kota jadi tidak usah takut untuk kesulitan menemukannya. Biaya masuk ke komplek Klenteng ini adalah Rp 10.000 dan saya hanya bertiga bersama pengunjung lain. Beruntung di dalam komplek diajak berputar-putar dengan Bapak yang sedang menyapu bagian altar Klenteng.
“Klentengnya sebenarnya begini aja dik. Tapi kenapa ya selalu ramai dikunjungin orang?”
“Tapi bagus kok Pak. Ini kalau dilihat dari atas sini kayak bukan lagi di Semarang, hehe.”

Lawang Sewu menjadi destinasi selanjutnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00, waktu saya cek, katanya Lawang Sewu buka pukul 09.00. Sesampainya di sana, ternyata jam bukanya pukul 07.00. Harga tiket masuknya sebesar Rp 10.000. Sebenarnya saya ditawari menggunakan guide, tapi karena ingin jalan-jalan sendiri akhirnya saya menolak untuk menggunakan guide.  Saya pun baru tahu kalau di dalam Lawang Sewu menyangkut dunia perkereta apian Indonesia. Gedung ini dahulu merupakan kantor dari NIS (Netherlands-Indische Spoorweg Maatschappij) yang selesai dibangun pada tahun 1907. Berada di kawasan strategis Tugu Muda Semarang.

Di sebut Lawang Sewu karena memiliki pintu yang cukup banyak. Ketika berkunjung, saya jadi memperhatikan pintunya. Memang cukup banyak tapi sepertinya tidak sampai seribu! Lawang Sewu telah mengalami konservasi dan revitalisasi dan terlihat bahwa bangunan ini sangat terawat. Menariknya di dalam ruang pamernya, terdapat blue print denah dan tampak dari Lawang Sewu. Lagi-lagi saya hanya bertiga (atau malah sendiri ya?) berada di kawasan komplek dengan para petugas kebersihan dan security. Di dalam sini, kita dapat mempelajari sejarah perkereta apian Indonesia.

Catatan kegiatan membunuh waktu yang lain…..
Semua destinasi bucketlist wisata telah saya kunjungi. Waktunya untuk pulang sejenak ke penginapan untuk mengambil barang dan mandi. Kegiatan siang yang menjadi alternatif menunggu adalah menonton. Saya menonton film di Mall Paragon yaitu La La Land dan menitipkan barang bawaan saya selama menonton di penitipan XXI Cinema. Saat kedatangan kemarin, teman saya bercerita di kawasan Kota Lama terdapat benda-benda lama yang dijual di dekat Taman Sri Gunting. Selesai menonton, saya meluncur dengan gojek ke kawasan Kota Lama. Kebetulan karena Stasiun Tawang terdapat di Kawasan Kota Lama, maka saya bisa bersantai hingga waktu keberangkatan kereta pulang ke Bandung. Terdapat beberapa barang lama seperti cangkir, pajangan dinding, buku, hingga pernak-pernik yang dijual di pasar ini. Sayangnya, ketika pasarnya di buka, saya malah tidak mengambil momennya karena…. Saya lupa karena apa, kalau tidak salah karena saya sendirian dan takut-takut sendiri ketika mau mengambil foto.

Saya super senang.
Jam-jam terakhir di Semarang saya habiskan di Spiegel Bistro&Bar yang memiliki jendela besar di pinggir jalan. Ya, interior kesukaan saya. Untuk makanan sendiri, Spiegel memiliki menu yang kurang lebih sama dengan bistro lain seperti pasta, nasi, dan makanan western lainnya. Picollo yang dibuat di sini juga cukup enak menurut saya. Dari pukul 16.30 hingga 19.00 saya memilih untuk menulis agar memiliki pengalaman menulis di Semarang. Mungkin 2 hari 1 malam ini menjadi momen awal tahun yang sangat menyenangkan dan berbekas di memori saya. Next trip lagi ke mana ya?

Catatan biaya, siapa tahu berguna untuk teman-teman (Januari 2017):
Tiket kereta Harina (Bandung-Semarang Tawang)
Berangkat (Eko) : Rp 185.000 (via tiket.com, pesan di hari keberangkatan bayar via atm)
Pulang (Bisnis) : Rp 285.000 (via tiket.com, pesan h-1 keberangkatan bayar via atm)
Penginapan (Cityone hotel (express)) : Rp 161.000 (via booking.com bayar saat datang)
Top up gojek : 45.000 (Sisa berlimpah di Bandung)
Makan&jajan 2 hari : Rp 100.000
Makan di Spiegel : Rp 110.000 (T_T Mahal sendiri)
Tiket Sam Poo Kong : Rp 5.000
Tiket Lawang Sewu : Rp 10.000
Gelang di Pasar Barang Antik : Rp 10.000 (3 buah)
Tiket XXI Paragon La La Land: Rp 40.000

Total biaya perjalanan 2 Hari 1 Malam Semarang Rp 951.000.
Nah, sekian cerita awal tahun saya yang menyenangkan. Selamat menyiapkan perjalanan ke Semarang yang lebih seru lagi dari saya!

Urban Traveller, Marisa Sugangga (2017)