Travel Diary: (Ur)Bangkok #1

Haha! Setelah sekian lama ingin menulis cerita bahagia satu ini, mari kita cerita soal studi eksekursi Rancang Kota ITB 2016 yang alhamdulillah dapat destinasi ke Bangkok! Begitu heboh (mungkin hanya saya) karena saya belum pernah ke Bangkok. Sebelum berangkat, tentu hal yang paling repot dan menyenangkan adalah tahap persiapannya. Sebagai sekretaris, saya berada di garda depan saat menyiapkan dokumen-dokumen terkait proposal dan pendanaan untuk kegiatan yang satu ini. Berkali-kali revisi -untung dibantu Ivan- akhirnya proposal ini bisa selesai tepat pada waktunya. Ceritanya studi eksekursi ini dibantu oleh uang tabungan studio kami dan sponsor dari BJB (terima kasih BJB!). Kita berangkat menggunakan tiket promo dari Airasia (yang pulangnya sempat drama) dengan direct flight. Bertolak dari Bandung pukul 07.30 untuk flight jam 16.00 dan biasalah ya namanya anak-anak, rusuh banget di dalam travel. Kety lupa nanyain saya mau bubur atau enggak, padahal semua squad perempuan dibeliin bubur, kecuali saya. Perjalanan lancar kecuali di tol dalam kota, itu macet banget. Saya sampai berkali-kali nyeletuk, “ini sebenernya orang-orang masuk kantor jam berapa kok jam segini masih ada di jalan?”. Mungkin mereka semua telat.

DSCF7528
Geng heboh ceria: Kety, Marisa, Wiwid, Aco, Dini

Welcome to Bangkok! Sekitar jam 19.00 waktu sana kita mendarat di Don Mueang International Airport (DMK). Kesan pertamanya? Kita ketawa gara-gara denger pengumumannya, bahasanya super ajaib yang artinya kita jarang denger dan membuat kita jadi tertawa-tawa saat mendarat. Karena sudah malam, kita langsung bertolak ke hotel menggunakan Uber. Ada yang menjual kartu gsm di pintu keluar, tenang saja, kita bisa langsung online saat tiba di sana (sebenarnya yang paling penting adalah…. butuh itu untuk Uber). Kita dibagi menjadi tiga kelompok, satu kelompok isinya 4 orang dan berarti setiap perjalanan udah gak ribut-ribut lagi yang ini mau naik mobil sama siapa yang itu sama siapa. Karena gps handphone Marisa menclok 500 meter dari aslinya, akhirnya susah juga kalo jadi koordinator uber di kelompok (walaupun kadang-kadang pakai punya Marisa juga), akhirnya posisi ini diserahkan pada 2 teman yang lain. Pengalaman menggunakan Uber di sana? Menyenangkan kok. Tidak terasa sulit sama sekali, kadang yang bikin sulit ketika driver nya tidak bisa Bahasa Inggris, nah itu baru sulit. Pasti pernah kan dalam drama transportasi online kita suka ditanya, “Mbak ditunggu di mana?” nah karena kita suka bingung jelasinnya (karena gak tau daerahnya) jadi suka bingung gitu. Sesekali kita menggunakan Grab karena lebih murah dan ada promo-promo. Jadi saran saya, saat tiba di Bangkok, buat saja dua akun dari Uber dan Grab karena akan berguna sih dan kadang Grab datangnya lebih cepat dari Uber (beberapa kali kejadian, memang Grab selalu lebih cepat dari Uber pas kemarin di sana). Silahkan dipilih.

DSCF7533
Selamat datang di Don Mueang (DMK) – Lalu sambutan dari wanita berbahasa thailand di speaker mengalihkan kami.

Day 1

Slide4

Slide5

Kita menginap di 3Howw Hostel Sukhumvit 21 dan membooking dari Indonesia via booking.com. Pembayaran kita lakukan di tempat dan awalnya kita mengira tidak ada uang deposit, eh ternyata ada dong. Dan lumayan besar menurut kita depositnya, 500bath (sekitar 300 ribu waktu itu). Kalau tidak mau tinggal deposit, kita boleh tinggal paspor (ya ini kan bahaya banget jalan-jalan gak pake paspor). Akhirnya masing-masing dari kita meninggalkan deposit dan ternyata lucky nya kita jadi inget kalo ternyata pas pulang kita masih pegang uang banyak, horeee… Bahkan waktu pulang ke Indonesia, sisa uang jajannya masih banyak (mungkin karena saya juga gak belanja ya). Lanjutkan! Hari pertama kita mencoba naik BTS atau yang biasa dikenal dengan skytrain dari stasiun terdekat yaitu Asok. Karena perjalanan kita didominasi oleh Uber, akhirnya kita tidak membeli kartu trip tapi beli semacam bentuk koin dari plastik gitu di vending machine. Eh, ternyata di vending machine ribet karena jumlahnya banyak, akhirnya Aco berjalan ke pusat informasi untuk langsung beli banyak.

Kita turun di Hua Lamphong dan melanjutkan perjalanan dengan Uber ke Wat Pho. Karena kami mahasiswa, kami tidak ke Grand Palace karena… tiketnya lumayan mahal. Yasudah, kita ke Wat Pho saja. Wat Pho adalah salah satu kuil yang memiliki daya tarik patung Sleeping Budha. Ketika sampai, cuaca sedikit mendung menuju hujan dan satu kelompok yaitu kelompok Aco tertinggal alias nyasar entah ke mana. Jadi kita sempat menunggu hampir satu jam di dekat loket penjualan tiket dan akhirnya Aco and the gank muncul hehe. Selama menunggu Aco and the gank ini banyak kejadian dan tingkah yang sudah kita lakukan selama di tempat menunggu mau masuk kawasan komplek. Dari yang foto-foto, dubbing suara orang, mencari kipas angin, hingga mainan sama tupai di pinggir jalan. Komplek Wat Pho ini termasuk besar dan memiliki fasilitas untuk tourism yang mumpuni. Kamar mandinya saya acungi jempol karena faktor kenyamanan dan kebersihan yang dijunjung tinggi. Pokoknya area pariwisata yang dirawat dengan sangat baik. Mungkin kami datang termasuk di peak season karena ramai sekali apalagi saat di bagian sleeping Budha (kipas angin menjadi barang mahal).

Sehabis dari Wat Pho, kita melanjutkan perjalanan ke Lak Muang Shrine yang menjadi pusat spiritual dari Kota Bangkok (makanya kan pas di rundown ada keterangan make a wish ya).  Dari komplek Wat Pho kita jalan kaki ke Lak Muang Shrine dan itu so hot banget. Beberapa teman sudah mengeluarkan payung untuk melindungi dari panas. Karena saya pegang-pegang kamera, jadi saya memutuskan untuk pakai topi saja. Kadang saya dipayungin, tapi terus kabur karena kepisah saking ramenya wisatawan yang ada di sepanjang jalan menuju Lak Muang Shrine. Oh iya, aktivitas yang kita lakukan di Lak Muang Shrine adalah… ngadem.

 

 

DSCF7664
Lak Muang Shrine

Selepas dari Lak Muang Shrine adalah waktunya…. makan!! Oh iya, waktu di rundown kan harusnya hari ini jadwal ke National Museum. Ternyata setiap hari Selasa, National Museum Bangkok itu tutup. Akhirnya jadwal pun ditukar dengan jadwal jalan-jalan yang harusnya ada di hari kedua. Sebelum jalan-jalan lagi, kita makan dulu di restoran yang spesialnya adalah martabak (cari-cari foto tapi enggak ada, hix). Setelah makan siang kita lanjut untuk bertepi di pinggir sungai di taman Santi Chai Prakan Park yang berada tepat di depan tempat makan kita.

 

 

DSCF7711
Santi Chai Prakan Park. Tempat dimana bisa leye-leye di pinggir sungai

 

Destinasi berikutnya adalah destinasi wisata yang terkenal di Bangkok. Namanya Khao San Road. Di sini kita bisa belanja produk-produk Bangkok yang basisnya PKL, mungkin kaya di tanah abang gitu atau mayestik kalo di Jakarta. Benda-benda yang dijual di sini seperti baju, celana, tas, dan mango sticky rice yang bertebaran di sepanjang jalan ini. Oh iya, waktu ada di jalan ini suka ada yang jual serangga buat dimakan ituloh seperti jangkrik, kalajengking, dkk. Jangan ambil fotonya ya, karena untuk mengambil fotonya kita perlu bayar. Kalo kita ga bayar, ntar abangnya ngomel-ngomel. Penting untuk selalu memperhatikan dimana kita bisa ambil foto atau engga kalo gakmau dimarahin.

 

DSCF7790
Penampakan Khao San Road + Marisa, hehe

 

Selama di Khao San Road ini, kita mencar-mencar sesuai sama minat apa yang mau dibeli. Lupa waktu itu berkelompok sama siapa, gak sengaja pas masuk-masuk di alley nya Marisa menemukan pembatas buku motif batik gitu warna pink ada gantungan gajah khas thailandnya. Beli itu sekitar 8 bath di toko pernak-pernik dan aksesoris. Senang. Khao San Road jadi pemberhentian terakhir kita hari ini sebelum dilanjutkan dengan makan malam tom yum dan mango sticky rice!!!! (gatau ya, sejak pulang dari Thailand sangat freak sama mango sticky rice). Ya begitulah perjalanan hari pertama ini. Ntar ya, video cuplikan cilik-cilik hari pertamanya belum dibuat. Nanti kalau udah release link nya mau ditambahin di sini. Sampai jumpa di trip Travel Diary: (Ur)Bangkok #2!!

tulisan ini dibuat sebagai pelarian ingin menulis yang santai dan tidak baku. mohon maaf bila banyak sekali kata yang tidak baku ya.

Advertisements

Bogor dan Inovasinya

Indonesia, tanah kelahiran yang saya banggakan.

Di balik kemelut kemacetan perkotaan Indonesia, ternyata tersimpan banyak cerita bahagia di antara berita polusi dan kriminalitas yang ada. Tahukah kita bahwa kota-kota di Indonesia sedang berbenah untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat yang tinggal di bersamanya? Di sini, saya akan bercerita tentang kota yang paling lama saya singgahi, Kota Hujan, Bogor.

Sebagai insan manusia yang nomaden alias selalu berpindah-pindah, Bogor selalu menjadi kota yang saya rindukan di banding kota lain. Suatu ketika, saya mendapatkan kesempatan untuk interview dengan salah satu instansi di kota tetangga. Saat saya bercerita mengenai Kota Bogor, tanggapan yang saya dengar adalah, “Bogor itu kota yang semerawut dan berantakan, Mbak.”

Sungguh?

Dalam kesempatan ini, izinkan saya untuk bercerita mengenai perkembangan Kota Bogor yang cukup signifikan. Terima kasih kepada masyarakat dan bapak walikota Bima Arya yang turut menjadikan Bogor begitu dirindukan. Di tahun 2016, Bogor memenangkan penghargaan dari World Wide Fun for Nature (WWF) di ajang We Love Cities, The Most Lovable City 2016. Dalam kampanye ini, kemenangan Kota Bogor tak luput dari dukungan masyarakatnya serta ide-ide brilian dari para voters untuk menjadikan Kota Bogor sebagai kota yang berkelanjutan (sustainable cities). Kota Bogor unggul dari 45 kota lain di 20 negara yang ikut andil dalam kampanye ini. Ini menandakan bahwa Kota Bogor sedang bersungguh-sungguh dalam menanggapi isu iklim global dan siap bertransisi menjadi sustainable city.

Upaya menjaga keseimbangan pembangunan dan kedekatan Bogor dengan lingkungan ekologinya ditandai dengan pembangunan infrastruktur berupa pedestrian yang memadai dan membuat masyarakat Bogor memiliki kesempatan untuk berjalan dengan aman dan nyaman. Selain pembangunan infrastruktur untuk pedestrian, Bogor juga menggalakkan pengadaan taman-taman kota atau ruang publik untuk berinteraksi antar sesama masyarakat.

Salah satu ruang publik yang cukup terkenal di Kota Bogor bernama Lapangan Sempur. Lapangan ini terletak cukup strategis dari pusat kota dan terhubung dengan berbagai rute kendaraan umum. Tahun ini, Bogor melakukan inovasi desain untuk memadai kehausan warga Bogor atas ruang publik yang lebih baik. Inovasi desain itu telah dikabarkan Bapak Bima Arya dan Pemerintah Kota Bogor.

1
Lapangan Sempur Sebelum Dipugar untuk Renovasi

Lapangan Sempur adalah ruang publik yang memiliki rute lari, area voli, senam, skateboard, lapangan basket, refleksi, dan berdampingan dengan Taman Ekspresi. Dari kabar yang disiarkan, perbaikan mencakup dalam segi lansekap, desain ruang interaksi, tumbuhan, pengadaan ornamen taman, serta nama Sempur yang akan disamakan dengan tipologi penulisan nama-nama taman lain di Kota Bogor. Terlihat jelas bahwa inovasi desain yang dilakukan bertujuan untuk mempercantik Lapangan Sempur dan serta memperbaiki fasilitas untuk menuju kota Bogor menjadi kota yang terdesain tanpa mengurangi nilai yang ada.

13775782_476479845880047_6037549409015905804_n

13718766_476479829213382_4121187928815475665_n
Inovasi Desain untuk Renovasi Lapangan Sempur. (Sumber: Pemerintah Kota Bogor, 2016)

Dalam dunia desain, terutama Arsitektur, sebuah ide baru dapat dikembangkan dengan mengambil contoh baik dari luar negeri maupun dalam negeri yang tetap kontekstual dengan kearifan lokal negara Indonesia. Sebagai seorang yang gemar mengambil foto, ternyata Indonesia sangat beruntung dengan keragaman flora dan hehijauan yang tumbuh di perkotaan. Ketika kita menciptakan ruang interaksi yang bersinggungan dengan alam, kita dapat memanfaatkan kebaikan eksisting dari alam di sekitar tempat yang akan kita rancang dan bangun. Begitulah Pemerintah Kota Bogor me-redesain Lapangan Sembur menjadi lebih cantik tanpa mengurangi eksisting yang ada.

Ada pun pengadaan ruang publik dan perbaikan fasilitas yang telah ada membuat warga Bogor semakin tergerak untuk berinteraksi dengan ruang luar dan meluangkan waktunya untuk refreshing sejenak. Ruang publik menjadi wadah yang sangat efektif untuk komunitas berkomunikasi dengan masyarakat, kegiatan bersama, bahkan sebagai media untuk berinteraksi sosial hingga berolahraga. Di akhir pekan, sebagian ruang-ruang publik di Kota Bogor yang telah direnovasi kedatangan banyak pengunjung baik dari kalangan muda maupun dewasa.

Indonesia selalu berbenah. Semua proses dengan niat yang baik akan menghasilkan tujuan yang baik pula. Indonesia tidak pernah tinggal diam, banyak putra-putri bangsa yang optimis bahkan beraksi untuk turut andil dalam upaya pembangunan Indonesia.

Saya percaya bahwa kelak, Indonesia akan menjadi negara maju yang sangat mencintai daerahnya baik secara mikro maupun makro. Sebagai masyarakat sekaligus pengguna fasilitas yang ada, baiknya kita mendukung pemerintah dengan memanfaatkan fasilitas yang ada dan menjaganya dengan baik. Semoga kelak, ruang-ruang publik hingga infrastruktur di Bogor serta kota lain di Indonesia akan setara bahkan lebih baik dari kota-kota maju di dunia sekaligus menjadi contoh yang baik bagi kota di sekitarnya.

Superkilen Park, Copenhagen

suk_image_by_iwan_baan_26

Superkilen by BIG, Superflex, & Topotek 1 (sumber gambar: http://www.archdaily.com)

“Saya tidak suka bermimpi. Saya lebih suka terjaga untuk mengejar cita-cita. Kalau kata Rudy Habibie, “daripada menyebutnya mimpi, saya lebih suka menyebutnya cita-cita, karena itu akan dapat saya gapai.”

Sebagai pribadi yang menyukai dunia jalan-jalan, tentu membuat wishlist tempat impian yang ingin saya kunjungi adalah hal yang lumrah. Terdapat 100 tempat di dunia yang ingin saya kunjungi bila Tuhan memberikan kesempatan. Salah satu tempat itu adalah urban space Superkilen yang terletak di Copenhagen. Awalnya, tempat ini mencuri perhatian saya karena warnanya yang begitu mencolok. Warna-warna seperti ini tidak umum berada dalam satu kawasan karena warnanya tidak ‘netral’.

Ketika saya berada di dunia proyek, warna-warna seperti ini sangat sulit tembus desainnya dengan alasan warna ini tidaklah normal dan tidak bisa diterima semua orang. Berbeda dengan warna standar seperti biru atau kuning atau kami menyebutnya warna-warna aman.

BIG adalah salah satu starchitect yang keberadaannya seringkali diprotes oleh sebagian lingkungan saya. Desain-desain yang nyentrik dan kadang tidak kontekstual hingga beda sendiri membuat BIG bukan menjadi sosok arsitek kesukaan kami. Namun, bagi saya pribadi, proyek ini membuat pandangan saya tentang BIG berubah. Bukan seketika lantas suka, namun berusaha memahami perspektif yang lain dan tidak menutup kemungkinan atas desain apapun yang terjadi di muka bumi ini.

Superkilen yang berada di Copenhagen ini terbentang seluas 30.000 m2 pada tahun 2012. Proyek ini mem

 

Referensi
http://www.archdaily.com/286223/superkilen-topotek-1-big-architects-superflex
http://www.ideaonline.co.id/iDEA2013/Kabar/Info-Properti/Merayakan-Keragaman-Dunia-di-Ruang-Publik-SUPERKILEN
http://www.detail-online.com/article/three-colours-red-black-green-landscape-park-in-copenhagen-16511/

 

Travel Diary: Satu Hari di Gili Trawangan

when in Gili Trawangan.

Cerita dari Gili Trawangan yang begitu membekas adalah snorkeling pertama kali bersama Mama dan Papa. Melihat penyu berenang saat kita snorkeling ke area yang dalam (dan dasar lautnya mulai gelap, hehe). Kita dapat tiga kali spot snorkeling dan yang terakhir Mama udah cape karena memang arus di spot kedua sangat deras. Di spot terakhir ikannya banyak sekali apalagi waktu rotinya ditabur, semua bergerumbul. Setelah snorkeling dan masih menggunakan baju itu (ha ha), kita naik sepeda mengintari pulau. Menyenangkan sekali bermain bersama matahari dan angin sore. Kalau ditanya ada kejadian apa, banyak sih! Jadi perjalanan ke Gili hanya kita tempuh satu hari. Kita berangkat pagi dan pulang selepas magrib. Tertakjub-takjub karena banjir bintang malam itu, kacamata saya nyemplung ke laut. Untuk diketahui bahwa saya selalu saja melakukan hal ini, tidak sengaja nyemplungin kacamata ke laut. Nggak tahu kenapa bisa begitu, untung waktu di Karimata (Kalimantan) tidak ada kejadian seperti ini. Nah, tadinya bibir pantainya tidak sebersih dan serapi sekarang. Sejak ganti pemerintahan, bibir pantai dibersihkan dan kita bisa leye-leye di sepanjang bibir pantai. Tapi dengar-dengar sih kita harus hati-hati, karena sisa dari merapikan bangunan dari bibir pantai itu masih ada, contohnya ada beberapa paku yang masih berada di sekitar pasir. Disarankan menggunakan sandal saat menyusuri pantai, hehe.

Lombok, 2016.

Midnight Talk: Telpon Dari Pulau Seberang

Niatnya malam ini mengerjakan bab 2 alias tinjauan pustaka. Mengeset jam, menentukan target, dan membuat kopi dari air yang tidak lagi panas (tapi ternyata tetap enak). Segala angan ini buyar seketika saat sebuah telpon masuk, sebenarnya lumayan sih karena jam 23.00-01.00 adalah jam-jam kritis saya, jam super ngantuk. Sahabat saya dari Lombok menelpon, setelah berkali-kali gagal karena belakangan jam tidur saya seperti anak SD.

Seperti biasa, obrolan kami random. Tidak pernah ada tujuan yang jelas kenapa malam ini kita harus ngobrol sampai berjam-jam. Sampai di titik, “Heh, ini yang nelpon siapa siapa tapi yang mendominasi cerita siapa? Jangan tanya-tanya aku terus lah, gantian kamu yang cerita!” Terus porsi cerita dia ternyata tidak seberapa banyak juga, karena saya menyudahi dengan fakta “Hari ini aku bimbingan, udahan dulu ya nanti kita ngobrol lagi.”

Midnight talk malam ini bahan mentahannya dari obrolan dua orang ngantuk. Satunya sedang mengerjakan tesis dan yang satunya sedang bingung harus ngapain karena besoknya cuti. Obrolan yang berlangsung hampir dua jam ini membuat satu dari kami ngobrol sampai merem-merem.

A: Manusia itu memang suka begitu. Harapan yang membuat mereka terus hidup. Harapan itu yang membuat langkah-langkahmu begitu mantap dan optimis untuk dijalani.

M : Emang iya? Iya sih. Tapi gimana ya, rasanya enggak punya harapan tuh kayak kita berjalan tanpa tujuan. Gimana caranya kita tahu kita sudah ada di step mana kalau kita tidak punya suatu harapan? Ya emang yang paling salah kalau berharap sama manusia. Gitu kan maksudnya?

A: Haha ya itu kamunya aja emang suka aneh. Bukan aneh sih, emang hobi mungkin dibuat memiliki perasaan yang gaenak kaya gitu dan logika yang gagal ditransformasikan jadi tindakan nyata.

A: Intinya kamu nggak perlu berubah jadi orang lain, Mba. Tetap aja jadi kamu yang good vibe kaya gini. Kamu kaya gini aja aku udah seneng ngobrol sama kamu karena jarang ada orang yang betah dengerin temennya ngobrol ngalor ngidul berjam-jam kaya kamu gini. Kamu akan selalu dianggap spesial sama orang yang emang nganggep kamu spesial, tenang aja.

M: Dih, orang aku nggak pernah berusaha jadi orang lain kok. Aku ya gini-gini aja, nggak pernah pernah kemana-mana dan gimana-gimana, hehe

A: Makanya itu, kalo ada orang yang minta kamu berubah, aku sebagai koncomu bilang nggak usah. Ya itu kalo kamu mau dengerin aku sih, kan aku bukan koncomu. Terus juga, pantai bulan depan itu sebenernya kado buat kamu, tapi aku gak mau sok-sok suprise gitu. Udah tenang aja, itu kado buat kamu dan hadiah semoga kamu segera sidang.

M: Hwkwk apaan sih! Kamu circle ku lah! By the way, makasih banyak kadonya!!! Kok kadonya membahagiakan gitu sih hahaha semoga semakin banyak rejeki yaa

A : Oh iya, kamu tahu ga sih logika terbalik?

M : Iya tau, sering banget denger malah. Kenapa?

A : Gapapa, kalo kamu sadar, mungkin lingkunganmu sedang menggunakan logika itu tapi kamunya nggak sadar. Kalo kamu sadar, kamu akan lebih mengerikan dari sekarang sih.

M : Mengerikan gimana deh? Kok serem, haha

A : Udah. Jadi kaya gini aja, aku gak mau ngasih tau.

Teringat akan tanggung jawab, akhirnya kami mengakhiri obrolan dengan tertawa dan pesan-pesan bahwa sebagai manusia masing-masing dari kita berhak bahagia. Bahwa ia berhak menjadi dirinya sendiri dan diterima oleh orang lain. Ketika tidak suka, maka tidak sukalah dengan pemikirannya bukan orangnya. Dan selalu ada orang-orang yang menerimamu apa adanya, menjadikan dirimu prioritas, dan selalu berusaha menghiburmu dengan waktunya. Maka, terima kasih telah tinggal dan terima kasih atas kiriman gambarnya sebelum tidur.

41540
Susah banget Cha ngasih tau kamu. Batu.

Setting Ruang Bandung yang Ajaib

DSCF9771

Ini adalah Budaraa. Sebuah ruang di Kota Bandung yang dibentuk dari dinding-dinding yang ditempel dengan berbagai pernik hingga mampu menghasilkan kesan ruang hangat dan menerima siapapun yang masuk ke dalamnya. Unsur etnik dan perabot yang ‘nyentrik’ membuat ruang-ruang pada Budaraa terbentuk seperti rumah khas nenek yang selalu membuat kita ingin pulang kampung. Ternyata, kehangatan yang didapatkan dari Budaraa tidak hanya berhenti dari segi arsitektural saja. Semesta mendukung bagaimana tempat ini terbentuk. Terpikirlah sebuah komponen pembentuk yang tidak kalah ajaib dan mampu membuat ruang ini menjadi syahdu hingga candunya membuat makhluk yang ‘terjebak’ di dalamnya larut dalam alam pikirannya sendiri hingga rindu pada sosok seorang mantan. Cuaca.

Bandung termasuk kota yang selalu saya tertawakan perihal cuacanya. Di Antapani atau daerah Bandung Timur, hawa hangat merasuk bersamaan dengan aspal yang tidak punya pembayangan karena daerah ini kurang pohon. Berbeda dengan sisi Utara Bandung yaitu daerah Dago dan kesananya yang sekarang sudah mulai dibabat (hampir) habis demi komersialisasi kafe yang memanjakan si pendatang pencari udara dingin. Daerah ajaib (Dago) ini punya cuaca tersendiri yang sepertinya tidak masuk dalam ramalan cuaca yang biasa kita dapatkan dari berita di televisi ataupun koran. Jadi, saya suka berkata “Ya sudahlah Dago, terserah kamu saja mau punya cuaca seperti apa. Di bawah hujan, di atas tidak hujan.”

Budaraa tidak akan jadi Budaraa bila ia tidak diletakkan di Kota Bandung. Budaraa juga tidak akan jadi Budaraa jika ia tidak terletak di struktur ruang Jalan Bukit Dago Utara. Terlebih ketika saya berpikir, apakah sebuah Yogyakarta akan mampu membentuk Budaraa yang sedemikian hangat namun memiliki angin pegunungan yang menyejukkan? Setting ruang itu memang ajaib, tidak bisa dicuri, diganti, di-infill dengan apapun. Maka tone-tone hangat seperti ini, yang tercipta di foto, bisa didapatkan hanya karena Budaraa ada di sini! Wajar ketika kita mendesain suatu ruang atau kawasan, analisis cuaca menjadi penentu bagaimana ruang tersebut akan terbentuk. Analisis kawasan yang sangat-sangat ramah terhadap alam, namun pada kenyataannya gemar menjahati alam, menjadi faktor krusial di mana bukaan, beton, batu, kayu, dan segala material itu ditempel atau dipasangkan. Walaupun kalau dilihat sebenarnya Budaraa tidak memiliki satu analisis khusus bagaimana si pintu satu itu bisa ada di sisi tepat di depan saya duduk (hehe).

random. 

Bandung, 27 Desember 2017.

Afternoon Talk: Kita Dalam Skenario Orang Lain

Tidak terasa liburan telah tiba. Oh My… Kayak engga percaya gitu sih sebenernya kalau semester 3 sudah selesai saya lewati. Di akhir tahun ini saya mendapatkan banyak-banyak-banyak pelajaran yang membuat saya menjadi pribadi yang ‘baru’ dan insya Allah lebih bijak dalam menilai sesuatu. Di hari terakhir pengumpulan tugas, sore ini didedikasikan untuk keluar bersama Bima. Bima itu teman SMA, teman satu OSIS, yang dulunya kita engga deket (sama sekali, cuma tahu dan paling ngobrol seadanya). Ternyata pas kuliah S2, kita sekelas, sejurusan, dan sempat sekelompok satu kali di studio pertama. Saya selalu merasa, dia adalah pribadi yang sangat unik dan terengga peka di circle saya.

“Pengen burger, Cha”
“Ayok!”

Bandung lagi macet banget, apalagi ruas jalan Dago yang menjadi salah satu ruas utama di kota ini, jadi engga usah heran kenapa kok ini jalan bisa macet. Cuaca hari ini tergolong cerah sekali. Sambil ketawa-ketawa, kita menerobos Bandung yang anginnya sedang ramah (sepertinya sih menyambut hati kita yang sedang berbahagia). Bima sempat mainan dan menertawakan kenapa warna helm (pink) saya norak banget, bikin mata silau, tapi karena yang pakai saya jadi ya sudah biasa. Dari Bima, banyak sudut pandang menarik yang hampir tidak pernah saya dapat dari orang lain. He’s someone from out there, not from our world sih kayaknya.

Sore ini kita ngobrol, saya cerita kalau kemarin baru nonton film ‘Imitation Game’. Film yang diangkat dari kisah nyata seorang figur yang namanya Alan Turing ini sempat membuat saya mindblowing selama satu hari karena kesal. Kenapa kesal? Ternyata segala sesuatu itu, bahkan pikiran, bisa direkayasa. Walaupun satu dari sejuta percobaan kita untuk merekayasa itu baru bisa berhasil, tapi ternyata ada aja yang berusaha atau mencoba untuk bermain sama pikiran kita agar mendapatkan tujuan yang dia inginkan. Secara tidak sadar, ternyata kita bener-bener bisa ada di posisi yang dia ‘rencanakan’ untuk kita, tapi totally kita engga sadar kalau ternyata itu sudah dia arahkan. Wah gila sih ini, entah ini gila atau saya yang tidak pernah mencoba untuk seperti itu.

“Kadang gue suka bingung gitu sih, Cha. Padahal kenyataannya A, tapi kita bisa dihadapkan sama orang yang luwes banget ngomongnya dan bikin seolah-olah kenyataannya adalah B. Dulu gue pernah dihadapkan sama orang yang kaya gitu. Itu bukan kebetulan sih, itu bisa dilihat dari jawaban kita ketika kita nanggepin dia. Gestur kita juga bakal keliatan sama si orang yang merencanakan itu. Ketika gestur kita A, dia akan jawab apa. Ketika gestur kita B, dia akan bertindak apa. Gue sendiri belum bisa sampe ke tahap kaya gitu sih, karena kalau gue ya ngalir aja gitu orangnya, jarang pake rencana.”

“Ya kan sama aja kaya gue. Gue kan bukan tipikal yang bakal tahu isi labirin otak lu apa. Bukan orang yang akan nge-set keadaan kaya apa untuk mendapatkan tujuan yang gue mau. Gue juga belum tahu bisa di mana gue blocking jalan dalam labirin otak lu karena gue juga gak berusaha memetakan labirin lu dalam otak gue. Oke, misalnya gue punya satu harapan atas kondisi yang gue ciptakan. Tapi buat gue, ya harapan itu jadi harapan aja bukan jadi satu tujuan yang ingin gue dapatkan di kondisi yang gue ciptakan saat itu. Fleksibel gitu sih, over flexible but iam not a dead fish flows with the stream juga. Ya gitulah, ngerti kan yang gue maksud? Gue semakin merasa dunia yang gue jalanin ini cuma secuil dari dunia yang sebenernya. Banyak banget orang pinter di luar sana yang bisa mengoptimalkan otaknya untuk memetakan isi otak orang lain ke dalam otaknya sendiri.”

Terus kita berdua sama-sama bengong, lebih ke diem. Kita mikir apa kita pernah ya jahatin orang sampe masukin orang itu ke dalam skenario hidup kita untuk mencapai tujuan kita? Sebenernya gapapa sih kalau kita masukin dia jadi peran yang menguntungkan untuk dia juga, tapi kalau engga, gimana? Dia rugi dong kalau sampai tujuan kita tercapai?

Keseimbangan memang tidak memungkinkan untuk kita menaikan segala variabel dalam kehidupan kita menjadi positif semua. Namanya juga keseimbangan, yang artinya kamu membutuhkan positif dan negatif dalam dunia kamu. Sama seperti dunia ini kan, ada kutub utara ada kutub selatan. Kita emang kadang tidak sadar kalau ternyata kita ada di skenario terburuk seseorang, tapi secara tidak sadar kamu menjadi penyeimbang dalam upaya dia menyeimbangkan kehidupannya. Obrolan ini memang agak absurd sih karena intangible, sesuatu yang tidak bisa kita pegang, erat sekali kaitannya dengan logika dan perasaan. Kembali lagi ke mana kamu akan lebih condong, logika, perasaan, atau berusaha menyeimbangkan keduanya? Lagi-lagi urusan keseimbangan kan? Ah, omong kosong apa ini.

Akhir dari obrolan sebelum liburan ini adalah mau seberat apapun, di manapun kita pada skenario hidup seseorang, jangan sampai kita jadi pribadi yang tidak kritis. Terkadang kita perlu mengkritisi sesuatu agar kita menggunakan akal kita dalam menghadapi dunia -yang semakin keras namun semakin indah- ini. Tidak bisa juga kita langsung men-judge orang yang perilakunya A dia pasti A juga. Orang yang perilakunya A, bisa disebabkan oleh kehidupannya yang BCDEF dst. Terlalu banyak faktor dan yang paling penting, kalau sudah bawa perasaan sekali, nah ini yang suka membuat kita jadi buta sama sesuatu. Sebenarnya apa yang berlebihan kan tidak baik, jangan sampai terlalu logika banget tapi tidak pakai perasaan juga, perasaan dihembuskan pada kita karena kita adalah manusia (ini harus diingat sekali). Terlalu pakai perasaan sekali juga jangan, nanti kita akan buta sama segalanya. Ini adalah tulisan konsep yang sangat mudah kita bicarakan sih, baik saya dan Bima pun masih sama-sama belajar. Cara belajarnya memang tidak bisa sendiri, dukungan dan sudut pandang dari teman-teman sangat membantu kita untuk mendapatkan berbagai macam pijakan untuk membentuk pola pikir dan sikap kita terhadap sesuatu. Jadi, sering-sering berdiskusi dengan teman dan carilah teman yang tidak sepandangan dengan kita, dari situlah kita mendapatkan banyak inputan. 

“Kehadiran seseorang yang berbeda sekali dengan kita itu emang bukan suatu petaka kok. Justru kadang kita merasa dilengkapi oleh keberadaan orang itu kan. Selama tujuannya masih sama, engga ada perbedaan yang perlu diperdebatkan.”

Terima kasih Desember, terima kasih Bima, terima kasih Bandung.

“Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.” – Imam Syafi’i. Selamat belajar memanusiakan manusia!